For My Family

For My Family
195



Dingin embun pagi menembus ke sela-sela jendela. Kelopak mata yang terpejam itu perlahan mengembang. Sedikit sesak, saat sebuah tangan menimpahi lengan gadis berhijab itu.


Nigar tersadar, sedikit terkejut saat melihat tangan lelaki melilitnya dari belakang. Secepatnya gadis itu menoleh, sedikit menarik napas saat melihat Arfi terlelap di sebelahnya.


Gadis itu kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal. Menatapi wajah Arfi yang sedang tertidur miring ke arahnya.


Rasanya masih tak percaya, lelaki yang selama ini berada di tempat teristimewa dalam hatinya telah sah menjadi suami.


Masih terkejut dengan segala permainan semesta. Tidak pernah menduga jika Arfi mampu bertindak sejauh ini. Apa pun itu, mungkin inilah takdir yang harus tertempuh.


Gadis bermata indah itu tersenyum, bahkan dia terlelap tanpa membuka hijab. Setelah meminum obat Arfi tertidur, bahkan tidak sadar saat dibangunkan untuk makan malam.


Tak terbayangkan selelah apa dia selama beberapa hari ini. Terbang dari satu negara ke negara lain.


Satu jari Nigar menyentuh bibir putih sedikit kemerehan lelaki itu. Lalu, beralih pada ujung hidung mancungnya, berjalan mengikuti penegasan batang hidung lelaki tersebut, dan berhenti di alis tebal milik Arfi.


"Arfi," panggil Nigar lembut.


Lelaki berambut pirang itu tak merespons. Masih sangat lelap dalam tidurnya.


"Arfi, bangun. Kita salat subuh dulu."


Tak ada respons, Arfi masih sangat lelap. Terlihat dari napasnya yang naik turun dengan sangat teratur.


Gadis itu menarik napas, lantas ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Menyegarkan badan untuk segera bersiap melakukan kewajiban.


Saat kembali dari kamar mandi, lelaki yang baru sehari menjadi suaminya itu masih lelap. Asyik dalam mimpinya.


"Arfi," panggilnya lagi.


"Arfi bangun." Satu tangan Nigar menarik selimut, lelaki itu malah menggosok telinganya. Terlihat kesal saat dibangunkan.


Gadis itu tertawa geli, lalu kedua tangannya bermain-main di atas wajah Arfi. Membangunkan lelaki itu menggunakan sisa air wudu.


Berulang kali matanya mengerjap, namun enggan terbuka. Nigar menyerah, dia tangkupkan dua jemarinya di kedua pipi itu dan perlahan Arfi terbangun.


"Bangun, Arfi. Salat subuh ih, udah siang," katanya lembut.


Lelaki itu hanya mengangguk, memijat pangkal hidung untuk sadar sepenuhnya. Sementara sang gadis kembali ke kamar mandi untuk mengulangi wudu.


Lelaki berambut pirang itu terduduk, menguap beberapa kali, lalu segala aktifitasnya terhenti saat gadisnya keluar dari kamar mandi.


Untuk pertama kalinya, dia melihat kepala itu tanpa hijab. Rambutnya tergerai sepinggang, sedikit bergelombang dan berwarna cokelat kemerahan. Sangat kontras dengan kulit putih yang dimiliki.


Arfi terkesima, wajah itu sangat cantik dengan rambut yang digerainya. Bukan tidak pernah melihat yang lebih cantik dari dia. Namun, tetap saja pesona Nigar telah lebih dulu menghipnotisnya.


"Arfi," panggil Nigar dan lelaki itu tersentak.


"Ayo! Ini udah siang."


"Segera siap, Sayang." Secepatnya tubuh kekar itu melesat ke dalam kamar mandi. Menyiapkan diri, dan kembali terpaku saat melihat gadis itu sudah menunggunya.


Terduduk di tepi ranjang dengan mukenah putih, membaca mushaf kecil di genggaman.


Tak pernah terpikir jika suatu saat dia akan berada di depan untuk mengimami salat. Bahkan pemandangan seperti ini tak pernah terlintas dalam benaknya dulu.


Namun, siapa yang tahu masa depan. Saat hubungan itu retak dan kehilangan jejak. Menjadi lelaki taat adalah tujuannya, walau niat awalnya untuk kembali mendekati sang gadis.


Kini dia paham, bahwa sekuat tenaga berusaha, ketetapan hanya ada di dalam genggaman-Nya. Kita sebagai hamba hanya mampu meminta, dan Dia yang mendengarkan.


Terlepas terijabah atau tidak, itu semua terserah pada-Nya. Karena tujan doa dan usaha adalah meminta, bukan memaksa.


Setelah mengucapkan salam, sebuah tangan berbalut mukenah terarah ke hadapan Arfi. Lelaki itu hanya bergeming, menatapi tangan itu lamat.


"Arfi."


"Hmm."


"Kenapa diam saja? Apa aku tidak boleh mencium tanganmu?"


Lelaki itu tersenyum, menyodorkan tangannya ke hadapan sang gadis. Khidmat gadis itu mencium punggung tangan Arfi.


"Nigar, ingatkan aku jika yang kuucapkan salah."


Satu tangan Arfi menyentuh ubun-ubun Nigar, lalu terlafaz doa segala kebaikan untuk sang istri.


Bibir gadis itu terkembang, lembut bibir lelaki itu menyentuh dahinya. Lalu sepasang tangan tertangkup di pipi Nigar.


