
Pandangan mata Ferdi langsung tertuju pada ruang keamanan saat pertama kali turun dari mobilnya.
Dahinya berkerut, hal apa yang membuat ruang keamanan bisa seramai itu saat pagi begini.
Langkah besar itu mendekat, dari jarak lima meter sudah terdengar suara berat seorang lelaki sedang memarahi beberapa orang petugas.
"Apa kalian bosan kerja?" tanyanya dengan amarah yang tertahan.
Ferdi mengencangkan langkahnya, terlihat beberapa karyawan menunduk ketika lelaki berkacamata itu mendekat.
"Pergilah, isi absensi kalian," perintahnya lembut.
Seketika kerumunan itu bubar, masuk ke dalam gedung perusahaan. Mata teralih pada lelaki berjas di dalam ruang keamanan.
Mengendurkan dasi agar udara pengap bisa sedikit longgar.
"Bagaimana bisa kalian memberikan rekaman CCTV perusahaan kepada orang luar? Tak peduli dia siapa, bahkan seorang petugas kepolisian saja membutuhkan izin Ferdi untuk mengcopy rekamannya!" bentaknya lagi.
Ferdi membuka ruangan itu, seketika semua pandangan beralih. Beberapa petugas langsung menundukkan pandangan saat mengetahui siapa yang datang.
"Ardan, tenanglah. Tak baik memarahi bawahan di depan semua karyawan," ucap Ferdi lembut.
"Siapa yang marahi di depan karyawan, ha? Aku memberikan arahan di depan petugas," bela Ardan.
"Tapi suaramu membuat seluruh karyawan berkerumunan."
Ardan diam, mencoba menarik napas agar kemarahannya sedikit mereda. Tatapan tajam itu kembali pada beberapa petugas yang sedang bekerja.
"Dengar ucapanku. Sekali lagi kalian mengeyampingkan prosedur hanya karena mantan Direktur itu. Bersiaplah cari pekerjaan baru!" ancam lelaki bermata tajam itu sembari keluar dari ruang keamanan.
Ferdi mendesah panjang, kepalanya menggeleng pelan. Kadang masalah wanita bisa membuat profesional di dalam diri pria itu menghilang.
"Kalian," ucap Ferdi ke pada petugas berseragam navy itu.
"Saya, Pak," lirih mereka menjawabnya.
"Perhatikan kerjaan kalian lebih baik lagi. Arfan memang mantan Direktur di sini. Tapi saat ini, dia tidak punya wewenang untuk menekan atau pun mengancam kalian."
Para pria gagah itu hanya tertunduk, berbeda dengan sahabatnya itu. Lelaki berkacamata tersebut lebih tenang dalam memberikan peringatan.
"Ada saya, ada Pak Ardan. Kalian bisa melapor jika dapat ancaman dari luar. Dan sebagai petugas keamanan, bukankah kalian yang seharusnya melindungi perusahaan?"
Ferdi menarik napasnya, sebenarnya bukan salah mereka juga. Dia tahu sekali watak Arfan bagaimana. Jika tidak bisa meminta dengan cara lembut, maka cara kasar bisa saja dia lakukan.
"Sudahlah, ini yang pertama dan terakhir kali kalian berbuat masalah seperti ini. Ingat kejadian ini baik-baik, dan jangan ulangi lagi!" Kini nada itu terdengar lebih tegas, tidak membentak, tetapi tidak ingin dibantah juga.
Ferdi menyusuli lelaki yang berdiri di luar ruang keamanan itu. Sudah tanpa jas dengan sebatang rokok menyelip di sela jarinya.
Ferdi merangkul bahu kekar itu, lembut ia menumbuk dada berkemeja biru gelap tersebut.
"Sudahlah, lagian Hazel juga sudah baik-baik saja. Tahan emosimu, Teman."
Ardan menghempaskan rangkulan tangan Ferdi. Tajam tatapannya menatap lelaki berkacamata itu.
"Enak sekali kamu bilang sudahlah! Ini juga salahmu, istri dan anakku hampir mati karena ide gila itu."
"Tapi kamu menikmatinya, bukan?" goda Ferdi seraya memainkan kedua alis matanya.
Ardan memijak putung rokok yang baru dua kali ia hisap. "Menikmati kepalamu itu!" sengitnya ketus.
"Aku hampir bercerai, Ferdi!" sungutnya kesal.
