For My Family

For My Family
274



Terduduk di kursi taman, menikmati sendunya temaram kekuningan rembulan. Sepasang mata tua itu menatap kosong pada hamparan luas langit nan hitam. Selaksa gemintang bertaburan dengan kerlip yang mengagumkan.


Sebuah tangan meraih pundak Aulia, lelaki tua itu jatuhkan kepala sang istri ke atas pundak lelahnya.


Hening, desau angin malam menjadi penghibur di antara waktu yang terjeda. Gerald hanya ingin menikmati waktu berdua, seperti ini juga tak apa. Setidaknya tubuh Aulia masih berada dalam dekapannya.


"Maaf Gerald, aku tidak becus membesar dan mendidik putri kita."


Gerald hela napas panjang, telapak tangan yang awalnya mendekap ujung bahu, kini mengusap lembut kepala belakang istrinya. Memanjakan Aulia selayaknya dia hanya anak remaja yang tengah merengek menyesali kesalahan.


"Membesarkan dan mendidik anak-anak itu tugas kita berdua, bukan hanya kamu. Jika memang ada kesalahan, maka itu kesalahan kita berdua."


"Tapi kini Arsy sudah pergi. Meninggalkanku dan kita semua."


"Tidak apa-apa juga kalau Arsy pergi, masih ada aku yang terus di sisimu dan takkan pernah meninggalkanmu."


"Masih ada kamu yang tidak pernah meninggalkanku?" Aulia ulangi ucapan suaminya.


"Ya. Aku takkan pernah meninggalkanmu. Tapi lihatlah, bukan selama ini kamu yang terus berlari menjauh?" tanya Gerald, pandangannya tertoleh ke arah wajah Aulia yang terus memandang kosong ke arah taman.


"Kehidupanmu terhenti saat Arsy pergi, kamu meninggalkan suamimu, anak-anakmu. Apa kamu akan terus seperti ini, Sayangku?"


"Maaf gerald."


"Jika kamu menyesal, maka kembalilah padaku. Ceritakan apa pun yang menganggu pikiranmu padaku. Aku ada di sisimu, selalu, dan takkan pernah pergi."


Pria tua itu sempat terdiam, dia raih genggaman tangan Aulia yang hanya kosong di atas pangkuan.


Detik selanjutnya, kepalanya ikut tertumpuh di atas kepala Aulia.


"Pada akhirnya kita hanya akan hidup berdua saja, bukan? Hanya ada aku dan kamu, karena anak-anak kita telah mencari kebahagiaan mereka sendiri. Menulis cerita mereka sesukanya dan kita hanya berdua. Menikmati masa tua yang indah dengan mengenang kembali tentang indahnya kisah yang sudah dilewati bersama."


Aulia hanya tersenyum. "Istri Ardan cantik, ya."


"Iya cantik."


"Apa kamu menyukainya, Gerald?"


"Jika kamu suka, maka aku juga."


"Istri Arfi juga keliatannya baik, lembut dan manis."


"Jadi siapa di antara mereka yang paling kamu sukai."


"Tentu saja kamu!" Kepala Aulia mendongak, menatap wajah suaminya yang kian menua, namun kegagahan masih tetap dimilikinya.


Gerald tersenyum, dia tangkupkan tangan di sebelah pipi istrinya.


"Jika kamu menyukaiku, maka bertahanlah seberat apapun keadaannya. Jangan tinggali aku lagi, Sayang."


"Tidak semua hal bisa kita dapati di dunia ini. Berdamailah dengan keadaan saat semuanya mulai terasa menyakitkan. Ceritakanlah padaku, tentang apa pun itu. Jangan di pendam sendiri lagi, ya," bujuk Gerald.


Ibu empat anak itu hanya tersenyum, perlahan matanya memejam. Menikmati sentuhan tangan Gerlad yang menangkup di pipinya.


"Aulia, banyak hal yang ingin aku bahas denganmu, Istriku. Misalnya, bagaimana bisa bunga persik ini berwarna pink? Atau bagaimana bisa ulat bisa hidup hanya dengan memakan daun? Lalu, bagaimana bisa sepotong rindu tetap ada meski kita selalu bersama? Apa pun itu, akan sangat menyenangkan jika dibahas bersamamu."


Aulia tidak menjawab, hanya tersenyum sendu.


"Apa kamu mau memaafkan aku?"


"Tidak ada yang salah, Aulia. Semuanya sudah tertulis sesuai takdir yang Tuhan tentukan."


"Tapi Arsy adalah satu-satunya putri kita. Dia adalah harapanmu, duniamu bukan? Aku benar-benar minta maaf."


"Kita sebagai manusia memang memiliki harapan, tapi keadaan memiliki kenyataan. Kita manusia hanya berencana dan Tuhan yang menentukan."


Ibu jari yang menyentuh pipi Aulia mengelus lembut.


"Sadarlah, Sayang. Aku tidak pernah menyalahkanmu sedikitpun. Malah aku berterima kasih karena kamu telah memberikan aku banyak putra yang sangat hebat. Mereka sepertimu, sangat kuat menghadapi banyak ujian hidup."


