
Beberapa kali punggung tangan kurus itu mengusap pipi. Berusaha menahan diri untuk tidak larut ke dalam duka hati.
Namun, semakin ditahan, semakin sesak itu bersarang. Mejadi isakan yang yang lebih besar.
Nara menangkupkan tangannya di depan bibir, mencoba meredam rasa sakit di dalam hati. Menjadi sesenggukan yang tak dapat terelaki lagi.
Sebuah tisu tersodor ke hadapan gadis itu. Seorang lelaki dengan jas putih tersenyum ke arahnya.
"Mau ke taman?" tawar lelaki itu.
Nara terdiam, menatapnya dengan lekat. Tak lama kepala itu mengangguk pelan.
.
Setelah menangis untuk beberapa lama, kini gadis itu sedikit bisa menghela napas lega.
"Boleh saya bertanya?"
Nara mengangguk, sesekali tisu kemasan yang dipegang lelaki berjas putih itu ia tarik keluar.
"Apa kamu mencintai suami Hazel?"
"Em, bukan. Saya mana mungkin mencintai Pak Ardan."
Lelaki itu menghela napas, ia menyandarkan punggung ke sandaran bangku taman. Melepaskan kacamata yang ia pakai saat praktik.
"Jangan dibohongi, jujur saja. Bukan sama saya, tapi pada dirimu sendiri."
Nara bergeming, ia meremat tisu yang ada di dalam genggaman.
"Tidak ada yang salah. Cinta itu bukan kesalahan. Tetapi waktu yang tidak tepat, itulah yang menjadi kesalahannya."
Lelaki itu mengacak rambutnya, membiarkan helaian agak kecokelatan yang tersisir rapi menjadi berantakan.
"Jangan paksakan cintamu pada tempat yang tidak semestinya. Lepaskan saja jika cinta itu tak membuatmu bahagia."
"Melakukan tak semudah berbicara, Dok."
Dokter muda itu tersenyum, ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Tentu saja. Memaksakan diri pada cinta yang tidak bertuan juga bukan hal yang mudah. Cinta, dia tidak akan memaksa, Nona. Walaupun sakit melepaskannya, lebih baik kamu melakukannya."
Nara terdiam, apa yang dibilang Dokter muda ini memang benar.
Sesaat suasana hening, mereka berdua terdiam. Dengan tatapan mata yang sama-sama kosong memandang ke depan.
"Jangan paksakan diri untuk bertahan dalam cinta yang tak membuatmu bahagia. Jangan paksakan dia yang tidak mencintaimu agar melihatmu. Semakin kamu paksa, maka akan semakin sakit pula. Lupakan saja, dia yang tidak membalas perasaanmu, tinggalkan saja."
"Jika anda menjadi saya. Bisakah anda meninggalkannya?"
Dokter muda itu memalingkan mata, melihat gadis dengan tampilan kacau di sebelahnya.
Perlahan ia menggeleng, sampai saat ini. Ia belum bisa melepaskan Hazel. Terlebih saat ia masih harus datang kerumah Hazel. Melihat dengan mata kepala sendiri, wanita itu bahagia dengan suaminya saat ini.
"Lebih baik terluka karena mencoba melupakan. Dibandingkan terluka karena terus memaksakan perasaan. Melepaskan beban hati memang tidak mudah, tetapi, memaksakan cinta pada hati yang selalu berpaling adalah kebodohan selamanya."
Pedro tersenyum, ia mulai melepaskan jas putih yang menempel di badannya. Entah kenapa? Sesak sekali rasanya saat mengingat Hazel.
Dia juga berada pada cinta itu, bukan waktunya yang salah. Karena jauh sebelum wanita itu mengenal Ardan. Dia telah lebih dulu jatuh cinta, meminta hatinya dengan cara melamarnya.
Namun, cinta dan jodoh itu tidak bisa dipaksa. Mau selama apa? Mau secinta apa? Jika Tuhan tidak merestui, maka dia yang kamu cintai hanya akan menjadi sesuatu yang terlewatkan dalam hidupmu.
"Sudah tahu dia tidak cinta, sudah tahu dia tidak membalas. Kenapa masih berharap? Kenapa masih ingin bermimpi?"
