For My Family

For My Family
91



Nara mendekap kedua jemari tangannya, bibirnya bergetar, menggigil karena kedinginan setelah hujan-hujanan.


Lelaki dengan postur tegap itu kembali setelah mengganti bajunya. Ia memberikan handuk ke hadapan Nara.


"Mandilah, aku sudah hangatkan air untukmu."


Diam, wanita itu hanya memandangi Pedro. Takut dan juga cemas, lalu kepala itu menggeleng.


Lelaki tersebut menghela napas, ia duduk di sebelah Nara. Meletakan handuk itu ke atas kepala gadis berambut hitam yang kini sedang kedinginan.


"Aku bukan ingin menyakitimu, takut kalau kamu akan jatuh sakit jika terus menahan dingin. Pakailah kemejaku, sudah kusiapkan di atas buffet sebelah kamar mandi."


Nara terdiam, wajahnya tak terlihat karena tertutup handuk seluruhnya.


"Aku akan menunggu di ruang tamu. Tak akan ke mana pun. Terlebih ke kamar itu."


Gadis itu mulai bergerak, ia berjalan mendekati kamar yang dimaksud oleh Pedro. Matanya menelisik, memperhatian setiap sudut kamar. Tak ada cctv ataupun kamera bukan?


Aman, dia berjalan ke arah kamar mandi. Membasuh badannya yang terlanjur membeku. Namun, tidak dengan luka di hatinya.


Bergeming, dengan busa-busa harum yang menutupi seluruh permukaan air di dalam bath-up. Lama, gadis itu hanya terdiam. Menyesap segala sakitnya. Memejamkan kedua matanya, ada yang terasa sangat perih di dalam diri. Namun, apa yang bisa dia lakukan?


Selain menikmati dan merasakan setiap sayatan itu. Menahan apa yang seharusnya ia ungkapkan.


Sakit bukan, jika kamu mengangumi diam-diam, mencintai diam-diam. Memperhatikan, menaruh harapan, berdoa dan memandangi secara diam-diam. Bahkan terluka juga tetap berdiam, sendirian, adil? Tidak, tetapi itulah risikonya jika kamu hanya dapat memendam. Segala yang kamu rasakan, berjalan atas apa yang berdiri sendirian saja. Tak ada balasan dan juga penolakan.


Berdiri sendiri, lebih tepatnya tanpa Tuan.


Perlahan, air dari mata indah itu kembali luruh. Ada luka yang baru saja tercipta, dan matanya, tak sanggup membendung segala rasa.


Sesak, gadis itu kembali menangis dengan tergugu, rasanya pilu sekali. Perlahan isakan menjadi dalam. Bahkan suaranya pecah sampai keluar ruangan.


Pedro yang datang ingin memberikan sebuah teh panas mengurungkan niatnya. Kembali berjalan ke arah ruang tengah. Tangannya menyibak kain gorden, melihat langit yang masih senantiasa memberikan rahmat-Nya untuk bumi.


Lelaki itu mendesah panjang, bibirnya menyesap pelan teh yang seharusnya ia berikan pada Nara.


"Tuhan, kenapa Kau tega mematahkan hati seorang wanita?" tanyanya seraya memandangi langit kelam.


.


.


Nara keluar dari kamar Pedro dengan menggunakan kemeja dan celana pendek saja. Mencari secangkir air dari dapur bernuansa putih milik lelaki itu.


Ia menangis selama tiga jam, dan itu cukup membuat kerongkongannya mengering. Pahit, walau tak sepahit luka di dalam hatinya.


Mendengar suara peraduan benda dari dapur, Pedro yang sudah terlelap di atas sofa terbangun, melihat Nara yang membuka-tutup almari dapurnya.


"Apa yang kamu butuhkan, Nara?"


Seketika gadis itu beringsut, kaget melihat Pedro ada di belakangnya. Kaki ia rapatkan, tangannya saling menggenggam kuat. Pandangannya tertunduk ke bawah. Melihat paha putihnya yang hanya tertutup sejengkal saja.


Pedro mengalihkan pandangannya, kembali ke kamar dan mengambil sebuah handuk. Ia memberikan ke Nara, tanpa melirik lagi, tangannya mulai mengeluarkan gelas.


Menyeduh teh dengan tambahan lemon. Saat berbalik, gadis itu sudah tidak ada. Langkahnya pelan menuju kamar, ia mengetuk sebelum masuk ke dalam.


Gadis itu hanya memalingkan wajah, melihat Pedro yang berdiri di ambang pintu. Lelaki itu hanya tersenyum, menyerahkan segelas teh pada Nara.


