For My Family

For My Family
70



Ardan membuka pintu kamarnya dengan mengendurkan dasi yang mengikat leher. Ia menjatuhkan badan di atas kasur. Tangannya menarik tangan Hazel yang ingin berjalan ke kamar mandi.


Menjatuhkan wanita itu di sisi kosong sebelah kasurnya.


"Apa yang Arfan katakan padamu?" tanya Ardan tanpa basa-basi.


Mata berwarna madu itu menatap lekat ke wajah Ardan yang sedang memangku kepala di atas telapak tangan.


"Apa yang terjadi di antara kalian, Mas?"


"Bukannya aku sudah pernah cerita. Arfan dendam karena kejadian malam itu."


"Apa hanya karena masalah itu? Rasanya, agak aneh jika dia dendam hanya karena kesalahannya sendiri."


Ardan menghela napasnya, ia meraih pipi putih Hazel dan mengelus dengan jari-jari kekarnya.


"Entahlah, aku gak tahu juga, Hazel."


Melihat perubahan wajah suaminya itu, Hazel tersenyum. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipi lelaki bermata sayu itu.


"Sudahlah, mandi sana. Aku akan siapin makan malam untuk kamu." Hazel menarik kepala Ardan dan mengecup bibirnya sekilas.


Lelaki itu hanya bisa menghela napas berkali-kali. Entah apa yang terjadi, terkadang dia juga bingung. Ada perasaan dendam yang mengakar di dalam hati Arfan, dan dia menyadari itu sejak SMA.


Entah karena hubungan saudara atau Arfan ingin menusuk pedang lebih dalam. Sebelum malam itu, Arfan masih bersikap baik-baik saja. Walau terkadang terlihat cela yang membuat ia ingin menyingkirkan kembarannya itu.


***


Ardan memetik senar gitarnya, sembari menikmati cahaya rembulan yang menembus ke dalam air kolam berenang rumah Gerlad Erlangga.


Ditemani Hazel yang masih asyik menelpon putranya di seberang sana. Sesekali badan mungilnya bergetar karena gelak tawa yang tak mampu ia tahan.


Sebagai seorang Bunda, ia masih bisa tertawa di depan putranya saat raga dan hatinya terluka. Entah itu kekuatan alami yang dia miliki atau kekuatan yang sengaja ia datangkan untuk putranya itu.


Namun, apa pun itu, asalkan ia bahagia, mau itu pura-pura atau hanya sekadar sandiwara. Cukup membuat Ardan tenang.


Wanita itu menyimpan ponselnya ke dalam saku. Melirik ke arah Ardan yang masih asyik dengan senar gitarnya.


Menyadari tatapan istrinya, jari kekar Ardan berhenti memetik senar itu. Ia memeluk badan gitarnya erat.


"Kenapa? Mengagumi ketampananku, ya?" tanya Ardan memainkan alis matanya, naik-turun.


Hazel menyunggingkan sebelah bibirnya, mengubah posisi duduk menjadi lebih tegak.


"Narsis!" jawabnya jutek.


"Jadi, kenapa lihatinnya gitu banget?"


"Gak boleh aku lihatin, lagi?"


"Hem, kalau hanya dilihat gak boleh. Tapi, kalau dilihat sambil dicium, boleh."


Hazel tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.


"Mas."


"Hmm."


"Apa kamu gak niat buat akhiri pertentangan ini? Aku lihat, Arfi merasa jengah berada di tengah-tengah kalian."


Ardan menghela napasnya, ia kembali memainkan senar gitar itu.


"Gak tahu dari kapan ini dimulai, mau diakhiri juga gak tahu caranya. Masalahnya apa? Aku juga gak paham."


"Bicarain, Mas. Terbukalah satu sama lain. Ada luka yang gak akan kering jika tidak mau dibuka terlebih dahulu."


"Aku mau. Tapi, Arfan tidak."


Hazel memayunkan bibirnya, ia menganggukkan kepalanya pelan. Sedang, Ardan masih sibuk dengan senar-senar gitarnya, dia juga tidak ingin terus seperti ini.


Sama-sama menyiksa diri dan tidak pernah bahagia. Selalu bersikap waspada bahkan saat mereka berada di rumah.


Bukankah rumah adalah tempat istirahat yang paling nyaman? Tempat yang dituju saat ingin pulang dan tempat yang dirindukan saat jauh?


Kenapa? Saat ini yang namanya rumah adalah tempat yang penuh ranjau dan jebakan. Bukan lagi tempat peristirahatan, melainkan tempat perperangan.


Entahlah, terkadang. Saat imam yang menjadi tiang tidak lagi bisa berdiri seimbang. Maka keretakan itu timbul dari dalam. Dengan masalah kecil, yang akhirnya membuat semua melebar dan membesar. Siapa yang salah?


