
Selaksa gemintang bertebaran menghiasi langit hitam. Terduduk di bangku taman, sesekali lelaki berkacamata itu menghela napas.
Matanya melirik ke arah Sasy, gadis itu masih asyik melahap potongan-potongan Sushi dan Sashimi ke dalam mulutnya.
Entah mengapa gadis itu tidak mau makan langsung di restoran Jepang dan memilih makan di alam bebas.
"Sasy," panggil Ferdi dan gadis itu menoleh. Mulutnya masih penuh oleh makanan dan tertinggal sebutir nasi di sudut bibirnya.
Ferdi tersenyum, satu tangannya meraih pipi gadis belia itu, membersihkan sudut bibir dengan jempolnya.
Jantung Sasy berdegup tak karuan, lembut usapan ibu jari Ferdi membuat dadanya sesak.
Gadis itu tersedak, ia memukul dadanya yang tersangkut makanan.
Secepatnya tangan Ferdi menarik air, meminumkan ke belia itu. Mata bundarnya melebar, memerhatikan wajah Ferdi yang kian lama semakin menawan.
Setelah sedikit lebih lengang, gadis itu menarik napas. Menutup kotak makanannya yang baru habis setengah.
"Kak Ferdi gak makan?" tanya Sasy seraya meletakan kotak Sushi miliknya.
Ferdi menggeleng, "Aku kurang suka makanan Jepang. Walau itu bersih dan tidak lagi amis, rasanya agak geli memakan makanan yang tidak di masak sama sekali."
Gadis itu menggulum bibirnya, melihat kotak makanan Ferdi yang tidak dimakan sama sekali.
"Jadi kenapa dipesan dua? Kan mubazir, Kak."
"Kamu bawa pulang saja. Makanlah yang banyak agar cepat besar," kata Ferdi meneguk kaleng minumannya.
"Kalo aku cepet besar, Kak Ferdi bakalan nikahi aku, gak?"
"Uhuuuk!"
Kali ini berganti lelaki itu yang tersedak. Sasy kelabakan, ia mengelus-elus bahu Ferdi dan mata itu menatap ke arah Sasy tajam.
"Kamu ini, apakah tidak bisa berhenti berbicara tentang cinta?"
Gadis itu memainkan bibir, lantas kedua kakinya terulur ke depan.
"Abisnya Kak Ferdi selalu bilang, makanlah yang banyak, minum susu agar cepat besar. Aku udah besar loh, Kak. Sebentar lagi umurku sembilan belas tahun," kata Sasy kesal.
"Dan aku akan 34 tahun. Umurku hampir dua kali lipat darimu. Apa kamu tidak malu jalan sama aku?"
Sasy menggeleng.
"Lalu kenapa kamu tidak mau makan di restoran dan memilih untuk makan di taman?"
"Abisnya kalo makan di restoran enggak leluasa. Nanti diburu-buru, dan gak bisa lama-lama sama Kak Ferdi."
Lelaki berkacamata itu tersenyum simpul dan menggeleng. Seharusnya dia paham kalau pikiran belia itu masih sangat polos.
"Emang kalo ketahuan sama temanmu, kamu gak malu? Entar kalo diejek jalan sama Om-om gimana?" tanya Ferdi lagi.
Sasy melihat ke wajah Ferdi, memandang lekat dan dalam. Mata di balik lensa itu ikut menatap sepasang netra jernih milik belia itu.
Jantungnya berdegup, dan tiba-tiba saja dadanya menghangat. Bergemuruh dan itu membuat dia mulai berpeluh.
"Di mananya Kak Ferdi yang kayak Om-Om?" tanya Sasy polos.
"Kak Ferdi itu masih keliatan tampan. Apalagi kalo gak pake kacamata dan rambutnya gak disisir rapih. Mau dibawa ke acara, kepertemuan atau kencan. Masih sangat menawan. Di mananya yang malu-maluin?"
Ferdi tersenyum tipis, "Masa?" tanyanya lembut.
