For My Family

For My Family
110



Mereka berdua terdiam, saling memandang dalam keheningan panjang. Sampai gadis itu menundukkan pandangan.


Punggung tangan menyeka pipi, kembali masuk ke dalam mini market.


Gadis itu kembali keluar dengan sekantung plastik belanjaan. Berjalan meninggalkan Arfi yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


Langkah itu terhenti, menoleh ke arah belakang.


"Terima kasih untuk belanjaannya. Dan juga ... luka yang kembali berdarah setelah melihatmu berada di sini."


Gadis itu menarik napas, berniat melanjutkan langkahnya, cepat Arfi menahannya. Mencekal lengan tangan itu lembut.


"Lepas!"  Khadijah menghempaskan tangan Arfi kasar.


"Jangan pernah berani meyentuhku lagi, Arfi!" sengitnya ketus.


"Entah itu tubuhku, atau pun hatiku. Jangan pernah sentuh lagi." Satu air lolos dari mata indah itu.


Arfi hanya menatapnya, lekat dan dalam. Sorot mata itu menyimpan kerinduan yang teramat dalam. Tanpa perlu penjelasan, gadis itu paham. Namun, luka yang menganga lebih dulu terasa dibandingkan cinta yang hadir menyapa.


Ia benci itu, rasa cinta pernah membuatnya sangat lemah. Kini semakin menambah luka saja. Terlebih dia yang tak kuasa membunuhnya, setelah apa yang Arfi lakukan dulu.


"Maaf. Maaf karena aku pernah sepecundang itu, Khadijah."


Gadis itu hanya membuang wajah, mati-matian menahan air matanya agar tak lagi keluar. Pelan, ia menggigit bibir bawahnya. Agar tak terlihat oleh lelaki itu, bahwa ada sesak yang sedang ia redam.


Dan itu ... terjadi karena rasanya yang masih bertahta. Entah itu cinta atau harapan untuk hidup bersama.


"Maaf, pernah meninggalkanmu. Membiarkanmu terluka oleh perlakuanku kala itu."


Berat, telanan saliva itu terasa begitu pahit. Terlebih, saat ia megingat luka itu. Hari di mana Arfi meninggalkannya di malam lamarannya.


"Maaf, aku tak punya keberanian untuk mempertahankanmu. Maaf, Khadijah."


Kembali punggung tangan putih itu menyeka wajah. Khadijah membalikkan badannya.


"Aku sudah memaafkanmu. Sekarang kumohon, jangan temui aku lagi."


Langkahnya kembali tertahan, Arfi menarik jemari itu agar tidak pergi.


Bergeming, merasakan hangat tangan itu kembali hadir. Mengenggam erat, mengalirkan sebuah hasrat yang terus tertahan selama ini. Rindu.


Tahukah kamu rasanya?


Seperti tahu putih yang sangat rapuh, dijaga dan direndam dalam air agar ia tetap utuh. Lalu, sebuah tangan merematnya, melumatkannya menjadi bagian kecil yang tak dapat lagi direngkuh.


Setelah sekian lama berusaha mencari serpihan yang tersisa di dalam genangan itu. Mengendap, menata agar kembali sempurna,  lagi, tangan yang sama menghempaskannya. Meleburkan lagi apa yang pernah ditata untuk utuh kembali.


Tahu rasanya? Ketika waktu berusaha memudarkan sakitnya. Namun, dengan kejam semesta kembali menjernihkannya.


Atau, ketika kamu berusaha untuk naik ke permukaan setelah sekian lama tenggelam dalam duka tak berjeda. Lalu, ditarik kembali agar selalu berada di dasar terdalam sakitnya tak ber-asa.


Seperti itulah, saat kepingan yang telah hilang ingin kamu satukan lagi. Sama? Tidak akan pernah, karena apa yang pernah terluka, tetap akan berjeda walau sekuat tenaga kamu merekatkannya.


"Khadijah, aku mencarimu. Dua tahun, aku mengejarmu selama itu."


"Buat apa?" tanyanya tanpa memalingkan wajah.


"Buat apa kamu mencariku lagi, Arfi?"