Tidak ada yang salah, hanya karena ego masing-masing yang tak ingin kalah dan mengalah. Berdiri pada jalannya yang terkadang salah, namun, tidak mau mengakui salah. Hanya karena takut kalah.


"Sudahlah, jangan dipikiri lagi. Dari pada pikiri itu, nyanyi saja, bagaimana?" tanya Ardan lembut.


"Aku gak bisa nyanyi."


"Coba dulu."


Hazel tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Perlahan jari-jari kekar itu memainkan nada lagu. Memainkan intro demi intro. Sampai suara berat lelaki bermata sayu itu menyanyikan bait demi bait lagu berjudul You Are The Reason dari Calum Scott.


Sampai berada pada reff, Ardan masih memetik senarnya, menunggu Hazel untuk membuka suara. Namun, wanita itu hanya tersenyum sembari memandangi wajah suaminya.


"Kenapa gak nyanyi?" tanya Ardan menghentikan permainan lagunya.


"Aku malu," jawab Hazel lembut.


"Disuruh nyanyi kok malu? Biasa juga kamu gak pakai baju di depanku."


"Maas!" teriak Hazel manja.


Ardan terbahak, lucu melihat wajah Hazel yang memerah saat digoda. Terlebih, saat wanita itu menangkupkan kedua tangan di pipinya.


"Makanya nyanyi, aku ulangi lagi. Kalau gak nyanyi aku bilang lagi nih," ancam Ardan geli.


"Ehm," jawab wanita itu malas.


Jari Ardan kembali memetik senar gitar itu. Mengulangi lagunya, sementara wanita itu masih memandangi dengan tersenyum lembut.


'*I'd climb every mountain,


And swim every ocean,


Just to be with you ....


And fix what i've broken


Oh ... cause i need you to see ....


That you are the reason*.'


Hazel menutupi wajahnya setelah menyanyikan reff lagu tersebut. Ardan terkekeh dengan jari yang terus memainkan nada lagu.


"Suaramu bagus, Hazel. Kenapa gak pernah mau nyanyi?"


"Begitu, dibilang bagus. Kamu mengejekku, Mas?"


Ardan menggelengkan kepalanya.


"Ayo nyanyikan sekali lagi," perintahnya saat nada yang ia mainkan memasuki nada reff.


Berusaha menciptakan suasana bahagia berdua. Mencoba menyamarkan rasa luka yang kembali terasa saat berada di rumah ini.


Bukankah kebahagiaan itu sederhana? Hanya perlu untuk membuat nyaman rasa hati. Melepaskan dendam dan rasa benci, dan mulailah hidup lebih menyanyangi.


Sementara, ada mata yang memandangi wanita itu sedari tadi. Memperhatikan gayanya, senyumnya, cara bernyanyi dan segalanya.


Mengingatkan ia pada seseorang yang pernah ia cintai dua tahun lalu. Wanita berhijab yang ia temui tanpa sengaja di minimarket. Lagi, karena alasan status, Arfi harus melepaskannya.


Ia berpikir, bahwa gadis itu sama seperti mantan-mantannya. Bisa dengan mudah ia lupakan saat mereka terpisah. Namun nyatanya, sudah dua tahun, bahkan setiap menutup mata, ia masih teringat senyuman gadis berhijab itu.


"Khadijah, di mana kamu? Aku rindu, maaf telah meninggalkanmu," lirih Arfi pahit.


Lelaki itu menutup kedua belah matanya, menikmati rasa rindu yang menjadi sesak di dada.


"Andai aku sekuat kak Ardan, aku pasti akan membawamu pulang. Tetapi, aku hanya lelaki lemah. Bahkan melupakanmu saja aku tak bisa."


Iya, rindu dan cinta itu terkadang unik. Saat kita merindui dia yang dicintai. Ada desiran tersendiri yang membuat hati tersiksa, tetapi tidak bisa melupa. Ada rasa yang sulit dijelaskan, namun, mudah untuk dirasakan.


***


Ferdi menyimpan ponselnya setelah panggilan dari Hazel terputus. Melihat tiga wanita yang berseberangan meja dengannya.


"Kita pulang?" tanya lelaki berkacamata tipis itu lembut.


"Pak Ferdi, bisa gak kita mampir ke pasar dulu? Ketan untuk bubur Surya sudah habis."


"Pasar mana buka malam-malam begini, Mbok?"


"Jadi, bagaimana?" tanya mbok Darmi bingung.


"Ayo kita pulang dulu, nanti saya carikan di supermarket."


Mbok Darmi mengangguk pelan, setelah tiga wanita itu ia antarkan pulang. Ferdi kembali memasuki supermarket untuk belanja bulanan.


