
Seulas senyuman terukir di wajah manis lelaki bermata tajam itu. Tangannya membelai lembut rambut Hazel.
"Kenapa aku?" Kini wajah itu terlihat sedikit bahagia.
"Ehm, walaupun aku benci mengakuinya. Tetapi apa yang kamu ucapkan benar, Mas."
"Masa?"
Hazel memanyunkan bibirnya dan mengangguk. Ia mengubah posisinya menjadi duduk lebih tegak.
"Dulu, di dalam duniaku hanya ada beban berat. Orang asing dan dunia yang kejam."
Mata berwarna madu itu menatap kosong ke depan. Jarinya meremat tangan Ardan, kuat.
"Saat aku jatuh, saat aku bangkit, saat aku sulit dan susah. Saat aku ditolak, saat aku dihina dan saat aku terus berjalan dalam luka. Aku selalu berpikir, seandainya mas Iqbal ada, seandainya aku hanya mahasiswi yang masih bisa bermanja dengan Ayah. Mungkin, masih ada tempat untuk aku berhenti dan bersandar di dunia ini."
Bibir kecil itu kini tersenyum, memperlihatkan jajaran gigi kecilnya. Namun, Ardan melihat, ada genanangan kaca yang berusaha ia tahan di dua bola indah itu.
"Aku lelah, Mas. Aku ingin berhenti, tapi tak bisa. Aku ingin menjerit, tapi suaraku tertahan luka. Aku hancur, dunia dan yang dikatakan saudara semua menjadi sangat asing. Aku tidak memiliki apapun ataupun siapapun. Di dunia ini, aku hanya bagian asing perjalanan kejam ini."
"Hazel."
"Iya."
"Kalau aku boleh tahu, kenapa kamu bisa menjadi seperti ini?"
"Pemberontakan."
"Hem?" Ardan mengernyitkan dahinya, terduduk di sebelah wanita muda itu.
"Dulu ayah mengajak aku kembali ke Turki. Aku tidak mau, aku ingin di sini dan menetap selamanya di sini. Aku gak tahu saat itu ayah di bawah tekanan."
"Lalu?"
"Hari itu datang, keluargaku menghilang. Atasan Mas Iqbal datang dan membawaku ke kamp pengungsian." Hazel menghela napasnya, menjatuhkan kepala di atas bahu Ardan.
Tangannya mulai melilit lengan kekar berbalut kemeja hitam lelaki tersebut.
"Mas Iqbal tentara yang kejam, Mas. Aku takut saat pertama kali melihat dia. Tetapi senyumnya membuat aku aman. Dia yang terkuat, jadi, aku berada di bawah lindungannya karena keluargaku masih tak jelas statusnya."
"Kenapa kalian bisa menikah."
"Karena aku yang hampir gila."
"Apa?" tanya Ardan sedikit terkejut.
"Aku tidak pernah tidur, makan hanya sesuap dan minum hanya seteguk. Aku yang sering histeris dan menangis sepanjang malam. Demi aku, Mas Iqbal meninggalkan tunangannya dan menikahiku secara agama."
"Apa kamu mencintainya?"
"Entahlah, aku hanya punya dia setelah seluruh keluargaku hilang. Setelah semua yang kumiliki terampas orang. Aku hanya punya dia tenpat untuk bersandar dan bertahan. Walau, pada nyatanya, dia hanya memindahkan aku dari luka satu ke luka yang lainnya."
"Maksudnya?"
"Mas Iqbal menyelamatkanku yang hampir gila karena kehilangan segalanya. Dia membawaku ke tempat asing ini, meninggalkanku lagi dan membiarkanku sendiri menjalani semuanya. Pernikahan kami, baru bisa sah setelah setahun kami bersama. Pasti, dengan semua luka baru yang Mas Iqbal kenalkan padaku. Terkecam, terhina, dikatakan wanita kutukan dari ujung negara dan perebut calon suami orang."
Hazel menghela napasnya dengan berat, terasa tetesan hangat mulai membasahi sisi bahu kemeja Ardan.
Hening, sesaat mereka hanya terdiam. Sama-sama membuka masa lalu, bukanlah hal yang mudah. Namun saat ini, rasanya sedikit berbeda karena ada pundak yang bersedia menanggungnya bersama.
"Aku mencintai Mas Iqbal? Mungkin. Karena aku tidak tahu apa itu cinta. Aku hanya gadis naif, saat itu aku masih berumur belasan tahun. Terbiasa dimanja dan dipenuhi segalanya. Aku merasa hangat dengan kasih sayang keluarga, jadi aku tidak pernah tertarik untuk mengenal cinta dari luar."
"Saat ini, apa yang kamu rasakan saat mengingatnya?"
"Luka."
"Luka?"
Hazel mengangguk, tangannya menghapus sudut dagu yang sudah banjir dengan lintasan bulir bening matanya.
