
Sejuk suasana sepertiga malam yang menembus dinding kamar membuat lentik bulu mata indah itu mengembang. Langsung menemukan wajah sang kekasih di awal pagi.
Bibir ranum itu terkulum, memandangi wajah Arfi yang masih pulas tertidur seraya mendekap tubuhnya.
Satu tangan terangkat, ingin meraih wajah lelakinya, lebih dulu kelopak mata itu mengerjap. Lalu, tarikan napas panjang sang suami terdengar.
Nigar kembali menutup matanya, sedikit tersenyum saat gerakan tangan Arfi terasa di bawah kepalanya.
Satu alis Arfi menaik, berusaha sadar sepenuhnya seraya memerhatikan wajah Nigar yang sedikit tersenyum. Sadar dipandangi terus, gadis itu berpindah posisi menjadi terlentang.
Arfi tersenyum, satu tangannya menarik pinggang Nigar, lantas ia ingin mencium bingkai ranum itu dan Nigar menoleh. Mencoba menghindari Arfi yang berusaha menciumnya.
Sampai kedua tangan itu akhirnya menahan dada Arfi yang ingin mencium lehernya.
"Pagi," sapanya dan Arfi hanya diam, mendekap tubuh itu di bawahnya.
"Ayo bangun, salat subuh dulu sebelum siang."
Satu alis Arfi kembali naik, melihat ke arah jam dan waktu masih berada di sepertiga malam.
Gadis itu memejamkan matanya, menggigit bibir bawah karena malu.
"Maksud aku, ayo kita tahajud."
Lelaki itu tersenyum nakal, kembali menjatuhkan kepalanya dan menciumi pundak tanpa lapisan itu.
"Arfi," panggilnya lembut, terasa gigitan-gigitan kecil yang membuat seluruh tubuhnya merinding.
"Aku ingin lagi," bisik Arfi pelan.
"Kasih aku jeda, masih terasa perih."
Lelaki itu melepaskan dekapannya, menjatuhkan badan di sebelah Nigar. Memandangi wajah cantik itu dalam.
"Sayang, bukannya seharusnya ...."
"Iya. Tapi aku pernah menjalani operasi selaput darah untuk mengembalikan kepercayaan diri. Kata ayah, dia ingin aku melupakan segalanya, tapi kejadian itu sangat membekas dan tak akan pernah bisa kulupa walau ayah bisa memanipulasi segalanya."
Arfi tersenyum, menarik jemari itu dan mengecupnya lembut.
"Apa itu masih menyakitkan?"
Nigar menggeleng.
"Kamu bisa menikmatinya?"
"Hmm, ya. Karena kamu melakukannya dengan cara yang berbeda." Tubuh itu kembali memiring, bertatap wajah dengan sang suami.
Jari-jari kekar milik Arfi mengusap anak-anak rambut Nigar lembut. Masih tidak percaya bahwa secepat ini dia bisa mengendalikan traumanya.
Kadang hebatnya sebuah masalah, dia bisa menyelesaikan masalah lainnya dengan sangat mudah.
"Apa itu kejujuran?"
"Apakah ada tubuhmu yang kembali aku lukai?" tanya Nigar kembali dan Arfi menggeleng.
Gadis itu mendekat, membenamkan kepalanya di atas dada telanjang milik Arfi.
"Aku memang tidak bisa sepenuhnya menikmati. Karena walau sepintas aku pasti mengingatnya. Arfi, apakah aku berzina?"
Arfi menarik napas, merengkuh bahu kecil itu erat.
"Bukan keinginanmu, kan? Aku tau kamu sulit melakukan ini. Nigar, terima kasih. Karena kamu sudah berusaha keras selama ini, Sayang."
Gadis itu mendongak, sejenak kedua mata mereka bertaut. Tersenyum manis dan perlahan wajah lelaki itu kembali mendekat. Gadis itu menghindar sebelum sempat Arfi kembali menciumnya.
"Arfi, aku masih ingin tidur," katanya manja.
"Bukannya kamu ngajakin salat tadi?"
"Hmm."
"Kok, hmm? Ayo!"
"Tidak bisa. Aku tidak bisa salat sekarang."
"Ya tidak sekarang. Ayo kita mandi dulu."
Gadis itu menggeleng, tubuhnya langsung berbalik dan membenamkan wajah di dalam bantal. Masih terus terbayang bagaimana lembutnya lelaki itu menyentuh tubuhnya sampai lelah membawanya terlelap.
"Sayang, ada apa?" tanya Arfi bingung.
"Arfi saja. Aku belum bisa mandi," jawabnya masih membenamkan wajah di bantal.
