
Sebuah ketukan terdengar dari balik pintu, sedetik, dua detik, Evan melirik pergelangan tangannya saat tak mendapatkan respons dari balik pintu rumah sederhana tersebut.
Lelaki itu membalikan badan, meraih ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Sebentar," sahutan dari dalam rumah bersamaan dengan daun pintu yang terbuka lebar.
"Siapa, ya?" tanya gadis belia di balik pintu tersebut.
Pemuda berjas abu-abu itu berbalik, "Saya Evan, pihak hukum dari Erlangga group. Saya ke sini mau mengambil berkas data pribadi Ferdi."
Gadis belia itu memperhatikan pemuda yang ada di ambang pintu.
"Aku rasa semua berkas abang ada di rumahnya. Di sini tidak ada," jawab belia itu.
Evan palingkan pandangan ketika panggilan itu tersambung.
"Fer, kata adikmu tidak ada berkas di rumah ibumu."
"Bagaimana bisa? Semua berkas asliku ada di rumah ibu. Berikan ponselnya pada adikku."
"Hm," kata Evan seraya menyerahkan ponsel itu.
Gadis belia itu mengambil ponsel milik Evan dengan memanyunkan bibir. Baru saja mengucapkan kata 'halo' saat pemuda di seberang sana berkata.
"Nakal!" cerca lelaki itu langsung sesaat setelah adik bungsunya menempelkan ponsel.
"Carikan semua data Abang dan berikan pada teman Abang. Jangan terlalu malas jadi gadis, Fresya."
"Bukannya semua berkas-berkas Abang sudah di bawa ke rumah di tempat Abang tinggal? Kan, kemarin katanya buat urus pernikahan. Abang yang suruh Echa kirim."
"Aish." Ferdi usap wajahnya kasar, bagaimana dia bisa lupa hal sepenting ini?
Setelah mendengar ******* suara abangnya, gadis itu kembali memberikan ponsel ke tangan Evan.
"Nanti aku akan minta calonku untuk mengirimnya dengan paket kilat. Kau tunggu saja," sesal Ferdi.
"Baiklah."
Setelah mematikan panggilan, Evan berpamitan untuk kembali. Baru membalikkan badannya berniat untuk meninggalkan rumah sederhana milik ibunya Ferdi, lelaki itu kembali sibuk pada ponselnya saat Ferdi mengirim chat meminta alamat padanya.
Bersamaan dengan seorang gadis dengan jas putih keluar dari rumah itu. Gadis dengan helaian hitam lebat itu sempat menganggu adik bungsunya yang masih berdiri di ambang pintu. Mengacak rambut Fresya, gemas.
Langkah dengan heelsnya berlari tatkala Fresya ingin memukulnya. Karena pandangan yang tak fokus, gadis itu menabrak punggung Evan yang berada di depan rumah mereka.
"Um, sorry," katanya seraya menyelipkan rambut ke balik telinga.
Evan hanya mengangguk, dia kembali sibuk menatap layar ponsel.
"Katakan pada ibu, aku mungkin akan kembali besok pagi!" teriak gadis itu berpamitan pada Fresya.
"Kalau banyak pelanggan om-om yang banyak uangnya bagi hasil denganku, ya!"
Mendengar itu Evan mengalihkan pandangan. Memperhatikan tampilan gadis yang tengah berjalan itu, mungkinkah adik Ferdi seorang?
"Asalkan kau bisa mengunci mulut pada ibu," balas gadis yang sudah berjalan ke halaman dengan menaikan jempolnya.
Evan menautkan alis matanya, lantas langkahnya mengejar gadis berpakaian rajut ketat itu, tapi dengan luaran jas putih sepanjang dengkul.
"Kau adik Ferdi, bukan?" tanya Evan penasaran.
Gadis itu hanya mengangguk, pandangannya masih fokus ke depan dengan kedua tangan masuk ke dalam kantung.
"Apa yang kalian lakukan? Maksudku, bukannya Ferdi adalah pemuda yang taat?"
Sempat bingung, gadis dengan balutan celana hitam yang sedikit ketat itu berhenti. Memandang Evan dengan alis yang bertautan.
"Maksudnya?" tanya gadis itu bingung.
"Maksudku, apa kamu melakukan itu demi uang?"
