For My Family

For My Family
78



Ardan membelai lembut dahi wanita yang ada di sebelahnya. Bibir tipisnya mengembang, memperhatikan wajah polos itu terlelap. Perlahan ia mendekat, mendaratkan ciuman di bibir wanita itu, bahkan ia tidak terbangun saat Ardan menyentuhnya.


Pria itu mengeluarkan ponsel, meletakan di telinga kirinya.


"Kamu di mana?" tanya Ardan setelah panggilan tersambung.


"Di rumahmu."


"Buka pintu depan."


"Hah?"


"Kubilang buka pintu depan!" tekan Ardan sekali lagi.


Lelaki berkacamata itu mematikan ponselnya, meraih kacamata yang ia letakan di atas meja sebelum terlelap tadi.


Melirik jam yang ada di dinding ruangan, masih pukul dua pagi. Sebenarnya apa yang terjadi?


Membuang segala pertanyaan yang bersarang di dalam pikiran. Lelaki itu bergegas membuka pintu depan rumah sahabat dekatnya itu.


Lelaki dengan balutan kemeja putih itu terlihat lusuh. Menggendong istrinya menaiki tangga menuju atas.


Telaten, lelaki berkacamata tipis itu menghidupkan air panas dan menyeduh irisan lemon di dalam gelas.


Memberikan ke tangan Ardan, setelah lelaki berbadan tegap itu turun dari lantai atas.


"Ada apa, Ardan? Kamu bilang, kamu akan di sana selama beberapa minggu lagi?"


Lelaki berwajah garang itu hanya memijit pangkal hidungnya pelan. Menandaskan air sampai setengah gelas hanya dalam sekali tenggak.


"Gerald, aku tak habis pikir lagi dengannya."


Ferdi mengernyitkan dahi, ia menarik kursi di depan bar dapur. Sabar, menunggu lelaki itu menyelesaikan ucapan.


Ardan mengacak rambutnya kesal, menghela napas beberapa kali, sampai terdengar suara yang begitu lelah.


"Aku rasa, ada mata-mata di perusahaan kita. Gerald, meresmikan aku sebagai CEO grup Erlangga."


Mata di balik lensa itu melebar, terkejut oleh pernyataan sahabat dekatnya tersebut.


"Kenapa begitu tiba-tiba? Bukankah seharusnya masih dua tahun lagi?"


"Pergerakan kita tercium, Ferdi. Ada mata-mata yang Arfan letakan di sana."


"Lalu?"


"Aku tak tahu. Selama ini yang tahu rencana pemisahan perusahaan hanya kita dan beberapa Direksi baru. Entahlah, aku sakit kepala." Ardan memijit pelipisnya, bingung dan juga kacau.


Ferdi ikut menghela napas, ia menepuk bahu Ardan lembut.


"Sudahlah, istirahat dulu. Kita bicarain ini saat keadaan mulai tenang."


Ardan melirik sekilas, ia mengangguk pelan. Membawa gelas air itu naik ke lantai atas.


Lelaki itu membuka kacamatanya, memijit pangkal hidung mancungnya yang ikut nyeri dengan permasalahan ini.


Sekuat-kuatnya Ardan, dia akan menjadi lemah saat mendapati desakan. Gerald tidak mungkin mengusir Ardan, hanya dengan menekan Ardan dari dalamlah yang mampu membuat lelaki itu berlutut di hadapan sang ayah.


***


"Mbak Hazel, kapan pulang?" tanya Nara saat melihat Hazel menyiapkan sarapan di atas meja.


"Semalam."


"Kok gak bilang-bilang? Ya ampun, babynya udah mulai kelihatan." Nara mengelus perut di balik dress itu dengan lembut.


"Ikut dong kalau USG, aku pingin denger detak jatung babynya," pinta Nara manja.


Mendengar ucapan gadis muda itu, perhatian Ardan berpaling.


"Memang bisa didengerin, ya?" tanya Ardan penasaran.


"Bisa dong, Pak Ardan. Saat baby berumur empat bulan, saat itu roh mulai ditupkan. Pasti detak jantungnya juga lebih kenceng kedengarannya."


"Memang iya, Sayang?"


Hazel hanya tersenyum, ia menganggukan kepalanya pelan.


"Kalau gitu kita ke rumah sakit, yuk. Aku juga penasaran pingin dengar."


"Aku juga ikut." Kini gadis sintal itu juga bersuara.


"Mbok juga mau ikut, Hazel."


Kini semua mata melirik ke arah Ferdi, lelaki berkacamata tipis itu terlihat bingung.


"No!" jawab Ferdi tegas.


"Ayolah, Teman. Ini anaknya Ardan Erlangga. Kamu harus menyaksikannya."


"Ah ... aku masih banyak urusan!"


"Hei ... Kamu lihat itu pasukan. Mobil aku hanya muat dua orang."


"Lagian kenapa kamu bawa mobil sport itu pulang?"


"Gak sempat tukar, keburu geram."


"Lain kali kalau marah otakmu itu harusnya berjalan. Jangan hanya mengikuti egomu saja."