Tak mengatakan apa pun, tangannya terus mengenggam gelas teh itu erat.


"Kamu mau aku antar pulang?" tanyanya lembut.


Gadis itu hanya menganggukkan kepala pelan.


"Habiskan, aku ganti baju dulu." Pedro berjalan ke depan lemari, mengeluarkan sebuah jaket dari lemari berwarna putih tersebut.


"Anda tinggal sendiri, Dokter?" tanya Nara lirih.


Seketika Dokter itu memalingkan wajah, melihat Nara yang terduduk di tepi ranjang. Bibirnya tersenyum, gigi taringnya sangat memukau, indah karena bentuknya yang menawan.


"Di sini, iya."


"Keluarga anda?"


"Di Spanyol, kebetulan adik perempuanku akan wisuda bulan depan."


"Anda orang Spanyol?" tanya Nara lagi.


"Ayah, ibuku orang sini."


"Hem, pantas wajah anda sedikit berbeda."


Pedro hanya tersenyum, ia berjalan mendekati Nara saat jaket yang ia ambil telah melekat di tubuh.


Gadis itu terus tertunduk, tehnya tidak ia minum. Hanya sebagai penghangat telapak tangan. Lalu, setetes air kembali luruh dari mata gadis itu. Disambut oleh buliran yang lainnya.


Kembali terisak, berusaha menahannya, sayang malah menjadi sengalan yang sangat menyesak di dada.


Tak tahan melihat gadis itu, Pedro duduk di sebelahnya. Mengelus puncak kepala Nara dengan lembut.


"Menangis boleh saja. Tolong ... jangan siksa matamu, Nara. Ini sudah berlebihan, aku tau kamu sakit. Tapi bukannya dia yang kamu tangisi sedang bahagia atas lamarannya?"


Seketika Nara melihat ke arah Pedro, lekat, dengan embunan bening melapisi bola mata.


Pedro tersenyum, perlahan jarinya merapikan helaian rambut Nara yang menempel pada pipi gadis itu.


"Matamu sangat indah, sayang kalau hanya dipakai untuk menangisi dia yang bahkan tidak menyadari adanya dirimu, Nara. Berjuang boleh, bodoh jangan," sambung Pedro lembut.


Perlahan embunan itu luruh, gadis itu bergeming, hanya memandang tanpa berekspresi.


Lembut jari tangan Pedro menghapus lintasan air itu.


"Kamu cantik, Nara. Dia yang tak melihatmu, bisakah kamu tak mempedulikan lagi? Jangan terus bertahan dalam luka, cobalah untuk berjalan meninggalkannya."


Nara menggelengkan kepalanya, kembali terisak, menutupi wajah dengan kedua tangannya.


Perasaan lelaki itu ikut terluka, entah kenapa? Gadis itu terlihat sangat menyedihkan, mungkin karena iba atau memang karena cinta. Entahlah, saat ini ia hanya ingin gadis itu berpindah. Tidak lagi menangis dan tidak lagi menderita.


Pedro menarik kepala Nara, menjatuhkan ke dalam dada bidangnya, perlahan tangannya mulai mendekap bahu Nara, erat. Berusaha menjadi punggung untuk bersandar.


Tak menyadari, saat ini suasana mampu membuat mereka khilaf. Bukan karena keinginan, akan tetapi, karena godaan.


Pelan, tangan wanita itu mulai melingkari pinggang Pedro. Memecahkan tangisannya di sana. Lelaki itu menghela napas, tangannya tak berhenti mengelus pucuk kepala Nara.


Beberapa waktu, gadis itu terus masuk dalam kesedihannya. Sesenggukan, sampai badan kecilnya terus bergetar. Bahkan menghirup oksigen saja ia kesusahan.


"Sssttt ... berhenti menangis, Nara."


Pedro menarik bahu Nara, tangan besarnya menangkup di pipi gadis itu. Bibirnya terus tersenyun dengan sangat lebar.


Gadis itu berusaha menghentikan tangisannya, sesekali badannya tersentak karena sesenggukan yang berusaha ditahan.


Matanya membengkak, hidung putihnya terlihat sangat merah. Mata bening itu terus menatapi Pedro.


Sesekali mata mereka bertemu, bertautan dan saling memandang dalam.


Pedro kembali tersenyum, ibu jarinya mengelus lembut pipi gadis itu. Wajahnya terlihat sangat cantik, walau air mata membuatnya begitu kuyu dan lesu. Namun, malah menambah pesona tersendiri bagi lelaki bermata cokelat itu.


