For My Family

For My Family
35



Hazel memandangi wajah Ardan dengan lekat dan dalam. Sesaat pandangan mereka beradu, sampai akhirnya Hazel menundukannya.


"Tapi--"


Ardan mencium bibir Hazel lembut, mensesapnya perlahan lalu melepaskannya begitu saja.


"Tidurlah di sini, jangan kembali ke kamar anakmu. Saya tidak akan menganggu kamu."


"Tapi--"


"Saya tidak suka ditolak, Hazel," putus Ardan langsung.


Hazel melepaskan tangkupan tangan Ardan yang berada di kedua pipinya. Berjalan ke arah kasur dan tidur memunggungi Ardan.


Lelaki itu tersenyum lembut, padahal ia mau melapaskannya saja. Tetapi kenapa malah kembali menahannya?


***


Ferdi meletakan sebuah undangan ke atas meja Ardan. Sekilas lelaki itu melihat undangan berwarna maroon itu. Lalu ia kembali pada kegiatannya.


"Buang saja, itu acara tidak penting yang pernah ada setiap tahunnya."


"Yakin?" tanya Ferdi kembali.


"Hm."


"Tapi kali ini Rena Marlia yang akan mengisi sebagian acaranya, bukannya kita ingin menarik dia?"


"Tanpa acara itu kita juga bisa menarik dia," jawab Ardan cuek.


"Baiklah."


Seketika gerakan tangan Ardan di atas keyboard laptop terhenti. Ia melirik ke arah undangan itu.


"Tunggu dulu," tahan Ardan cepat.


"Kenapa?" tanya Ferdi bingung.


"Kita bisa gunakan acara ini untuk menarik mitra baru," ucap Ardan tersenyum sinis.


"Benarkah? Bukankah acara ini hanya dihadiri oleh pengusaha kelas bawah tiap tahunnya?"


"Kali ini seluruh pengusaha berbagai kelas akan hadir. Dan juga, Presdir utama perusahaan Erlangga tentunya."


"Caranya?" tanya Ferdi kembali.


"Hubungi penyelenggara acaranya, dan katakan, Ardan Erlangga akan datang bersama istrinya."


"Apa?" tanya Ferdi terkejut. "Ardan ini gila, Papamu pasti akan menyerang istrimu. Belum lagi keluargamu, mereka akan habis-habisan mengusir Hazel nanti. Pikirkan, Hazel akan mrnanggung imbas ini."


Ardan tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya.


"Lakukan saja, apa yang aku katakan!" perintahnya dingin.


"Ardan, aku tidak peduli jika hanya kamu yang bertarung. Tetapi Hazel, dia? Bagaimana akan menghadapi keluargamu?"


"Apa kamu meragukanku? Ferdi, aku mampu melindungi istriku." Ardan memutar kursi GMnya dan melihat Hazel yang sedang berada di kursinya melalui kaca ruangan.


"Dan lagi, dia--" Ardan tersenyum lembut. "Tidak selemah wanita yang ada di luar sana. Bahkan badai saja tak mampu menggoyangkan dirinya."


"Itu kalau dia memang mencintaimu, jangankan keluargamu, seluruh duniapun bisa dilawan. Ini masalahnya dia sama sekali tidak peduli padamu, Kawan. Jangan terlalu kepedean."


Ardan berdecak kesal dan bangkit dari kursinya.


"Lakukan saja apa yang aku katakan. Untuk saat ini, Presdir perusahaan Erlangga tidak akan bisa berbuat apapun, walaupun dia ingin, tetapi dia tidak akan mampu." Ardan kembali tersenyum dan memainkan kedua alis matanya. Dia bukanlah orang yang bertindak tanpa rancangan, apapun itu, ia pasti akan memikirkan hasilnya dulu baru jalannya.


Melihat senyum Ardan yang begitu menyeramkan membuat Ferdi bergidik ngerih. Temannya ini, adalah sesuatu yang sangat mengerihkan lisan dan hatinya. Siapa yang tahu, rencana busuk apa yang sedang terangkai dalam otaknya itu.


Setelah melakukan apa yang diucapkan Ardan, Ferdi menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Melihat teman yang masih sibuk pada laptopnya itu.


"Sekarang kamu mau apa?" tanya Ferdi kembali.


"Apa lagi? Ya berbelanjalah, tolong suruh istriku untuk ke parkiran mobil ya," perintah Ardan sembari bangkit dan menarik jasnya yang tergantung di belekang kursi. Berjalan meninggalkan Ferdi sendiri.


"Apa?" tanya Ferdi memandangi Ardan yang berjalan keluar ruangan.


Lelaki itu melepaskan kacamata tipisnya dan menggeleng pelan.


"Sebenarnya aku ini apa buatmu, ha? Direktur perusahaan atau asisten pribadi? Dia bahkan berjalan melewati istrinya, tetapi kenapa aku yang harus memanggilnya?" Ferdi menghela napas dan kembali menggeleng.


Walaupun kesal, ia hanya bisa mengikuti perintah Ardan. Berjalan menuju meja Hazel.


"Hazel," panggil lelaki itu lembut.