Langkah dua lelaki itu berjalan memasuki gedung perusahaan.
"Dapati hatinya setengah mati. Minta cerainya setengah emosi. Bagaimana jika aku menjatuhkan talak karena emosi? Ha?" tanya Ardan sedikit kesal.
"Ya sudah. Cari gantinya."
"Sialan emang!" rutuk Ardan geram.
Ada dua mata gadis yang memerhatikan dua lelaki itu berjalan melewati divisi mereka.
Kinara dan Khadijah, memandang wajah berkacamata itu dengan lekat dan dalam.
Yang satu memandang dengan rasa yang telah terbenam bersama harap yang tak pernah tercapai.
Satu lagi memandang dengan segala kebimbangan atas rasa yang tak tentu arah. Kembali menata asa bersama kepingan luka yang tersisa dan bersiap menusuk kapan saja.
Atau, menata masa depan bersama hati yang baru dan masih menjaga segala rasa itu secara sempurna.
Ardan membuka pintu ruangannya dengan mulut yang terus mengomel tak jelas. Sementara sang Kawan masih siap dengan godaannya yang semakin membuat Ardan meradang.
"Kacau! Kacau!" teriaknya lagi. "Perusahaanmu kacau! Butuh pembersihan, tau gak? Ha?" Ardan menyampakkan jas di kursi kerjanya. Menggulung lengan kemeja sampai batas siku.
Sedang Ferdi hanya terkekeh, menumpuhkan bokong di meja kerja Ardan.
"Petugas keamananmu buruk, karyawan divisimu kacau! Sebenarnya ini perusahaan apa? Panti sosial atau biro jodoh? Keluar masuk sembarangan, dia pikir ini ingus?"
Ferdi terbahak, lelaki itu menggelengkan kepalanya seraya membuka map-map di atas meja Ardan.
"Sudahlah, Ardan. Masih pagi kenapa harus seemosi itu? Lagian Hazel dan anakmu juga sudah baik-baik saja."
"Baik-baik saja matamu itu! Anakku keluar dua bulan lebih cepat! Dia masih butuh nutrisi dari ibunya."
"Tapi dia imut ya, pipinya itu, gembul."
Seketika lelaki beralis tebal itu terdiam, pikirannya kembali mengingat putrinya.
Lalu, secarik senyuman terukir di wajahnya. Emosinya menghilang, entah kemana.
"Enaknya dikasih nama apa, ya?" tanya Ardan menimbang.
"Tukinah, keren itu," jawab Ferdi asal.
Sebuah map memukul dada lelaki berkacamata itu. Ia terbahak, melihat wajah sang Teman yang berubah suntuk seketika.
"Kau pikir anakku lahir di zaman apa? Zaman batu?" tanya Ardan ketus.
"Zaman perang dunia sepanjang sejarah," jawabnya terkekeh.
Seketika gelak tawa itu pecah, memikirkan Hazel yang akan mengomel seandainya nama itu dia ajukan.
Sebuah ketukan menghentikan bayangan itu, seorang gadis berhijab masuk dengan beberapa berkas di dekapannya.
"Pak, ini berkas yang Anda minta. Rangkuman keputusan rapat, dan ... untuk data grafiknya, sepertinya Kinara lebih mengerti dibandingkan saya."
"Mana dia?" tanya Ardan garang. "Sudah masuk?"
"Sudah, Pak," jawab Khadijah lembut.
"Suruh dia menghadap saya. Biar saya kasih pernyataan cinta teromantis sepanjang sejarah!"
Ferdi tersenyum, ia menggelengkan kepalanya pelan. Terkadang Ardan ini, emosinya sangat tidak terkontrol jika menyangkut sesuatu yang berharga baginya.
"Baik, Pak Ardan." Khadijah mengggit. bibir bawahnya. Mata memandangi wajah teduh lelaki berkacamata itu. Tersenyum mendapati segala unik tingkah sahabatnya itu.
Khadijah menarik napasnya, lirih bibirnya mengucapkan basmallah.
"Ehm, Pak Ferdi," panggilnya lembut.
Ferdi melirik, menatap wajah gadis itu yang terlihat sangat tegang.
"Bisakah kita bicara berdua sebentar?" pintanya lirih.
Ardan tersenyum, melirik ke arah Ferdi.