Beberapa kali ia menghela napas, bagaimana bisa sahabatnya itu menyuruh ia mengasuh para wanita itu?


"Ardan, kamu itu benar-benar. Aku ini Direktur, tapi kamu malah menyuruhku mengasuh para wanita. Bagaimana jika aku khilaf? Aku ini lelaki normal," gerutu Ferdi sembari memasukan beberapa sayuran ke dalam keranjang.


"Mungkin tidak akan ada pengaruh dengan Mbok Darmi. Tapi, Echa dan Kinara? Dua gadis muda dan satu lelaki dewasa. Yang benar saja?" Sesekali ia membetulkan letak kacamatanya, memilah bahan makanan dan juga ketan.


Untung selama bertahun-tahun ia tinggal terpisah dengan orangtua. Sebagai lelaki mandiri, dia sering masak dan belanja sendiri.


Berbeda dengan Ardan yang suka makan di luar. Ferdi lebih suka menghabiskan waktunya memasak dan makan dari tangannya sendiri. Dia tidak kelebihan uang seperti Ardan, dari pada menghabiskan banyak uang, berhemat dan menabung lebih berguna untuk masa depan.


Seorang wanita jatuh ke mengenai lengan tangan Ferdi. Sigap, tangan lelaki itu menangkap tubuh gadis itu sebelum terjedut rak belanjaan.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Ferdi lembut.


Gadis berbalut gamis cokelat itu bangkit, membetulkan letak hijabnya dan tersenyum lembut. Bibir ranumnya terkembang sangat lebar.


Seketika, lelaki berkacamata itu terdiam, terpesona oleh paras cantik wanita berhijab tersebut.


"Maaf, mata anda, Pak," ucap gadis itu risi.


"Astagfirullah." Ferdi menundukan pandangannya.


"Terima kasih, maaf, saya tidak sengaja."


"Tidak masalah. Kalau boleh aku tahu, kamu kenapa?" tanyanya penasaran.


"Itu dia!" teriak dua pria berbadan tegap.


Seketika gadis itu gelapan, ia bersembunyi di balik punggung Ferdi.


"Pak, bisakah selamatkan saya. Saya berjanji akan membalasnya, tapi saya mohon. Bawa saya keluar tanpa tertangkap."


"Kamu ini buronan? Kenapa dikejar-kejar?" tanya Ferdi penasaran.


Gadis itu melirik, melihat dua orang itu berlari semakin cepat.


"Tidak ada waktu menjelaskan, saya mohon, Pak. Bawa saya pergi."


Ferdi menghela napasnya, ia menarik ujung baju gadis itu menuju kasir. Tangannya menarik kain serbet, memberikan ke hadapan wanita itu.


"Apa ini?" tanya gadis itu bingung.


"Tutupi tudungmu dengan itu dulu."


"Hah?"


"Ini toko sayuran, gak ada hijab, jadi pakai yang ada dulu, atau kamu mau tertangkap?"


Gadis itu menggeleng, ia mengambil serbet itu dan memakainya, menutupi warna hijabnya. Sementara, bibir lelaki itu tersungging lebar. Niat hanya bercanda, tenyata gadis itu mengikuti perkataannya.


.


Gadis berhijab cokelat itu meremat kedua tangannya, keringat mengucur deras dari sudut dahinya.


"Kamu kenapa?" tanya Ferdi saat berhenti di lampu merah.


"Saya takut."


"Takut?" Ferdi menatap sekilas ke arah spion.


"Tidak ada yang mengikutimu, takut kenapa?"


"Takut sama setan. Jika dua orang berduaan, maka yang ketiganya setan."


Ferdi terkekeh, ia menggelengkan kepalanya pelan.


"Astagfirullah, aku bukan lelaki seburuk itu. Tidak ada niatan buat celakai kamu."


"Saya tidak bermaksud menyinggung anda."


"Katakan, ke mana kamu akan pergi? Aku akan mengantarmu sampai sana?"


Mata gadis itu mendelik, ia menatap Ferdi dengan lekat. Lalu ia tersadar dan menundukan pandangannya segera.


"Gak usah, saya bisa pulang sendiri."


Ferdi menghela napas, ia mengeluarkan dompetnya, meletakan selembar kertas di atas dashboard mobil.


"Itu identitas aku. Jangan takut, selain mengantarmu aku tidak berniat lain. Hanya khawatir, kalau lelaki tadi mengejarmu lagi."


Jari lentik gadis itu terulur, sekilas Ferdi melirik. Terlihat kulit putih berhiaskan hena di punggung tangan gadis tersebut.


"Ferdi Firmanysah, Direktur?"


Ferdi mengangguk.


"Kamu siapa?"


"Oh, saya Khadijah."


"Khadijah?"