Seringai nakal tercetak di wajah tampan itu. Ia mulai paham mengapa gadis itu menjadi malu-malu seperti ini. Arfi menyingkap sedikit selimut yang menutupi punggung sang istri. Membiarkan kulit putihnya terekspose, perlahan mulai memerah karena hawa dingin dari air conditioner menerpa kulit mulusnya.
"Arfi dingin!" teriaknya tertahan bantal dan tak ada jawaban. Setelah beberapa detik menunggu, gadis itu mendesis. Sama sekali tidak ada jawaban dan pergerakan dari sang lelaki.
Gadis itu berbalik, Arfi langsung mendekapnya dan meletakan di bawah tubuhnya, memulai kembali kegiatan yang bernilai ibadah.
...***...
Telaten jari putih berhiaskan hena merah itu mengancing kemeja lelakinya. Sementara Arfi asyik mengelus rambut kemerahan setengah basah milik istrinya. Menyingkapnya ke belakang dan tampak bekas kemerahan menghiasi kulit leher Nigar.
"Aku juga ingin punya tanda seperti ini," ucapnya seraya mengelus lembut kulit leher itu.
Gerakan tangan Nigar terhenti, sedikit menggigit bibir gadis itu menatapi wajah Arfi.
"Aku belum bisa membuatnya."
"Kalau begitu biar aku ajarin sekali lagi." Kedua tangan itu kembali merengkuh bahu sang istri. Mengecup kulit leher itu dan kembali meninggalkan banyak bekas kepemilikannya.
Gadis itu hanya diam, merasakan sensasi yang diciptakan dan perlahan semakin menggairahkan.
"Um, Arfi," panggilnya dan lelaki itu menjauhkan bibirnya.
"Ini sudah siang, apa kamu tidak ingin berangkat ke kantor? Nanti kamu dimarahi lagi bagaimana?"
Lelaki itu menarik napas, melepaskan dekapannya dan kembali mencium bibir ranum itu.
"You'll mine. Understand?"
Nigar hanya mengangguk, kembali merapikan kemeja Arfi, segera menyiapkan lelaki itu untuk turun ke bawah.
Bersiul, lelaki berambut pirang itu turun ke lantai bawah dengan sedikit riang. Menggangu Surya yang masih makan sendiri di bangkunya.
"Arfi!" bentak Ardan dan bungsu itu menjauh. Menarik kursi di sebelah Ardan yang masih sibuk memangku Yena.
Sepasang mata sayu itu memerhatikan kegiatan Ardan yang sedikit kewalahan mengurus anaknya.
"Ardan."
"Kenapa?" ketus jawaban itu dia berikan.
"Apa ... menjadi ayah itu menyenangkan?"
Alis tebal milik Ardan bertaut memandangi wajah sang adik. Lalu, satu tangannya menarik kerah kemeja Arfi, menelisik tubuh sang adik yang masih bersih tanpa bercak merah.
"Ada apa kau bertanya seperti itu? Ehem! Apa ... sesuatu terjadi pada kalian semalam?"
Tergagap, bungsu Erlangga itu kesulitan untuk menjawab. Ardan memang sangat pintar membaca situasi.
"Apa? Apa yang bisa terjadi?" tanya Arfi memerah. Seraut wajah tampan itu merona dan semakin membuat tawa Ardan pecah.
"Hei, kalau tidak terjadi apa-apa kenapa wajahmu memerah? Huh, sungguh lucu melihat anak bungsu ini ternyata masih lugu." Satu tangan kekar itu mengacak puncak kepala Arfi, gemas.
Arfi kebingungan untuk membalas, berulang kali dia mendesis geram. Ardan tertawa dengan sangat lebar, semakin menggoda dengan membisikkan hal-hal yang entah.
Bungsu itu semakin malu, ia bangkit dan menyepit batang leher Ardan geram. Tak ingin kalah, sulung itu melawan dan seketika kakak beradik itu berlari kejar-kejaran mengelilingi lantai bawah.
Gema suara mereka berdua pecah, kebiasaan Ardan yang suka menggoda siapa saja masih belum hilanh sedikit pun.
Ada senyum yang ikut terkembang lebar memerhatikan dua saudara itu dari lantai dua. Aulia melirik Hazel yang ada di sebelahnya, lalu memeluk tubuh mungil itu erat.
Terdengar tarikan napas sang mama yang begitu berat.
"Sudah lama sekali rumah kita tidak seramai ini, Arsy." Sepasang mata tua itu masih menatapi dua putranya yang bertengkar di bawah sana.
