For My Family

For My Family
59



Wanita itu menarik tangan Hazel memasuki sebuah kamar yang cukup luas. Dengan cat berwarna ungu muda, beberapa dekorasi dinding yang menempel pada tembok itu.


Wanita tua itu tersenyum, membuka kain gorden kamar, terlihat beberapa pot kecil berisi kaktus-kaktus yang sudah tidak terawat.


Dari balkon kamar, pemandangan pohon-pohon dari negara asing itu terlihat sangat jelas. Bersih dan sangat nyaman dengan rumput hijau yang menutupi seluruh tanahnya, beberapa kuntum bunga yang gugur menjadi keindahan sendiri saat bunga layu itu berserakan di atas rumput.


Sebuah kolam besar dengan hiasan patung angsa dan jembatan kecil, menambah pesona keindahan yang semakin terasa.


Hazel memalingkan wajahnya, melihat Ardan yang berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan di depan dada.


Mata wanita muda itu kembali memperhatikan sekeliling, banyak sekali hiasan tertempel di tembok tersebut, dan poster-poster besar yang tertempel di atas ranjang.


"Arsy, kamu pasti lapar, kan?" tanya wanita itu, yang hampir membuat jantung Hazel terlompat keluar.


Hazel tersenyum kaku, jarinya menggaruk kulit kepala yang tak gatal sama sekali.


Wanita tua bernama Aulia itu berjalan mendekati Hazel, menangkupkan kedua tangan di pipi putih wanita itu.


"Sudah sering Mama katakan padamu, jangan suka menggaruk kepala saat kamu bingung."


"Hah?" Hazel terkejut dan melihat ke arah Ardan.


Lelaki itu hanya tersenyum dengan salah satu ujung bahu tertumpuh pada daun pintu.


"Em, itu, aku, aku."


Aulia mengernyitkan dahinya.


"Kamu kenapa? Bicara sama Mama juga masih suka gagu begitu?"


Aulia menarik bahu wanita itu dan mendekapnya erat. Menghela napas yang terdengar begitu lega.


"Tenanglah, Sayang. Mama janji, Mama tidak akan pernah memaksamu lagi. Mama akan membelamu, apapun yang kamu mau, ya." Aulia melepaskan dekapannya dan meraih pipi Hazel. Mengelusnya lembut menggunakan ibu jari.


Hazel hanya bisa tersenyum, walau sebenarnya dia bingung dengan apa yang terjadi.


Aulia menarik kepala wanita muda itu, mengecup lembut dahi Hazel.


"Kamu istirahatlah dulu, Mama akan memasakan makanan kesukaanmu, ya."


Hazel kembali tersenyum dan mengangukan kepala. Detik kemudian Aulia berjalan keluar, menatap Ardan dengan sedikit sinis.


"Ardan, jangan usili adikmu. Biarkan dia istirahat dengan tenang. Dia pasti lelah karena sudah lama tidak kembali."


"As you wish, mommy." Ardan mengedipkan salah satu matanya, hal yang sering dia lakukan saat hubunganya dengan sang ibu masih baik-baik saja.


Aulia menarik daun telinga Ardan, menjewernya sedikit keras.


"Dasar anak, nakal. Tutup pintunya saat kamu keluar dari kamar Arsy."


"Hem."


Setelah badan wanita itu pergi, Ardan menutup pintu kamar Arsy, menguncinya dari dalam.


Sementara, Hazel masih sibuk memperhatikan barang-barang di sana. Tangannya menyentuh tempelen dinding yang sangat menarik perhatiannya.


Pandangannya terhenti saat ia menatap sebuah pigura foto yang terpajang di dinding kamar.


Seorang gadis belia, dengan topi bundar di atas kepala, menggerai rambut berwarna blonde miliknya, duduk menyilangkan kaki dengan dagu tertumpuh di atas tangan.


Memperhatikan setiap detail paras di pigura berukuran 35inci tersebut.


"Mas ini--"


"Arsy."


Hazel kembali memandangi wajah gadis belia itu, senyumnya, tatapan matanya, hidung dan juga bibirnya, mirip sekali dengan Ardan.


Wanita itu kembali berjalan, melihat beberapa foto yang terpajang di sana. Termasuk salah satu foto gadis belia itu dengan suaminya.


Tampak sangat dekat, dengan posisi Ardan yang duduk di sebuah kursi, gadis belia itu berdiri di belakangnya dengan menumpuhkan siku di atas bahu Ardan.


Foto selanjutnya, gadis belia itu menjulurkan lidah dengan dua tangan yang menarik telinga kakaknya, dan Ardan yang hanya memasang wajah sebal dengan lirikan mata ke atas.


