
"Saya butuh waktu," jawab gadis itu setelah beberapa waktu berdiam oleh ucapan Ferdi.
"Waktu?" Alis lelaki itu saling bertautan.
Kepala berbalut hijab itu mengangguk.
"Waktu untuk menyembuhkan trauma ini. Waktu untuk melupakan kejadian malam itu, waktu untuk istikharah dan ... waktu untuk menjawab lamaran Anda."
Selarik senyum tergambar di wajah teduh itu. Lensa berwarna pekat itu menatap dengan sangat lekat. Ada harap yang mulai terlihat.
"Baiklah. Aku akan memberikan waktu. Selama apa pun itu. Aku akan tetap menunggumu, entah itu ya, atau tidak."
Gadis berhijab itu tersenyum tipis, dalam tundukkan pandangannya. Ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Mungkin, rasa itu telah menyapanya.
Akan tetapi, ia tak bisa terburu-buru dalam melangkah. Sejatinya kita punya Allah. Akan lebih baik saat kita menyertakan dia dalam setiap urusan dan juga keputusan.
***
Ardan membelai lembut puncak kepala Hazel. Perlahan bibirnya mendekat, membisikan sebuah kalimat dan itu mampu membuat tawa gadis itu meledak.
Secepatnya ia menutup mulut, memandang Arfi yang duduk di depannya dengan tatapan bingung.
Lalu tangan putih itu memukul, mencubit, apa pun, agar sang suami berhenti bertindak konyol di depan sang adik.
"Bisa gak, jangan menyiksa jomlo di sini?" tanya Arfi seraya menggelengkan kepala.
"Hahaha! Siapa yang percaya kamu jomlo? Setiap detik ada aja yang menelponmu. Dasar playboy kamu!" cerca Ardan galak.
"Halah ... kayak yang ngomong enggak aja. Lebih parah malah, sampek sekarang masih ada tuh yang nyariin Mas Ardan."
Sebuah gulungan tisu mendarat di wajah sang adik. Ardan mengancam lewat tatapan matanya. Sementara jari sang istri sudah mendarat di pinggang.
Ardan menyeringai lebar, pelan jarinya melepaskan cubitan Hazel.
"Masa lalu, Sayang." Pelan tangannya mengelus perut sang istri. "Ini masih sering kram?" tanyanya mengalihkan perhatian.
"Halah ... Kak, Kak, geli aku lihat Kakak kayak gitu. Dasar lelaki takut istri!" Arfi menarik selembar tisu, lalu berlutut di bawah kursi Surya.
"Main sama Om, yuk. Di sini gerah! Ada playboy kena karma!" ucap Arfi sedikit berteriak, matanya melirik ke arah Ardan.
"Sialan tuh bocah!" sungut Ardan kesal.
Setelah Arfi keluar dari pintu belakang, Hazel melirik sinis ke arah Ardan.
"Sebenarnya berapa banyak sih mantanmu, Mas? Ferdi juga pernah bilang kalau nomor dia penuh dengan sms dari mantanmu."
"Hem?" Ardan memutar bola matanya, berpikir sejenak.
"Tak banyak, hanya setengah," jawab Ardan sembari menarik wajah gadis itu untuk ia kecup.
"Setengah?"
"Hem." Tangannya mulai sibuk membereskan piring sisa sarapan tadi. "Setengah dari populasi wanita Indonesia. Hahahahaa."
Seketika wajah cantik itu memerah, menatap sengit punggung suaminya yang sedang membawa piring kotor ke dapur.
Merengut, dengan silangan tangan di depan dada.
"Playboy kamu!" sungut Hazel kesal.
"Memang," jawab Ardan santai.
Lelaki itu kembali mendekat, mencium bibir mungil itu sekilas.
"Tapi itu dulu, sebelum satu wanita membawa dunia baru yang tak pernah kumasuki sebelumnya."
Hazel memalingkan wajahnya, membuang pandangan ke sisi kosong.
"Dunia yang sangat indah. Menakjubkan dengan sejuta kejutan. Entah itu tentang wanitanya, atau pun ketangguhannya. Semula duniaku penuh dengan sejuta wanita. Saat ini, duniaku hanya dipenuhi dengan satu wanita. Tetapi, sejuta cintanya mampu membuat aku sangat bahagia."
Bibir mungil itu ingin tersenyum, tapi mati-matian ia tahan agar tak melengkungkan sebuah senyuman.
"Gombal!" jawabnya ketus.
"Memang. Kalau dulu aku punya seribu cara untuk meluluhkan. Saat ini aku hanya punya satu cara untuk menunjukkan."
Gadis itu memalingkan wajah, menatap Ardan yang sedang membungkukkan badan menyamai wajahnya.