"Aku ... aku ingin kita kembali bersama. Menata kembali apa yang pernah sirna. Entah itu mimpimu, atau asaku. Harapan kita."


Khadijah tertawa, ia menarik jemarinya, lantas membalikkan badan.


"Lalu setelah itu apa? Kamu meremukkannya lagi? Meredamnya kembali? Membenamkan agar aku jatuh lebih dalam lagi? Hem?" tanyanya ketus.


"Tidak! Tidak akan, Khadijah."


"Lalu apa? Arfi kamu gak akan bisa hidup susah. Kamu gak akan bisa ninggalin istana megah itu. Bagimu, apa aku ini lebih penting dari kekayaanmu itu?"


Lelaki itu terdiam, menelan salivanya berat. Ia tahu, ia bersalah saat itu. Meninggalkan Khadijah karena takut akan hidup susah. Namun saat ini, dia tidak lagi peduli pada perusahaan atau apa pun itu.


Khadijah menggeleng. "Bagaimana mungkin? Arfi? Bisa memilih gadis sepertiku? Jelas, di luar sana, seribu kali lebih baik dariku siap mendampingimu, bukan?"


"Cukup, Khadijah." Arfi memejamkan matanya. Menghela napas berat.


"Aku memang salah saat itu. Tapi aku ingin memperbaikinya saat ini. Akan kutebus apa pun itu. Asalkan kamu mau kembali padaku."


"Bisakah kamu memutar waktu kembali ke masa itu? Bisakah kamu menghilangkan luka ini tanpa berbekas di ingatanku? Atau ... bisakah kamu, mengembalikan apa yang pernah terluka? Entah itu hatiku, ingatanku, ataupun jiwaku yang telah kamu redam?" tanya Khadijah sengit.


Lelaki itu kembali terdiam, menundukkan pandangan. Merasakan sayatan atas kesalahan yang selalu menghukum jiwanya selama ini.


"Bisakah kamu memutar detik itu? Bisakah kamu mengembalikan kepercayaanku? Bertahun, Arfi. Aku berusaha hidup dalam kepingan yang terus berpencar. Puingan tajam yang terus menghunjam. Entah itu mentalku, atau pun jiwaku."


Khadijah terdiam, cukup lama. Karena bertemu lagi dengan Arfi adalah bagian luka yang sangat tajam, yang pernah merobek impiannya.


"Aku mencintaimu, aku mempercayaimu. Sangat, Arfi. Sangat-sangat percaya padamu. Entah itu tentang cintamu, atau pun kesiapanmu."


Gadis itu menyeka wajahnya, mencoba menghapus jejak-jejak buliran itu. Walaupun ia tahu, percuma. Karena saat ini, ia tak lagi dapat membendung apa pun itu.


"Dan Allah membuat aku sadar. Bahwa aku salah, aku salah pernah mempercayai seorang makhluk begitu besar. Dan saat itu juga aku percaya, bahwa aku. Bahwa gadis sepertiku, tak lebih hanyalah noda pada dunia fana ini."


Arfi memejamkan matanya, menahan sakit yang timbul dari ucapan wanita di hadapannya. Tahu, jika kala itu ia terlalu pecundang untuk mempertahankan segalanya.


"Aku pikir, aku ini masih bisa hidup layaknya gadis biasa. Dicintai dan dimiliki oleh seorang lelaki. Tapi caramu membuat aku sadar, Arfi. Bahwa gadis yang pernah ternoda sepertiku, tak layak atas cinta siapa pun itu. Terlebih, lelaki sempurna sepertimu."


"Cukup, Khadijah! Sumpah aku gak peduli mau kamu gadis atau bukan. Saat ini aku ingin kita kembali bersama, tak peduli seperti apa masa lalumu!" teriak lelaki itu tertahan.


Khadijah terkekeh, ia menggelengkan kepalanya. Miris, entah pada keadaannya atau pada bualan lelaki di hadapannya ini.


"Kenapa tak kamu katakan ini saat itu, Arfi? Kenapa tak kamu pertahankan aku, sebelum kamu meninggalkan aku? Kenapa? Kenapa dulu kamu memilih untuk pergi?" teriak gadis itu.


