
Hazel memakaikan bando berpita di kepala plontos bayinya yang baru saja selesai mandi.
Setelah melewati drama panjang, karena Ardan tak rela rambut Yena dicukur. Akhirnya lelaki itu mengalah setelah mendapat ledekan dari Arfi dan Ferdi.
"Yee, cantik anak Bunda." Hazel mengangkat tubuh mungil itu, mencium harum tubuhnya yang begitu khas, minyak telon.
Sementara Ardan terus bersungut kesal. Matanya sempat memaling dari laptop, lalu kembali sibuk pada pekerjaannya.
"Ngapain dipakein pita? Kepala udah dibotakin juga!" sungutnya masih kesal.
"Ya Tuhan, Mas. Bayi memang harus dicukur rambutnya."
"Biar apa?" tanya Ardan ketus.
"Ya biar rambutnya numbuh lagi yang lebih bagus. Rambut bawaan itu halus-halus, kata mereka itu rambut darah, Mas."
"Kata siapa?"
"Ya ... kata--"
"Alah, itu hanya mitos, Hazel. Hanya adat dan budaya. Kita ini hidup di zaman apa? Masih aja percaya sama yang begituan?" sungut Ardan semakin geram.
Ia mencoba tak menatap putrinya yang tak lagi cantik. Bagaimana mungkin seorang putri dibotakin seperti itu.
"Jadi kamu tidak mau lagi mengangap Yena putrimu, Mas?"
"Mana mungkin! Yena itu anakku," sahut Ardan geram.
"Terus kenapa semenjak dia dicukur Mas gak mau lagi lihati dia kayak pertama lahir?"
"Aku sedih lihat dia begitu!" teriak Ardan semakin kesal.
"Ya Allah, Mas. Cuma dicukur biar cantik, ih," sahut Hazel seraya membenarkan letak pitanya.
"Lagian orang Turki kok ngikut adat. Turki bagian mana coba?"
Hazel menghela napas, berusaha untuk tidak terpancing rentetan omelan sang suami.
"Kapan coba numbuhnya itu? Kal dikira orang cowok gimana?"
"Terus udah botak, mau gimana?"
"Kan udah aku bilang! Jangan dibotakki dia itu anak cewek, Hazel. Cukur rambut gak mesti botak, potong sebagian sebagai syarat saja, memang kenapa?"
"Terus udah botak juga. Apa mau dibuat?" tanya Hazel ikut kesal.
"Belikan aja dia wik, sedih aku lihat Yena begitu. Tega!"
Hazel terkekeh, matanya teralih ketika Arfi membuka pintu kamarnya.
"Astaga! Masih ributi masalah kebotakan, Yena?" tanyanya mendekati Hazel yang sedang berdiri di depan sofa kamar. Menggendong Yena yang baru saja selesai ia mandikan.
"Entah tuh, sudah dibotakin. Kenapa masih diributi?" bela Hazel.
Arfi mencolek pipi tembam bayi di dekapan Hazel. Bermain dengan putri Kakaknya tersebut.
"Papamu itu bersisik sekali, Yena. Bahkan suaranya menggelegar sampai keluar. Memang kenapa kalo Yena botak? Botak juga cantik, kan," ledek Arfi seraya memainkan pipi tembam bayi cantik itu.
"Kau kubotakan sini. Mau, gak? Hah?" tanya Ardan geram.
"Weits, sembarangan! Rambutku ini lambang kekerenanku. Selalu tersentuh penata gaya terkenal. Enak aja mau botakin seenaknya."
"Kalo begitu kenapa sibuk kali ingin membotakki bayiku, ha? Dasar adik lucknut!"
Arfi dan Hazel terkekeh, menggelengkan kepala pasrah. Entah mengapa? Ada saja bahasan yang membuat Ardan marah-marah.
"Hazel berikan padaku sebentar, aku ingin meggendongnya," pinta Arfi gemas.
"Jangan! Dia belum berpengalaman. Bagaimana jika Yena kenapa-napa?" tahan Ardan cepat.
Lelaki itu menutup laptopnya, mendekati Arfi yang berdiri di depannya.
