For My Family

For My Family
223



Pandangan mata lelaki tua itu teralih saat ponsel di sebelahnya berdering. Setelah melihat nama yang tertera, Gerald memberikan Yena ke pangkuan Aulia. Menjauh untuk mengambil jarak menerima panggilan.


Ardan menarik napas, ia meletakan sendok makannya, lantas bangkit. Mendekati Aulia dan menggeser kursi untuk duduk bersebelahan dengan sang Bunda.


"Ma," panggil Ardan lembut.


Wanita paruh baya itu menoleh, bibirnya meracau seraya memangku Yena dan bermain pada genggaman bayi mungil itu.


"Bisa aku berbicara?" tanya Ardan hati-hati.


"Bicara saja. Memang Mama pernah melarangmu bicara?" kata Aulia kembali sibuk pada bayi mungil itu.


Ardan menarik napas, matanya melirik Arfi. Bungsu Erlangga itu mengangguk, meyakinkan sang Kakak.


"Coba Mama perhatikan wajah Yena. Dia ... mirip aku, bukan?"


Sepasang mata itu menatapi wajah sang bayi. Memang bayi kecil itu sangat mirip dengan Ardan kecil, hanya saja bola mata yang lebih besar dan campuran wajah Timur tengah membuat wajahnya sangat memesona.


"Memang kenapa kalau dia mirip kamu?"


"Itu bukan anak Arsy, Ma. Tapi anak aku. Ardan," kata Ardan lirih.


Gerakan tangan Aulia yang memainkan jari Yena terhenti. Matanya menatap Ardan penuh amarah.


"Ardan, jangan bilang kamu ...."


"Ma!" tekan Ardan mulai tidak sabar. "Aku tidak seburuk itu. Mana mungkin aku melakukan hal buruk pada adikku."


"Lalu, maksudmu apa, Ardan?" tanya Aulia ketus.


Ardan menarik napas, mengusap kasar kepalanya.


"Mama, dengarkan aku pelan-pelan. Kumohon pahami ucapan Ardan, Ma."


Lelaki itu menunjuk Hazel yang berdiri di balik pantry. Sibuk menyiapkan bubur untuk putranya.


"Mama kenal dia?"


"Arsy."


Ardan menggeleng. "Bukan, dia Hazel. Istriku."


Aulia tertawa, menatapi wajah Hazel dan Ardan bergantian.


"Bagaimana mungkin? Dia adikmu Ardan. Tak bisa menjadi istrimu."


"Dia bukan adikku, Ma! Dia Hazel, gadis keturunan Timur Tengah yang jelas berbeda dengan adikku."


"Bukan, Ardan. Dia Arsy, adikmu."


Lelaki itu mengacak rambut. Kehabisan cara menjelaskan secara lembut kepada sang Mama.


Mengusap wajah garang itu, lantas menarik napas panjang. Terdiam, mencoba menyusun perkalimat untuk menjelaskan keadaan.


"Ma," panggil Arfi lembut.


Bungsu Erlangga itu ikut mendekat, duduk di sebelah Aulia mencoba membantu menjelaskan.


"Bolehkah aku menggendong Yena?" tanya Arfi dan Aulia mengangguk.


Lembut tangan kekar itu mengambil alih Yena. Memangku Yena dengan menghadapkan wajah imut itu kehadapan sang mama.


"Apa yang Mama rasakan saat melihat wajahnya?" tanya Arfi, sepasang mata tua Aulia mengikuti keinginan sang putra.


"Mama melihat Arsy di dalam wajahnya? Ma, aku tau Mama sadar Arsy sudah pergi. Tetapi Mama selama ini selalu mencoba mengingkari. Tak lelahkah, Mama terus-terusan mendustai kenyataan dan bermain imajinasi?"


Aulia terdiam, satu air lolos dari matanya. Disusul oleh bening yang lainnya, wanita paruh baya itu tertunduk. Terisak pelan, lalu sesenggukkan.


"Ma, kami membutuhkan Mama. Bukan cuma Arsy yang anak Mama, kan? Aku dan Kak Ardan juga anak Mama, bukan? Sekali ini saja, dengarkan kami, Ma."


Aulia menggeleng, mencoba menepis perkataan Arfi. Sepasang tangan kekar milik Ardan meraih jemari Aulia. Mencium tangan keriput itu lembut untuk menenangkannya.


"Lepaskan bayangan Arsy demi kami, Ma. Arsy telah pergi, Mama gak perlu takut sendiri. Karena saat ini, rumah kita sudah tidak lagi sepi. Ada anak-anak kami yang menghiasi. Bisakah Mama melupakan luka itu? Kembalilah pada kami, Ma."


"Enggak, Ardan. Arsy belum pergi, Mama selalu melihat Arsy berlari-lari di koridor lantai dua. Arsy selalu melukis di taman persik kesayangannya. Kalian bohong, Arsy belum pergi. Belum pergi!" teriak Aulia lantang.


Suara itu membuat Gerald masuk ke dalam. Melihat wajah sang istri yang basah dengan air mata. Amarahnya memuncak, tidak terima jika istrinya dibuat menangis.


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian membuat istriku menangis?" tanya Gerald ketus


Ardan mengusap wajahnya, bangkit dan dengan kesal dia menendang salah satu kursi di sana.


Kehabisan akal untuk menjelaskan. Dia geram menghadapi keras kepalanya Aulia.


"Ardan, kenapa kamu marah, Nak? Apa Arsy membuat kamu kesal?" tanya Aulia menatap ke arah Hazel.


Ardan terkekeh miris, mendekati Aulia dan menyentuh kedua ujung bahu Aulia. Mencengkeramnya sedikit kuat.