"Iya, apalagi .... " Sasy menggeser duduknya lebih dekat, satu tangannya tertumpuh pada tepi bangku dan badan itu agak condong ke arah Ferdi.
Lelaki itu memundur, mencoba menciptakan jarak dengan belia itu. Semakin badannya memundur semakin dekat pula badan Sasy ke arahnya.
Netra di balik lensa itu mengedip berulang kali saat wajah Sasy semakin mendekati wajahnya. Satu tangn Sasy meraih helaian rambut Ferdi yang jatuh ke atas dahi.
Mata bundarnya fokus pada rambut yang menghiasi dahi Ferdi. Lalu jari-jari itu menyentuhnya, membentuk rambut Ferdi agar terlihat lebih menawan.
Bibirnya terkembang, jari itu mulai merapikan rambut Ferdi. Saat selesai ia melihat ke arah wajah. Lelaki itu meneguk salivanya, grogi.
"Begini bagus, Kakak terlihat semakin muda," kata Sasy tepat di depan wajah Ferdi.
Saat gadis itu akan menarik badannya, satu tangan Ferdi meraih pinggangnya, menahan agar gadis itu tetap pada posisinya.
Sasy kaget, tangannya tertumpuh pada pundak lelaki itu. Wajahnya semakin dekat, deru napas Ferdi yang mengenai wajahnya membuat hatinya mendesirkan irama. Degup jantung yang tak lagi terkendali.
Dua pasang mata itu bertemu, bertautan dalam keheningan. Sampai angin malam mengembuskan rambut Sasy. Sebagian rambutnya menerpa wajah Ferdi.
Mata bundar itu tertunduk, lalu merapikan rambutnya yang menutupi wajah Ferdi, jelas peluh keringat mulai membanjiri pelipis sang lelaki.
"Kak Ferdi," panggil Sasy lembut.
"Hem."
"Tangan Kak Ferdi, aku pegal kalo duduk begini."
Ferdi terkejut, ia melepaskan dekapannya dan kembali duduk dengan benar.
"Maaf," katanya memerah, menahan malu dan juga semu, terlebih debaran di dalam dada yang kian bergemuruh.
Sasy hanya mengangguk, seketika suasana menjadi canggung.
Gadis belia itu terdiam, detak jantungnya semakin tak karuan. Dia menghela napas, lantas menarik tas dan selembar kertas jatuh dari sana.
Baru akan meraihnya, Ferdi lebih dulu mengambil kertas itu. Alisnya bertautan, melihat nilai rendah dengan catatan merah.
Gadis itu memejamkan matanya, kedua jemarinya saling meremat. Hilang sudah imagenya di depan Ferdi. Kali ini Ferdi pasti akan semakin menjauhi dirinya.
Lelaki itu membaca setiap tulisan yang Sasy buat di dalamnya. Jejak penanya sangat indah, tulisannya rapih dan juga tertata.
Sesekali lelaki berkacamata itu tertawa saat membaca jawaban yang Sasy tulis. Lalu matanya melirik, gadis itu hanya tertunduk.
Wajahnya memucat, dengan kedua tangan yang meremat-remat ujung bajunya.
Satu tangan Ferdi mengacak puncak kepala Sasy. Sedikit geram ia memainkan pucuk kepala gadis itu.
"Ayo pulang. Ini sudah sangat malam. Nanti orangtuamu khawatir."
Gadis itu hanya diam, detik selanjutnya dia menggeleng.
"Kenapa?" tanya Ferdi lembut.
"Aku gak mau pulang, Kak. Mau ngekos saja."
Ferdi menarik pipi gembil itu. "Apa karena ini?" tanya Ferdi menunjuk kertas quiz Sasy.
Ragu, gadis itu mengangguk.
"Ayo pulang. Jangan takut, jika mau cepet besar harus berani menghadapi masalah. Jangan lari, apalagi kabur."
Sasy hanya bergeming. Dia masih tertunduk dan tak ingin bergerak.