Dahi mulus milik gadis dengan raut wajah mirip Ferdi itu mengernyit. Detik selanjutnya dia tersenyum dengan sangat lebar.
"Maksudnya ucapanku dan Fresya tadi?"
Evan mengangguk. Gadis itu terkekeh, dia kibaskan jas putih yang saat ini dia kenakan.
"Apa kamu tidak lihat ini?" tanya Ferni seraya mengibaskan jas putih itu.
"Aku dokter koas," katanya terkekeh. "Dan saat ini sedang tugas malam."
Evan tepuk sudut dahinya, lantas lelaki itu ikut tersenyum. Malu sendiri.
"Kamu saat ini tugas di mana? Mau sekalian kuantar? Tenang saja, aku firma hukum abangmu, jadi takkan melakukan apapun padamu."
"Apa kamu juga akan mentraktir secangkir kopi atas pikiran buruk itu padaku?"
Evan raih sudut dagunya, memperhatikan wajah Ferni seolah tengah berpikir.
"Ya, baiklah. Aku mengaku salah."
"Kalau begitu, ayo." Gadis itu langsung berjalan ke arah depan.
Meski tertutupi jas putih, namun lekuk tubuhnya terlihat indah dengan rambut hitam lebat yang sedikit melebihi bahunya.
"Calon dokter muda, ya? Hebat juga Ferdi mampu membiayai adiknya sampai sejauh ini."
Evan ikuti langkah gadis itu, lantas bersamaan masuk ke dalam mobil yang sama.
***
Arfi mengulurkan tangannya, menjabat tangan Pedro yang akan berpamitan setelah melakukan terapi setengah harian.
"Terima kasih atas bantuan Anda hari ini, Dokter."
Pedro hanya tersenyum, dia balas uluran tangan Arfi, hangat.
"Apakah menurut Anda, Mama bisa kembali sembuh?"
"Yakini diri Anda, Pak. Semua penyakit akan sembuh jika ada keyakinan dari dalam diri sendiri dan orang-orang sekitar."
Beriringan langkah mereka berdua berjalan ke arah garasi.
"Alhamdulillah, kini dia tengah mengandung anak kami."
"Syukurlah, saya senang mendengarnya. Semua berkat kesabaran dan ketulusan Anda. Alam bawah sadarnya bisa menerima dan perlahan memperkecil lingkup traumanya."
Langkah Arfi sempat terhenti mendengar penuturan Pedro.
"Apa ... Mama juga akan bisa sembuh dengan cara yang sama, Dokter."
Pedro mengangguk pelan, "penyembuhan untuk sebuah trauma biasanya adalah hal yang sama dengan lukanya. Makanya semakin ingin disembuhkan prosesnya akan terasa sangat menyakitkan, perlahan dia akan terbiasa dan mulai menerima lukanya. Mereka trauma karena menolak semua keadaan buruk tersebut, mereka mencoba menghindarinya saja. Takkan ada yang sembuh jika kita tidak berani mengambil risiko untuk menghadapi itu."
Arfi mengangguk, setelah sedikit berbasa-basi. Pedro pamit dan masuk ke dalam mobilnya. Kembali ke rumah sakit untuk mengurus beberapa berkas pemindahan kontrak kerjanya.
Sedikit merepotkan memang, namun dengan pengaruh nama Erlangga. Apa yang seharusnya sulit, malah menjadi lebih mudah. Berbeda memang saat seseorang itu memiliki jabatan dan kekuasaan. Apa pun mampu dilakukan jika itu berhubungan dengan uang.
Pedro sedikit meringis jika mengingat itu semua, tapi dia mensyukuri saat istrinya kini bisa hanya fokus pada kandungan mereka.
Baru akan memasuki parkiran rumah sakit, sepasang mata itu terpaku saat melihat seorang wanita dengan dress biru, menggunakan cardigan luar berwarna putih tengah duduk di taman rumah sakit seraya mengelus perut buncitnya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Pedro setelah tergesa dia memarkirkan mobil pada parkir rumah sakit.
Wanita itu menoleh, bibirnya langsung mengembang saat melihat Pedro ada di depannya.
"Kejutan!"
Lelaki berdarah setengah Spanyol itu menghela napas, dia raih tubuh itu dan mendudukkan kembali di kursi taman.
"Kejutan apanya? Sama siapa kamu ke sini?"
"Sendiri."