"Wew, hati-hati loh berduaan. Nanti jadi bayi," goda Ardan seraya menyilangkan kedua tangan di dada. Menyandarkan punggung pada kursi.
Ferdi mencebik kesal, map di dalam genggamannya ia tutup dan mengetuk kepala Ardan pelan.
Sedang gadis itu hanya tertunduk, segurat kemerahan menghiasi wajah cantiknya. Malu mendengar ucapan lelaki beralis tebal itu.
"Kita keruangan saya," ajak Ferdi lembut.
"Wuuiih ... kita!" ledek Ardan lagi.
Ferdi menajamkan tatapan matanya, melirik sinis sebelum keluar dari ruangan.
"Jangan lama-lama, sekali langsung jadi, ya. Biar anakku ada kawannya!" teriak Ardan sebelum lelaki itu hilang di balik pintu.
"Saya permisi, Pak," pamitnya lembut.
Ardan bersiul lembut, meminta gadis itu menaikan wajahnya.
"Ingat Khadijah, anakku butuh teman." Ardan mengedipkan sebelah matanya, menggoda gadis polos itu agar semakin memerah.
Khadijah terdiam, melihat gaya Ardan semakin mengingatkannya pada Arfi. Caranya menggoda, sama persis. Termasuk garis wajah dan juga tatapan mata itu.
"Anda berpikir terlalu jauh, Pak." Gadis itu berbalik, meninggalkan ruangan Ardan.
Selang beberapa menit, gadis yang lainnya masuk. Dengan kepala tertunduk dan jemari yang meremat satu sama lain.
Terlebih, ketika tatapan mata tajam itu bagaikan hunusan pedang yang siap menancap kapan saja.
"Jelaskan pada saya, kenapa kamu menggunakan istri saya untuk kepentinganmu?" tanya Ardan sinis.
"M-ma-maaf, Pak."
"Kamu pikir apa yang terjadi setelah kamu pergi bisa selesai dengan kata maaf?" bentak Ardan ketus.
Kinara hanya tertunduk, sadar bahwa ia telah bersalah. Dan untuk itu, dia tak ada kata untuk membela.
"Kamu dipercaya untuk mewakili perusahaan ini. Di mana profesionalitas kerjamu, Nara?" tanya Ardan tertahan.
"Maaf, Pak."
"Saya tau kamu dan istri saya sangat dekat. Tapi bukan berarti kamu bisa gunakan Hazel untuk meminta izin dengan cara yang lebih mudah. Kita di sini semua sama! Gak ada hak prerogatif perorangan, entah itu kamu atau yang lainnya!"
"Saya tau, Pak. Maaf sekali lagi," sesalnya lagi.
"Ambil surat SPmu, saya gak mau kamu mengulanginya lagi, atau gak kamu saya pecat!" teriak Ardan lagi.
Kinara menghela napasnya, ia berjalan mendekat ke meja Ardan.
"Berawal dari kamu juga, Hazel melahirkan prematur."
Seketika tangan yang ingin mengambil surat itu terhenti.
"Mbak Hazel sudah melahirkan?" tanyanya kaget.
"Iya! Dan itu berawal darimu yang hilang tiba-tiba!" ketus Ardan lagi.
"Saat ini bagaimana keadaannya, Pak?"
"Baik-baik saja."
"Pak, bolehkah saya izin sebentar untuk melihat keadaan Mbak Hazel?"
Ardan terdiam, ia memandangi wajah cantik itu lekat.
"Pergilah, sekalian jagain istri saya. Hari ini kamu jagain dia saja."
Kinara tersenyum, ia mengangguk dengan cepat. Gayanya tak ada hak istimewa, tapi jika sudah menyangkut Hazel. Semua bisa jadi istimewa.
"Terima kasih, Pak," ucapnya berniat pergi.
"Heh! Ini, ambil SPmu!" teriak Ardan lagi.
Kinara menyeringai, menarik surat itu dan berlalu dengan cepat.
Di sisi lain, Khadijah berusaha menenangkan degup jantungnya yang berdebar kian mengencang. Terlebih, saat iris di balik lensa itu menatap dengan lekat.
Berulang kali ia memejamkan mata dengan helaan panjang yang keluar dari bibirnya.
Mata berwarna cokelat itu membalas tatapan mata Ferdi.
"Bismillah ... saya ... menerima lamaran Anda."