Dan banyak foto-foto terpajang dengan anak lelaki keluarga Erlangga yang lainnya. Hazel memiringkan kepalanya saat melihat foto lelaki muda yang sangat tidak asing di matanya.


Ia menunjuk ke arah lelaki itu dan melihat ke arah Ardan.


"Iya, itu Ferdi."


"Arsy, pacaran sama Ferdi?"


Ardan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia menepuk space kosong di sampingnya.


Perlahan Hazel berjalan mendekati Ardan yang duduk di bibir ranjang. Mata lelaki itu menatap kosong ke arah balkon, pemandangan indah dengan pohon bunga persik dan sakura yang menghiasinya.


Ardan menghela napas berat, sesaat ia mencoba untuk membuka kenangan lama. Lembaran hitam masa itu.


"Pohon-pohon itu ditanam saat Arsy berumur tujuh tahun. Dari kecil dia selalu tertarik dengan cerita fantasi legenda China. Dia merengek, menangis siang, dan malam agar papa membuatkannya taman bunga sakura dan bunga persik di halaman rumah."


Ardan mengedarkan pandangan, melihat beberapa poster pendekar wanita yang terpajang di atas ranjang.


"Lukisan-lukisan yang ada di sana, semua adalah hasil karya tangan Arsy. Cita-citanya adalah penjadi pelukis manga. Tetapi--" Ardan menghela napas sedikit berat.


"Sudah pasti mama dan papa tidak menyetujuinya."


Ardan menjatuhkan badannya di atas ranjang, melihat langit-langit kamar adiknya itu. Perlahan ia memejamkan matanya, mencoba mencium aroma Arsy yang sudah lama memudar.


***


7 tahun lalu.


"Kak Ardan!" Suara melengking gadis belia itu menggema ke seluruh ruangan.


Ardan menggosok telinganya dan kembali pada kegiatan, memainkan senar gitar yang ada di dalam pelukan.


"Kak Ardan!" Suara itu kembali memekik, lantang menggema di rumah besar Erlangga.


Ardan melihat ke arah lelaki yang ada di depannya itu, hanya senyum-senyum sendiri sembari menggelengkan kepala.


"Kalau Arsy tahu kamu di sini, dia pasti akan menutup mulut lebarnya itu," ucap Ardan malas.


Ferdi hanya tertawa, menggelengkan kepala sembari membuka lembaran kertas yang berisikan kunci gitar.


Braaak


Suara daun pintu terbuka dengan keras di sebelah kamar Ardan.


"Mana aku tahu, tanya sama kakakmu sana."


Gadis itu berpindah, membuka pintu kamar lelaki yang lainnya.


"Kak Arfi, di mana--"


"Gak tahu, tanya sama kakakmu sana." Arfi langsung memutuskan kalimat adik bungsunya itu, sudah hafal sekali, saat gadis kecil itu berteriak ke sana-sini, pasti salah satu barang kesayangannya ada yang terselip.


"Kak Ardan--"


Ardan dan Ferdi memalingkan pandangan saat daun pintu terbuka dengan lebar.


Gadis itu menggigit bibir bawahnya, jari kecilnya menggaruk kulit kepala yang tidak gatal saat mendapati pria pujaannya ada di kamar kakaknya itu.


"Ada apa? Jepit rambutmu hilang?" tanya Ferdi lembut.


Bibir gadis itu tersenyum lebar, memperlihatkan dua lesung dalam di pipi chubbynya. Perlahan ia menganggukan kepala. Tersipu malu, terlebih saat lelaki berwajah teduh itu perhatian terhadap kesulitannya.


Ferdi mengeluarkan sebuah ikat rambut berwarna ungu muda dengan kepala bunny yang menempel di sana.


"Biarkan saja yang hilang, simpan ini sebagai gantinya." Tangan lelaki itu mengulur panjang, memberikan ikat rambut murahan itu.


Jari gadis itu saling meremat satu sama lain, sedikit demi sedikit, ia berjalan mendekati dua lelaki dewasa yang terduduk di ujung kamar.


Menyambar ikat rambut itu dan berlari gesit meninggalkan kamar Ardan.


Ardan terbahak, tertawa sembari memukuli dengkulnya. Tidak tahan melihat tingkah polos adik bungsunya itu.


"Astaga! Gadis kecil itu, kenapa bisa sangat manis di depanmu?" tanya Ardan terkekeh sampai mengeluarkan air di sudut matanya.


"Astaga, aku benar-benar tidak tahan melihat wajah malunya itu. Berlagak imut dan lembut di depanmu." Ardan terkekeh, membuat badan kekarnya bergetar.


"Tetapi adikmu memang benar-benar imut, Ardan."


"Hei ... dia masih sangat kecil, Ferdi. Jangan jadi pedofil, dia bahkan belum berumur 17 tahun."


