
Hazel berdecak kesal saat melihat bercak darah mengotori panties yang ia kenakan.
Mengambil perlengkapan untuk menerima tamu bulannya yang sudah datang.
"Kenapa harus datang bulan sekarang sih?" decaknya kesal.
Ia mencuci wajah, ada rasa yang tidak bisa dijelaskan saat ini.
Seperti tidak rela untuk berpisah, tetapi bertahan juga tidak mudah.
Dari pada harus menunggu rasa ini semakin dalam. Lebih baik menghancurkannya lebih awal.
Wanita itu keluar dari dalam kamar mandi dengan sedikit lemas. Dua buah tangan tertangkup di pipinya, memandang wajah wanita tersebut lembut.
"Kenapa? Kok lesu sekali?" tanya Ardan saat mendapati wajah istrinya yang terlihat murung akhir-akhir ini.
Hazel melepaskan tangkupan tangan Ardan, menggelengkan kepala sembari berjalan menjauh.
Ardan melingkari perut rata wanita itu. Mendekap erat dari belakang, menahan agar tidak pergi. Jari-jari kekarnya menyingkap rambut Hazel, mencium leher jenjang milik wanita itu.
Perlahan lelaki itu mulai berhasrat, meninggalkan beberapa bekas kebiruan di kulit wanita itu.
"Aku lagi datang bulan, Mas," ucap Hazel melepaskan dekapan tangan Ardan di perutnya.
"Apa perutmu tidak enak?" tanya Ardan cemas.
Hazel menggeleng.
"Apa tulangmu nyeri? Atau ada nyeri lainnya?" tanya Ardan lagi.
"Gak ada, hanya lagi bad mood saja." Hazel menaiki kasur, memejamkan mata agar tidak melihat wajah lelaki itu lagi.
Terus terang, semakin perhatian lelaki itu terhadapnya. Semakin berat rasa hati untuk meninggalkannya nanti.
Sedang Ardan hanya bisa menghela napas. Melihat sikap Hazel yang kembali mendingin terhadapnya, usaha yang selama ini sia-sia semua. Bukan, lebih tepatnya hancur tanpa sisa.
***
Ardan memandangi tubuh berbalut dress itu dari balik kaca GM ruangan. Senyum getir menghiasi wajah lelaki itu saat melihat tubuh mungil istrinya bekerja di balik layar komputer.
Sikapnya, perhatiannya, semua yang ada di dalam dirinya selama beberapa minggu terkahir ini berubah. Menghilang tanpa jejak.
Hazel Nazha, kembali seperti semula, dingin dan tidak banyak bicara. Hanya fokus pada pekerjaan dan juga putranya. Bahkan saat ini dia lebih pendiam dan tidak pernah membantah.
Jangankan untuk merona, tersenyum saja sudah tidak lagi, saat ia digoda.
"Ada apa?" tanya Ferdi saat mata elang lelaki itu terus memandangi istrinya.
"Minggu lalu, saat Arfan menemuinya. Entah apa yang dia katakan, saat ini, Hazel bukan hanya dingin. Bahkan ia sama sekali tidak bisa disentuh."
Ferdi menghela napas, menyandarkan pundak di belakang kursi. Membetulkan letak kacamata sembari membuka map yang ada di meja Ardan.
"Kamu tahu ini akan terjadi, kan?"
"Aku pikir, dia sudah cukup cinta padaku. Tidak menyerah dan akan bertahan melawan duka bersama. Tapi aku salah, dia, bahkan menyetujui untuk meninggalkanku dengan sangat mudah."
"Ardan, jangan terlalu cepat menyerah, Kawan."
"Aku tidak menyerah, Ferdi. Aku hanya bingung dengan langkah yang akan aku ambil ke depannya. Seperti ini, sama saja seperti menunggunya untuk meninggalkanku, saat aku sudah terlalu dalam mencintainya."
"Sabarlah, tunggu. Aku yakin nanti pasti akan ada jalan untuk kembali mendekatinya."
"Tapi sampai kapan? Sampai dia hamil dan melahirkan? Meninggalkan aku setelah anak itu besar?"
"Aku yakin sebelum itu dia pasti sudah membuka hatinya untukmu. Jangan takut, percayalah, cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Tetapi cinta bisa hadir karena terbiasa."
Ardan tersenyum sinis, jarinya memainkan pena di ujung jari.
"Sebelum dia terbiasa, dia sudah lebih dulu pergi karena terpaksa."
"Tapi aku rasa Hazel tidak akan pergi secepat itu, Kawan. Walaupun sulit, aku yakin dia akan bertahan dengan perjanjian kamu dan dia."
"Hanya sebatas perjanjian, apanya yang bisa dibanggakan? Sekarang atau nanti, sama saja."
"Kita tidak ada yang tahu bagaimana masa depan, Kawan. Banyak hal yang kamu rencanakan hilang tanpa alasan. Tetapi hal yang tidak kamu pikirkan, datang dengan seribu alasan. Jangan terlalu tegang, santai dan jalanilah lebih dulu. Sisanya, kita tunggu." Ferdi tersenyum, mencoba menenangkan hati sahabatnya itu.