"Mama, kukatakan sekali lagi dia bukan Arsy. Dia istriku! Ezgi Hazel Nazha! Bukan Arsy Erlangga."


Aulia menggeleng. "Bukan, Ardan. Dia Arsy."


Ardan melepaskan cengkeraman tangannya dibahu Aulia. Memaki kesal. Dulu dia membiarkan Aulia menganggap Hazel sebagai Arsy karena berharap Aulia akan menyadari. Namun, semakin lama yang ada hanyalah harapan kosong yang mendominasi.


Mau sampai kapan terus membiarkan sang Mama begini? Hidup dalam imajinasi yang dibuatnya sendiri.


Ardan membuang wajah, mencoba mengatur napas agar emosinya kembali stabil.


"Ma, Kak Ardan benar. Itu bukan Arsy, tapi istri Kak Ardan."


"Mana mungkin, Arfi. Liat, bahkan anak Arsy saja memiliki lesung yang sama. Kalian yang salah."


Ardan menarik napas, habis sudah kesabarannya untuk menjelaskan.


"Mau sampai kapan Mama terus begini, ha? Mau sampai kapan terus berjmajinasi dan menipu diri? Di mananya yang mirip Arsy? Itu anakku! Anakku yang lahir dalam ikatan pernikahan. Dengan segala cinta dan kasih sayang tanpa paksaan. Itu anakku! Benihku yang lahir dalam keinginan kami. Bukan anak Arsy, benih yang ditinggalkan bajing*n itu pada adikku! Dan bukan juga buah kesalahan Papa!" teriak Ardan kesal.


Plaaak


Satu tamparan mendarat di pipi sang Putra. Gerald memanas, dengan tatapan nyalang menatapi wajah sang anak.


"Perhatikan lawan bicaramu, Ardan! Aku tak peduli jika kau ingin memakiku. Tapi dia ibumu! Wanita yang melahirkanmu! Pantaskah kau berkata dengan nada setinggi itu padanya?" tanya Gerald ketus.


Gerald merengkuh bahu istrinya, mencoba menenangkan Aulia yang mulai kembali masuk dalam depresinya. Menangis dan tertawa secara bersamaan.


Sementara Ardan hanya diam, mencoba menetralkan gemuruh di dalam dada yang kian membakar.


"Sekali lagi, sampai kudengar kau membentak Aulia. Pergi kau dari Erlangga!"


Meninggalkan ruang makan, Gerald merengkuh tubuh tua itu menuju kamarnya. Mencoba menenangkan Aulia yang menangis meracau tak jelas.


Gemelatuk rahang Ardan terdengar, kepalan tangannya semakin mengeras.


"Arrrggghhh!" Geramnya seraya menendangi kursi berkali-kali. Tak berhenti sampai kursi itu hancur tak karuan.


Hazel terdiam, hanya bisa memandangi suaminya yang terbenam dalam amarah.


"Hazel." Satu tangan Nigar menyentuh lengan sang kakak. Ngeri melihat Ardan yang semakin membabi buta menghancurkan kursi yang ada di sana.


"Aku gak berani, Nigar. Mas Ardan ... tidak pernah seperti itu sebelumnya."


Lelaki berambut pirang itu menarik napas, memberikan Yena ke dalam dekapan sang istri lantas tersenyum lembut.


"Gak apa-apa. Kak Ardan hanya kesal. Setelah menghancurkan beberapa barang dia akan tenang. Biarkan saja dia meluapkan segalanya," kata Arfi seraya mengacak pucuk kepala Nigar.


"Tapi Kak Ardan tampak menyeramkan. Kamu yakin dia akan baik-baik saja."


"Terkadang lelaki membutuhkan ruang dan barang untuk meluapkan perasaannya. Tenang saja, setelah ini perasaan Kak Ardan pasti baik-baik saja."


Lamat binar berwarna madu itu memandangi tubuh suaminya yang masih terbenam dalam amarahnya. Ibu dua anak itu tidak tahan, ia mengambil segelas air dan menambahkan dua iris potong lemon ke dalamnya.


Menghampiri Ardan yang masih bebas meluapkan amarahnya. Sedikit ragu, satu tangan Hazel meraih bahu Ardan. Lelaki itu mengempaskannya.


Praankkk


Seketika gelas yang ada di tangan Hazel berhamburan. Lelaki itu terdiam, bergeming menatapi tubuh sang istri. Detik selanjutnya dia menarik napas dan menarik badan Hazel ke dalam dekapan.


Memeluk erat, bingung dan juga kalut.


"Aku harus bagaimana, Hazel? Bagaimana lagi menghadapi keluarga ini?" Serak suara itu terdengar sangat lelah.


"Mau sampai kapan aku harus melihat mama begitu. Kamu tau? Sakit sekali, dadaku sesak saat mama terus memanggilmu dengan nama Arsy. Bukan hanya mengingatkan beban lukaku yang tak mampu menjaga Arsy, tapi juga menambah penyesalan di dalam sini. Sesal, mengapa aku sangat tidak berguna sebagai Kakak dan anak?"


Hazel hanya diam, bingung mau mengatakan apa. Tangan itu mengelus lembut kepala belakang Ardan.


"Pelan-pelan, Mas. Kita cari caranya pelan-pelan. Tidak akan ada yang baik-baik saja kalau Mas menggunakan amarah. Keadaan mama sudah sejauh itu, mengembalikannya juga pasti butuh waktu."


Ardan mengeratkan pelukan tangan itu. Semakin bingung dan juga ragu. Dia ingin membuat Aulia kembali sembuh, agar dia bisa tenang meninggalkan rumah besar ini. Waktu? Sanggupkah Surya menunggu?


'Aku sudah gagal menjadi anak dan kakak, Hazel. Haruskah aku juga gagal menjadi suami dan ayah lagi?'