"Sasy," panggil Ferdi.
Gadis itu diam.
"Sasy." panggil Ferdi lagi.
"Sasy!"
"Gak mau, Kak!" bentak Sasy.
Ferdi menghela napas, ia berjongkok di depan Sasy. Menatap wajah belia itu dan baru disadari jika gadis itu tengah menangis.
Lelaki berparas teduh itu menyentuh sebelah pipi Sasy, lalu ibu jarinya menghapus bulir yang jatuh.
Gadis itu mendongak, melihat wajah Ferdi yang sangat teduh. Bibirnya tersenyum tipis. Seketika keraguan tertepis begitu saja.
"Dengar Sasy, mulai saat ini kamu boleh mengatakan apa pun padaku. Mengadu dan menangislah, aku akan mendengarkanmu. Setelah itu berjanjilah untuk tetap bertahan dan berjuang. Hidup dan masa depanmu masih sangat panjang. Kau dengar?"
Sasy mengangguk pelan. Kedua tangan kekar itu menarik bahu Sasy.
"Sekarang ayo kita pulang."
Satu jemari Ferdi menarik lengan belia itu, setelah dua langkah berjalan. Lelaki itu menautkan kedua jemari mereka.
Langkah Sasy terhenti, matanya menatapi genggaman tangan mereka.
"Ada apa?" tanya Ferdi menoleh.
Gadis itu tersenyum simpul dan menggeleng. Detik selanjutnya dia berlari, mau tidak mau Ferdi mengikuti langkah mungil belia itu.
Lalu kekehan terdengar dari mulutnya, dan itu membuat bibir Ferdi ikut mengembang di belakangnya.
Sampai langkahnya terhenti di depan mobil Ferdi. Gadis belia itu kembali riang, menaiki kursi di sebelah kemudi.
Ferdi hanya menggeleng, mengikuti tingkah labil Sasy, dia pun ikut labil seperti belia itu.
Kadang kesal, geram dan hampir meluapkan emosinya. Namun, juga membuatnya merasa bahagia dan hidup kembali.
Detak jantungnya terasa lebih nyata, setidaknya ada yang membuat debaran itu lebih berharga.
Laju mobil itu berhenti di depan rumah Letnan Kolonel Irfan Sandyka. Gadis belia itu hanya menatap ke dalam rumah. Bergeming, seperti ragu untuk masuk.
"Sasy," panggil Ferdi.
Belia itu menoleh dan tersenyum lebar.
"Aku tidak takut," jawabnya.
"Dengar, jika kamu butuh bantuan untuk menyelesaikan soal. Datanglah ke kantorku dan katakan kamu memiliki janji denganku. Jika aku tidak ada di ruangan, tunggulah. Aku akan mengajarimu di sela-sela kesibukan."
Pias wajah itu berubah ceria. "Kakak serius?"
Ferdi tersenyum dan mengangguk.
"Tapi dengan syarat."
"Katakan," sahut Sasy riang.
"Sabarlah menungguku dan jangan usili apa pun. Ingat untuk tidak bermain-main di kantorku atau aku akan sangat marah padamu."
"Ashiiap, Kak," jawab Sasy seraya memberi hormat.
Bibir tipis itu terkembang lebar, satu tangannya mengacak puncak kepala Sasy.
"Istirahatlah, selamat malam," kata Ferdi lembut.
"Selamat malam, Kak." Gadis itu menarik tasnya di atas dashboard.
Lalu tangannya mencoba menarik seatbelt, sedikit kesusahan. Ia berusaha sekuat tenaga, tetapi seatbelt itu semakin mencekik lehernya.
"Kak Ferdi ini nyangkut," adunya manja.
"Tunggu sebentar."
Jari-jari kekar itu mencoba melepaskan seatbelt yang meliliti tubuh Sasy, setelah terbuka, pelan ia meletakan ke tempat semula.