"Astaga! Aku akan hati-hati, Kak. Kenapa pelit sekali? Dia juga tidak akan berkurang kalo aku gendong."
"Nanti kalo Yena kenapa-napa bagaimana? Ha?"
"Ya tinggal diganti aja," jawab Arfi enteng.
"Halah ... mau diganti sama apa? Mau buat sama siapa? Jomlo aja, banyak gaya."
"Ya, sama Hazellah. Kan dia ibunya."
Ardan mengepalkan tangannya, kaki panjangnya menendang Arfi, geram.
"Sama siapa? Ha?" tanya Ardan garang.
"Ya Lord, aku hanya bercanda! Kenapa semua gak boleh, sih? Ini rumah apa neraka? Astaga, Erlangga yang satu ini!" sungut Arfi geram.
"Kalo begitu kenapa masih betah tinggal di sini. Sudah dua bulan, kapan kau akan pulang?"
"Mas," tahan Hazel sedikit menekan.
"Memang mau setahun aku tinggal di sini, ada masalah? Lagian ini rumah Kakakku," jawab Arfi seraya menyilangkan tangan di depan dada.
Bibir tipis itu menyungging sebelah, semakin geram melihat ulah si bungsu Erlangga.
"Hazel, catat semuanya, biaya tinggal, makan, listrik, air yang dia pakai, dan juga ganti rugi hasutan atas rambut putriku."
Hazel terkekeh, ia memilih menjauh. Sebenarnya pengang juga mendengar dua Erlangga itu terus bertekak.
Memilih duduk di tepi ranjang dan memunggungi dua saudara itu. Memberikan asi pada putrinya.
"Kau bukan seperti Erlangga! Seperti Bu Tejo aja. Nyinyir sekali!"
"Apa kau bilang? Katakan sekali lagi?" Ardan menarik kedua pipi Arfi geram.
"Coba kau katakan lagi, aku ini siapa?!" pekik Ardan kesal.
Arfi menghempaskan tangan Ardan, terkekeh seraya memegangi perutnya. Geli melihat ulah Ardan yang lebih mirip emak-emak berdaster. Cerewet sekali. Mengalahkan istrinya.
"Astaga, si Penggoda ini." Arfi memalingkan wajahnya, secepatnya badan itu berbalik secara paksa.
"Hei, jomlo jangan ganjen! Jangan lihat istriku yang sedang menyusui!"
"Hahahaha! Aku tidak melihatnya, ya Lord. Ardan!"
Ardan mendorong badan itu keluar. "Cari sana ibu susumu. Biar kau bisa menyusui juga. Sana!" Ardan menutup daun pintu kamarnya dengan keras.
Membuat gelak tawa itu pecah, geli melihat ulah sang Kakak yang begitu cerewet setelah menikah.
Tawanya memudar seketika, melihat Ferdi berada di ujung anak tangga.
Arfi meneguk salivanya, tersenyum tipis seraya mendekati lelaki berkacamata tersebut.
"Kak, kamu mencari Kak Ardan?" tanyanya berusaha tenang.
"Tidak! Aku mencarimu."
Arfi mengangguk, dia mulai mengerti. Beriringan langkah itu berjalan menuruni anak tangga.
Keluar menuju garasi rumah, mencari tempat untuk menyelesaikan masalah mereka berdua.
Terdiam. Untuk jeda yang cukup panjang. Dua lelaki itu hanya saling diam semenjak tiga puluh menit berada di taman kota.
Memandangi jalanan pagi yang masih banyak orang berlari pagi. Dua botol soda yang diletakan Arfi di antara dia dan Ferdi menjadi jeda. Hubungan mereka mulai berjarak karena masalah cinta.
"Kamu sudah mengetahuinya, bukan?" tanya Ferdi memecahkan suasana.
"Khadijah sudah memberitahumu tentang aku dan dia?"
Arfi membuka salah satu penutup sodanya, lantas tangannya terulur. Memberikan untuk lelaki berkacamata di sebelah.
"Dia hanya mengatakan akan menikah. Tetapi dia tidak mengatakannya dengan siapa. Jika aku tau yang akan dinikahinya adalah Kak Ferdi. Mungkin ...." Arfi menarik napasnya.