Lelaki itu tersenyum lebar, menunjukkan pesona yang ada di dalam dirinya.
"Kenapa hanya punya satu cara?" tanyanya penasaran.
"Karena ... saat ini apa pun yang aku lakukan, semua hanya berlandaskan sebuah kata saja."
"Apa?"
"Cinta," jawabnya seraya memainkan alis matanya.
"Hem." Hazel kembali memalingkan wajahnya.
"Cintaku mempunyai banyak cara, entah itu untuk menggodamu. Atau menjebakmu. Apa pun itu, aku hanya melakukannya untukmu. Hanya kamu, Hazelku."
Semburat kemerahan tak mampu lagi ia sembunyikan. Bibir tipis itu melebar, tangannya menolak dada Ardan yang masih membungkuk menyamai wajahnya.
"Mas pergi kerja sana, ah! Kenapa suka sekali menggoda pagi-pagi begini?"
Tangan kekar itu mengacak puncak kepala sang istri. Lalu kembali menunduk seraya mengetuk jari di depan bibir.
Tangan lentik Hazel menyetuh bibir Ardan. "Kenapa bibir kamu, Mas?" tanyanya pura-pura tak tahu.
Ardan mencebik kesal, ia menegakkan berdirinya dan berjalan ke arah pintu. Di belakangnya gadis itu terkekeh. Mengikuti dengan tangan yang ia letakan di pinggang Ardan.
Tiba-tiba lelaki itu berbalik, memeluk erat badan sang istri. Lalu tangan terulur, takzim bibir itu mengecup punggung tangan sang suami.
"Hati-hati di rumah, ya, jangan terlalu dekat dengan Arfi. Atau nanti ...." Ardan mengetuk kepala gadis itu pelan. "Otakmu akan terkontaminasi oleh bualannya," sambung Ardan ketus.
"Hem, kamu takut aku termakan bualannya atau takut dia membuka semua keburukanmu?" tanya Hazel ketus.
"Dua-dua. Hahahahaha."
"Cih ... dasar!"
Tangan kekar itu kembali mengacak puncak kepala gadis itu. Gemas, melihat ulah sang istri. Sederhana memang, tapi ada mata yang memandang panas dari ujung pagar rumah itu.
Tangan terkepal dengan kuat. Mengapa? Pernikahan yang Ardan jalani begitu bahagia?
"Em, Mas. Aku ikut ke depan, ya. Sekalian mau beli pampers Surya."
"Minta Mbok Darmi atau Arfi saja. Kamu baru keluar dari rumah sakit, Hazel."
"Gak apa, Mas. Aku baik-baik saja. Lagian, Mbok Darmi juga repot, apalagi adikmu itu. Ngurusi ponsel saja gak selesai-selesai."
Ardan terkekeh, lalu langkahnya bersisian menuju garasi rumah. Sesekali gelak tawa terdengar keluar dari bibir wanita itu.
Semakin menambah kepanasan di hati mata elang yang sedang menatapi dari kejauhan.
Sampai mobil Fortuner hitam itu keluar dari pagar rumah. Diikuti oleh Mercy biru tunggangan kembarannya itu.
Entah terlalu asyik atau memang Ardan terlalu lengah. Sampai matanya tak menyadari ada orang yang mengikuti.
Biasa, lelaki berkulit sawo matang itu selalu tanda oleh mobil anggota keluarganya.
Entahlah, saat duniamu penuh dengan wajah orang yang dicintai. Perlahan logika tentang dunia akan memudar. Entah itu rasa protektif, pun perlindungannya.
.
Tangan lentik itu membelai perut buncitnya pelan. Mata menelisik setiap rak yang ada di hadapan. Walau Ardan sering pulang dengan camilan kemasan, tetap saja matanya masih tergiur oleh snack yang terpampang.
Sering kali lelaki itu menceramahi atas apa yang ia makan. Namun, tetap saja dia masih pulang dengan banyak camilan. Hanya mampu melarang, tapi tidak untuk menahan.
Tangannya terhenti, ketika kemasan yang ia ambil bersamaan dengan tangan seseorang.
Hazel memalingkan wajahnya, sedikit mundur. Kaget saat melihat lelaki yang mirip dengan suaminya ada di sebelah.
"Morning, Hazel Nazha," sapanya ramah.
"Pagi-pagi sudah beli banyak camilan. Sepertinya kamu tak menyia-nyiakan uang suamimu, ya," ejeknya dengan senyum miring yang tersungging.
Tak ingin berdebat, wanita itu membalikkan badan. Memilih pergi, cepat tangan itu mencekal lengan Hazel.
Wanita itu meringis, menahan sakit akibat cekalan yang sangat kuat.
"Jangan buru-buru, Ipar. Ayo kita duduk dan bicara sebentar."