Walau ia juga tidak yakin pada wanita yang dinikahi temannya itu. Tetapi ia juga tahu bahwa wanita itu memegang ucapannya.
"Hem, aku tidak tahu, Ferdi. Apalagi setelah mama begini. Aku tidak tahu bagaimana bisa mempertemukan mereka. Aku harap, mama bisa melihat apa yang kulihat."
"Lihat? Lihat apa?" tanya Ferdi bingung.
Ardan bangkit dari kursinya, berjalan ke arah jendela. Memasukan kedua tangan di saku celana.
"Kalau masa depanku, hanya akan berjalan jika ada dia di sisi."
Semoga, usaha tidak akan mengkhianati hasilnya. Dan semoga, cinta bisa berdiri di depan egonya manusia.
***
Ardan tersenyum manis dengan menjabat tangan seorang pria di kafe dekat kantor. Membicarakan perjanjian investasi baru untuk perusahaan yang saat ini ia bangun kembali.
Seperti biasa, kemampuan Ardan dalam bidang ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Ia bahkan bisa meyakini Direksi tanpa harus berkata banyak.
Usahanya dan totalitas yang selalu ia jaga selama ini. Tidak pernah sia-sia, bahkan sebagian Direksi perusahaan utama adalah Mitra yang datang atas nama dia.
Ardan membalik map yang ada di tangannya, tersenyum kaku sembari mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya.
"Maaf, tetapi USB saya masih tertinggal di Direktur. Bisakah menunggu sebentar, saya akan menelpon dia dulu."
"Silahkan."
Ardan kembali tersenyum dan menelpon Ferdi yang berada di seberang jalan raya.
"Kenapa?" tanya Ferdi langsung, saat panggilan tersambung.
"USBku ketinggalan di laptopmu, bisa antar ke sini? Aku tidak enak meninggalkan calon Direksi di sini."
"Hem, bahkan profesional kerjamu saja berantakan, Kawan. Tidak bisakah kamu fokus dulu pada perusahaan."
Ardan menghela napas, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Berapa lama kamu akan menceramahiku? Haruskah aku membiarkan Direksi menunggu kamu selesai berkutbah dulu?"
"Baiklah. Aku akan suruh seseorang ke sana. Maaf aku tidak bisa hadir, lima menit lagi rapat mingguan segera dimulai."
"Hem, cepatlah. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Ferdi memutuskan panggilan, menarik USB yang masih menempel di laptopnya.
Bersamaan dengan Hazel yang masuk ke dalam ruangan itu. Membawa tumpukan map di genggamannya, meletakan dengan hati-hati di atas meja kerja lelaki berkacamata tipis itu.
"Apa ini?" tanya Ferdi bingung.
"Ini adalah laporan penjualan dari kami, Pak. Pak Derik meminta saya mengantarkan pada anda, menunggu tanda tangan anda."
"Hem, baiklah. Nanti saya akan periksa."
"Kalau begitu saya permisi."
"Eh, Hazel, tunggu!" tahan Ferdi cepat.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ferdi saat melihat wajah wanita itu yang memucat pasi.
Hazel tersenyum, ia menganggukan kepala. Badannya sedikit bergoyang, saat heelsnya tidak lagi bisa berdiri seimbang.
"Hazel, kamu benar baik-baik saja?"
"Iya."
"Kalau begitu, bisakah kamu mengantarkan USB ini ke suamimu di kafe depan?" tanya Ferdi sembari menyodorkan USB ke arah wanita itu.
Hazel mengangguk, perlahan ia berjalan mendekati meja Ferdi. Baru dua langkah berjalan, wanita itu terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Ferdi berlari, melihat wanita yang lebih dulu tergeletak di lantai ruangannya itu.
"Astaga! Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ferdi berjongkok di depan wanita itu.
"Kalau aku angkat dia? Bagaimana kalau Ardan mengulitiku setelahnya?" tanya Ferdi bingung sendiri.
Ia meraba jasnya, mencari benda pipih di sana.
Ardan menghentikan pembicaraannya saat ponsel di atas meja itu bergetar. Melihat nama yang tertera di layar.
"Maaf, Direktur perusahaan menelpon. Bisa saya angkat sebentar?" tanya Ardan lembut.
"Angkat saja," balas lelaki paruh baya yang berada di depannya itu.
Cepat tangan lelaki itu mengusap layar, meletakan di telinga kiri.
"Ardan, bagaimana ini?" tanya Ferdi panik.
"Ada apa?"
"Istrimu, dia pingsan di sini."
Seketika wajah Ardan memerah, matanya melebar dengan besar. Menjauh dari lelaki yang ada di meja makan.
"Apa yang terjadi?" tanya Ardan saat ia berdiri jauh dari meja.
"Aku tidak tahu, Hazel pingsan saat dia mengantarkan berkas ke sini. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menggendongnya ke atas sofa?"
"Jangan!" tahan Ardan langsung. "Jangan sentuh kulit istriku. Tunggu aku, dan jangan coba-coba berani menyentuhnya walau hanya seujung kuku."
