
Lelaki berkulit sawo matang itu memerhatikan tampilan dirinya dari pantulan kaca toko. Merapikan dua ujung lengan panjang kemeja batik yang dipilihkan sang istri.
"Mas, suka?" tanya Hazel berjalan mendekati Ardan.
Bibir Ardan mengembang, melihat sang istri yang tampak elegan menggunakan gaun brukat dengan paduan batik.
"Suka, suka sekali," kata Ardan mengerlingkan matanya nakal.
Gadis bermata madu itu tersenyum lebar, merapikan kerah dan sisi bahu Ardan yang terlihat sedikit kusut. Mengusap-usap dada lelaki itu dengan lembut.
"Suka apanya?"
"Suka kamu, Sayang." Satu tangan Ardan menarik pinggang Hazel. Merapatkan tubuh mungil itu pada perutnya.
"Mas, ih. Kita ini di mana?"
"Di mana pun, asalkan bersamamu aku tak peduli." Sebelah mata Ardan berkedip, menggoda sang istri yang ada dj depannya.
Gadis keturunan Turki itu terkekeh. Satu tangan Ardan menuruni tirai ruang ganti, mendekap sang istri di balik badan kekarnya. Namun, karena berada di ruangan berkaca pantulan tubuh mereka terlihat oleh sang adik.
Arfi tersenyum, pelan kepalanya menggeleng. "Dasar," lirihnya pelan.
Satu tangan mengancing ujung lengan kemeja batik. Badannya sedikit memiring, melihat pantulan tubuh kekarnya dalam balutan kemeja batik kecokelatan itu.
"Lumayan juga, gak terlalu buruk. Selera Hazel memang bagus," lirihnya memiringkan badan.
Perhatiannya teralih saat gadis berhijab itu berjalan mendekati ruang ganti. Lelaki berambut pirang itu langsung menarik lengan Nigar, membalikan badan itu tiba-tiba.
"Tolong bantu aku lepaskan kancing ini," pinta Arfi sedikit mendongak. Memperlihatkan kancing yang tepat di bawah dagunya.
Mata sayupnya melirik ke ruang ganti, sepasang manusia itu masih larut dalam romansanya berdua. Ingin menggoda sang gadis, namun beberapa hari ini Nigar terlihat sedikit berbeda.
Gadis berhijab itu tak menjawab, jari-jari lentiknya berusaha membuka kancing kemeja Arfi. Sepasang mata indahnya menatap wajah yang tengah terdongak itu, cukup lama. Detik selanjutnya dia menunduk setelah kancing itu lepas.
"Makasih, Nigar."
Gadis itu hanya tersenyum tipis, ingin berbalik. Lagi, Arfi membalik badannya agar membelakangi ruang ganti.
"Kamu masih marah padaku?"
Gadis itu tersenyum, kepalanya menggeleng.
"Maaf, Nigar. Kumohon percaya padaku. Aku akan minta Sasy untuk berbicara padamu."
"Tak perlu. Aku percaya," jawabnya sendu.
"Lalu mengapa sikapmu mendingin padaku?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin mencoba baju ini." Satu tangannya terangkat, memperlihatkan gaun panjang yang bercorak sama dengan Hazel dan Ardan.
"Gak perlu dicoba," kata Arfi menggoda. Dahi Gadis itu mengerut.
"Karena itu tak cocok denganmu."
"Hah?"
Lelaki berambut pirang itu menarik lengan Nigar, berjalan ke arah jajaran gaun panjang. Mengeluarkan sebuah gaun yang serupa dengan kemeja miliknya.
"Kamu lebih cocok pakai ini, karena kita pasangan. Hem." Lelaki itu mengulurkan sebuah gaun ke hadapan Nigar.
Gadis itu hanya bergeming, menatapi gaun yang Arfi berikan. Terdiam, perlahan pandangan matanya memburam.
"Aku yang ini saja, Arfi." Gadis itu menunduk, satu tangannya menghapus sudut mata.
"Ada apa, Nigar?" tanya Arfi cemas.
Gadis itu berpaling, ingin pergi. Kembali, Arfi menahannya. Mencengkeram kedua ujung bahu gadis tersebut.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?"
"Tidak ada."
"Nigar," panggil Arfi. Gadis itu hanya diam dengan sesak yang tertahan.
"Nigar jawab! Atau kupeluk kamu!"
"Hanya saja ada perih yang terasa saat kamu mengatakan kita adalah pasangan."
"Tetapi memang itu kenyataannya, kan?"
Gadis itu melepaskan tangan Arfi dan berbalik. Menatap wajah Arfi dengan kaca yang melapisi netra.
"Arfi, kurasa kita tak berjodoh. Walau tak terpisah oleh Pak Ferdi. Kita memang tidak pernah bisa bersatu."
"Apa maksudmu?"
Satu buliran lolos begitu saja. Sepasang mata indah itu menatap Arfi dengan segala luka.
Dadanya terasa sesak, keinginan untuk bersama ada. Namun, banyak hal yang membuat mereka harus terpisah.
"Aku menyerah."
"Maksudnya?"
"Aku akan melanjutkan S-2."
"Lalu masalahnya?"
...***...