"Kenapa nekat, sih? Kamu lagi hamil begini naik bus sendirian, apa kata orang? Nanti di pikir orang-orang aku menelantarkanmu lagi."
Kinara terkekeh, dia elus perutnya yang sedikit kram karena melakukan perjalan jauh.
"Habisnya aku bosan di rumah tanpa melakukan apa-apa."
"Seharusnya kamu sabar sehari saja, aku masih mengurus beberapa berkas dan baru mencari rumah kontrakan. Belum sempat membersihkannya."
"Kalau begitu biar aku bantu membersihkannya."
Pedro menggeleng, dia raih kedua jemari Kinara dan mengecupnya lembut.
"Aku carikan penginapan dulu buat kamu istirahat, ya. Biar aku yang membersihkannya saat semua urusan di rumah sakit selesai."
"Aku saja, Kak. Jadi nanti saat Kakak pulang, Kakak bisa langsung istirahat."
"Tapi kamu, kan lagi hamil Anjani. Aku nggak mau kamu kecapean dan berpengaruh pada janinnya nanti."
"Kan, ayahnya seorang dokter. Apa yang perlu ditakutkan?"
"Tapi aku bukan dokter kandungan," sahut Pedro terkekeh.
"Kita ke penginapan saja, ya."
Kinara menggeleng. "Ke kontrakan saja. Aku tau Kakak akan jadi dokter pribadinya Erlangga, tapi Kakak nggak perlu buang-buang uang segala."
Pedro hela napasnya, kalau sudah begini mana mungkin sang istri mau mengalah. Mau tak mau dia yang mengalah.
Pedro buka pintu berbahan jati rumah kontrakannya, setelah mengurus semua berkas. Akhirnya dia membawa sang istri ke rumah kontrakan yang tak jauh dari kediaman Erlangga.
Biar lebih praktis dan bisa sigap saat dibutuhkan. Pun, pasti istrinya akan sering minta ikut dia terapi nantinya.
Bening binar milik Kinara memperhatikan sekeliling, rumah dengan dua kamar yang terbilang biasa. Tidak terlalu kumuh pun mewah. Tapi suasananya menyenangkan karena masih memiliki perkarangan luas pun tak jauh dengan tetangga.
Saat tatapan matanya bertemu dengan iris cokelat suaminya, lelaki itu tersenyum mendekatinya.
"Maaf, ya. Rumahnya lebih kecil dari rumah kita yang dulu. Karena ini di ibu kota, harga rumah juga tidak ada yang murah."
Kinara tersenyum sendu, dia kalungkan kedua tangan di pundak Pedro.
"Tak masalah mau kecil atau besar, Kak. Yang terpenting saat ini aku bisa selalu tinggal di sisi Kakak."
Pedro rapikan anak rambut Kinara yang berantakan.
"Tunggulah di luar, aku akan bersihkan kamar untuk kamu istirahat."
"Kita bereskan bersama."
"Biar aku saja."
"Tapi—" Belum sempat Kinara mengatakan kalimatnya, ucapannya terhenti saat terasa guluman pada bibirnya.
"Energiku sudah kembali sekarang," kata Pedro sesaat setelah melepaskan ciumannya.
Kinara hanya terkekeh, dia kembali mengecup bibir Pedro sekilas.
"Tambahan energi untukmu."
"Keluarlah sebentar."
Wanita itu menurut, berjalan ke arah balkon dan mengempaskan tubuh pada kursi santai di luar. Menyandarkan pundaknya dengan nyaman.
Sesekali dia perhatikan gerakan Pedro yang membereskan seisi rumah. Lantas bibirnya melengkung dengan sangat lebar.
Saat Pedro ingin berjalan keluar, tak sengaja mata mereka kembali bertumbukkan. Dahi Pedro mengernyit tatkala dia mendapatkan tatapan dari istrinya.
"Ada apa?" tanya Pedro melanjutnya kegiatannya.
Kinara berjalan mendekati lelaki yang tengah membersihkan beberapa perlatan di luar.
"Kak."
"Hm?"
Sepasang tangan langsung memeluk badan bidang pemuda itu dari belakang.
"Syukurlah yang aku nikahi adalah lelaki sepertimu."
Kedua tangan yang melingkari perut Pedro mengerat "Aku bersyukur karena yang kunikahi itu kamu."