
Hazel terkekeh saat melihat piring makan Ardan penuh dengan lauk nasi. Sementara lelaki itu hanya tak acuh.
Duduk bersebelahan dengan sang istri yang masih sibuk pada bayi kecil mereka.
"Mas seperti gak pernah dikasih makanan enak di rumah, ih," ledek Hazel geli.
"Bukannya ini kelakuan putramu?" sengit Ardan seraya menaikan badan mungil itu ke atas pangkuan.
"Tapi gak perlu Mas ikuti semua kemauan dia, kan? Malu ih," ledek Hazel lagi.
"Setelah punya anak apalagi yang bisa dimalui? Asalkan mereka senang," jawab Ardan santai.
Satu tangan Hazel memukul punggung tangan Surya yang ingin mengambil sesuatu di piring Ardan.
"Kebiasaan! Sabar nunggu Papa suap. Jangan jorok!" ketus Hazel mendelik ke arah sang anak.
Ardan hanya menggeleng, menutupi mata Surya yang memandangi wajah sang Bunda.
"Bundamu itu aneh, kalo anaknya gak mau makan nangis. Kalo anaknya lagi mau makan dimarahi," kata Ardan melirik Hazel sekilas.
"Jangan dimanjain, Mas. Gak sopan memasukan tangan saat makan. Apalagi itu piring Papanya."
"Tapi dia masih kecil, biarkan saja. Apa salahnya? Nanti saat besar juga berubah."
"Gak bisa gitu dong, Mas. Kalo apa-apa yang baik itu harus dibiasakan dari kecil. Kalo dibiasakan dari kecil aja masih suka lupa, apalagi---" Ucapan itu terhenti saat Ardan memasukan sesuap nasi ke dalam mulut sang istri.
"Aku tau. Sekarang kita makan dulu."
Hazel hanya terkekeh, mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Sesekali matanya mendelik saat tangan sang anak mau mengambil sesuatu ke dalam piring Papanya.
Detik selanjutnya sesuap nasi kembali terulur ke depan mulut mungil itu. Tak lepas dari wajah sang putra, Hazel kembali memakan yang disodorkan sang suami.
"Awas kalo berani masukin tangan lagi," ancamnya dan sang putra mendonggak ke wajah papanya.
"Ambil saja apa yang Surya mau."
"Mas---" Belum sempat Hazel menceramahi keduanya, suapan itu kembali menyumpal mulutnya.
Ardan terkekeh, terkadang mau di mana pun berada. Jika sudah seperti ini, maka keadaan sekitar tidak lagi terlihat oleh mereka.
***
Lelaki berambut pirang itu berlari menyeberangi jalanan raya. Langsung memasuki mobil berwarna marun yang sudah menunggunya di tepi jalan.
"Berikan laptopmu," kata Arfi, dan lelaki yang ada di sebelah memberikannya tanpa bertanya.
Menjalankan mobil itu agar menjauh dari perkarangan kantor milik Erlangga.
Bungsu Erlangga itu menghapus peluh di bagian pelipisnya. Sedikit lebih tenang setelah melewati segala ancaman.
"Kau sudah mengembalikan semuanya ke awal, kan, Dre?"
"Ya."
"Awas jika setelah ini kau meretas jaringan perusahaanku. Ke ujung dunia pun, kau kukejar," ancam Arfi seraya memindahkan data-datanya.
"Hei ayolah! Aku tidak sekurang kerjaan itu meretas jaringan yang tidak ada gunanya bagiku. Kecuali jika ada brankas puluhan juta di dalamnya," jawab Dre seraya memainkan kedua alis matanya.
"Dasar perampok ulung. Kecepatanmu dalam meretas memang kuakui luar biasa, Dre."
"Tentu saja, jangan remehkan kekuatanku. Dan jika kau tidak membayar sesuai perjanjian. Akan kulaporkan ulahmu pada Gerald."