"Katakan! Kamu ingin ikut atau tidak? Ha?" tanya Ardan kesal.


Ferdi menghela napas, ia hanya mengangguk pelan. Tak bisa melawan, lebih tepatnya tidak ingin berdebat dengan teman.


***


"Tutup matamu!" teriak Ardan ketus.


Ferdi terkekeh, ia menggelengkan kepalanya. Perlahan mata di balik lensa itu terpejam.


"Tak kusangka, ternyata Ardan bisa menyesali perbuatannya secepat ini."


"Sial! Kenapa gak ada yang bilang kalau mendengarkan detak jantung itu harus menyingkap baju istriku?" tanya Ardan geram sendiri.


Ferdi terbahak. Ia hampir saja meluapkan tawanya, jika tidak mengingat jabatannya di depan Nara dan Echa, mungkin ia sudah mati karena tertawa.


Di sebelahnya ada mata yang memperhatikan senyuman itu. Indah. Itu yang ia lihat saat binar mata mampu menatap lelaki yang selalu dipuja.


"Hei ... Echa! Kamu juga tutup mata!"


"Yaelah, Pak. Saya dan Mbak Hazel sama-sama perempuan. Walaupun tak seputih kulit Mbak Hazel, tapi saya juga punya kulit sendiri."


"Kinara, kamu juga!"


"Mas apa-apaan, sih? Malu ih, sama Dokternya."


Ardan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kesal, jika tahu seperti ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun ikut bersama mereka.


Getaran ponsel di saku Ferdi membuat ia membuka mata. Cepat tangan Ardan memutar badan Ferdi.


Seketika, Ferdi dan Nara saling berhadapan. Mata di balik lensa itu tak sengaja menatap. Menautkan mata dengan gadis yang ada di depannya.


Ia tak terlalu peduli, melihat pesan yang masuk ke dalam benda pipih itu. Ada getaran yang terasa hidup menghangatkan jiwa. Saat pesan itu terkirim dari nomor Khadijah.


Ferdi kembali memasukan ponselnya, tanpa sengaja mata keduanya kembali bertemu. Senyuman manis tergambar di wajah wanita berbadan langsing tersebut.


"Jangan palingkan wajahmu. Atau biji matamu kukeluarkan saat ini juga!"


"Ada apa, Nara?" tanya Ferdi ketika menyadari binar gadis itu tak pernah lepas dari wajahnya.


"Gak apa-apa. Anda lihat saya saja, Pak. Biar Pak Ardan gak teriak-teriak terus. Cukup pasang telinga anda dan dengarkan detakan jantung ... jantung--"


Ferdi dan Ardan menaikan sebelah alis matanya. Tak seperti Ferdi, Ardan harus sedikit mencondongkan badannya untuk melihat ekspresi Nara.


"Jantung apa?" tanya Ferdi lembut.


Sesaat wanita itu tersadar, ia menundukan pandangannya.


"Jantung anak, Mbak Ardan." Tanpa sadar, gadis itu menyebutkan nama yang salah.


"Ha? Siapa yang kamu panggil, Mbak?" tanya Ardan garang.


Seisi ruangan terbahak, sementara gadis itu memejamkan matanya. Menggigit bibir bawah karena terlanjur malu.


Ferdi memegangi perutnya, sungguh lelucon yang sangat menarik. Pagi-pagi begini, ada saja hal yang membuat ia tertawa terpingkal dan sampai mengeluarkan air matanya.


Gadis itu kembali menaikan wajah, melihat wajah Ferdi yang memerah karena tertawa. Perlahan wajahnya ikut merona, bersemu, sungguh wajah Ferdi mampu membuat degupan jantungnya terdengar sangat nyata.


Ada desiran yang singgah ke dalam jiwa. Tak perlu ungakapan yang indah ataupun bait yang menggoda. Cukup hanya dengan senyuman itu, ia kembali jatuh cinta pada hati yang sama.


"Haduh ... Nara. Garang begitu kamu panggil Mbak. Oh ya Tuhan, Mbak Ardanku tayang," goda Ferdi pada sahabatnya itu.


"Maaf, Pak. Saya-saya-saya--"


"Saya apa?" tanya Ardan sengit. "Bagus! Kamu dapat bonus bulan ini."


"Hah?" Nara mengerutkan dahinya. "Bonus apa?" tanya Nara bingung.


"Bonus Ferdi! Bawa pulang dia dan kurung di kamar sana!"


"Hey, Bro. Aku ini bukan anak kucing, yang benar saja?"


Sedang, Nara hanya bisa menahan debarannya. Jantungnya sudah tak bisa lagi memompa seirama. Perlahan wajahnya memerah, merona.


Mata di balik lensa itu teralih, ia memperhatikan wajah Nara yang semakin merah padam.


"Kamu sakit?" Ferdi meletakan tangannya di depan dahi Nara. "Merah sekali wajahmu?"sambungnya sembari mengelurkan ponsel yang berdering keras.


Lelaki itu melihat nama yang tertera di layar. Detik kemudian matanya kembali teralih pada gadis bertubuh langsing di depannya.