Mclaren oranye itu berhenti dengan suara decitan peraduan aspal dan ban yang lumayan besar. Tergesa, lelaki berkaus ketat itu turun dan menarik tangan Sasy yang baru saja keluar dari gerbang kampus.
"Ikut aku!" tarik Arfi sedikit kasar.
"Om tunggu dulu."
"Sudah jangan banyak bicara. Kau banyak bicara saat bertemu dengan Nigar saja."
"Maksudnya?" tanya Sasy. Lelaki berbadan tegap itu langsung membuka pintu dan mendorong badan mungil itu untuk naik.
Setelah berada di balik kemudi, lelaki itu hanya diam. Pandangan matanya tajam, melajukan mobilnya dengan sangat kencang.
"Om, sebenarnya ada apa?"
"Diam!" kata Arfi tegas.
Melihat raut wajah Arfi, gadis itu terdiam. Membuang pandangan matanya ke depan, walau hatinya deg-degan harus berada dalam kecepatan yang menggila.
Rem mobil itu terinjak secara paksa di depan gedung perusahaan Ardan. Lelaki itu turun dan membuka pintu mobil, menyeret gadis itu untuk segera keluar.
Ferdi dan Ardan yang baru akan pergi teralih. Melihat cekalan tangan Arfi di lengan Sasy, membuat lelaki berkacamata itu geram.
Ia mendekat dengan langkah cepat. Menahan pergelangan tangan Arfi yang tengah mencekal lengan Sasy.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ferdi ketus.
Arfi menoleh, menatap Ferdi, lantas berkata.
"Lepaskan, Kak. Aku ada urusan dengannya."
Ferdi melepaskan cekalan tangan Arfi pada lengan Sasy secara paksa, menarik tubuh mungil itu ke balik badannya.
"Kau menyakitinya!"
"Apa urusannya denganmu?" tanya Arfi sedikit geram.
"Jangan sesukamu menarik-narik tangan anak orang. Dia gadis kecil, tak sesuai dengan kekuatanmu. Apa kau tak paham!"
Ferdi berbalik, menatap ke arah Sasy. Satu tangannya meraih sebelah pipi belia itu.
"Kamu baik-baik saja?"
Gadis belia itu mengangguk. "Tapi aku takut lihat Om Arfi, Kak."
Baru saja mengatakan itu, Arfi kembali menarik lengan belia itu. Sasy merintih, matanya menyipit menahan sakit.
Lelaki berkacamata itu semakin geram. Ia lepaskan tangan Arfi dan mendekap Sasy dengan sebelah tangannya.
"Apa-apaan kau, Arfi? Tidak bisakah kau bersikap lembut? Dia kesakitan!"
Arfi mendesis geram, mengacak rambut dan ingin meraih tubuh Sasy. Lebih dulu Ferdi mendekap badan mungil itu lebih erat.
"Kakak yang apa-apaan? Aku ada perlu sama Sasy!"
"Katakan baik-baik. Tak perlu kau sekasar itu, kan?"
"Bukan urusan Kakak! Lepaskan dia!" Satu tangan Arfi ingin menarik badan Sasy. Cepat gerakan Ferdi memukul tangan Arfi yang ingin menjamah gadis belia tersebut.
"Jangan sentuh dia!" tekan Ferdi ketus.
"Kak, bisa gak Kakak itu gak usah ikut campur? Ini urusan aku dan dia!"
"Tidak bisa!" jawab Ferdi ketus.
"Hoo ... kenapa sekarang Kakak sok peduli pada dia?"
"Ada masalah denganmu?"
Lelaki berambut pirang itu berdecak geram. Ia ingin menyuruh Sasy untuk menjelaskan pada Nigar. Namun, mengapa sekarang malah tambah runyam.
Sementara di ujung sini Ardan melepaskan kancing jasnya. Membenamkan kedua tangannya di saku seraya tersenyum lembut.
"Apa kubilang. Ferdi akan keluar dari sifat tenangnya jika telah nyaman dengan seseorang."
Ardan bergeming, memerhatikan tiga manusia di sana yang sedang berseteru dengan sengit.
"Drama dimulai," lirih Ardan terkekeh.
"Om, Om mau aku lakuin apa? Katakan saja, akan aku lakukan tapi Om gak perlu tarik-tarik lengan."
"Oh, sekarang ikut aku masuk dan jelaskan hubungan kita pada calon istriku."
"Enggak!" Ferdi menahan tubuh belia itu, mendekapnya erat.
"Dia sudah menyakitimu. Suruh dia minta maaf padamu baru boleh dia minta tolong padamu."
"Apa?" tanya Arfi kesal, dan mata di balik lensa itu hanya menatap nyalang.
"Oh Lord ... Kak sumpah! Ini urusan aku dan dia. Gak ada sangkut pautnya sama Kakak. Kenapa Kakak bersikap seolah-olah Kakak adalah walinya?" Lelaki berambut pirang semakin geram.
"Iya. Aku memang walinya. Memang kenapa?" tantang Ferdi.
Seketika Arfi dan Sasy menatap ke arah Ferdi. Bingung dan juga heran. Termasuk Ardan, lelaki itu menaikan sebelah alis matanya. Terkejut, ke mana perginya sifat Ferdi yang damai dan tak suka keributan?