Perlahan bulu mata itu mengembang. Dia tatap wajah suaminya dengan genangan kaca yang melapisi netra.


"Gerald."


"Ya."


"Aku harus bagaimana?"


"Cukup kembali dan sadarlah, Sayang. Sisanya, biar aku yang melanjutkan. Kamu sudah berjuang! Aku bangga dan bahagia bisa hidup denganmu. Seandainya waktu terulang, maka selamanya yang ingin kunikahi tetap kamu dan hanya kamu."


Seulas terbit dari wajah Aulia, dia dekap bahu Gerald dengan erat. Telapak tangannya yang menumpuh di pundak lelaki itu menepuk-nepuk pelan. Seakan dia ingin menenangkan keadaan Gerald.


****


Hazel letakan sebuah camilan di depan Ardan yang masih terfokus akan pekerjaannya. Saat tubuh mungil itu ingin beranjak, Ardan raih pergelangan tangan istrinya dan mendudukkan tubuh mungil itu di atas pangkuan.


"Mana suapan buatku? Aaa." Ardan buka mulutnya lebar, tapi matanya masih menatap lekat ke dalam layar.


Gadis keturunan Turki itu tersenyum, dia raih brownies yang ada di dalam piring dan menyuapi sang suami.


"Mas."


"Hm?"


"Apa kira-kira besok Mama akan melupakan terapinya hari ini?"


Seketika gerakan jari Ardan terhenti, dia tatap wajah yang ada di dalam pangkuan dan tersenyum lembut.


"Entahlah! Berdoa saja, semoga kali ini keinginan mama untuk sembuh kembali ada."


"Mas, apa nggak sebaiknya kita coba bawa mama ke makam Arsy? Mana tau dengan melihat makam anaknya mama bisa sadar sepenuhnya."


Ardan bergeming, dia pikirkan usulan Hazel. Bisa saja dengan mengunjungi makam Arsy Aulia membaik, atau akan lebih buruk jatuhnya?


Ardan tarik napas dengan berat, dia pandangi wajah mungil Hazel yang ada di dalam dekapan.


"Dibandingkan itu, bagaimana jika kita program buat adiknya Yena saja?" Ardan mainkan kedua alis matanya, menggoda.


"Ish, Mas. Aku serius!"


"Aku juga serius! Buat anak mana boleh coba-coba."


Hazel terkekeh, dia tarik kedua pipi Ardan, gemas. Lalu, dahi mulusnya menempel pada dahi Ardan. Menyelami binar hitam suaminya dengan dalam.


"Berikan aku waktu, Mas. Aku ingin menyanyangi Yena dan Surya sampai puas dulu. Berikan aku waktu untuk mengurus mereka sampai batas waktu yang cukup. Tak perlu terburu-buru, karena aku akan selalu di sisimu, dalam pelukanmu dan dekapanmu. Takkan pernah lepas."


"Janji?"


"Ya, trust me."


Ardan tarik kepala belakang Hazel, menghapus jarak di antara keduanya. Detik selanjutnya, ciuman mereka terlepas saat mendengar deheman seorang laki-laki.


Hazel tutupi wajahnya saat menyadari Arfan ada di antara mereka berdua. Tubuh mungil itu langsung bangkit dan berlari menaiki anak tangga. Wajahnya terus memerah, tersipu malu saat kelakuannya tertangkap basah oleh kembaran sang suami


"Ganggu banget, sih," racau Ardan kembali fokus ke dalam laptop.


"Lagian ini ruang tengah, ada banyak anak di bawah umur. Walaupun sudah sah, setidaknya jangan lakukan di depan orang, dong."


"Bilang saja jika kau tidak mampu."


"Apa?" Arfan jatuhkan badan di sisi Ardan, satu tangannya menjitak kepala sang kakak.


"Hei, sopan santunmu, Kawan! Begini-begini aku masih Kakakmu."


"Kalau begitu berikan contoh yang baik!"


"Memangnya selama ini aku kurang baik apalagi?"


"Banyak kurangnya! Apa harus kujabarkan?"


Ardan bentangkan telapak tangannya di depan wajah Arfan. Meminta lelaki itu untuk diam.


Hening, waktu berjalan hampa untuk beberapa saat.


"Bagaimana perkembangan perusahaan?"


"Berjalan baik."


"Apa ada hal yang bisa kubantu?"


Ardan melirik, dia pandangi wajah putih Arfan. Walau terbilang tidak sepintar Ardan, namun biasa Arfan memiliki perhitungan yang cukup matang.


"Kenapa liatin aku begitu? Aku hanya ingin membantu!" ketus Arfan tak suka dengan pandangan Ardan.


"Fan, aku berpikir untuk mengirimmu ke luar pulau. Sebagai CEO sementara, kamu bisa menekan Ruby Jelwelry lebih sadis dari aku."


Seketika Arfan menarik napasnya, tubuh itu berbalik dan ingin bangkit. Ardan tarik punggung itu dan mengunci pergerakannya.


"Sunpah, Ardan. Aku menyesali menawarkan bantuan padamu. Pada akhirnya kamu terus membuat aku menjauh dari Ferla dan anak-anak saja," sesal Arfan lemas.