"Maaf, saya harus segera pulang."
"Hahahaha." Arfan semakin menguatkan cekalannya. Kini mata indah itu menyipit, menahan sakit yang lebih parah.
"Ini sakit!" rintih Hazel.
Arfan menaikan sebelah alis matanya, lalu tangannya terlepas.
"Oh, ya, mana lebih sakit dari pada mengetahui suamimu bermain-main dengan wanita lain di belakangmu?" tanya Arfan sinis.
"Maksudnya?" tanya Hazel tak paham.
"Kau tahu Nana? Gadis cantik itu telah menggoda perhatian suamimu," bisik Arfan lembut di telinga Hazel.
Ada sesuatu yang teremas di dalam diri. Entah kenapa? Mendengar ucapan itu mampu menusuk gumpalan darah tersebut.
"Jangan membual! Nana itu pacar Anda."
Arfan tersenyum sinis, ia berjalan semakin mendekat ke arah Hazel. Gadis itu segera memundurkan langkah, sampai punggung menempel pada rak.
"Benarkah? Mungkin." Arfan mengelus perut buncit Hazel. Kasar, tangan putih itu menepisnya.
"Kami ini kembar, Hazel. Bukan hanya selera, kadang mainannya juga sama. Kamu tau? Apa yang aku suka, Ardan juga menyukainya. Termasuk ... wanita." Kembali sebuah senyum sinis tersungging di bibir lelaki itu.
Cepat, dada Hazel mulai naik-turun dengan tidak teratur. Mencoba meredam emosi yang semakin membakar.
"Omong kosong!" Hazel memilih pergi.
Langkahnya terhenti, saat sebuah layar gawai ditunjukkan tepat di depan matanya.
Ada yang teriris ketika netra menatap adegan yang terputar di benda pipih itu.
Tanpa sadar, embunan dari iris berwarna madu itu luruh. Tak bisa dihentikan, terlebih saat melihat adegan yang begitu intens.
Hazel memejamkan matanya, menahan sengalan napas. Perlahan ia menelan salivanya dengan berat. Menghirup udara yang begitu sesak memenuhi rongga dada.
Melihat sang suami menggoda dengan begitu mesra. Memainkan mata, seraya mengembus telinga Nana di dalam gawai Arfan.
"Bagaimana rasanya?" bisik Arfan di telinga Hazel.
"Sakit, bukan?" tanyanya lagi. Sementara iris itu tak bisa berhenti menatap, tetesan demi tetesan lolos begitu saja. Membasahi bulu mata lentik itu.
"Perih, atau sangat pedih? Bagaimana rasanya saat mengetahui sang suami yang kau junjung dan banggakan itu adalah tak lebih dari seorang ... bajing*n."
Sinis lirikan mata itu menatap Arfan di sebelahnya. Sedang, tangannya sudah meremat perut yang terasa kian sakit.
"Ck, ck." Arfan menggeleng pelan. "Aku harus bagaimana? Sedih atau bagaimana? Sudah kukatakan sebelumnya, Ardan itu hanya memainkanmu saja. Salah sendiri, kenapa mau jatuh begitu dalam?"
"Suamiku tak mungkin sebajing*n itu!" teriak Hazel ketus.
"Lalu ini apa? Ha? Apa kau buta? Lihat ini!"
Hazel menghempaskan ponsel Arfan yang ada di hadapannya. Matanya memandang penuh kebencian. Perlahan kakinya melemas dengan cekalan kuat di perut bawahnya.
"Ahh," rintih Hazel terduduk di bawah rak. Pelan, aliran darah melintasi betis putih itu.
Kini, cairan putih ikut membasahi dress yang digunakan wanita tersebut. Kuat ia menggigit bibir bawahnya, menahan sakit yang luar biasa.
"Hazel," ucap Arfan berjongkok di sebelahanya.
Lelaki itu menyentuh lengan Hazel. Pukulan dan hempasan wanita itu membuat ia terduduk.
"Jangan sentuh aku!" teriaknya sinis.
Jarinya merogo setiap saku, sayangnya apa yang ia cari tak ada. Tangannya meraba rak-rak di sebelahnya, mencoba bangkit dengan air mata yang terus menyapa wajah.
"Biar aku bantu," ucap Arfan lembut. Lagi, perlakuan kasar yang didapatkan lelaki berkulit putih itu.
"Kubilang, jangan sentuh aku!" Terisak, gadis itu mulai menangis dengan kencang, tangannya meremat sisi rak dengan kuat. Sakit dan juga khawatir, entah apa namanya.
Bagaimana rasanya, saat kram yang dirasakan bersamaan dengan pecahnya sebuah cinta yang sangat dipercayai selama ini?
Sakit?