Perlahan wajah Pedro mendekat, menghapus jarak di antara mereka berdua. Merasakan deru hangat napas Nara yang menyapu kulit wajahnya.


Entah karena terbawa suasana atau memang gadis itu salah memandang pria. Entahlah, namun yang pasti. Tak ada niat pun bisa terjadi jika godaan itu terus mendera.


Dua pasang anak manusia yang belum terikat hubungan halal, mampu melepaskan semua batasan. Terjadi tanpa rencana, dan tanpa ungkapan cinta.


Akankah membawa derita?


***


Khadijah menelan salivanya yang terasa kian memahit. Ia bingung harus menjawab apa?


Tak pernah terpikir jika lelaki berkacamata itu akan sangat berterus terang tentang perasaannya.


"Pak, anda yakin?" tanya Khadijah bingung.


"Aku tak pernah seyakin ini sebelumnya, kebetulan kedua orang tuaku ada di ibukota. Bolehkah kita menjalani ta'aruf, Khadijah?" tanya Ferdi lembut.


Khadijah meremas kedua tangannya, ia bingung saat mendapati ungakapn ini. Niat hanya ingin membayar utang, siapa yang sangka jika dia dilamar.


"Khadijah," panggil Ferdi lembut.


Gadis itu mendonggakkan wajah, melihat Ferdi sekilas, lalu membuang pandangannya.


"Anda tidak tahu siapa saya, Pak. Masa lalu saya bagaimana, saya belum bisa menceritakan siapa saya pada anda."


"Maksudnya?" tanya Ferdi bingung.


"Bagaimana masa lalu saya. Siapa saya, anda tidak tahu, bukan? Bagaimana anda bisa melamar saya? Apakah anda tidak takut jika saya ini tidak sesuai keinginan anda?" tanya Khadijah ketus.


Ferdi tersenyum, ia membenarkan letak kacamatanya.


"Aku memilih kamu dengan bismillah, memintamu pada walimu dengan restu Allah. Jika ada yang kurang darimu, berarti kamu memang masih manusia. Karena aku berpikir selama ini kamu bidadari dari surga."


Khadijah tersenyum, lantas ia menggelengkan kepala.


"Saya serius, Pak," jawab Khadijah lembut.


"Aku juga serius. Setelah mengatakan ingin melamarmu, kamu saja masih ragu padaku. Lalu, bagaimana lagi aku harus membuktikan keseriusan ini?"


Khadijah menghela napasnya, ia menatap ke arah Ferdi dengan serius. Saat mata mereka bertemu, ia kembali menundukkannya.


"Anda bener-benar serius?" tanya Khadijah lagi.


Lelaki itu hanya mengangguk, kini ia melipat tangan dan meletakan di atas meja kafe.


"Maaf, saya belum bisa menerima lamaran anda."


Tidak terlalu terkejut, lelaki itu sudah lebih dulu menyiapkan hati. Khadijah, bukan gadis yang mudah didapati, pasti akan banyak cobaan dan juga halangannya, dan dia, sudah siap untuk itu.


"Boleh aku tahu alasannya?" tanya Ferdi berusaha tenang.


"Tentu saja. Itu hak anda, Pak." Khadijah tersenyum, beberapa kali ia menghela napasnya. Ada sesuatu yang ingin ia ungkapkan, dan terus terang itu menyakitkan.


"Anda tahu saya kabur dari rumah, dan alasannya, karena saya sedang mencari seseorang. Saya ingin mencarinya sampai saya menemukannya, sebelum itu terjadi, saya tidak ingin menikahi siapa pun."


Ferdi terdiam, lama. Hanya suara dentingan jam yang terus bergerak. Ada yang patah, namun, bukan ranting. Dia harapan, cinta yang pupus terlebih dahulu. Kembali mengulang luka, walau alasannya berbeda, namun, perihnya terasa sama. Mencintai dia yang tidak bisa termiliki seutuhnya.


Siapa yang wanita itu cari?


Mungkinkah dia adalah cinta gadis itu? Bahkan Khadijah rela meninggalkan rumahnya. Hanya karena untuk menemukannya.


Seribu pertanyaan mulai merasuki pikiran. Pelan, lelaki itu menelan salivanya, lantas dia bertanya.


"Apakah dia cinta dalam hidupmu?"


Bibir ranum itu terkembang lebar, pelan anggukan ia berikan.


Ferdi menghela napasnya, lemas, punggung ia sandaran ke kursi.


Redam. Karam bersama ombak yang tak terlalu besar, namun menghanyutkan.