"Karena papa tak mengizinkanku menikahimu?"


"Benarkah?" tanya wanita itu pahit. Nanar, iris berwarna cokelat itu memandangi wajah tampan Arfi.


"Benarkah papamu melarangnya? Atau kamu yang meragukanku?" tanyanya lagi.


Gadis itu menggigit bibir bawahnya, menahan getaran dari bibirnya yang timbul karena menahan rasa sakit.


"Apakah mantan seorang Jenderal, segitu tak terhormatnya, kah? Sampai papamu tak merestui kita?"


"Maaf Khadijah, dulu aku takut pada ancaman papa."


Gadis itu menggelengkan kepala. "Bukan, Arfi. Kamu bukan lelaki penurut. Malam itu, kamu pergi karena kejujuranku, kan? Karena aku yang tidak lagi perawan, dan kamu mengangap aku berbohong, bukan?"


"Khadijah--"


"Kamu meragukanku, Arfi. Kamu menganggap aku ini pezina. Kamu gak percaya bahwa aku diperkosa. Malam itu, kamu meninggalkanku, karena alasan ini, bukan?"


Lelaki itu terdiam, ia menghela napas berkali-kali. Entah bagaimana menjelaskannya, benar bahwa rasa ragu itu sempat singgah. Dan dia menyadarinya setelah gadis itu terluka.


Memilih meninggalkannya dan mencari jejaknya sendiri. Bukan, lebih tepatnya gadis itu berpaling setelah bayangan Arfi yang kian meremang. Hilang bersama cintanya yang perlahan menjauh, menjelajahi dunia tanpa dirinya.


"Khadijah, maaf. Aku bersalah, aku menyesal. Aku ... tak seharusnya meragukanmu."


"Kamu membuatku percaya, Arfi. Percaya, bahwa aku adalah sebuah lambang noda. Kehinaan dunia, kamu gak tau, berapa banyak waktu dan usaha yang ayah aku lakukan untuk membuatku percaya. Percaya bahwa aku ini masih berharga dan bisa dihargai. Malam itu, malam di mana kamu meninggalkanku. Aku percaya, bahwa ayah berbohong. Aku percaya, selamanya, aku hanyalah gadis noda yang tak layak untuk dicinta."


Gadis itu menggigit bibir bawahnya semakin kuat. Ada sesak yang mengimpit dadanya. Tak tahu harus bagaimana melampiaskannya.


Beban yang ia tanggung selama ini, haruskah ia tumpahkan seluruhnya?


"Aku mencintaimu, Arfi. Sangat, tapi kamu membuktikan, bahwa cintaku tak layak untukmu. Lantas kenapa kamu mencariku setelah aku pergi? Hm?"


"Khadijah, aku tau aku salah. Kamu salah paham. Malam itu aku tak meninggalkanmu, aku percaya padamu. Hanya saja--"


"Hanya saja apa? Aku tak senaif itu, Arfi. Setelah malam itu, kamu menikmati duniamu tanpa aku. Kamu jalan sama wanita yang mana pun kamu mau. Pedulikah kamu akan lukaku? Atas asa yang terbenam karena kepergianmu? Atas mimpi yang hancur bersama bayanganmu? Hem? Pedulikah kamu dengan keadaanku? Trauma yang kembali terputar menghunjam jiwaku? Pedulikah?"


Tetesan demi tetesan lolos begitu saja. Tak ada lagi yang bisa ditahan. Kini semua benteng yang dibangun hancur bersama hadirnya bayangan dirinya. Nyata, dengan luka yang kembali terasa.


"Ayah berusaha untukku Arfi. Mengumpulkan puingan-puingan tajam, menahannya, membuatku percaya. Bahwa suatu saat akan ada cinta yang datang mendekatiku, yang rela menumpulkan bagian tajamnya luka itu agar tak lagi menusukku. Dan sayangnya, lelaki itu bukan kamu."


Arfi tersentak, matanya membulat dengan embunan yang melapisi netra pekat itu.


"Apa maksudmu?" tanyanya bingung.


"Aku telah dikhitbah."


"Apa?"


"Ya ... aku akan segera menikah."