For My Family

For My Family
94



Hazel membelai lembut rambut Nara, gadis itu masih terisak. Terkadang kalimat yang ia ucapkan tak terdengar jelas. Parau, suara gadis itu begitu serak.


Sesekali kepalanya terbenam di dalam pangkuan Hazel. Mencari tempat untuk mengadu, dia rasa Hazel adalah tempat yang paling aman. Tak pernah menghakimi atau pun mencerca, dia cukup bijak dalam menghadapi masalah.


"Mbak," panggil gadis itu setelah selesai menceritakan detil kejadiannya.


"Hem."


"Berjanjilah untuk tidak menceritakannya pada Pak Ardan."


"Aku berjanji."


Hening, gadis itu kembali masuk ke dalam dukanya. Sebenarnya bukan salah lelaki blasteran itu sepenuhnya, namun mengapa? Ia tidak bisa terima jika harus mengakhiri cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu.


"Boleh aku berbicara, Nara?"


Gadis itu membasuh pipi, lalu anggukkan dia berikan. Hazel mendesah panjang, tangannya masih mengelus kepala Nara dengan lembut.


"Saran aku menikahlah dulu." Seketika gadis itu mengangkat kepalanya, melihat wajah Hazel yang begitu teduh.


"Bukan aku tak mengerti hatimu. Tapi coba pikirkan lagi, sanggupkah kamu menghadapi kenyataan dengan statusmu itu?"


Gadis itu menundukkan pandangan, mencoba memahami ucapan Hazel.


"Berpikirlah untuk masa depanmu, Nara. Sebagian lelaki tak peduli pada kegadisanmu, tetapi sebagian lagi bisa saja menghakimimu karena masa lalu itu. Tak menyarankan agar kamu bercerai, tapi janda memiliki status yang lebih mulia dibandingkan gadis tak perawan. Bukan aku ingin menghakimi, tapi tak semua bisa menerima begitu saja. Pikiran dan cara pandang berbeda, dunia ini kejam. Manusianya yang membuat dia tampak mengerihkan."


Nara beringsut, kembali meletakan kepala di atas pangkuan wanita itu.


"Aku masih mencintai Pak Ferdi, Mbak. Gak mungkin aku menikahi lelaki lain. Harapanku masih terbebani oleh angan tentangnya, apakah Pak Ferdi peduli dengan kegadisan seorang wanita?" tanya Nara pahit.


"Sebelum bertanya tentang itu. Coba tanyakan pada asamu. Mungkinkah Ferdi bisa mencintaimu? Entah itu sekarang atau kedepannya, mungkinkah hatinya bisa terpaut akan dirimu? Ini sudah sangat lama, Ferdi tak melihat dirimu, bahkan sedikit pun dia tak menoleh padamu."


Nara terdiam, kenyataan itu memang sangat mengerihkan. Sakitnya bukan kepalang, tapi cinta memang butuh pengorbanan.


"Kita tak tahu apa yang direncakan Tuhan. Mungkin ini terlihat seperti luka, mungkin akan menjadi suka kedepannya. Cobalah untuk berpikir ini adalah kesalahan yang baik, maka seterusnya akan memang menjadi jalan terbaik."


"Dokter Pedro juga tidak mencintaiku, Mbak."


Hazel tersenyum, lelaki tak akan menyentuh jika hatinya tak terenyuh. Bahkan saat memilih wanita malam, mereka mencari yang menarik perhatian.


Benarkah dia tidak mencintai? Atau mungkin rasa itu telah hadir, akan tetapi, tidak mereka sadari. Sebab cinta sesuatu yang unik, kadang dia dalam, namun tak terasa ada.


Atau mungkin tak ada, namun begitu dalam. Obsesi, atau lebih tepatnya ego dalam diri. Menyebutnya cinta, padahal hanya keinginan untuk memiliki. Percaya atau tidak, cinta tak selamanya harus bersama. Ada yang memberikan nama cinta, tapi dia membuktikannya dengan cara melupakannya.


Kejam? Bukan, namun memaksakan diri agar dicintai itu menyesakkan. Sebab dia yang tak cinta, tak akan pernah bahagia selama apa pun kita menggenggamnya.


