
Ardan memasukan kedua tangannya di saku celana. Memperhatikan sesi pemotretan model remaja yang akan menghiasi lembaran majalah perusahaan.
"Apa semua berjalan lancar?" tanya Ardan pada gadis berkacamata yang bertugas mengurus pemotretran.
"Sejauh ini masih lancar saja, Pak."
Ardan hanya menganggukan kepala, terlihat gadis bernama Rena Marlia itu mengembangkan senyumnya saat melihat lelaki berjas hitam itu memperhatikan dirinya.
"Mas."
"Hm."
"Siang ini aku izin untuk antar Surya ke rumah sakit ya," ucap Hazel lembut.
"Tidak boleh!"
"Loh ... kenapa?" tanya Hazel bingung.
"Kamu sudah terlalu banyak izin, Istriku," jawab Ardan sedikit menggoda.
"Tetapi dia juga anakmu."
"Haa ... benarkah?"
"Aku serius, Mas!"
Ardan terkekeh dan menganggukan kepala.
"Gak perlu minta izin dariku, jika ingin ke rumah sakit. Pergilah, untukmu, apapun akan aku berikan."
"Hem, mulai," balas Hazel malas.
Ardan kembali terkekeh, matanya masih memandang ke arah Rena Marlia. Tetapi pikirannya berada pada wanita di sebelahnya saat ini.
Sedang yang ditatap di ujung sana mulai salah tingkah. Salah tafsir, jika lelaki berbadan tegap itu sedang tersenyum ke arahnya.
"Mas, bisa gak antar aku dulu sebelum makan siang?"
"Bisa."
"Aku tunggu di Halte depan, ya."
"Gak sekalian nunggu di kamar?"
"Maasss ...."
Ardan terkekeh, ia menganggukan kepalanya perlahan.
"Iya, aku jemput di sana."
"Yasudah, kalau begitu aku kembali ke divisi dulu ya."
"Hati-hati, Cinta. Jangan sampai kamu kenapa-napa, oke."
Hazel berdecak kesal, jari lentiknya menarik kulit di balik jas itu, kuat. Seketika mata sayu lelaki itu melebar, melihat ke arah Hazel sembari menahan sakit.
"Lihat, bagaimana aku akan menghukummu nanti malam!" ancam Ardan mengelus kulit pinggangnya yang sakit karena tarikan jari istrinya tersebut.
"Iya, kita lihat saja. Bagaimana aku akan mengulitimu, nanti malam!" balas Hazel ketus.
"Kamu menantangku?"
"Iya, aku menantangmu!" Hazel memiringkan sebelah bibirnya, kaki kecilnya menginjak kaki Ardan, berbalik meninggalkan ruangan pemotretan dengan kesal.
Setelah punggung kecil itu pergi, Ardan tersenyum dan menggeleng pelan.
"Baru kali ini, ada wanita yang galak saat digoda. Dasar," lirih Ardan geli sendiri.
"Kak Ardan!" Suara melengking itu mengalihkan perhatian Ardan.
Seorang gadis berlari ke arah Ardan. Tangan kecilnya langsung melilit di lengan kekar lelaki itu.
Sedikit tersenyum, Ardan berusaha melepaskan lilitan gadis muda itu.
"Kak Ardan ke sini mau lihat pemotretran aku ya?" tanya Rena manja.
"Iya, hanya melihat bagaimana pemotretrannya berjalan," jawab Ardan malas.
"Kalau begitu lihat sini!" Gadis itu menarik tangan Ardan, melihatke dalam laptop hasil foto itu ditampilkan.
Serius, mata sayu lelaki itu memeriksa setiap hasil foto. Entah kenapa, saat melihat wajah Rena Marlia, ia malah membayangkan wajah istrinya itu. Terlebih saat wajahnya yang sedang kesal sehabis digoda.
Ardan terkekeh, detik selanjutnya ia tersadar dan menangkupkan tangan di depan bibir.
"Kenapa, Kak? Apa ada yang lucu dari fotonya?" tanya gadis berbadan langsing itu heran.
"Enggak, bagus kok. Hanya saja, aku sedikit lapar. Tidak konsen," jawab Ardan mengelak.
"Kebetulan aku juga lapar, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tanya Rena langsung.
"Hah? Sepertinya--"
"Ah ... aku gak mau dengar, pokoknya Kakak harus makan denganku sebagai tanda kerja sama." Tarik wanita berbadan langsing itu langsung.
"Tunggu dulu, Rena. Aku masih harus bertemu Ferdi untuk membicarakan rapat selanjutnya," tolak Ardan halus.