Sekilas Arfi melirik, lalu ia menggeleng dan kembali sibuk memeriksa daftar kontrak yang dia pindahkan dari laptop Gerald.
"Bukannya kau sudah banyak uang, aku yakin kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari yang kubuat. Mengapa kau memaksaku untuk memberikan sampah itu?"
"Hei, jika itu sampah mengapa kau masih menyimpannya sampai sekarang?"
Arfi terkekeh, satu tangannya menekan tombol enter. Mengirim berkas itu ke dalam gawainya, lalu mengembalikan laptop itu ke sang tuan.
"Berhentikan mobilnya di depan kafe depan. Aku mau bertemu seseorang," katanya.
"Mana bayaranku?" tagih Dre langsung.
Lelaki itu berdecak geram, satu tangannya merogoh sisi jaket dan mengeluarkan beberapa lembar kertas.
Setelah memberikannya ke tangan Dre, ia ingin keluar. Namun, tertahan oleh tangan sang teman.
"Tunggu dulu, aku harus periksa. Aku takut ini hanya copyan, mengingat kau yang sangat nakal."
Arfi berdecak sebal, ia hanya melirik malas. Memerhatikan mata Dre yang melihat-lihat desain bangunan yang diberikan.
"Ada apa dengan desain bangunan itu? Dari dulu kau sangat ingin memilikinya?" tanya Arfi bingung.
Dre hanya tersenyum. "Memang dari dulu bakatmu ada di desain bangunan, Arfi. Bahkan gambar 3dnya lebih indah dibandingkan yang kubayangkan."
"Ck ... Bocah ini," decak Arfi sebal, lain ditanya lain dijawab.
"Sudah, ya. Setelah ini kau bantu aku mengawasi pembangunan. Dan perjanjian kita selesai," ucap Dre seraya menyimpan desain sebuah rumah yang Arfi berikan.
"Baiklah, tetapi setelah urusanku yang lain juga selesai," jawab Arfi.
"Memang setelah ini kau mau ke mana?"
"Rusia."
"Liburan," jawab Arfi seraya membuka pintu mobil dan keluar.
Dre hanya terdiam, memerhatikan punggung badan Arfi yang perlahan menghilang ke dalam kafe.
"Enak sekali kehidupan Erlangga itu, setelah melakukan aksi berbahaya. Liburan untuk mengumpulkan nyawa," kata Dre menggelengkan kepalanya bingung.
***
Suara notifikasi pesan bersamaan masuk ke dalam gawai milik Ardan dan Ferdi.
Kedua lelaki itu bersamaan melihat pesan yang masuk. Setelah membuka tampilannya, seulas senyuman tergambar di wajah mereka.
Helaan napas terdengar lega, lalu Ardan kembali menyimpan ponselnya ke saku kemeja.
"Ada apa, Mas?" tanya Hazel.
"Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Sayang, kita pulang?" tanya Ardan.
Wanita bermata madu itu hanya mengangguk, mengambil air minumnya dan menyesap pelan.
Sementara di bagian belakang, pendar netra bundar itu menatap wajah Ferdi dalam. Saat lelaki itu menyimpan ponsel di saku jasnya, gadis belia itu bertanya.
"Pesan dari siapa, Kak? Kok, Kakak kayak seneng banget gitu?" tanya gadis itu tertunduk.
"Dari Om Arfi," jawab Ferdi lembut.
"Oh, ya? Memang Om Arfi bilang apa? Senangnya kayak dapat jackpot besar aja?"
"Memang dapat jackpot besar," sahut Ferdi mengusap sudut bibirnya menggunakan tisu.
"Kalo aku boleh tau?" tanya gadis itu semakin penasaran.
Ferdi melirik sekilas, lalu bibirnya tersenyum tipis. Ia dekatkan wajah, lalu semu merah itu kembali menghiasi pipi sang belia.
"Untuk keberlangsungan masa depan kita," katanya seraya bangkit dari kursi.