"Iya."


"Ikut saya keluar," ajak Ferdi langsung.


"Ke mana?"


"Sudah ikut saja!" Tarik Ferdi.


Hazel menarik tasnya, mengikuti langkah lelaki berkacamata itu yang terus menarik pergelangan tangannya keluar dari perusahaan.


Sementara, beberapa karyawan wanita di divisi itu mulai memandang Hazel sinis.


"Kemarin pak Ardan, sekarang pak Ferdi. Kenapa mbak Hazel selalu saja dikelilingi oleh lelaki tampan?" tanya Echa masih menatap ke arah pintu keluar perusahaan.


"Sudahlah, Echa. Kenapa selalu sibuk dengan urusan orang? Mau pak Ferdi atau pak Ardan, yang penting mereka menyanyangi mbak Hazel, itu sudah cukup," jawab Nara sedikit ketus.


Kali ini dia juga merasa iri pada Hazel. Bagaimana juga, ia menyukai lelaki berkacama tipis itu.


Bahkan jauh sebelum Ferdi menduduki jabatan Direktur perusahaan.


***


Hazel keluar dari kamar ganti dengan menurunkan sedikit ujung dressnya ke bawah. Dengan tampilan dress berwarna biru gelap yang hanya sepanjang paha, bagian bahu yang terbuka, memperlihatkan bahu putih mulus dan lekukan badan mungilnya.


Ardan menelan salivanya beberapa kali, terus terang walaupun ia sering jalan dengan banyak wanita. Mau itu yang tinggi semampai ataupun gadis sintal. Mulai yang cantik dengan polesan dan juga natural, wajah Asia ataupun yang setengah Eropa.


Tetapi tidak pernah ia merasa berhasrat saat melihatnya. Seperti ia yang harus bersusah payah menelan salivanya saat melihat wanita mungil di depannya ini.


"Pak, anda kenapa?" tanya Hazel saat melihat Ardan yang terus memandanginya dengan tajam.


"Apa kamu ingin mencari suami baru?" tanya Ardan dingin.


"Hah? Maksudnya?" tanya Hazel bingung.


"Kenapa pakai baju seksi sekali?" bentak Ardan ketus.


"Bukankah anda yang memilih baju-baju ini? Apa salah saya?" tanya Hazel polos.


"Salah kamu itu--" Ardan memandangi tubuh mungil itu kembali. 'Kenapa menggoda sekali?'


Ardan terdiam, benar memang dia yang memilih baju ini. Tetapi kenapa ia pula yang merasa tidak suka. Bukan tidak suka, lebih tepatnya takut jika ada lelaki yang memandangi tubuh wanitanya.


"Ah sudahlah," ucap Ardan sembari menutup ponselnya dan menyimpannya di saku celana.


Ia mengambil beberapa baju yang  diberikan pada Hazel. Memperhatikan satu persatu.


'Kenapa semua baju ini harus press body dan sependek ini?' tanyanya dalam hati.


Memang ia selama ini selalu memiliki pacar dengan tampilan dewasa dan juga modis. Ia terbiasa melihat wanita dengan busana kurang bahan seperti ini. Tanpa ia sadar, ia memilih baju yang sering ia lihat dipakai para wanita itu.


"Tunggu di sini, jangan keluar. Saya akan pilih yang lain."


"Memang ini kenapa?" tanya Hazel sembari menatap kaca di depannya.


"Itu terlalu terbuka, saya tidak suka. Ingat, jangan keluar, atau saya akan mengeluarkan biji mata setiap pria yang melihatmu pakai baju ini!" ancam Ardan bengis.


"Baik," jawab Hazel mengalah.


Ardan membawa baju-baju yang ia pilihkan tadi. Mencari dress lain yang mungkin akan cocok dengan tubuh mungil istrinya itu. Tetapi tidak dengan memperlihatkan bentuk tubuh dan kulit mulusnya.


Jika dia saja yang suaminya bisa sangat berhasrat, apalagi dengan mata lelaki yang lainnya nanti. Bisa meledak seluruh kota dibuat oleh kecemburuan Ardan.


Hazel menghela napasnya beberapa kali, peluh keringat mulai terlihat membanjiri pelipis matanya. Menunggu Ardan yang entah berapa lama lagi memilih baju di luar sana.


Hazel mengibaskan tangannya, mencoba menciptakan hawa dingin di dalam ruangan sempit ini.


Perlahan ia bangkit, melihat pantulan diri dari dalam kaca itu. Bibir mungilnya mulai tersenyum saat melihat bentuk badannya yang sama sekali tidak berubah dari enam tahun lalu. Mungkin sedikit lebih kurus, karena beban yang ia tanggung selama ini.


Perlahan Hazel meraih helaian rambut cokelatnya, mencoba membentuk gaya rambut yang cocok dengan dress yang ia kenakan ini.


Saat ia menyanggul rambut tinggi ke atas, Ardan masuk dengan beberapa drees di tangannya.


Melihat leher jenjang Hazel membuat salivanya kian berat terasa. Bagaimana juga ia lelaki normal dengan umur dewasa.