"Bisa bicara nanti, kan? Kak Ardan bisa jumpa Kak Ferdi kapan saja. Tapi kalau denganku, kak Ardan hanya bisa jumpa hari ini saja. Jangan takut, aku punya banyak uang untuk traktir kak Ardan makan."
Ardan menggaruk kulit kepala yang tak gatal, menghela napas berat sembari mengikuti langkah gadis itu. Tidak bisa menolak, bagaimana juga ia adalah mitra kontrak saat ini.
***
Hazel mencebik kesal, sudah belasan kali ia menelpon lelaki berkulit sawo matang itu. Tetapi panggilannya tidak terangkat sama sekali.
Kaki itu menendang kerikil jalanan, menghela napas sembari melihat bus yang mungkin akan datang. Pucuk dicinta ulam tiba, tak perlu menunggu waktu lama, apa yang ia harapkan datang.
Hazel memalingkan wajahnya sekali lagi sebelum menaiki tangga bus. Berharap bahwa mobil hitam legam itu akan menjemputnya, namun nihil. Bukannya mobil hitam yang datang, tetapi rasa kecewa yang mulai bersarang.
Hazel menyanggul rambut tinggi ke atas, merapikan anak rambutnya sembari memandang jalanan dari kaca bus yang ia tumpangi.
Segumpal darah dalam tubuh terasa nyeri saat matanya mendapati lelaki yang ia tunggu tengah makan siang dengan seorang gadis di restoran mewah. Senyum itu mengembang di bibir keduanya, dengan sesekali jari lentik gadis itu menyentuh lengan kekar suaminya.
Hazel memalingkan wajah, berusaha untuk tetap baik-baik saja, walaupun saat ini hatinya mulai terluka.
.
Ardan melepaskan charge dari ponselnya, melihat beberapa pesan yang masuk selama ponselnya tertinggal di ruangan.
Matanya melebar saat melihat 17 panggilan tidak terjawab dari nomor 'Pihak Kedua' itu.
Segera ia menekan tombol hijau, melakukan panggilan balik. Tetapi panggilannya tidak tersambung sama sekali.
"Sial! Kenapa aku bisa lupa kalau Hazel minta diantar, tadi?"
Secepat yang ia bisa, Ardan memacu mobilnya membelah jalan raya. Menyusuli istrinya yang sudah berjam-jam menunggunya itu.
Ardan melambatkan lajunya saat melihat Hazel berdiri di depan Halte dengan menggendong anaknya.
"Hazel," panggil Ardan keluar dari mobilnya.
Seketika senyum di wajah cantik wanita itu memudar. Ia hanya melirik sekilas lalu beralih pandang ke sisi jalan.
"Maaf, aku lupa kalau kamu minta antar tadi."
"Jelas lupa, makan sama gadis muda!" balas Hazel ketus.
Ardan tersenyum dan menghampiri wanita muda itu.
"Kamu cemburu?" tanya Ardan lembut.
"Hem, buang tenaga cemburu sama playboy seperti kamu!"
"Ayo masuk! Aku antar kamu pulang."
Ardan merangkul bahu wanita itu dan membawanya ke depan pintu. Menekan lembut pucuk kepala wanita itu agar tidak terantuk saat masuk ke dalam mobil.
Setengah perjalanan, suasana hanya hening tanpa pembicaraan. Beberapa kali Ardan menghela napas. Namun wanita di sebelahnya sama sekali tidak memperdulikan.
"Bagaimana keadaan, Surya?" tanya Ardan basa-basi.
"Baik."
"Kamu sudah makan?"
"Sudah."
"Marah sama aku, ya?"
"Iya."
"Masih kesel sampek sekarang?"
"Iya."
"Gara-gara Rena Marlia?"
"Iya."
"Terlalu cinta sama aku, ya?"
"Iya." Hazel tekerjut. "Enggak!" sanggahnya ketus.
Ardan terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
"Maaf ya, aku benar-benar lupa. Biasanya kamu selalu sendiri ke mana-mana."
"Hem," jawab Hazel malas.
"Sudah gak marah lagi, kan?"
"Enggak!"
"Gak kesel lagi?"
"Enggak!"
"Gak benci lagi?"
"Enggak!"
"Rela kehilangan aku?"
"Enggak!" Hazel terdiam. "Ih ... Mas Ardan, ih," sambungnya ketus.
Ardan kembali terkekeh, ternyata menggoda Hazel saat marah lebih seru dari pada menggoda dia saat baik-baik saja.
Ardan meraih pucuk kepala Hazel, menariknya mendekat. Sebuah kecupan mendarat di sana, Ardan tersenyum lembut dan merapikan anak rambut wanita itu.
"Maaf, kali ini aku benar-benar minta maaf. Katakan, kamu mau aku melakukan apa untuk menebusnya?"