Gadis belia itu tersenyum tertahan, jari-jarinya memilin ujung dress.
"Masa depan kita?" lirihnya sendiri.
"Apa itu artinya, di masa depan aku dan Kak Ferdi akan menjadi kita?" tanyanya senang sendiri.
Keluarga kecil yang duduk di jajaran kursi depan itu bangkit, berniat untuk berpamitan kepada sepasang pengantin itu, namum Nara malah menahannya.
"Ayolah, Mbak. Satu sesi aja kita foto bareng, lagian jarang banget bisa lihat Pak Ardan pakai batik," ucapnya meledek.
"Hei, jangan sementang ini hari pernikahanmu, kau bisa meledekku," ketus Ardan.
Gadis dengan balutan gaun pengantin itu hanya terkekeh kecil.
"Sebentar saja Pak Ardan, hanya satu kali pemotretan. Berapa banyak sih waktu Anda terbuang?" tanya Nara lagi.
Lelaki beralis tebal itu memutar bola mata malas. "Baiklah, sebagai ganti waktuku yang berharga. Bagaimana jika satu sesi terapi Surya, free?" tanya Ardan kembali.
"Wo ... apa-apaan ini? Kenapa malah menyangkut ke pekerjaanku?" Kini berganti lelaki berdarah Spanyol itu yang menjawab.
"Baiklah, kalo tidak mau. Sayang, ayo kita pulang."
Hazel hanya terkekeh, ia melepaskan pegangan tangan Ardan.
"Ayolah, Mas. Hanya satu kali," bujuknya lembut.
Lelaki itu hanya menarik napas, lalu mengangguk untuk mengalah. Berjalan ke sebelah Pedro dengan menggendong sang putra.
Gadis bermata madu itu ikut mengambil posisi, berdiri di sebelah sang pengantin wanita, dan itu, membuat langkah sang belia terhenti di belakang sini.
Matanya melebar, memerhatikan wajah yang tengah tersenyum ke arah kamera di depan sana.
Terdiam, napasnya memburu dengan sangat kencang.
"Ada apa?" tanya Ferdi saat gadis di sisinya terhenti tiba-tiba.
"Itu?" tanyanya meneguk saliva pahit. "Istrinya Pak Ardan?" tanya Sasy gemetar.
"Benar? Kau kenal?" tanya Ferdi lembut.
Secepatnya gadis itu melepaskan rangkulan tangan Ferdi di bahunya. "Kak aku sakit perut, Kakak duluan saja aku mau ke toilet."
Tak menunggu respons Ferdi, gadis belia itu langsung berlari. Meninggalkan Ferdi yang masih terheran-heran melihat ulahnya.
Gadis itu menekan dadanya saat berada di balik pintu toilet umum di sana. Berjalan ke depan kaca seraya menatapi wajah belianya.
"Kalo Kak Hazel istrinya Pak Ardan, itu artinya sahabat dekat Kak Ferdi juga?"
Gadis itu menggeleng cepat. "Tidak bisa! Aku tidak bisa ketemu Kak Hazel di sini. Kalo Kak Hazel tau yang bersama Kak Ferdi adalah aku, apa yang akan dia katakan pada Kak Ferdi?"
"Oh Tuhan ... apa yang sudah aku katakan dulu untuk menyakiti Kak Hazel? Akankah Kak Hazel mengatakan kalo aku ini gadis yang jahat?" Gadis itu menepuk-nepuk bibirnya sendiri, mengingat ucapannya yang menyakiti Hazel untuk melindungi wanita itu sebenarnya, namun siapa yang bisa membaca niat seseorang?
"Terus nanti Kak Ferdi gimana? Pasti gak mau lagi sama gadis nakal ini. Ish." Gadis itu merengek sendiri. Bingung oleh permainan takdir yang terus mengikat mereka.
"Oh Tuhan, ngejar Kak Ferdi setengah mati. Masa iya ngelepasinnya seenak ini?"