"Kamu akan mengalah?"
Arfi memalingkan wajahnya, melihat wajah teduh Ferdi. Dikatakan mengalah? Mengapa ia tidak rela?
"Kamu juga tidak bisa, kan?" tanya Ferdi seraya memutar kaleng soda miliknya.
Ferdi menarik napasnya, mencoba menahan rasa sakit atas luka yang semakin melebar. Bahkan ini bisa saja melibatkan hubungan dia dan Ardan ke depannya.
Untuk itu, ia mencoba menyelesaikan sebaik mungkin dengan Arfi. Walau berat, ia akan berusaha untuk tetap kuat.
"Aku sadar berada di posisi yang mana. Hanya sebagai ujian untuk cinta kalian berdua. Kedepannya, bisakah kamu tidak mengecewakannya lagi?" tanya Ferdi lembut.
Arfi menggeleng pelan, ia mulai membuka penutup soda miliknya.
"Apa itu artinya Kakak menyerahkan Khadijah padaku?" tanya Arfi lagi.
"Apa mungkin aku memaksakan diri untuk menahannya? Jelas yang dicintainya adalah kamu Arfi. Bahkan dia rela meninggalkan rumah dan mencarimu ke sini?"
Arfi menaikan sebelah alis matanya. "Mencariku?" tanya Arfi bingung.
"Ya. Dia pernah mengatakan sedang mencari seseorang yang sangat berarti buatnya. Bukankah itu kamu?"
Arfi menggeleng, ia meneguk soda itu perlahan.
"Yakinkah Kakak kalau yang dia cari itu aku? Atau hanya alasan agar dia terus menjauh dariku?" tanya Arfi lagi.
Ferdi mengerutkan dahinya.
"Kak aku ini siapa? Kami sama-sama tinggal di ibu kota. Tak akan sulit jika dia ingin menemukanku di sana. Hanya perlu mendatangi salah satu perusahaan Erlangga. Arfi Erlangga, siapa yang tak mengenalnya?"
Ferdi terdiam. Selama ini dia tidak pernah terpikir seperti itu. Benar, menemukan Arfi bukanlah hal yang sulit. Jika memang Khadijah mencarinya, mana mungkin gadis itu meninggalkan ibu kota secara diam-diam.
"Jangan menyerah begitu cepat, Kak. Ayo kita bersaing untuk meluluhkan hatinya. Karena jika kamu melepaskannya." Arfi melihat ke arah Ferdi dan tersenyum getir.
"Kau semakin membuatku tak pantas untuk bersaing denganmu."
"Maksudnya?" tanya Ferdi tak mengerti.
"Siapa aku jika dibandingkan dirimu?"
Ferdi tersenyum, kepalanya menggeleng pelan. Apa Arfi tak salah? Dia hanya pemuda biasa? Lantas apa yang membuat Arfi merasa kalah bersaing dengannya.
Jelas statusnya dan juga dirinya itu tak akan pernah sama. Dari tampilan, gaya, dan segala yang Arfi punya. Bahkan seujung kuku saja Ferdi tak sanggup mengikutinya.
"Apa kau tak menydarinya? Kau putra Erlangga, Arfi. Sedangkan aku, hanya lelaki biasa."
"Tapi Khadijah tidak pernah memandang itu semua. Khadijah tidak pernah silau dengan harta atau nama besar keluarga Erlangga."
Arfi tertawa getir, kedua jemarinya meremat kaleng soda yang ada di dalam genggaman.
"Yang Khadijah cari bukanlah lelaki kaya. Melainkan lelaki yang bisa menerima segala kekurangannya."
Ferdi tertegun, ia pernah merasa tidak akan bisa jika bersaing dengan Arfi.
Kemarin, dia berpikir karena Arfi adalah putra Erlangga. Kali ini dia salah, bukan Arfi yang memiliki segalanya yang tidak bisa dia kalahi.
Melainkan Arfi yang mengenal Khadijah lebih dalam dari dirinya yang tak mampu ia saingi.