For My Family

For My Family
161



Mata indah itu menatap ke bentangan langit hitam. Rinai hujan masih deras menyapa, seharian mereka berada di mall dan sampai malam, Arfi belum berniat membawa mereka pulang.


Satu jari lentik gadis itu memutari bibir gelas kopi. Lantas mata menatap dari balik kaca kafe.


"Kamu bosan?"


Gadis itu menoleh, ia tersenyum dan mengangguk.


"Anak-anak udah kelelahan, Arfi. Mbok Darmi juga, kapan kita akan pulang?"


"Tunggu hujan agak reda sedikit lagi. Aku yakin jalanan masih macet saat ini."


Gadis itu hanya mengangguk, kembali menatap ke arah langit. Arfi menghela napas, memerhatikan Nigar yang ada di sebelahnya.


"Khadijah."


"Hem."


"Kapan kamu akan menjatuhkan pilihan? Sumpah menunggu itu melelahkan."


Jari yang memutari bibir gelas terhenti. Gadis itu menoleh, lantas bibirnya terkembang lebar.


"Aku tidak tau, Arfi."


"Tidak tau?"


Gadis itu menggulum bibir, perlahan pandangannya tertunduk.


"Entahlah, mungkin saja salah satu dari kalian ada yang ingin menyerah. Aku lebih baik ditinggalkan, dari pada harus meninggalkan."


"Bukankah meninggalkan itu lebih enak? Kamu sendiri yang bilang."


Gadis itu tersenyum, indah mata itu menatap wajah Arfi.


"Ya. Tapi aku gak sanggup mengingat luka yang aku tinggalkan pada orang lain. Aku tidak sanggup memikirkan sakit orang lain karena ulahku. Aku tidak sanggup menyakiti salah satu di antara kalian. Kumohon mengertilah, Arfi."


Arfi tersenyum sinis, ia menyugar rambut pirangnya yang masih basah karena wudu magrib tadi.


"Jika ada yang menyerah itu adalah Kak Ferdi. Bukan aku!"


Nigar menggeleng pelan, bibirnya tersenyum simpul. Lantas kepala itu kembali memaling ke arah kaca.


'Jika seperti itu, aku hanya bisa berdoa untukmu, Pak.'


Nigar memejamkan matanya, menarik napas panjang. Perlahan bulu matanya mengembang, melihat segaris kemerahan yang hilang timbul menghiasi langit hitam.


"Allah sana daha iyi bir kadın versin," lirihnya pelan. (Semoga Allah mengirimkan wanita yang lebih baik untukmu.)


"Kamu mengucapkan sesuatu?" tanya Arfi memutar badannya berhadadapan dengan Nigar yang duduk di sebelahnya.


Tanpa menoleh gadis itu menjawab. "Tidak ada."


Arfi hanya memanyunkan bibirnya, mata sayup itu memerhatikan wajah Nigar yang masih terfokus pada hujan di luar.


Satu tangannya meraih kantung jaket yang dikenakan. Meraih sesuatu yang ia simpan di sana.


"Khadijah."


Gadis itu menoleh, sejuntai butiran indah berwarna biru safir jatuh di depan netranya.


Nigar terpatri, cahaya putih dari lampu kafe membuat batu-batu itu terlihat bersinar. Pias cahayanya memantulkan keindahan.


Perlahan satu jari lentik itu menyentuh butiran-butiran tersebut.


"Arfi, ini?"


"33 batu safir biru. Kamu lihat, di dalamnya ada ukiran nama Muhammad dalam aksara arab."


Mata indah itu memandang takjub, menelisik setiap batu-batu yang saling bergandengan menjadi sejuntai tasbih yang sangat indah.


Ada lafaz Allah dan Muhammad di dalam bening batu itu.


"Katakan, Khadijah, jika aku bukan lagi Arfi Erlangga yang memiliki segalanya, bersediakah kamu aku lamar dengan mahar sejuntai tasbih ini?" tanya Arfi menatap datar ke wajah cantik yang ada di hadapannya.


Bibir ranum itu terkulum, ia melihat Arfi sekilas.


"Kamu mencoba menggodaku?" tanya Nigar tersenyum simpul.


"Aku bertanya, jika aku adalah jawaban atas kebimbanganmu selama ini. Bersediakah kamu menerima ini sebagai maharmu?"