Ferdi hanya tersenyum, ia kembali membalik lembaran majalah gitar yang ada di tangannya.


Bibirnya terus memgembang lebar saat ia mengingat ulah polos adik sahabatnya itu.


***


Arsy terlungkup di atas kasur kakaknya, dengan kedua siku yang tertumpuh di atas kasur, memangku dagunya di atas telapak tangan dan kedua kaki yang ia lipat ke atas.


Menggoyangkan kepala sambil tersenyum lebar mendengarkan alunan musik yang dimainkan oleh kakak tertuanya itu.


"Hei Arsy, kenapa di sini?" tanya Arfan yang baru datang dan menepuk bokong adiknya itu sedikit keras.


Arsy menajamkan matanya, membalikan badan sembari menendang tubuh Arfan yang duduk di bibir ranjang.


"Pergi dari sini!" usirnya ketus.


"Tidak mau!" balas Arfan judes.


Arsy menyunggingkan sebelah bibirnya, melihat tubuh jangkung kakanya itu.


"Dan, keluar yuk. Aku ada party di--" Arfan menggantungkan kalimatnya dan melirik ke arah adik bungsunya itu.


"I know, i know." Ardan mengambil ponselnya dan mengetik layarnya dengan cepat.


"Fer, di mama? Aku jemput, Arfan ngajakin keluar. Ada party--"


Secepat kilat tangan Arsy menyambar ponsel kakaknya itu. Ia melihat layar ponsel Ardan. Seketika raut wajahnya memadam.


"Kakak!" teriaknya lantang.


"Aku melarangmu membawa kak Ferdi bergaul sama perempuan di luar sana!" lantangnya.


Ardan menyilangkan kedua tangan di dada, memindahkan gitarnya ke samping ranjang.


"Apa urusannya denganmu? Ini urusan lelaki dewasa," ucap Ardan tidak mau kalah.


"Oh ... lelaki dewasa?" Arsy berdiri di atas kasur dengan berkacak tangan di pinggang.


Perlahan badannya membungkuk, menatapi satu persatu wajah dua saudara kembar yang duduk di bibir ranjang tersebut.


"Aku akan bilang sama Ayah, kalau anak lajangnya sudah dewasa dan siap untuk menikah."


Ardan dan Arfan saling bertukar pandang, perlahan bibir mereka mengembang.


Ardan mengerakan kepalanya, mengkode kembarannya itu untuk melancarkan rencana.


Melihat reaksi kedua kakaknya itu, Arsy melompat dari atas ranjang dengan cepat.


Gesit, langkah Arfan mengunci pintu kamar. Sementara Ardan menangkap badan gadis kecil itu dan menjatuhkannya di atas ranjang.


Teriakan gadis kecil itu menggema ke seluruh ruangan. Meminta bantuan dengan sesekali terkekeh saat kedua kakaknya itu melilit badannya ke dalam selimut tebal milik Ardan.


Gedoran daun pintu memaksa Arfan membuka kunci. Lelaki yang lebih muda darinya masuk ke dalam kamar.


"Ada apa ini?" tanya Arfi saat melihat kepala Arsy menyembul dari balik lilitan selimut.


"Kak Arfi kusayang, bantulah Dewi Arsy ini keluar dari neraka jahanam," pinta Arsy melas.


"Wah ... bagaimana kalian bisa melewatkan pesta tanpa aku?" ucap Arfi sembari menggulung lengan kemeja panjanganya.


Arsy menggeliat, bangkit dari kasur dengan badan yang masih terbungkus selimut tebal. Melompati lantai marmer kamar Ardan.


"Gadis ini yang sudah membuat aku dihukum papa kemarin malam. Aku tidak akan mengampuni mulut besarnya itu." Arfi berlari ke arah Arsy.


Kaki kecil gadis belia itu melompat dengan cepat, berusaha keluar dari kamar kakaknya itu.


"Wuaaaaahhh!" jeritan Arsy menggema ke seluruh ruangan, saat Arfi mengejarnya.


Arfi menangkap gadis berbalut selimut yang ingin kabur itu, kembali menjatuhkan badan gadis itu di atas kasur.


Pekikan dan jeritan menggema ke mana-mana. Suara kekehan dari tiga pria itu tak bisa berhenti saat mereka menyiksa adik perempuan satu-satunya tersebut.


Hangat dan juga sangat bahagia, mereka sangat akrab saat Arsy masih baik-baik saja.


Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan?


Kebahagiaan yang mereka rasakan saat itu, malah menjadi bekas luka yang amat dalam saat ini.


Kekompakam dan juga kebersamaan, saat ini menjadi perpecahan dan perselisisihan yang tidak pernah terselesaikan.