Bukan hal yang mudah menghadapi pemandangan seperti ini tepat di depan matanya.


"Pak," panggil Hazel saat melihat Ardan yang masih berdiri di belakangnya.


Hazel membalikan badannya, menyentuh lembut ujung tangan Ardan.


"Pak, anda kenapa?" tanya Hazel bingung.


Ardan meletakan baju-baju itu dan menutup pintu ruang ganti.


"Hazel, apa kamu sedang menggoda saya?" tanya Ardan sinis.


"Maksudnya?" tanya Hazel bingung.


"Saya ini masih sangat-sangat normal, Hazel. Apa kamu tidak percaya?" tanya Ardan menatap Hazel tajam.


"Hah?"


Ardan menarik pinggang Hazel, mendekapnya erat. Perlahan Ardan menundukan wajahnya, menyamai wajah istri yang hanya setinggi dadanya itu.


"Kamu, kenapa selalu membuat saya gila?" bisik Ardan di telinga Hazel.


Buruan napas Ardan terdengar sangat kencang, hangat napasnya lembut menerpa kulit bahu Hazel.


Perlahan, deguban jantung Hazel berdebar dengan sangat kencang. Merasakan hangat napas Ardan membuat badannya merinding.


Perlahan wajahnya memanas, kenapa Ardan bisa seperti ini tiba-tiba?


"Pak Ardan," panggil Hazel lembut.


Ardan menjatuhkan kepalanya di atas bahu, Hazel. Ia benar-benar lemas saat Hazel memanggil namanya.


"Jangan panggil nama saya, Hazel," ucap Ardan semakin pusing.


"Kenapa?"


"Saya sedang berusaha menyelamatkan kamu. Kenapa kamu tidak mengerti?" bentak Ardan ketus.


"Hah?" tanya Hazel semakin bingung.


Hazel mengambil kepala Ardan, menyentuh dahi lelaki yang sedang terpejam itu.


"Apa anda sakit?" tanyanya mulai cemas.


Hazel menarik badan Ardan dan mendudukannya di atas tumpukan baju.


"Pak Ardan, anda baik-baik saja. Coba buka mata," pinta Hazel lembut.


Ardan membuka matanya, ia langsung menarik tangan Hazel dan mendudukannya di atas pangkuan.


"Sudah saya katakan, jangan panggil nama saya. Tetapi sepertinya kamu menantang saya," ucap Ardan sinis.


"Pak Ardan, anda baik-baik saja?" tanya Hazel yang mulai paham dengan maksud Ardan.


Sementara Ardan terus menatapnya, kini tatapan mata itu terlihat begitu mengerihkan. Dada Ardan yang terus naik-turun dengan cepat semakin membuat Hazel takut.


Ia menarik tangannya yang digenggam oleh Ardan, bangkit dari atas pangkuan lelaki itu.


Ardan memeluk pinggang ramping Hazel sebelum wanita itu sempat berdiri.


"Kenapa buru-buru sekali? Sudah sadar apa yang kamu lakukan pada saya?" tanya Ardan sembari mengecup bahu bagian belakang Hazel.


Wanita itu memejamkan matanya, merasakan debaran jantung yang semakin kencang menendang dadanya.


"Pak Ardan, kita ini lagi di mana? Tolong jangan seperti ini dulu," ucap Hazel lembut.


"Memang kalau kita di rumah, boleh saya begini?" tanya Ardan menggoda.


Hazel menelan salivanya berat, ia memalingkan wajahnya, melihat Ardan yang berada di belakangnya. Perlahan ia tersenyum kaku, bingung harus berbuat apa.


Melihat senyum Hazel yang begitu kaku, semakin Ardan senang menggodanya.


Jari kekarnya mulai berjalan di atas bahu wanita itu. Membuat sekujur tubuh mungil itu merinding karena geli.


"Pak Ardan, berhenti!" tahan Hazel cepat.


Ardan tersenyum dan menghentikan tangannya, ia menyingkap helaian rambut Hazel yang masih berserakan beberapa helai.


"Setelah hari ini? Masih beranikah berpakaian seseksi ini lagi?" bisik Ardan lembut di telinga Hazel.


Hazel langsung menggelengkan kepalanya, ia membalikan badannya dan mencium bibir Ardan langsung.


Seketika mata pria itu melebar dengan besar. Saat pelukan tangan Ardan mulai mengendur, Hazel langsung berlari keluar dari ruang ganti.


Ardan terdiam. Mencerna gerakan Hazel yang sangat cepat membungkam dirinya. Detik kemudian ia tersadar, wanita itu sudah keluar dari dalam ruangan dengan pakaian seseksi itu.


"Hazel!" panggil Ardan lantang.


"Kembali kamu ke sini sebelum ada lelaki yang melihatmu begitu!" sambungnya berlari mengejar Hazel yang telah menghilang lebih dulu.


Ardan berlari lurus kedepan, sementara Hazel masih berdiri di sebelah ruang ganti. Wanita muda itu tersenyum saat melihat Ardan berlari mencarinya.


"Kenapa tingkah anda selalu aneh seperti itu, Pak. Anehnya lagi, saya tidak keberatan sama sekali."