"Saat Kak Ardan pergi, rumah menjadi dingin dan sepi. Arfi sendiri, dia tidak pernah betah menetap di rumah ini. Tetapi jika Ardan di sini, semua yang kosong akan kembali terisi. Kakakmu adalah putra sulung keluarga ini. Bagi mama, selain kamu, Ardan adalah hati mama. Anak yang lahir pertama dan mendapatkan kasih sayang yang lebih banyak dari saudara yang lainnya."
Hazel tertunduk, menyadari selama ini dia telah memonopoli Ardan sendiri. Takut untuk berbaur, tanpa peduli ada hati yang sudah sangat lama menanti.
Lembut tangan Aulia mengelus pipi Hazel, mendongakkan pandangan itu agar mata mereka bertaut.
"Arsy, gak cemburu, kan sama Kak Ardan?"
Hazel tersenyum dan menggeleng, memeluk tubuh tua itu seraya memandangi Ardan yang tengah terbungkuk mengambil napas.
Seperti membatin, lelaki itu menoleh ke arah atas. Hazel tersenyum seraya berkata.
"I love you, Mas," lirih ucapan itu tanpa suara sama sekali. Namun, Ardan mengerti karena perasaan cukup peka untuk bisa memahami.
Lelaki itu menarik napas, berjalan menaiki anak tangga dan mendekati dua wanita yang sedari tadi terus memandanginya.
"Ma, mau sarapan di bawah?" tanya Ardan dan wanita tua itu menggeleng.
"Enggak, Mama sedikit ngantuk. Kalian sarapan saja. Mama istirahat dulu." Tangan tua itu melepaskan dekapan Hazel.
"Biar aku temani, Ma," kata Hazel lembut dan Aulia menggeleng.
"Mama hanya ingin istirahat."
Gadis bermata madu itu menggulum bibir. Ragu dia mengangguk dengan mata yang terus memerhatikan pergerakan Aulia.
Saat ingin berjalan ke arah pintu. Aulia berbalik dan kembali meraih sebelah pipi Hazel.
"Nak, terima kasih. Terima kasih karena kamu seperhatian ini."
Hazel terdiam, seketika senyum di wajahnya menghilang. Saat tangan Aulia ingin terlepas, secepatnya dia ambil dan mengecupnya pelan.
"Tidak perlu berterima kasih, Ma. Karena aku anak Mama." Lembut bibir mungil itu tersenyum, membiarkan tubuh tua itu menghilang di balik pintu.
Nanar tatapan itu tak beralih meski Aulia telah menghilang. Ada yang berbeda, Aulia seperti paham akan posisi dirinya.
Usapan lembut di puncak kepalanya membuat pandangan Hazel teralih.
"Mas, kenapa aku merasa ucapan Mama seperti seseorang yang sadar?"
"Kadang aku juga merasa seperti itu, Hazel. Sempat berpikir apa mama hanya berpura-pura saja? Lalu, buat apa?" tanya Ardan bingung sendiri.
"Untuk kembali menyatukan kalian semua, Mas."
Ardan bergeming, memikirkan ucapan Hazel ada benarnya. Lantas, mengapa Pedro tidak mengatakannya jika Aulia benar hanya berpura-pura?
Lelaki itu mengusap kepalanya, masih bingung. Bersamaan sura bariton Gerald membuat lamunannya pecah.
"Arfi ikut Papa ke kantor!"
Lagi dan lagi, lelaki berambut pirang itu mengeluarkan ekspresi malas. Ia menarik kepala Nigar dan mencium dahi wanitanya pelan. Memilih pergi meninggalkan dari pada bertentangan.
"Arfi!" teriak Gerald dan seperti biasa si bungsu itu tidak peduli.
Gerald mendesis geram, menyibak jasnya lalu pandangan tua itu menatap menantunya.
"Khadijah."
Gadis itu menoleh, detik kemudian tertunduk karena dia tak mampu menatap wajah itu.
"Bicaralah dengan saya."
Gadis itu meremat kedua tangannya, ragu-ragu mengikuti langkah Gerald keluar dari rumah.
Ardan mendesis panjang, melihat ulah mereka pasti ada yang terjadi di antara mereka.
"Sayang."
"Hmm."
"Apa Nigar ada menceritakan sesuatu padamu?"
"Em, maksudnya?"
"Seperti permasalahan di keluarga ini?"
Hazel hanya menggeleng, mencoba mengingat adiknya memang tertutup untuk sebuah masalah yang tengah dihadapinya.
"Gak ada. Kenapa, Mas?"
"Entahlah. Tapi aku merasa, ada yang tidak baik-baik saja."