
"O ... hayo!" (Selamat pagi)
Nola membungkuk di hadapan Ferdi yang tengah berbaring santai di atas kursi pantai. Mata teduh yang berada di balik bingkai hitam itu memaling.
Bukan hanya menggoda dengan sikap, pun bahasa tubuh Nola memang sangat menarik. Bisa-bisanya gadis itu membungkuk saat hanya mengenakan tantop dengan leher rendah. Bahkan tanpa membungkuk saja, dia sudah memperlihatkan garis tengah.
Sementara, di sebelah Ferdi Ardan hanya terkekeh pelan, Ferdi memang lelaki yang sangat kuat dalam pendirian.
"Morning, Nola," sapa Ardan ramah.
Tak mendapat balasan dari Ferdi, gadis itu menjatuhkan badan di kursi yang sama dengan pemuda itu berbaring santai.
Bukannya senang, Ferdi malah memutar badan memunggungi sang gadis.
"Aku merajuk padamu, jangan dekati aku," kata Ferdi seraya menyilangkan tangannya di dada.
Sementara Ardan dan Evan hanya memperhatikan mereka berdua. Sebenarnya sedekat apa hubungan mereka berdua? Sampai gadis itu terlihat sangat akrab dengan pemuda berwajah tenang tersebut.
"Kenapa kau merajuk padaku? Memang aku melukan apa?"
"Menurutmu?"
Nola tertawa kecil, dia kibaskan rambut bergelombangnya menggunakan satu tangan.
"Baiklah, ayo kita bicarakan lagi. Mumpung moodku baik hari ini."
"Pertemukan aku dengan ayahmu!"
Mendengar itu Nola yang duduk di belakang Ferdi menempeli punggung lelaki itu, menumpuhkan sikunya di atas badan Ferdi yang tengah memiring, wajahnya dia dekatkan dengan wajah pemuda itu.
"Apa kau akan melamarku?" tanyanya antusias.
Satu jari Ferdi menyentuh dahi Nola, mendorong kepala gadis itu agar menjauh dari wajahnya.
"Aku tak selera dengan gadis genit sepertimu, terlebih dengan gadis yang pakaiannya selalu kurang bahan sepertimu."
Mendengar itu Nola memanyunkan bibirnya, bukannya menjauh. Gadis itu malah mendekap tubuh Ferdi dari belakang.
"Tapi aku suka sekali lelaki sepertimu, bagaimana, dong?"
Ardan terkekeh, benar-benar hebat pertahan sahabatnya itu. Namun, hati Nola jauh lebih kuat, dia bahkan tidak sakit hati saat mendengar penuturan kasar Ferdi.
"Nola, jangan terlalu menempel padaku. Nanti sifat agresifmu akan menular padaku!" ketus Ferdi menjauh dari Nola.
Bukan hanya risih, namun sebagai lelaki dewasa dia juga memiliki hasrat lelaki yang akan terpancing jika terus diberikan umpan.
Nola menyilangkan kedua tangannya saat tubuh Ferdi beranjak dari kursi pantainya.
"Ferdi, kau mmebuatku terlihat sangat menyedihkan. Kenapa kau terus menolakku?"
Ferdi hanya melirik, dia tak pernah menganggap rasa ketertarikan Nola padanya adalah keseriusan.
"Jika kau tak ingin bekerjasama dengan kami, maka kami juga takkan lebih lama lagi di sini."
Nola semakin mengerucutkan bibirnya.
"Mau atau tidak?" tanya Ferdi semakin mendesak.
"Baiklah, ayo ikut ke tokoku."
Seulas senyum terbit dari bibir Ardan, terkadang cinta memang mampu meluluh lantahkan segalanya. Termasuk logika dan angkuhnya pertahan diri yang tak ingin terlihat kalah.
...***...
"Nikmati waktu kalian di sini." Gadis itu menyampakkan tasnya di atas sofa saat dia memasuki ruangan pribadi.
Beberapa set perhiasan terpajang di sana, di dalam kaca-kaca yang melindungi keindahannya.
Mata Ardan langsung tertuju pada satu set perhiasan yang berada di dalam patung putih di ruangan. Memperhatikan satu persatu desain yang tersimpan di dalam kaca-kaca itu. Sangat indah, wajar saja Ferdi begitu yakin bahwa Nola akan mampu menembus pasar Asia.
Desain dari setiap perhiasan yang dia pajang sangat elegan, bahkan ada beberapa pasang yang memperlihatkan keanggunan dan kebangsawanan.
"Boleh aku melihat yang ini?" tanya Ardan pada Nola.
Nola mengangguk, lantas seorang karyawan mengeluarkan satu set perhiasan yang ditunjuk oleh Ardan.
Walau tak lama dia memimpin Ruby Jewelry dulu, namun sedikit banyaknya dia paham mana berlian yang berharga tinggi atau bukan.
"Menakjubkan," kata Ardan kagum.
Dia kembali menatap Nola, gadis di sana tampak tak acuh pada tamunya, dia memainkan ponsel dengan sesekali mengeluarkan balon dari dalam bibirnya.
