
Ardan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Berdiri di belakang kursi yang Hazel dudukki, lantas tangan kekar itu mengusap lembut kepala sang istri.
Ibu dua anak itu menoleh, bibirnya tersenyum indah dengan hiasan kaca-kaca di dua binar madunya.
"Masuklah, angin malam tak terlalu bagus untukmu."
Hazel hanya mengangguk, ia menarik diri dari hadapan Gerald dan berjalan memasuki rumah mewah itu.
Ardan menghela napas, mengenadahkan wajahnya seraya membenamkan kedua tangan di saku celana. Melihat selaksa gemintang yang menghiasi langit hitam di sana. Tampak sangat indah dengan temaram kekuningan rembulan malam.
Hening, beberapa kali embusan angin mendayukan suara kesunyian nan dingin. Tak ada percakapan apapun karena keduanya masih masuk dalam pikiran masing-masing.
"Sepertinya memang benar, kita hanyalah dua orang yang sama dalam tubuh yang berbeda."
Ucapan itu membuat kepala Ardan berpaling, menatap Gerald yang bergeming di kursinya.
"Ardan," panggil Gerald melembut.
Lelaki berkaus itu hanya menatap Gerald, tidak menjawab sama sekali.
"Maukah kau mendengarkan sebuah kisah dari masa laluku?" tawar lelaki berambut putih itu menoleh ke arah Ardan.
"Setidaknya, kau membutuhkan alasan untuk tetap mempertahankan perusahaan."
Lelaki berkulit eksotis itu berpindah, berjalan ke depan dan duduk di tempat Hazel tadi. Masih dengan memasukan tangannya di saku celana, bersiap untuk mendengarkan cerita sang ayah.
Hening, untuk beberapa waktu keadaan hanya berjalan menghampa. Lelaki tua itu membutuhkan waktu untuk membuka kisah masa lalunya.
Senyum getir tergambar dari wajah keriput tersebut, dia menggeleng dan tertunduk dalam. Seperti enggan untuk membuka cerita, tetapi dia tidak punya cara lain untuk membujuk putra tertuanya itu agar memikirkan kembali keputusannya melepaskan anak perusahaan.
"Entah bagaimana memulainya, mungkin ini cerita yang memalukan untuk kau dengar."
Ardan menarik napasnya, "langsung saja masuk ke ceritanya, jangan terlalu banyak pembuka."
Gerald tertawa, benar-benar Ardan ini.
"Aulia ... dia bukanlah seorang gadis biasa dulunya."
Ardan menatap ke arah wajah sang ayah. Tak pernah sekalipun ia mendengar cerita tentang bagaimana masa lalu kedua orang tuanya karena selama ini yang selalu mereka ceritakan adalah tentang bagaimana perusahaan itu berjalan dan harus tetap bertahan.
Demi apa, Gerald mau menceritakannya kali ini?
"Mamamu adalah anak tunggal dari bangsawan yang sangat tersohor pada masanya." Bibir keriput itu tersenyum, mencoba mengingat sepintas penggalan masa lalunya.
"Entah apa yang membuat dia bisa jatuh hati padaku? Padahal saat itu aku hanyalah pemuda biasa yang tak memiliki apa-apa."
"Anda? Bukan apa-apa?" tanya Ardan hampir tak percaya.
Dengan malu-malu Gerald menganggukkan kepalanya. Jika mengingat lagi masa itu, memang sangat memalukan. Bukan hanya menceritakan tentang dirinya yang pecundang, pun juga tentang beratnya ujian dan penderitaan yang Aulia jalani saat mengambil keputusan untuk mendampingi dia.
"Demi menikahiku Aulia meninggalkan kehidupannya, keluarganya, segala kemewahannya dan seluruh hal indah yang dia punya."
"Kau bisa bayangkan? Seorang putri yang hidupnya dilayani, tak pernah melakukan pekerjaan rumah, bahkan apa pun keinginannya bisa dengan mudah dia raih. Harus berganti dia yang melayani saat menikah denganku. Hidup dalam rumah tak layak, makan yang tak cukup enak, bahkan dia sering menahan lapar saat kami tak memiliki penghasilan. Aku yang saat itu masih mahasiswa, harus membagi waktu kerja dan belajar sering meninggalkan Aulia dalam keadaan kelaparan. Saat pulang tengah malam pun aku hanya bisa membawa makanan yang cukup untuk mengganjal, bukan membuatnya kenyang."
Teguk saliva Ardan memahit, masih tak percaya bahwa Gerald pernah berada di titik serendah itu dalam hidupnya.
"Seluruh tabungan Aulia yang dia miliki habis untuk kami membuka usaha, bolak balik kami gagal dan bangkrut. Bahkan bertahun-tahun kami terus mengalami hal itu berulang kali."
Gerald menggeleng, hal yang membuat dia sangat setia dengan Aulia adalah ini. Pengorbanan Aulia yang takmungkin bisa dia temukan dari perempuan manapun.
"Kau bahkan tak bisa membayangkan sekacau apa keadaan kami saat itu, Ardan. Tak memiliki harta benda apa pun, tinggal di rumah kontrakan tak layak, kadang saat hujan kami hanya bisa saling berpelukan di sudut kamar karena ruangan yang lainnya sudah menjadi kolam karena kebocoran. Bagaimana bisa kau bayangkan? Seorang putri tunggal bangsawan sanggup menjalankan hidup yang sangat menyedihkan hanya karena seorang lelaki sepertiku?"
Gerald tersenyum sendu, nanar tatapan tua itu menatap sang putra. Sorot mata yang tak pernah ditunjukkan selama raga mereka tinggal bersama.