"Terserahmu! Jangan biarkan dia tertidur terlalu lama di sini." Ferdi mematikan ponselnya segera.
Kesal, niat hati hanya ingin membantu, tetapi siapa duga jika sahabatnya itu bahkan tidak percaya pada dirinya.
Secepat yang ia bisa, Ardan berlari dan membatalkan meetingnya begitu saja.
Berlari menuju ruangan paling pojok perusahaan itu.
Tergesa, ia menerobos masuk ruangan Direktur perusahaan. Melihat istrinya masih tergelatak di lantai dingin dengan Ferdi yang berjongkok di sebelahnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Ardan mendekati dua orang itu.
"Aku tidak tahu. Dia seperti ini dari pertama kali pingsan. Bahkan sehelai rambut pun belum berubah letaknya," jawab Ferdi kesal.
Ardan mengangkat badan mungil itu dan membawanya keluar. Membuat setiap mata memandang ke arahnya.
Wanita yang dalam waktu sebulan ini sudah jalan dengan tiga pria yang berbeda. Beberapa wanita dari divisi yang sama dengan Hazel, mulai memasang mata yang tajam.
Tak beda dengan Nara dan Echa, mata mereka membelalak lebar saat melihat wanita berdarah Turki itu berada dalam dekapan lelaki yang selalu dipuja oleh karyawan wanita.
"Hem, apa yang terjadi? Pak Ferdi, pak Arfan dan sekarang pak Ardan? Kenapa sekarang janda sangat di depan?" celetuk asal dari salah satu karyawan wanita di divisi Hazel.
Ardan menghentikan langkah saat mendengar ucapan itu. Beberapa wanita yang tak suka dengan wanita bermata madu itu, ikut menyambung celetukan pedas. Membuat telinga Ardan semakin memanas.
Ia melihat tajam ke arah perkumpulan wanita itu. Tetapi, kali ini tatapannya kalah dengan gosip yang lebih tajam.
Ardan menghela napas, menggeleng pelan. Kapan gosip tentang istrinya itu tidak panas dibicarakan. Lama-lama ia gerah dengan suasana yang seperti ini.
"Kenapa? Apa istri saya pernah membuat masalah dengan kalian? Ada yang salah saat saya menggendong istri sendiri?" tanya Ardan tak tahan.
"Hah?" Beberapa karyawan wanita di sana terpaku, melihat Ardan dengan menganga lebar.
"Kalau kalian bekerja hanya untuk bergosip. Silahkan, di sana pintu keluarnya."
Ardan menatap tajam ke arah Echa dan Nara, tersenyum sinis sebelum melanjutkan langkah. Membawa wanita itu ke klinik terdekat.
.
Seorang Dokter wanita memeriksa nadi Hazel. Tersenyum lembut sembari meletakan stetoskopnya kembali ke tempat.
"Apa yang terjadi? Apa dia baik-baik saja?" tanya Ardan cemas.
"Apa dia jarang makan? Atau sedang banyak pikiran?"
"Sepertinya."
"Gula darahnya sangat rendah. Saya akan buatkan resep obat untuknya."
Ardan mengangguk pelan, melihat ke arah wanita yang sedang terbaring lemas di atas ranjang.
"Dok, apa dia hamil?" tanya Ardan lembut.
"Hamil?" Dokter itu kembali menatap Hazel yang masih terbaring di ranjang, sama sekali belum sadar.
"Apa kalian sedang program hamil?"
"Iya."
"Jangan dipaksakan. Ini bisa jadi salah satu penyebab stres yang dia alami saat ini."
"Saya tidak memaksa. Tetapi dia yang sepertinya berusaha untuk hamil secepatnya."
"Kalau begitu makanannya dijaga, kesehatan dan juga pikiran. Gula darah yang sangat rendah juga akan membawa pengaruh buruk untuk janin kalian kedepannya."
Ardan mengangguk, Dokter wanita itu menyerahkan selembar kertas ke hadapan Ardan.
"Ini resep obat dan juga vitamin untuknya."
Kembali Dokter itu mengulurkan tangannya, kali ini bukan resep, namun obat dalam kemasan.
"Ini bisa menaikan gula darah dengan cepat, berikan padanya jika obat dalam resep ini masih belum mampu mengembalikan keadaannya. Ini dosis tinggi, cukup berikan satu butir setiap satu minggu."
Ardan mengangguk, mengambil kemasan butiran putih itu dan menyimpannya di saku jas.
"Kamu bisa membawanya pulang saat dia sudah sadar."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Lelaki berbadan tegap itu berjalan keĀ ranjang. Duduk di bibir ranjang sembari memandangi wajah pucat wanita itu.
Wajah yang kembali terlihat setelah beberapa bulan menghilang. Entah kenapa, melihat Hazel yang seperti ini, sama dengan Hazel yang pertama kali ia jumpai.
Hazel yang memaksakan diri untuk melawan keadaan. Hazel yang berusaha sok kuat dan menyimpan semuanya sendiri di dalam hati.
Ardan menghela napas, meraih dahi putih wanita berdarah Turki tersebut.
'Ada aku, kenapa kamu masih berusaha menyimpannya sendiri, Hazelku?'