Lepaskan saja, jika dia bagian dari hatimu. Tak perlu dipaksakan dia akan menjadi serpihan yang akan melengkapimu. Tetapi jika bukan, maka selama apa kamu mencocokkannya, dia tetap menjadi puingan yang patah dan tak akan pernah bisa menyatu.


"Menikah bukan hanya atas dasar cinta, Nara. Namun, juga ibadah. Ini kesalahanmu dan dia, tapi ini bisa menjadi bagian ujian dan ladang pahala yang sedang Dia tunjukkan. Jangan melihat masalah dari satu sudut pandang saja. Berpikirlah tentang yang baik, maka Dia akan memberikan yang baik."


Gadis itu terdiam, kini air mata mulai berhenti menyapa. Ada sesuatu yang membuat perasaannya lega. Kadang kita memang butuh pendengar untuk sebuah masalah. Kita tak tahu, kadang Allah menyadarkan kita lewat nasihat orang lain.


"Sejauh yang aku kenal, Dokter Pedro bukanlah lelaki yang ********. Dia mungkin melakukan kesalahan, tapi jangan hakimi dia karena satu perbuatannya. Terlalu picik jika kamu membencinya atas kesalahanmu juga."


"Bagaimana jika Dokter Pedro hanya menikahi saja. Setelah itu, dia tak menganggap aku istrinya?" tanya Nara seraya menatap wajah Hazel.


Bibir mungil itu terkembang, ia menarik bahu Nara dan mendudukkannya.


"Semua itu tergantung sikapmu, Nara. Jangan minta dihargai jika kamu tak bisa menghargai. Jangan minta cintanya jika kamu tak bisa menunjukkan cintamu. Jangan harapkan pengakuannya jika kamu tak mau mengakuinya. Mulai dari dalam dirimu, setelah itu biarkan Dia yang mengatur sisanya. Lakukan yang terbaik dan doalah yang baik-baik. Setelah itu serahkan saja pada-Nya, sebab Dia, tahu mana jalan yang paling baik."


Gadis itu menelan salivanya, entah mengapa dia tidak siap untuk menikah. Hubungan itu suci, dan ia tak ingin menodainya.


"Aku akan telepon Dokter Pedro, kita cari jalan keluarnya sama-sama. Masalah ini tak selesai jika hanya dibahas sendiri, Nara."


Hazel mengeluarkan ponselnya, ia menekan sederet angka. Cepat tangan gadis itu menahannya, saat Hazel melihat ke arahnya, kepala itu menggeleng.


"Halo," panggilan dari seberang sana sudah lebih tersambung.


Hazel hanya diam, menatapi Nara yang melihat ke arah ponsel.


"Hazel," panggil lelaki itu lagi.


Perlahan tangan Nara terlepas, ia menundukkan pandangannya. Hazel tersenyum dan mengaktifkan pengeras suara.


"Ada apa? Apa Surya baik-baik saja?" tanya Pedro berpura-pura. Padahal ia tahu saat ini Hazel menelpon untuk hal lain.


Ia masih di sini, di balik setir depan rumah Hazel. Menunggu gadis itu untuk keluar, namun nyatanya gadis itu bertahan di sana.


"Hem, begitulah. Ada hal lain juga yang ingin saya sampaikan," sahut Hazel seraya melirik Nara.


"Aku akan sampai lima menit lagi, kebetulam lagi di rumah pasien yang dekat dengan rumahmu."


"Baiklah, saya tunggu." Tanpa ada jawaban lagi, lelaki itu memutuskan panggilannya.


Nara kembali menangis, memeluk badan Hazel. Bagaimana juga, hatinya tak bisa dibohongi. Ia belum rela menikahi lelaki asing itu. Terlebih, menikah bukan karena cinta.


***


Manik berwarna cokelat itu memandangi Nara dengan lekat. Kuyu sekali, wajahnya terihat pucat pasi. Dengan rambut yang tidak lagi rapi, berantakan, menambah iba di dalam nurani.