Pandangan lelaki berdarah setengah Spanyol itu kosong ke arah depan. Sebagian helaian rambut cokelatnya berantakan terbawa angin.
"Kadang kita memang senaif itu, Nona. Melupakan, pasti juga membutuhkan hati yang siap terluka. Tapi tidak ada salahnya, mencoba melupakan dan melepaskan diri dari beban hati yang tak terbalas."
Pedro kembali tersenyun, ia memberikan tisu kemasan itu ke tangan Nara.
"Dibandingkan terus menyiksa diri untuk mencintai dia yang tidak tersentuh. Pilihlah, sama-sama sakit, sama-sama terluka. Memilih bertahan dalam duka yang tidak bermuara atau belajar menemukan muara, berhenti, dan memulai sesuatu yang baru?"
Pedro bangkit, ia menarik jas putih yang ia letakan di kursi dan berjalan meninggalkan gadis itu sendiri.
Sama-sama terluka, sama-sama memuja. Sayang, cinta tak bertuan pada mereka. Bukan karena takdir kejam, mempermainkan ketulusan yang mereka punya.
Hanya saja, Tuhan tahu mana yang lebih baik untuk mereka. Ada orang-orang yang kita pikir sudah sangat tepat, namun, masih belum bisa kita dapat.
Dia mungkin baik, dia mungkin tepat dan mungkin dia bisa menjadi orang yang sangat kita inginkan.
Kembali, Tuhan menyatukan dua orang yang saling membutuhkan. Bukan dua orang yang saling menginginkan.
***
Ardan terlentang di atas kasur dengan posisi kedua kaki yang ia naikan ke udara. Sementara di atasnya ada Surya.
Menaikan-turunkan kakinya sembari mendengarkan coleth Surya. Sesekali bibir itu menyemburkan liur.
Ardan hanya terkekeh, saat wajahnya terkena semburan liur bocah yang sedang ia lambungkan di atas kakinya.
Hazel keluar dari kamar mandi, melihat anaknya yang masih bermain bersama papanya itu. Perlahan ia mendekat dan menjatuhkan badan di sebelah Ardan.
"Surya jorok ih, jangan suka main liur," ucap Hazel tak suka.
Ia menarik tisu di atas nakas dan menghapus sisa liur di bibir Surya.
"Ini, liur di wajahku, hapus juga."
Hazel tesenyum dan membuang tisunya.
"Kalau liur di sana biarin saja."
"Kok gitu?"
"Biar awet muda! Kena liur Surya. Hahaha." Hazel terbahak.
"Iya, setelah ini wajahmu penuh dengan liurku. Lihat saja nanti," ancam Ardan ketus.
"Iya, sebelum itu wajah kamu duluan yang aku kenain liur."
Hazel mendekati wajah suaminya itu, menciumi setiap kulit yang terkena liur anaknya tersebut.
Beberapa kali bibir mereka tertawa, bercanda sebelum malam membawa mereka terlelap bersama.
***
"Hm."
"Aku boleh nanya?"
Ardan memalingkan wajahnya, melihat Hazel yang terduduk di bibir kasur.
"Tanya aja, biasa juga nanya tanpa bertanya dulu."
"Kenapa kamu menolak menjadi CEO?"
Gerakan tangan Ardan yang sedang melilit dasi ke lehernya terhenti. Ia membalikan badan dan berjalan mendekati Hazel.
"Kenapa? Kamu kecewa? Tidak menjadi Nyonya dari CEO Erlangga?"
Hazel menggeleng, mulutnya masih sibuk memakan snack kemasan.
"Bukannya biasanya anak-anak itu berebut posisi CEO, ya? Kamu dan yang lainnya, kenapa menolak?"
Ardan menghela napasnya, ikut memakan camilan yang ada di tangan Hazel.
"Ini tidak sesederhana itu, Hazel. Aku dan Ferdi berencana untuk melakukan pemisahan perusahaan dengan pusat."
"Loh ... kenapa?"
"Aku ingin mandiri. Aku ingin mengelola perusahaanku sendiri tanpa arahan dan perintah dari pusat."