Gadis belia itu terdiam, badan tegap Ferdi berada tepat di atasnya, detik selanjutnya tangan Ferdi membuka tuas pintu.
Dada Sasy kembali bergemuruh, terlebih saat aroma parfume dari jaket navy itu tertembus oleh penciumannya.
Satu tangan Sasy kembali menarik tuas pintu. Dan itu membuat Ferdi menatap ke arah wajah.
Belia itu terdiam, melihat wajah Ferdi yang berada di atasnya. Beberapa kali kelopak matanya berkedip. Dalam satu hari entah berapa kali mereka berada dalam posisi begini.
Perlahan pandangan mata Ferdi meneduh, tertunduk dan ingin kembali ke tempat duduk.
Belia itu menarik sebelah pipi Ferdi. Menempelkan bibirnya di atas bingkai milik Ferdi.
Lelaki itu terdiam, matanya melebar dan menatapi wajah Sasy yang tengah terpejam.
Gemuruh di dadanya semakin menggebu, terlebih saat hangat napas gadis belianya menerpa kulit pipi.
Setelah beberapa lama terdiam, perlahan gadis itu membuka mata, lalu tangkupan tangannya di pipi Ferdi terlepas.
Ia baru akan menarik kepalanya, namun satu tangan Ferdi menarik belakang kepala Sasy.
Mencium bibir belia itu lebih dalam, menyesapnya lembut dan Sasy hanya terdiam. Menggulum bibir belia itu dengan hangat, dan detik selanjutnya ia menautkan dahi mereka.
Hela napas Ferdi semakin berat, matanya terpejam dengan teguk saliva yang tertahan.
"Maaf, Sasy. Kamu yang selalu membuatku lepas kendali." Napas Ferdi terengah, ia belum sanggup membuka mata dan cengkeraman di kepala Sasy semakin mengerat.
"Kak Ferdi."
Ferdi mendorong badan belia itu sampai Sasy tersudut di pintu mobil.
Netra di balik kaca itu menatap dalam dan intens.
"Katakan, kau takut padaku yang seperti ini?" tanya Ferdi getir.
Senyum Sasy mengembang, lantas ia menggeleng pelan.
Kini satu tangan yang lainnya menangkup di pipi Sasy. Ferdi kembali mencium bibir itu, cukup lama dan perlahan turun ke leher belia itu. Sasy bergidik, merinding dan kedua tanganya sontak memeluk bahu Ferdi.
Lelaki itu tersadar dan menarik badannya.
"Astagfirullah," lirihnya mengacak rambut.
Ia membuang pandangan ke arah luar, mencoba menetralkan debaran yang kian mengencang.
"Maafkan aku, maaf Sasy," ucap Ferdi lirih.
Belia itu hanya tersenyum, bersemu dan juga tersipu. Ia merapikan helaian rambutnya.
"Tidak masalah, Kak."
Satu tangan ia tumpuhkan di atas bingkai jendela. Menggigit kuku-kukunya seraya menatap ke luar jendela.
"Kalo begitu aku masuk dulu, ya, Kak."
Ferdi hanya mengangguk, tetap tidak menoleh ke arah Sasy. Takut khilaf lagi.
Gadis itu membuka pintu mobil, lalu menoleh sekali lagi sebelum turun.
"Kak."
"Hem."
"Aku benar-benar tidak apa. Kakak gak perlu merasa bersalah."
"Ya," jawab Ferdi.
Gadis itu kembali menatap Ferdi, lalu mendekat, mengecup pipi Ferdi dan berbisik lembut.
"Terima kasih." Tubuh mungil itu langsung berlari, memasuki halaman rumahnya.
Sementara Ferdi masih terpaku, detik selanjutnya dia menoleh ke arah Sasy. Bibirnya terkembang dengan satu tangan yang menyentuh pipi bekas ciuman Sasy.
Hatinya mendadak senang dan seketika rasa bersalah itu menghilang. Berganti dengan desiran yang menghidupkan kuncup bunga yang belum sempat terkembang.