"Hem, tidak ada. Aku bawa Surya ke atas dulu."
Sedikit susah, Hazel membuka pintu mobil lelaki itu. Cepat tangan Ardan menariknya, menutup pintu itu kembali.
Terasa aroma maskulin pria berbadan tegap itu menembus hidung Hazel. Wanita itu menarik napasnya dalam-dalam, mencoba mengatur jantungnya yang berdebar kian mengencang.
Terlebih saat Ardan tersenyum tepat di depan wajahnya, memperlihatkan jejeran giginya dan sebuah ginsul yang baru Hazel sadari hari ini.
Ardan memandang wajah Hazel lekat, jarinya mengelus pipi putih wanita itu dengan lembut.
"Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku tidak ada apa-apa dengan Rena, hanya saja, dia meminta aku menemaninya makan siang sebagai bentuk kerja sama."
"Hem."
"Percaya?"
"Enggak!"
"Kalau gitu aku akan buktikan."
Ardan menangkupkan kedua tangannya di pipi Hazel. Meletakan dahinya di dahi wanita itu, perlahan bibirnya mencium lembut bibir wanita berdarah Turki tersebut, lalu beralih pada leher putihnya, meninggalkan beberapa bercak biru pada kulit leher wanita itu.
"Mas! Hentikan!" teriak Hazel tak suka.
"Tidak mau!"
"Iya, aku percaya!"
Ardan menjauhkan bibirnya dari kulit wanita itu. Mengambil Surya dari dalam dekapan Hazel. Membawa bocah kecil itu memasuki rumah besarnya.
Hazel menghela napas, membuka kerah kemejanya. Ia menggeleng pelan saat melihat dua bercak biru tertinggal di kulit putihnya.
"Dasar gila!" umpatnya kesal.
Hazel membuka kerah kemejanya, menutupi bekas ciuman si iblis itu sebelum masuk ke dalam rumah.
Dengan sedikit malas ia melemparkan tas ke atas kasur. Berlalu ke kamar mandi sebelum kembali ke perusahaan.
Sekuntum mawar tergeletak di atas kasur saat pertama kali ia keluar dari kamar mandi. Hazel berjalan mendekati kasur dan mengambil bunga itu.
'Tidak usah kembali ke kantor. Tanpa kamu, kantor juga masih baik-baik saja.'
Hazel mencebik kesal.
"Kenapa gak bolehi aku balik ke perusahaan? Takut kalau ketahuan pacaran sama model muda itu?"
Hazel beralih menatap kuntum mawar yang ada di tangannya. Dahi mulusnya mengernyit seketika, melihat sebuah mutiara dililit oleh sebuah batang uliran. Jarinya mulai menarik mutiara itu, sebuah kalung dari emas putih terselip di antara kelopak mawar itu.
Hazel tersenyum lembut dan menggeleng pelan.
"Kenapa suka sekali menyelipkan barang mahal di dalam mawar? Tidak tahu apa kalau mawar itu berduri?"
Sebuah tangan melingkari perut rata wanita itu. Disusul sebuah dagu yang tertumpuh di salah satu bahu sempit wanita bermata madu tersebut.
"Mana yang lebih sakit? Tertusuk duri mawar atau melihat aku makan siang?" tanya Ardan sembari membenamkan hidungnya di atas bahu Hazel.
"Kenapa masih di sini?" tanya Hazel dengan menusukan ujung batang mawar itu ke pipi Ardan.
"Karena ada yang takut aku pacaran dengan model belia. Dia pikir aku ini pria seperti apa? Playboy juga punya standartnya, bukan gadis belia yang berciuman saja tidak bisa."
Hazel terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Melepaskan dekapan tangan Ardan di perutnya.
"Dasar narsis."
Ardan menarik kalung itu dari tangan Hazel, membalikan badan Hazel menghadap ke arah cermin. Perlahan jari kekar itu mengaitkan kalung di leher jenjang wanita berlesung pipi itu.
"Suka?"
"Enggak!"
"Kenapa?"
"Mutiaranya cuma satu, kalau sepuluh, suka."
Ardan terkekeh, tangannya membalikan badan wanita itu untuk berhadapan dengannya.
"Jangankan sepuluh, walau sebanyak lautan akan aku berikan. Asal uangnya cukup. Ha ha ha."
Hazel mencubit perut Ardan, geram sekali.
"Dasar."
Ardan menangkupkan kedua tangannya di pipi wanita berwajah bulat itu. Mencium dahinya lembut, lalu beralih pada ujung hidung mancungnya dan berakhir di atas bibir mungilnya.
"Saat ini, kamu adalah canduku, Hazel. Seperti heroin, kamu mampu membuat aku gila hanya dengan senyum dari bibir mungil ini."