Hazel meletakan dua gelas teh hangat, lalu ia duduk di antara dua manusia itu. Hening, saling terdiam dalam pandangan yang menyakitkan.


Pedro tak berucap, ia sadar kalau saat ini Hazel telah mengetahui segalanya. Jelas sekali ia malu, tak ada muka lagi saat berhadapan dengan wanita penghuni hatinya itu.


Sedang, Nara hanya tertunduk. Tak lagi menangis, namun raut wajahnya kacau. Jiwanya terluka, bersama dengan tubuhnya yang penuh noda.


"Nara," panggil Hazel lembut. Ia mulai bosan berada di tengah pertentangan sebuah hubungan ini.


Gadis itu mengangkat kepala, mata menatap Hazel. Lalu beralih pada lelaki blasteran yang ada di depannya.


"Kinara," panggil Pedro lembut.


Gadis itu hanya mengangguk, tak mau lagi menatap. Sebenarnya ia benci, namun ia tak bisa menungkiri.


Pedro menatap ke arah Hazel, wanita itu hanya tersenyum. Memberikan kekuatan dari kembangan bibirnya.


Lelaki itu menghela napas panjang, menautkan kedua jemarinya. Malu dan juga grogi, bagaimana bisa dia mengakui kesalahan itu di depan Hazel.


"Jika kalian ingin berdua, aku akan berikan waktu." Wanita berperut buncit itu bangkit, cepat tangan Nara mencekalnya, kepalanya menggeleng, dengan embunan kaca kembali melapisi netra.


"Duduklah, Hazel. Lebih baik kita bahas bersama."


Tak bisa menolak, Hazel hanya bisa mengikuti keinginan dua orang itu. Kembali duduk, kali ini berdampingan dengan Nara.


"Maaf, Nara. Aku akan bertanggung jawab padamu, izinkan aku melakukannya, ya," ucap Pedro lembut.


Tak ada sahutan, gadis itu terus tertunduk dengan kedua tangan yang saling meremat kuat.


"Kinara Anjani, aku Pedrosa Da Villa, melamarmu di depan Hazel. Maukah kamu menerimanya?" tanya Pedro lembut.


Gadis itu mengigit bibir bawah pelan, terdiam dalam waktu yang cukup lama. Ia kembali menatap Hazel, ada rasa tak rela yang terpancar dari dua bola mata itu. Kenyataan tak akan bisa dipalingkan, ia ternoda, dan hanya bisa pasrah menjalani masa depan yang tak sempat ia tata sebelumnya.


"Nara." Hazel mengambil kedua tangan Nara, menyalurkan rasa untuk gadis yang tengah terluka itu.


Gadis itu kembali menatap ke arah Pedro, detik kemudian kepalanya mengangguk pelan.


Tak ada kebahagian di wajah keduanya, sama seperti Nara. Gadis yang ia cintai adalah yang memeluk calon istrinya itu.


Lagi, takdir mempermainkan mereka dalam ikatan rumit. Entah membawa berkah, atau derita.


Entahlah, saat kesahalan telah terjadi. Semua hanya berjalan di atas tanggung jawab, bukan lagi di dasari hati dan cinta.


Iba dan kasihan, bisakah itu menjadi pondasi yang kuat untuk sebuah ikatan suci sepanjang hidup ini?


Atau hanya status agar diri tak terlalu hina di hadapan manusia dan semesta?


Entahlah, kadang rancangan Tuhan terlalu rumit untuk diartikan. Cukup dirasakan dan dijalankan. Ke mana arah dan tujuan, biarkan Dia yang menjadi panduan.


Sebab ada masalah yang tak akan pernah pecah di dalam logika. Hanya bisa menunggu waktu agar semua terlerai secara sempurna.


Kadang ada masalah yang hanya bisa ditunggu, lama, bahkan hampir membuatmu gila. Bukan masalahnya yang terlampau besar, namun, Dia sedang mengajarkanmu tentang arti ikhlas dan sabar.


Maka cukup berdiam, berdoa dan bertawakal. Karena dalam hidup ini ada yang selesai tanpa perlu kamu lerai.