Satu alis Nigar menaik, ia menatap butiran batu safir itu dengan lekat. Sangat cantik, terlebih setiap ukiran-ukiran di atasnya membuat batu itu semakin indah. Pias cahaya putih yang menerpanya, seakan membuat batu itu berkilau. Pendarnya semakin memperjelas dua aksara yang ada di dalamnya. Allah dan Rasul-Nya.


"Arfi ... apa ini untukku?" tanya Nigar manja.


Arfi mendesis. "Ayolah Khadijah, aku bertanya serius."


Gadis itu terkekeh, ia mengangguk dan menatap Arfi.


"Baiklah, apa yang mau kamu tanyakan?"


"Jika aku tidak lagi menjadi Erlangga, dan yang kumiliki hanyalah sejuntai tasbih ini. Bersediakah kamu menerima ini sebagai maharmu?"


Netra indah itu masih menatapi jajaran batu-batu biru tersebut.


"Adakah mahar yang lebih indah dari ini?" Jari lentik itu ingin menyentuh butirannya.


Secepatnya Arfi mengenggam tasbih itu. Nigar terkejut, ia menatap Arfi dengan sedikit bingung.


"Baiklah, ayo kita pulang," ajak Arfi.


Gadis itu bergeming, ia masih menatap bingung ke arah Arfi.


"Arfi, kok pulang?"


"Jadi? Apa kamu mau menginap di sini?"


"Bukannya kamu yang bilang jalanan masih macet."


"Sudah, ayo pulang. Apa mau aku peluk untuk membawamu pulang?"


Lelaki itu bangkit lebih dulu, keluar dari kursinya. Sementara Nigar masih menatapnya bingung.


"Ih, Arfi, aneh. Kok tiba-tiba pulang, sih? Terus tasbihnya?" tanyanya mengikuti langkah Arfi yang lebih dulu keluar dari meja.


Arfi membalikkan badannya, berjalan mundur seraya menatap wajah Nigar.


"Ih, Arfi. Mana bisa, kan, udah dikasihkan ke aku. Berikan sini!" pintanya mencoba meraih tasbih digenggaman tangan lelaki itu.


Tangan kekarnya mengenggam erat, lalu ia letakan di atas dada. Lelaki itu tersenyum seraya berjalan mundur.


"Aku tidak pernah memberikannya padamu. Aku hanya menunjukkannya padamu."


"Itu berarti untukku, kan. Berikan padaku, sini!" pintanya lagi.


Lelaki itu menyeringai sembari menggeleng pelan. Membalikkan badannya untuk membayar makanan mereka.


"Ih, Arfi. Mana boleh gitu. Masa udah ditunjukkin gak dikasih, sih? Arfi, ayo dong," bujuknya lagi.


Lelaki yang tengah membayar itu hanya tersenyum, sambil menunggu kartunya, ia kembali membalikkan badan.


"Katakan kamu akan menikahiku. Akan kuberikan ini padamu."


"Arfi, ayolah. Mana boleh seperti itu. Kalo emang gak niat berikan itu padaku, kenapa ditunjuki sama aku?"


"Aku hanya menanyakan pendapatmu."


"Itu cantik. Aku suka. Sini berikan padaku."


Arfi menggeleng. Setelah kembali menerima kartunya ia berjalan meninggalkan gadis itu.


Di belakang, Nigar terus mengintili langkah Arfi. Lelaki itu masih tahu betul selera sang gadis. Nigar akan selalu suka dengan apa pun yang terbuat dari batu-batu indah.


Bahkan jika itu hanya tiruan, ia akan sangat suka. Terlebih, dengan batu safir biru. Gadis itu akan bersikap sangat manis. Pasti.


"Arfi, ayo dong. Kamu mana boleh PHP begitu. Masak aku udah suka gak dikasih." Satu tangannya menarik lengan jaket Arfi. Menggoyangkan lengan lelaki itu dengan menarik kainnya, manja.


Arfi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bibirnya terus tersenyum dengan lebar, suka jika Nigar sudah mulai bersikap manja seperti dulu.


"Arfi, aku beli juga gak apa, deh. Katakan berapa harganya?"


Langkah Arfi terhenti, ia menyeringai nakal dan membalikkan badannya berhadapan dengan Nigar.


Kedua tangan ia masukan di saku depan. Menyembunyikan tasbih itu di sana.


"Baiklah. Tetapi aku tidak yakin kamu sanggup membayarnya."


Gadis itu memanyunkan bibirnya. Kedua tangannya terbentang dan ia satukan, meminta dengan raut wajah manjanya.