Menyadari tatapan mata Ardan, Evan mendekati pria itu dan berbisik pelan.
"Dan, kita tidak bisa melepaskannya kali ini. Apapun caranya, kita harus berjabat tangan dengan Nola."
Ardan mengangguk paham, bagaimana bisa mereka melepaskan kesempatan berharga ini. Jelas sekali kalau semua bahan yang digunakan oleh Nola adalah bahan-bahan dengan harga yang fantastis dan itu hanya bisa dilakukan oleh satu-satunya putri tunggal dari pemilik tambang emas di pulau ini.
Lalu, tatapan dua lelaki itu mengarah ke arah Ferdi. Bagaimana bisa lelaki berwajah teduh itu menolak secara terang-terangan cinta seorang putri tunggal kolongmerat tersohor pulau ini?
Gila memang, Ferdi terlalu tak acuh pada keberuntungannya.
"Apa kau menyukai set perhiasan itu?" tanya Nola pada Ardan.
Lelaki yang ditanyain tersadar dan menjauhkan tangannya dari benda yang ada di depannya.
"Ya. Melihat ini aku jadi teringat istriku. Sangat indah dengan desain sederhana, namun tampak sangat istimewa."
Sudut bibir Nola tertarik, dia rentangkan kedua tangannya dan menumpuhkan di sandaran sofa.
"Ternyata kau punya selera yang bagus, Ardan."
"Terima kasih."
"Aku bisa mengirimkannya sebagai hadiah untuk istrimu. Aku suka lelaki yang setia."
Binar mata Ardan melebar, gadis itu mau menghadiahkan set perhiasan berharga puluhan atau bahkan ratusan juta seakan dia akan mengirimkan sebuah bingkisan buah saja.
"Nola, bukankah ini sangat sia-sia jika hanya kau pajang di toko saja? Aku benar-benar bisa membantumu memasuki pasar Asia. Ini menakjubkan!" kata Ardan berapi-api.
Kali ini lelaki bermulut tajam itu tidak hanya sekadar membual atau menggoda Nola saja. Namun, melihat hasil karya Nola, dia benar-benar yakin bahwa gadis itu mampu meraih impiannya.
Nola menghela napasnya, dia perhatikan tiga lelaki yang ada di sana.
"Ini tidak semudah yang kau katakan, Ardan. Ayahku tak setuju aku menjadi desainer perhiasaan. Aku tak bisa menjumpai kalian dengan ayahku karena hubungan kami tak baik."
Ardan mendekati gadis itu, dia terduduk di depan Nola. Menatap wajah itu lekat.
"Dengar, Nola! Aku juga seorang ayah yang memiliki putri. Mungkin cara ayah memang kejam dalam mendidik anaknya, tapi putri bagi seorang ayah adalah harta yang sangat berharga. Aku tak tau apa permasalahan kamu dan ayahmu, namun kami akan mendukungmu sekuat tenaga. Kita coba saja dulu, jika tidak, kita tidak akan pernah mengetahui hasilnya."
Gadis itu terlihat serius, tak seperti sebelumnya, kini keyakinan terlihat muncul di wajah manisnya.
Benar yang Ferdi katakan, bahwa gadis itu pasti akan memikirkan tentang tawaran mereka. Hanya saja dia tak mau terlihat ingin, berusaha untuk jual mahal agar lebih didesak oleh Ferdi.
"Bagaimana jika ayahku tetap tidak setuju?"
"Istriku pernah mengatakan, lebih baik kita menyesal setelah melakukan banyak hal, tapi gagal. Daripada kita menyesal karena tidak pernah melakukan apa-apa."
Senyum miring tercetak di bibir Nola, kali ini dengan gerakan bibir yang mengunyah. Gadis itu mengangkat satu tangannya, memanggil salah satu karyawannya.
"Ya, Nona?"
"Bungkuskan set perhiasan yang tadi dilihat Ardan dan kirimkan ke istrinya," kata Nola santai.
"Tunggu dulu! Aku rasa itu tak perlu," sahut Ardan menolak.
"Tak masalah, karena aku mulai menyukai istrimu." Sebelah mata Nola mengedip, benar-benar gayanya seperti gadis nakal.
Satu tangannya menarik tas yang sebelumnya berada di atas sofa. Badan langsingnya beranjak dan berkata.
"Ayo ikut aku pulang, kita akan bertemu ayahku."
Ardan dan Evan tersenyum, hati mereka bersorak senang. Sebelum membuka pintu Nola kembali menoleh ke arah Ferdi.
"Hei Mata Empat! Ayo lamar aku di depan ayahku." Nola mengedipkan sebelah matanya, senyuman indah terus terukir di wajahnya, lantas tubuh itu hilang di balik pintu.
Sementara yang digoda malah memutar bola mata malas, benar-benar risih melihat tingkah Nola.
Ardan hanya terkekeh, Ferdi terlalu banyak melewatkan hal berharga. Bagaimana bisa dia sama sekali tidak tertarik pada Nola yang memiliki segalanya?