
Bibir mungil itu mengembang lebar, mengenggam jemari Yena seraya menyusui gadis kecil tersebut, sesekali mulutnya menguap dengan sangat lebar. Hazel menyandarkan kepala di tiang kasur, lelah. Semenjak datang, Yena tidak tertidur lagi, malah terus bermain dan mengoceh rewel. Tidak menangis, malah asyik bermainĀ sendiri.
Sesekali gadis itu mengusap wajah, berusaha untuk tetap sadar. Detik selanjutnya ia menyudahi memberikan asi saat bayi itu sudah tidak lagi mengisapnya.
Telaten ibu dua anak itu membersihkan sisa asi di wajah Yena. Lalu, meletakan gadis mungil itu dengan batas guling di tepi ranjang.
"Yena, bobok kenapa, Nak? Bunda ngantuk," katanya seraya mengusap pipi gembil sang bayi.
Bayi mungil itu malah mengoceh, menarik kaki-kakinya sampai bisa menyentuh wajahnya.
Hazel terkekeh, melihat wajah sang putri yang sangat menggemaskan, terlebih saat bayi itu mengajaknya mengoceh.
"Yena mau main, ya? Mau ngobrol? Ngobrol apa? Mau ngobrol sama Bunda?" tanya Hazel dan suara ocehan itu membesar, kembali menggema.
Membuat langkah Gerald yang tengah berjalan terhenti, lelaki itu menoleh ke arah kamar Ardan. Pintu yang terbuka lebar membuat ia bebas memandang ke dalam.
Hanya ada Hazel dan Yena di sana, beberapa kali ocehan sang bayi menggema. Membuat Gerald penasaran dan semakin mendekat. Saat langkah itu berdiri di ambang pintu.
Hazel bangkit, berjalan ke arah kamar mandi dan meninggalkan sang bayi di sana.
Mata tua itu hanya memerhatikan dari jarak jauh, gadis kecil berbaju putih itu bermain sendiri. Menarik kaki-kakinya sampai kaus kaki terlepas. Kaki mungilnya menendang-nendang dengan ocehan yang semakin nyaring terdengar.
Satu guling yang Hazel letakan di tepi ranjang terjatuh. Sedikit ragu, Gerald mendekati ranjang itu, mengambil gulingnya dan meletakan kembali.
Lagi-lagi dia terpaku, melihat wajah Yena yang sangat polos. Jernih mata itu menatap ke arahnya, bibir mungilnya tertawa sangat lebar, memperlihatkan gusi merah tanpa ada jajaran gigi. Mengoceh dengan kaki yang dia hentak-hentakkan.
Seakan ingin mengajak sang kakek untuk berbicara. Jemari itu diemut, mencetak lesung di pipi gembilnya dan angan tentang putrinya yang sempat hilang, kembali datang.
Gerald terdiam, terus memerhatikan Yena yang sangat aktif mengoceh padanya. Kini, bayi itu mulai memainkan liurnya sendiri, menyembur-nyembur dengan kaki yang menghentak-hentak.
Seulas senyum terbit di wajah tua itu. Entah kapan terakhir kali ia peduli pada bayi. Bahkan tiga cucu dari Arfan hanya sekadar disapa atau memberikan uang saku saat mereka mulai mendekati dia.
Jarang bercengkerama, karena waktunya memang tak cukup sengang untuk melakukan itu semua.
Jeritan suara Yena kembali menyadarkan lamunan Gerald, melihat liur-liur itu semakin banyak berhamburan. Gerald tertawa, baru ingin menghapus liur di wajah cantik itu. Lalu, suara daun pintu terbuka menghalangi niatnya.
"Maaf, Pak. Anda di sini?" tanya Hazel dan seketika wajah tua itu kembali mendingin.
"Aku hanya tak sengaja lewat. Lalu, gulingnya jatuh." Kedua tangan ia benamkan di saku celana. Membuang wajah seakan ia tidak peduli sama sekali.
"Em, terima kasih, Pak."
Gerald hanya mengangguk, badannya mulai berbalik, tetapi tatapan itu tak bisa lepas dari wajah sang bayi. Masih terus mengoceh dan imut tingkahnya kembali membuat bibir tua itu mengembang.
Menyadari tatapan Gerald, Hazel berusaha memberanikan diri.
"Apa Anda ingin menggendongnya? Sebentar, saya pakaikan dia pampers dulu." Gadis itu berjalan ke arah lemari, Gerald masih terdiam menatapi wajah sang bayi. Sangat cantik dengan mata bundar dan iris yang hitam pekat.
"Apa dia anak Ardan?"
"Tentu saja. Dia putri Mas Ardan. Namanya Yena. Yena Mihrimah."
Secepatnya gadis itu memakaikan pampers ke sang anak. Bibir bayi itu terus mengoceh, mata bundarnya terus menatapi Gerald. Tertawa dan sesekali ocehannya menggema.
Menghidupkan rumah mewah yang biasa hampa. Kini mulai bersuara dan itu membuat dada Gerald menghangat tiba-tiba.
"Kenapa tidak memakai nama Erlangga?" tanya Gerald.
Seketika gerakan tangan Hazel terhenti. "Oh, itu karena---"
"Anak itu bahkan tidak mau mengakui identitasnya lagi." Gerald berjalan keluar dengan sedikit tergesa.