"Lalu papamu?"
"Bukannya masih ada Arfan dan Arfi?"
"Kenapa sih, Mas? Kamu gak bisa bersatu saja dengan mereka semua?"
"Kamu siap membawa Surya ke hadapan mereka?"
Seketika gerakan mulut Hazel terhenti. Ia membenarkan posisi duduknya, matanya menatap wajah Ardan yang begitu serius. Perlahan ia menggeleng.
"Aku tidak ingin rumah tangga kita diusik, Hazel. Aku ingin bahagia bersamamu dan anak-anak kita kelak. Aku pun menyanyangi Surya dan tidak ingin ada yang menyakitinya." Lelaki itu kembali menghela napas.
"Jika aku menjadi CEO, otomatis kita semua akan pindah ke ibukota. Pertentangan itu pelik, Hazel. Kepala-kepala itu sangat keras, mereka bisa melakukan apa saja. Cara mereka menghancurkan itu keji, aku benci. Sebenarnya aku juga lelah, sudah sangat lama kami terpecah. Tapi aku tidak ingin mereka tetap seperti ini. Aku ingin mereka berubah, terlebih papa. Lelaki itu, sangat keras kepala." Ardan menundukan pandangannya, menggeleng pelan.
Hazel meraih tangan Ardan, tersenyum lembut saat mata lelaki itu melihatnya.
"Emh, aku mengerti."
Ardan tersenyum dan mengacak puncak kepala istrinya itu. Ia merebut kemasan camilan milik Hazel.
"Mas! Balikin, gak?"
"Jangan makan terus, lihat itu badan melar terus."
"Aku lagi hamil, Mas. Butuh banyak asupan biar anaknya sehat."
"Sehat itu kalau nyemilnya sayur dan buah. Snack kemasan gini buat anak kita gak sehat aja."
Hazel mengerucutkan bibirnya, ia menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Terserah!" ketusnya geram.
Ardan tersenyum dan memberikan kemasan itu ke depan Hazel. Saat tangan Hazel ingin meraihnya, lelaki itu menyentakkan. Menjauhkan kembali.
"Ih ... Mas!" bentak Hazel kesal.
"Hahaha. Jangan banyak makan camilan. Nanti kamu gendut setelah melahirkan bagaimana?"
"Kenapa? Kamu gak suka?"
"Enggak!"
"Baguslah, kalau gitu aku gak perlu ngelahirin banyak anak."
Ardan tersenyum kecut, ia memberikan kemasan itu ke tangan Hazel.
"Maaf, Sayang. Jangan marah ya, jangankan hanya sebungkus camilan. Seluruh harta kekayaan ini pun aku berikan padamu."
Hazel merebut kemasan makanan berbahan dasar cokelat itu. Ia menyentakkan kepala dengan bibir yang tersungging sebelah.
"Bagaimana? Suka? Seluruh hartaku milikmu, tapi berikan hatimu padaku."
"Gak sudi!"
"Kok gitu?"
"Hartamu gak cukup banyak, Mas."
"Memang kamu mau sebanyak apa?"
"Sampai bisa beli negara Turki."
Ardan terkekeh, ia menarik pipi wanita itu dan mencium bibirnya sekilas.
"Baiklah, pulang kerja akan kubelikan negara Turki untukmu?"
"Hem?" Hazel memalingkan wajah seketika.
"Lengkap dengan Afrika, Amerika, dan Rusia?"
"Memang bisa?" tanya Hazel polos.
"Bisa," jawab Ardan cepat.
"Caranya?" tanya Hazel semangat.
"Monopoli kan lengkap, plus rumah, hotel dan orang-orangnya juga, Hahahaha." Ardan terbahak.
Yang membuat lucu adalah, ekspresi Hazel yang berubah suntuk seketika.
Ternyata, wanita yang terlihat tangguh sekali pun tetaplah wanita yang gampang sekali digoda dan dibohongi.
Apa pun itu, wanita tetaplah makhluk manja dan lemah. Namun, di balik kemanjaan dan kelemahannya, wanita adalah makhluk yang paling tangguh berdiri demi anak dan orang-orang yang mereka sayangi.