"Aku benci dunia asing ini. Mas Iqbal membawaku ke sini tetapi dia tidak menemaniku untuk mengenalinya. Dia selalu membiarkan aku sendiri, sepi, di tengah impitan beban dan jauhnya harapan. Terkadang aku ingin bercanda saja tidak bisa. Hanya dentingan jam yang selalu menemani hati-hariku. Menanti, menunggu kabar ataupun hanya sebuah pesan."
Ardan meneguk salivanya yang terasa kian pahit. Melirik sekilas ke arah Hazel. Baru ia sadari, bahwa apa yang dialami Arsy belum separah apa yang Hazel jalani.
Ketahan seseorang memang berbeda, tetapi Hazel dan Arsy sama-sama gadis manja. Apa yang membuat Hazel bertahan dan Asry menyerah?
Bukan karena latar belakangnya ataupun kekuatan mentalnya. Akan tetapi keyakinan dalam hati. Percaya, bahwa Tuhan tidak hanya ada di satu hari saja. Namun juga di hari-hari selanjutnya, berat dan mudah, apapun itu, Tuhan selalu ada di sana. Di tempat Dia melihat segala sesuatunya.
"Mas Iqbal pergi, hinaan itu tidak pernah berhenti. Allah tidak pernah berhenti menguji kekuatanku. Aku terus berjalan dan hanya bisa berjalan. Melewati duri dan lubang, terperosok jatuh ke dalam jurang keputus asaan. Sampai hari itu datang, Mas." Hazel menelan salivanya yang sama pahitnya dengan masa lalunya.
"Hari di mana batas kekuatanku menghilang. Hari di mana aku rasa sudah tidak mampu bertahan. Hari di mana semua yang terkejam ada di dalam hidupku. Semua yang terpahit ada dalam kerongkonganku. Diimpit beban, mencari jalan, bertahan dan melewatinya adalah hal yang tidak mampu lagi aku lakukan."
Hazel mendonggakkan pandangannya, melihat Ardan yang sedari tadi memperhatikannya.
"Aku berlari ke dalam dekapanmu yang menjeratku dengan cara licikmu. Aku berpikir setelah ini takdirku adalah sebuah jalan menuju lubang yang paling dalam. Terjebak bersama orang angkuh dan sangat arogan, menghalalkan seribu cara untuk bisa bersama."
Ardan terkekeh, lucu dan juga miris mendengar ucapan Hazel.
"Tetapi setelah itu aku sadar satu hal, Mas."
"Hem?"
"Kenapa? Saat orang yang aku anggap sebagai keluarga selama ini, mencampakan kami? Namun, kamu yang asing bagiku mau menampung kami. Mama Luna menghinaku, mengatakan aku ini gadis paling hina. Tetapi dengan mudahnya kamu memberikan aku bantuan, bahkan kamu tidak bertanya alasanku meminjamnya. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan tentangku kala itu. Namun, aku merasa, bahwa tanpa sadar kamu menghargai masalahku." Hazel tertawa, sesekali tanganya menghapus sudut dagu yang terus berair.
"Sikapmu kasar, perkataanmu terkadang makian. Tapi, di depanku kamu bisa tertawa, tersenyum dan menggombaliku. Posesif dan sangat menyebalkan. Tanpa sadar, aku memahami dirimu, semua sikap burukmu adalah caramu melindungiku. Semuanya yang kamu lakukan adalah demi aku. Tidak peduli aku akan membencimu ataupun aku yang memakimu dengan kasar, bagimu, asalkan aku tidak terluka, maka mau itu buruk atau salah. Kamu tidak peduli."
"Benarkah?"
Hazel melirik sekilas ke arah Ardan, ia mengeratkan pelukannya di lengan kekar Ardan.
"Aku terbiasa sendiri, memikul beban di pundak ini dan menutupi semua kesusahan ini. Tak mau mengatakan apapun, dan aku pikir selamanya aku bisa seperti ini. Tapi sikapmu, tingkahmu, Mas. Yang berusaha membantu memikulnya tanpa aku sadari, yang berusaha memindahkan segala beban ini ke atas pundakmu. Caramu, Mas, tanpa berkata dan tanpa mengucapkan apapun tapi selalu berdiri di depanku. Menerima lemparan sebelum aku, atau kamu yang berdiri di belakangku, melindungi dan selalu mendukung semua keinginanku."
"Tanpa sadar, aku selalu mengandalkan dirimu, Mas."
Ardan tersenyum, mengacak pucuk kepala Hazel dengan sedikit geram.
"Tak banyak wanita yang tahu, Hazel. Tetapi aku benar-benar takjub, kamu itu sangat pintar membaca karakter dan juga keadaan."
"Aku tidak tahu, Mas. Jika bukan kamu yang memperlakukan aku buruk dan menerima kebencian dariku begitu saja. Hanya untuk melindungiku, mungkin sampai saat ini aku masih belum menyadarinya."
Ardan mengernyitkan dahinya, melihat ke arah Hazel dengan tatapan bingung.
"Kalau kamu, memang benar-benar jatuh cinta padaku."