Lamat, sepasang iris itu menatap wajah. Memandang dalam diam, dan perlahan mendekat. Hangat deru napas menerpa wajah, bersama gemuruh yang semakin riuh di dalam dada.


Nigar menolak dada Arfi dengan kuat, kedua tangannya menyentuh kepala dan menggeleng dengan cepat.


"Enggak! Jangan sentuh aku. Jangan!" racau Nigar ketakutan.


Arfi terdiam, terbodoh melihat Nigar. Detik selanjutnya dia berdecak geram.


"Jangan, jangan lakukan itu. Jangan!" racau gadis itu semakin tidak jelas.


Nigar memundur dengan tangkupan tangan di kepalanya. Perlahan bulir demi bulir membasahi wajah. Tatapan itu terlihat kosong dengan bibir yang terus meracau.


Arfi mengusap wajahnya kasar, sedikit ragu ia mendekati Nigar yang semakin menjauh.


"Nigar, hei. Lihat aku, lihat aku, Sayang!" Satu tangan Arfi ingin menyentuh kepala Nigar, gadis itu semakin beringsut.


"Nigar," panggil Arfi seraya menarik napas.


"Nigar kuasai pikiranmu. Hei, ayo kuasi traumamu," kata Arfi dan gadis itu hanya menggeleng dengan racauan untuk jangan menyentuhnya.


Arfi tidak sabar, ia mendekat dan memeluk tubuh itu erat. Mencium kepala Nigar berulang-ulang.


"Nigar! Nigar sadarlah!" tekan Arfi dan gadis itu semakin meracau. Berusaha melepaskan dekapan tangan Arfi.


"Nigar! Buka matamu dan lihatlah aku!" Sepasang iris itu menatap ke binar lawan.


Nigar terdiam, lalu bening bulir itu lolos saat kelopak mata Nigar berkedip. Menatapi mata Arfi lekat dan dalam.


"Lihat aku! Ini aku, Sayang. Arfi, aku Arfi! Lelaki yang kamu cintai!" tekan Arfi dan sepasang mata indah itu kembali mengembunkan kaca.


"Arfi," panggil Nigar lembut.


"Ya, ini aku."


Gadis itu berhambur ke pelukan sang lelaki. Menangis sejadi-jadinya.


"Maafkan aku, Arfi. Aku benar-benar minta maaf." Serak suara itu memohon.


Arfi hanya menarik napas, mengusap kepala berbalut mukenah itu dengan sangat lembut.


"Kendalikan pikiranmu, Nigar. Jangan terus membayangi masa lalu itu. Jangan! Traumamu tidak akan hilang jika kamu tidak mampu mengendalikan pikiran itu."


"Aku juga gak mau mengingat itu. Aku jijik jika mengingat itu. Tapi ... tapi aku selalu mengingat itu saat menutup mata. Terlebih ... terlebih saat ada sentuhan yang menaikan hasrat. Aku harus bagaimana, Arfi? Bagaimana?" tanya gadis itu terisak. Kedua tangannya mencengkeram kaus yang Arfi kenakan.


"Harus bisa melawan. Ingatlah wajahku saat kamu menutup mata. Mulai saat ini kamu harus mengingat aku saja, ya."


Kepala Nigar menggeleng. "Itu bukan kuasaku, Arfi. Wallahi aku jijik mengingatnya, aku benci. Benci membahasnya!" tekan Nigar geram.


Cengkeram di kaus Arfi semakin menguat. Ingin melampiaskan, namun tidak tahu pada siapa.


Gadis itu semakin terisak, terseduh menangis di dekapan Arfi. Sesaat Arfi membiarkan tangisan Nigar mengencang. Bukannya berhenti, tangis itu malah semakin dalam.


Berulang kali Arfi menarik napas, lalu ia meleraikan pelukan. Mengusap wajah cantik itu dari sisa air mata yang tertinggal.


"Tatap mataku, Nigar," perintahnya lembut dan gadis itu menurut.


"Lihatlah ini aku, jangan tutup matamu dan selalu lihat aku. Kamu dengar?"


Nigar hanya mengangguk, Arfi kembali mendekat. Mendongakkan dagu Nigar untuk meraih bingkai di wajah.


Mata gadis itu melebar, namun bayangannya tetap tidak hilang. Satu persatu bulir-bulir itu kembali membasahi wajah. Terlebih saat ciuman Arfi semakin intens menyentuh kulit-kulit di sekitar tengkuk lehernya.


"Jangan tutup matamu. Sadarlah ini aku," bisik Arfi lembut.


Gadis itu menahan sesak, ingin menjerit, menangis, berontak dan ... entah. Terlebih saat tangan lelaki mulai menjamah tubuhnya. Gadis itu semakin terisak. Mencoba sadar, namun tubuhnya tetap gemetar.


"Arfi, Arfi," panggilnya ketakutan


"Ini aku, Sayang."


"Aku melihatnya Arfi. Melihatnya!"


"Itu hanya bayanganmu, Sayang." Tak perhatian atas perubahan sikap gadis itu, Arfi masih berusaha untuk menyentuh lebih dekat.


"Arfi ...!" jerit Nigar dan badan itu beringsut mundur. Gemetaran hebat, sampai napasnya terasa sesak. Tertahan dan terisak. Entah bagaimana mengatasinya, namun bayangan kelam itu semakin nyata setiap kali dia ingin menghapus jejaknya.


Arfi mengusap kepalanya, melihat perubahan Nigar yang masih sangat ketakutan. Hubungan ini bahkan lebih berat untuk dilalui. Dekat, namun berjarak. Bersatu, namun tidak tersentuh.