"Lalu dia hamil kamu. Di saat itu kami bahkan tak tau harus bahagia atau sedih mendengarnya. Kami tak memiliki harta, kami tak memiliki apa pun untuk menerima kedatanganmu. Karena hal itu, saat mengandungmu pun Aulia memilih untuk bekerja, siang malam memeras tenaga demi mengumpulkan uang untuk memulai usaha baru dalam bidang yang lainnya."
Gerald tersenyum kecut. "Jika mengingat itu aku malu. Sangat malu. Aku meminta Aulia dari ayahnya, membuat dia hidup susah, harus membiarkan dia bekerja dan mengandungmu secara bersamaan."
Satu tangan Gerald meraih wajah Ardan, tersenyum lembut selayaknya dia memang ayah yang penuh kasih sayang.
Tajam tatapan mata sang putra perlahan melemah, seperti merasakan hangat yang berbeda. Kali ini Gerald mengajak cerita selayaknya ayah dan putra. Tanpa kekerasan, keangkuhan dan keegoisan. Seperti memohon pengertian dan pemahaman sang anak tentang keadaannya saat ini. Bukan lagi memaksa seperti yang dia lakukan selama ini.
"Lalu kau lahir, kami memutuskan meninggalkan kampung halaman dan datang ke kota ini. Membangun sebuah usaha dan benar memang, bahwa anak membawa rezekinya masing-masing. Dari usaha kecil, lalu berkembang menjadi lebih besar. Waktu berjalan dan Aulia hamil lagi, usaha yang kami bangun menjadi perusahaan, terus membesar dan terus berkembang sampai sekarang."
"Lalu, saat ini perusahaan kacau dan kau ingin melepaskannya? Katakan padaku, Ardan! Bagaimana bisa aku melepaskannya? Perjuangan Aulia sangat sulit dan sakit untuk membangun ini semua. Bukan hal yang mudah, Aulia telah melewati banyak kesulitan dalam hidupnya, membuang banyak tenaga dan menguras segala kemampuan yang dia punya. Dia memang tak ikut membesarkan perusahaan dan berkecimpung di dalamnya, tapi karena keyakinan dan kepercayaan Aulia aku bisa mengembangkannya hingga sebesar saat ini. Aulia selalu percaya dan yakin padaku bahkan saat aku sendiri meragukan kemampuanku." Jemari yang menyentuh wajah Ardan mengelus dengan lembut.
"Papa bukan tak rela hidup susah, Papa hanya tak ingin apa yang pernah Aulia yakini dan percayakan pada Papa selama ini hilang begitu saja. Cukup sekali saja Papa membawa Aulia ke dalam hidup penuh susah saat dia muda, jangan lagi saat kami menua."
Satu tangan Gerald menepuk pundak Ardan, mencengkeram sedikit kuat, lantas tubuh itu bangkit. Berjalan meninggalkan Ardan yang masih terduduk merenungi cerita kedua orang tuanya.
"Jika saja perusahaan itu Papa bangun atas keringat Papa sendiri, Papa takkan peduli mau hancur atau bagaimana karena kebahagiaan kalian memanglah yang paling utama. Tapi ada keyakinan dan kepercayaan Aulia yang selalu ikut membangunnya bersama dan Papa ... tak pernah ingin kehilangan itu semua. Demi apa yang pernah diperjuangkan ibumu, Ardan. Tolong jangan sembarangan mengambil keputusan."
Setelah mengatakan itu Gerald berlalu, memasuki rumah besar itu untuk menemui kekasihnya. Hal yang takkan pernah dia lupakan adalah perjuangan keras yang pernah Aulia lakukan, pengorbanan yang rela menukar kehidupan indahnya dengan neraka yang menyiksa hanya untuk mendampingi dirinya.
Satu-satunya gadis yang mengagumi dirinya di saat semua orang meremehkan dia. Bahkan Aulia tak pernah merasa bahwa kegagalan yang Gerald rasakan adalah ketidakmampuannya.
Wanita itu selalu percaya bahwa kerja keras takkan pernah mengkhianati masa depan dan semua penderitaan yang dia jalani saat itu adalah bibit yang tertanam untuk buah yang memuaskan di masa mendatang.
Siapa duga, bahkan sampai detik ini Aulia masih tersiksa, terus menerus selama menjadi istrinya. Bagaimana dia mampu berpaling? Saat yang dia dapatkan adalah wanita yang paling baik yang pernah Tuhan ciptakan.
Gerald membuka pintu kamar sang istri, mendekati ranjang dan memandangi sang istri lamat.
Tubuhnya semakin mengurus dengan keriput yang menghiasi wajah senjanya. Namun, bagi Gerald kecantikan wanita itu tak pernah memudar, malah semakin bersinar. Karena mau seburuk apapun keadaan yang mereka alami, Aulia adalah istri yang tak pernah menyalahkan sikap suaminya. Hanya bersabar dan memendam, sampai pada batasnya, dia lebih memilih untuk seperti ini daripada membebani suami.
Gerald meraih jemari keriput itu, menciumi punggung tangannya seraya menatapi wajah pulas istrinya.
"Aulia, kapan kamu akan kembali? Beri aku kesempatan sekali lagi. Kali ini, izinkan aku memberikan surga dalam rumah tangga kita yang tak pernah kupenuhi selama ini."
Lelaki itu mendekat, bersimpuh di sebelah kasur istrinya.
"Sekali ini saja, kumohon kembalilah padaku. Aku ... masih Geraldmu," bisiknya tepat ditelinga sang istri yang tengah tertidur.