"Izinlah jika sakit. Jangan paksakan diri untuk bekerja." Setelah mengucapkan kalimat itu, Ferdi keluar dari ruangan sembari mengangkat telepon.


Nara menghela napasnya. Bibirnya mengembang dengan lebar, tangannya menekan dada bagian kiri. Kini, debaran itu tidak lagi mampu ia tutupi.


.


.


Ardan tersenyum sembari memainkan alis matanya. Melihat Ferdi yang baru selesai menerima panggilan.


"Apa yang terjadi selama aku tidak ada di sini?" tanya Ardan memulai interogasinya.


"Maksudnya?" tanya Ferdi tak mengerti.


Ardan tersenyum tipis, ia merangkul bahu kekar sahabatnya itu.


"Jangan pura-pura di depanku. Apa ... kamu telah melewatkan malam-malam yang indah di rumahku?"


Ferdi menggeleng, ia memasukan ponselnya kembali.


"Otakmu tak waras, Ardan."


"Mengakulah, apa ... terjadi cinta antara atasan dan karyawan?"


"Aku tidak mengerti!" Ferdi menghempaskan tangan Ardan.


"Jangan pura-pura bodoh, Ferdi. Katakan! Apa sudah ada bunga-bunga yang tumbuh di dalam sini?" Tunjuk Ardan di dada Ferdi.


"Masuklah ke dalam. Aku rasa otakmu butuh perawatan."


Ardan mencebik kesal, ia mengusap wajahnya kasar.


"Jangan sok gak tahu. Kentara sekali, gadis itu telah jatuh cinta padamu."


"Maksudmu, Nara?" tanya Ferdi.


Ardan menganggukan kepalanya.


"Jangan sok tahu begitu."


"Hei, Ferdi. Kamu lupa siapa aku? Bukan hal yang sulit buatku melihat gelagat para wanita. Terlihat jelas, dia menaruh hati padamu."


"Jangan membual, Ardan. Aku tidak ingin bermain-main dengan yang namanya perasaan."


Ardan menghela napasnya berat, ia kembali merangkul bahu teman dekatnya itu.


"Ayolah Ferdi, ini sudah tujuh tahun lamanya. Lupakan adikku dan bukalah hatimu."


"Aku tidak ingin melupakannya, seumur hidup. Adikmu adalah wanita pertama yang menempati ruang hati ini."


"Hidup ini berjalan, Kawan. Berhentilah berangan-angan. Selama apa pun kamu menanti. Arsy gak akan pernah kembali."


"Aku tahu, Ardan. Tapi ada hal yang tidak harus aku lupakan. Sejauh apa pun aku berjalan."


"Kamu bukan lagi anak remaja. Bukalah hatimu, lihat dunia di hadapanmu. Mungkin saja ada wanita yang selama ini menghabiskan waktunya untuk menantimu. Jangan tutup dirimu, biarkan cinta itu kembali menyapa hidupmu, Kawan."


Ferdi menghela napasnya, ia menganggukkan kepala.


"Aku sudah membuka hati."


"Bernarkah? Apakah cinta itu terjadi setelah kalian tinggal bersama?" tanya Ardan menggoda.


Ferdi tertawa. "Stop, Ardan! Tak ada apa-apa antara aku dan Nara. Selamanya, aku haya menganggap Nara adalah bawahanku."


"Weits ... jangan terlalu sombong, Kawan. Kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan. Jangan sampai kamu harus mengecap kesombonganmu itu kelak."


"Benar, kita gak akan tahu masa depan. Kita juga gak akan tahu kapan cinta akan datang. Tapi kurasa, cinta itu adalah--" Ferdi tersenyum dan melepaskan rangkulan tangan Ardan.


"Saat kamu bisa melihat bunga t*i ayam, menjadi sangat indah," sambungnya sambil berlalu meninggalkan Ardan.


"Maksudnya?" tanya Ardan bingung.


"Tak ada."


"Hei ... kamu mau ke mana?"


"Menanam bunga t*i ayam. Aku ingin rumahku indah dengan banyak bunga t*i ayam yang menghiasinya?"


Ardan menggaruk kepalanya, bingung melihat perubahan temannya itu.


"Apa dia masih waras? Oh Lord, sepertinya dia memang gila!"


Sedang, ada yang menahan sesak di balik dinding putih ini. Ada gumpalan di dalam dada yang teremas. Sakit, nyeri, sesak dan ... entah. Semua rasa itu merasuk ke dalam jiwa, ketika telinga itu mendengar ungkapan hati lelaki berkacamata tersebut.


Ada yang patah, namun, bukan ranting. Ada yang terinjak, sebelum ia tumbuh dengan layak.


Nara meremat sisi bajunya, terduduk di jajaran kursi penunggu. Ingin menangis, namun ia terlau malu.


Malu atas perasaannya yang tidak pernah bertemu. Seharusnya ia sadar dari awal. Kalau lelaki itu, tidak pernah menatapnya walau sedikit saja.


Jika cinta telah melibatkan lebih dari dua hati. Maka akan banyak hati yang patah dan tersakiti.