Bukan tidak ingin menggendong bayi itu. Namun, dia masih sangat gengsi jika harus luluh secepat ini.
Hazel menghela napas berat, memandangi wajah Yena lekat. Lalu, bibir mungil itu terkembang manis.
"Dasar penyihir kecil. Kamu nakal." Colek Hazel di ujung hidung Yena.
"Bagaimana bisa kamu menarik perhatian Tuan Gerald tanpa melakukan apa-apa?"
"Pantas kamu gak mau tidur. Ternyata kamu mau godain Kakek, ya?" tanya Hazel seraya merapikan rambut hitam lebat milik sang putri.
"Baiklah. Kalo begitu ayo kita berdandan, biar kakek semakin jatuh cinta padamu."
...***...
Gerald terus memandangi wajah Yena yang berada di pangkuan Hazel. Sejak pertama kali menatap mata bundar itu, ia langsung terpesona. Seperti tersihir dan ingin terus memandangi wajahnya.
Tawanya, ocehannya, hitam iris matanya, hidung dan juga raut wajahnya mirip sekali dengan sang putra dulu. Bibir tua itu lagi-lagi tersenyum tipis, ia benar-benar terpesona oleh kegemasan yang dimiliki putri Ardan.
Sementara dua putranya sama sekali tidak sadar. Masih sibuk oleh makanan masing-masing dan sesekali menatap istri-istri mereka. Berbeda dengan Hazel, Nigar terlihat lebih takut. Beberapa kali tangannya bergetar, sampai peraduan sendok itu nyaring terdengar.
Lelaki berparas garang itu masih sibuk dengan Surya yang ada di dalam dekapan.
Sibuk oleh keluarga masing-masing, sampai melupakan bahwa Gerald ada di antara mereka.
Suara bantingan sendok mengalihkan perhatian mereka. Gerald bangkit, tak tahan jika terlalu lama memandangi putri Ardan. Semakin lama, ia semakin ingin menggapainya.
Sayang ego masih menguasi inginnya. Terlalu angkuh untuk mengaku, bahwa ia ingin sekali mendekap bayi itu.
"Apa kalian ini masih tidak sadar juga?" tanya Gerlad, Arfi dan Ardan hanya saling memandang.
"Sibuk pada urusan masing-masing. Kalau begitu kenapa pulang!" bentak Gerlad seraya berjalan menjauh.
Ardan dan Arfi terbodoh, saling memandang, lalu menaikan bahu masing-masing. Tanda tak mengerti. Bukannya Gerald yang meminta mereka untuk pulang? Bukannya marah dan segera memutuskan hubungan malah lelaki itu terhipnotis oleh bayi perempuan Ardan.
Hazel hanya tersenyum, lalu dia mengecup pipi gembil itu berulang kali. Sengaja ia mendandani Yena agar terlihat semakin menggemaskan. Perlahan, kukuhnya keangkuhan akan runtuh dengan kehadiran sebuah kasih sayang.
Sampai di teras lelaki itu mengeluarkan ponselnya. Menelpon sang putra, tanpa basi-basi dia berkata.
"Bawa Percy dan Pelin ke sini!"
Arfan terdiam, dari seberang sini dia memandangi dua putrinya yang baru saja selesai sarapan dan akan jalan-jalan pagi bersama ibunya.
"Ada apa, Pa? Apa Pelin dan Percy buat masalah?" tanya Arfan bingung.
"Bawa saja! Papa ingin bermain bersama mereka!"
Tanpa menunggu jawaban lelaki berambut putih itu menutup panggilannya. Menoleh ke arah dalam, memandangi Yena sekali lagi.
Beberapa detik ia tersadar, mengusap raut keriput itu kasar.
"Sadarlah, Gerald. Bermain saja dengan dua cucu perempuan yang lainnya. Jangan pedulikan lagi bayi Ardan!" rutuknya berjalan memasuki taman depan.
Nyatanya, setelah dua cucunya diantar ke rumah besar Erlangga demi memenuhi keinginan sang Opa. Pandangan tua itu masih terus tertuju pada Yena yang digendong oleh Nigar.
Bermain-main di halaman depan dengan bunga-bunga di sana. Tawanya, ocehannya terus membuat Gerald terpatri. Anehnya, bayi itu malah terlihat senang dan tidak sedikit pun menangis. Atau kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang.
Sampai tarikan tangan Pelin membuat pandangan tua itu teralih.
"Opa lihat apa?" tanya gadis kecil berumur empat tahun itu.
Gerald hanya tersenyum, memandangi wajah Pelin yang sangat jauh berbeda dari bayi milik Ardan.
Bayi itu sangat menggemaskan. Raut wajahnya yang bercampur timur tengah bagaikan boneka yang diberi nyawa.
Bundar binarnya sangat mengagumkan, terlebih tawanya yang selalu terbayang di dalam pikiran.
"Opa ... Opa!" panggil gadis itu lagi dan Gerald malah bangkit.
"Ayo kita jalan-jalan. Opa gerah di sini."
Meninggalkan Pelin dan Percy di belakangnya, Gerald berjalan tergesa seraya mengendurkan kancing kemeja.
"Belum sehari Ardan di sini. Dan aku mulai gila ingin meraih bayinya. Dasar anak itu, kenapa selalu saja memiliki senjata untuk meluluhkan segalanya?"