Ardan mengembangkan senyumnya, memindahkan badan Hazel ke atas pangkuannya. Mendekap erat tubuh mungil itu di dalam pelukannya.
Ardan kembali tersenyum, mengeratkan pelukannya di perut Hazel.
"Hazel."
"Hem."
"Bisa aku minta sesuatu darimu, satu saja."
"Apa?"
"Tetaplah di sisiku. Bahkan setelah bayi itu lahir, jangan tinggalkan aku."
Hazel menolehkan kepalanya, melihat raut wajah Ardan yang tertumpuh di atas bahunya.
"Mas--"
"Aku tidak peduli pada perjanjian itu, pikirkanlah. Jika memang hanya demi anak, haruskah kita menikah secara hukum dan diakui dunia?"
"Jadi, dari awal kamu memang sudah menjebakku?"
"Iya."
Seketika wajah Hazel memadam.
"Kenapa?"
"Karena dari awal, aku memang sudah jatuh cinta."
"Dasar licik!"
Hazel menarik ujung hidung mancung Ardan. Geram dan gemas.
"Dasar picik, bagaimana mungkin dari awal kamu menyiapkan begitu banyak perangkap?"
"Karena yang ingin aku tangkap bukan wanita biasa. Jadi, harus menggunakan banyak ranjau yang bisa membuat kamu jatuh."
"Jatuh ke mana?"
"Ke dalam pelukanku."
Hazel menahan senyumannya, perlahan ia menundukkan pandangan. Kapan pun itu, gombalan lelaki itu mampu membuat wajahnya memanas. Mencairkan sisi beku yang selama ini Hazel ciptakan untuk melindungi hati.
"Aku sudah mencintaimu dari awal kita bertemu. Akan mencintaimu saat ini. Ingin mencintaimu lagi untuk masa depan. Dan mencintaimu kemudian dan seterusnya. Sampai aku tidak tahu di mana ujungnya, aku ingin terus mencintaimu sampai hari itu datang."
"Hem?" Hazel mengernyitkan dahinya.
"Hari, di mana aku akan menutup mata ini selamanya. Menunggumu di depan pintu surga."
"Gombal teroooss!"
Ardan terkekeh, ia membalikan badan Hazel. Merapikan anak rambut Hazel yang terjuntai sebagian.
"Hazel."
"Iya."
"Sebelum kehilangan segalanya. Apa yang ingin kamu capai dan wujudkan?"
Hazel memutar bola matanya, menyentuh sudut dagu. Memikirkan impian yang pernah ia tulis sebelumnya.
"Tidak banyak, hanya ingin lulus kuliah dan kembali ke Izmir, menuruti keinginan ayah."
"Izmir? Itu kota tempat keluargamu berasal?"
"Bukan, itu kota tempat ayah ingin melabuhkan tujuan. Cesme, kami berasal dari sana. Kota pantai di ujung barat Turki, tetapi aku hanya dua kali pulang ke sana sebelum nenek dan kakek meninggal."
"Bagaimana bisa kalian ke sini?"
"Ayah imigran yang suka berpetualang, entah apa yang membuat ia betah di sini sampai membesarkan tiga anak di negara ini." Hazel menghela napas dan menangkupkan tangan di pipi Ardan. "Dan, meninggal di sini."
Ardan tersenyum, jarinya mengelus seluruh wajah Hazel dengan lembut.
"Sebelumnya kamu pernah pacaran?"
Hazel hanya menggeleng pasrah.
"Pernah jatuh cinta? Atau suka sekali sama seorang pria?"
"Belum."
"Mau coba pacaran?"
"Maksudnya?"
"Jadi pacar aku?"
"Ha ha ha!" Hazel terbahak, ia menepuk kedua pipi Ardan dengan lembut.
"Aku ini istri kamu, Mas. Aku juga sudah hamil anakmu. Gaya-gayaan pakai acara pacaran segala."
"Bukankah kamu berpikir aku ini picik? Menjebakmu dengan cara yang licik?"
"Memang."
"Kalau gitu ayo kita mulai dari awal. Mulai menjadi pacar, bermain berdua, menghabiskan malam dengan cerita-cerita indah. Membangun mimpi masa depan bersama dan melakukan hal-hal yang dilakukan orang lain."
"Hem, bagaimana jika aku tidak mau?" tanya Hazel menggoda.
Ardan mengecup bibir mungil itu sekilas, menarik pinggang Hazel agar menempel lebih erat padanya.
"Bukan hal yang sulit jika harus menjebakmu sekali lagi."
Hazel terkekeh, jari lentiknya menarik ujung hidung Ardan.
"Dasar picik! Gila! Tidak waras!"
"Memang," goda Ardan kembali.
Hazel mengembangkan senyumnya, menatapi wajah manis Ardan yang mulai berubah bahagia seperti di awal. Perlahan jarinya mengelus dahi mulus Ardan, merapikan helaian rambut yang berantakan.
'Aku berjanji, Hazel. Sekuat tenaga, akan kukembalikan masa yang pernah hilang dari perjalan hidupmu dulu.'