"Jangan mahal-mahal, ya. Kan, Arfi, udah banyak uang," bujuknya lembut.


"Aku tidak akan memintanya dalam bentuk uang."


Dahi mulus gadis itu berkerut.


"Lalu?" tanyanya bingung. "Jangan bilang dengan cintaku."


Arfi menggeleng, badan tegap itu menunduk. Menyejajarkan wajah dengan raut wajah cantik itu.


"Kecup bibirku." Arfi mengedipkan sebelah matanya. Menggoda sang gadis.


Nigar mendesis geram. "Ah, Arfi. Jangan, dong!"


"Ya sudah kalo gak mau." Lelaki itu kembali menegakkan badannya. Membenarkan kerah jaket, lantas meninggalkan Nigar di belakang.


Gadis itu memanyun, dia menghentakkan kakinya. Kesal.


"Arfi, lima juta, deh." Langkah gadis itu berlari mengikuti Arfi yang lebih dulu pergi.


"Cium leher juga boleh," balas Arfi lagi.


"Sepuluh juta, deh," tawarnya lagi.


"Cium bibir sampai dada, deh."


"Lima belas juta, aku cuma punya uang segitu, ya, Arfi. Please."


"Bagaimana jika cium bibir, leher dan ehem ... ehem!"


"Arfi!" teriak Nigar kesal.


Lelaki itu terbahak, dia berhenti dan menatap Nigar yang terus mengikutinya.


Wajah putih itu memerah, pipinya terhiaskan semu yang bermakna entah. Antara malu dan juga marah. Mungkin.


"Baiklah. Tangkap aku, maka akan kuberikan padamu." Lelaki itu melesat, langkah tegapnya berlari menyusuri lantai kilap mall.


Gadis itu sempat terdiam, detik selanjutnya ia tersadar dan mengejar langkah Arfi.


"Ih, Arfi kok gitu sih?" teriaknya mengikuti langkah Arfi.


Sementara lelaki yang di depan hanya terkekeh, sesekali badannya berbalik, saat Nigar ingin menangkap tangannya lelaki itu terus menghindar.


Melupakan suasana ramai di dalam mall. Bahkan mereka melupakan waktu dan juga anak-anak Hazel yang menanti mereka di dalam mobil.


Asyik bercanda berdua, sesekali gelak tawa Arfi pecah. Melihat ekspresi kesal wajah Nigar. Memerah, dengan hentakkan kaki yang ia perdengarkan. Tidak pernah menyerah, semakin keras ia menginginkan, maka semakin senang Arfi memainkannya.


Tanpa sadar, bahwa cinta tidak akan bisa berbohong. Mau sekeras apa ditutupi, rasa nyaman akan sebuah hubungan akan selalu tampak nyata dan jelas.


Karena rasa bukan tentang siapa yang diinginkan. Melainkan di hati mana dia bisa berada dengan sangat nyaman.


Sesekali tangan Arfi menyentuh pucuk kepala Nigar. Butiran biru itu ia angkat setingginya, beberapa kali Nigar melompat. Sayang badan Arfi memang jauh lebih tegap.


Lelaki itu berulang kali mengetuk jari di atas bibir. Meminta ciuman. Menyejajarkan wajah dengan tangan yang diangkat setingginya. Gadis itu mendesis geram. Namun, keinginannya akan safir biru itu semakin menggebu.


"Sudahlah, aku menyerah!" Nigar menolak dada Arfi dan berjalan meninggalkan lelaki itu di depan pintu mall.


Lelaki itu hanya tersenyum, kedua tangannya kembali menyimpan tasbih itu ke dalam saku jaket.


"Khadijah, Khadijah. Sekeras apa kamu berusaha untuk lupa. Tetapi tetap ada hal yang menunjukkan, pada siapa cinta itu tertuju. Dan itu, hanya padaku." Senyum miring tercetak di bibir tipis itu.


Mata sayupnya menatap ke arah atas. Lantai dua tempat ia dan Nigar duduk tadi. Seorang lelaki mengancungkan jempolnya dan itu semakin membuat senyum Arfi terkembang lebar.


Mata sayupnya kembali menatap Nigar yang berjalan ke arah parkiran. Punggungnya semakin jauh dan mengecil. Sampai hilang di dalam mobil hitam Fortuner milik Ardan.


Lelaki itu mendesah pelan, lalu mata menatapi safir biru di genggamannya. Tidak tega sebenarnya, tetapi mau bagaimana?


"Maafkan aku, Khadijah."