
Sepasang mata tajam itu terus memerhatikan wajah kembarannya. Memakan sarapan dengan sesekali memijat pelipisnya. Pusing dan lelah.
"Minum ini, Fan." Ferla meletakan segelas susu ke hadapan sang suami. Arfan menarik napas, menarik gelas itu dan menenggak tandas sekali minum.
Tidak terlalu suka, tetapi Ferla sering memaksa jika keadaannya mulai down seperti ini.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ardan dan sang kembaran menoleh. Mengangguk pelan.
"Kenapa wajahmu pucat sekali, kau sakit?"
"Hem, tidak. Hanya anemia karena akhir-akhir ini aku insomnia."
"Apa ... perusahaan baik-baik saja?"
Arfan meneguk salivanya, sekilas ia tersenyum tipis, lantas mengangguk pelan.
"Ya. Biasa hanya masalah perpanjangan kontrak dengan mitra saja." Arfan tersenyum kaku, memainkan gelas kosong di genggaman.
"Lalu, kenapa kau dan Arfi bertengkar?"
"Bertengkar?" tanya Arfan. "Siapa yang bertengkar, kau seperti tidak kenal si bungsu saja. Dia kan, memang selalu sesukanya begitu."
Ardan mengangguk pelan. "Kau yakin?" Tatapan mata elang itu menajam. Arfan memaling, bahaya jika terlalu lama berbincang dengan Ardan. Lelaki itu sangat lihai dalam menginterogasi seseorang.
"Memang apa yang bisa terjadi?" Bariton suara tua itu terdengar dari ujung anak tangga.
Arfan menarik napas, bangkit dan berjalan ke arah Ferla. Mengecup dahi istrinya, lantas berbisik pelan.
"Hindari Ardan, kamu tau selihai apa dia mengorek informasi." Arfan menarik kepalanya dan mengangguk pelan.
Dibalas sebuah senyum tipis oleh sang istri.
"Memang apa yang bisa terjadi jika Papa ada di kantor?" tanya Gerald berjalan medekati Ardan.
Lelaki dengan alis tebal itu hanya mengangguk, malas. Memakan roti isi di dalam piringnya.
"Ya, ya. Terserah Pak Presdir saja," kata Ardan malas. Detik selanjutnya dia menatap Arfan.
"Tapi hari ini aku ingin main ke perusahaan," sambung Ardan.
Seketika wajah Gerald memucat, ia melirik Arfan dan sang anak hanya mengendikkan bahu. Membuat Ardan semakin menaruh curiga pada gerak gerik keduanya.
"Terserahmu saja," jawab Gerald seraya berjalan ke arah pintu, diikuti oleh sang putra.
Ardan mendesis geram. "Ck, buat kesal saja. Sebenarnya mereka kenapa?" desis Ardan geram sendiri.
***
Lelaki berbadan tegap itu membakar sebatang rokok. Meyendiri duduk di taman depan. Perasaannya tidak tenang, sekuat apa dia berusaha baik-baik saja, tetap saja ada rasa yang mengganjal di dalam dada.
Entah apa? Ia pun bingung melampiaskannya, seharian uring-uringan tidak jelas begini.
Ardan menjatuhkan batangan putih yang baru dua kali dihisapnya. Menginjak kuat, kesal, geram dan entah. Bingung menghadapi situasi yang seperti ini. Tidak bisa bergerak, tidak peduli juga tak mampu.
Tangan kekar itu mengacak rambut kesal, bersamaan dengan mobil sang adik yang memasuki perkarangan.
Tubuh tegap itu keluar dari mobil dengan menerima panggilan. Ardan Melirik jam di pergelangan tangan, sudah selarut ini dan Arfan baru kembali. Bahkan saat kembali pun dia masih sibuk sendiri.
"Baiklah, jika kalian ingin mengasingkan aku. Kita lihat, seberapa lama kalian mampu bersembunyi dari aku," kata Ardan memalingkan wajah dari Arfan yang ada di teras rumah.
Sementara lelaki berkulit putih itu masih beradu sengit di telepon. Mencoba meyakinkan seseorang di seberang sana. Nyatanya, malah berakhir dengan pemutusan panggilan sepihak.
Arfan kesal, ingin meremat ponsel itu geram. Mengapa susah sekali meyakinkan orang-orang ini? Semakin lama keadaan perusahaan semakin terdesak. Dan si bungsu itu bahkan tidak peduli sama sekali.
Arfan mengendurkan dasinya kasar, membuka pintu rumah Gerald. Langkahnya terhenti saat melihat Hazel dan Aulia berada di ruang tengah. Bermain bersama putrinya, sesekali tawa Aulia pecah melihat ulah para bocah itu.
Lalu, tak lama sang istri juga ikut bergabung, memberikan putri Ardan kembali ke ibunya. Tampak akrab dan terlihat hangat layaknya sebuah keluarga.
Seulas senyum terbentuk di wajah yang tengah lelah itu. Dia menarik napas, mengedarkan pandangan mencari keberadaan sang kakak.
Perlahan ia mendekat, menjatuhkan badan di sebelah Ardan yang sibuk mengotak atik ponselnya.
Sejenak suasana hening, hanya desiran angin yang menyapa di antara keduanya. Arfan menarik kotak rokok di sebelah Ardan, mulai membakar dan menyesap perlahan. Perasaannya mulai tenang, tak sekacau sebelumnya. Setelah berapa lama menghilang, kini perasaan itu mulai berdatangan.
"Bagaimana hubunganmu dan Ferla?" tanya Ardan membuka suara.
"Lebih baik," jawabnya singkat. "Terima kasih."
Ardan menoleh, menatap wajah Arfan lekat. "Ada yang ingin kutanyakan padamu, Fan. Bisakah jujur padaku kali ini?"
Lelaki itu menelan saliva, sedikit gelisah ditatapi oleh Ardan. Bagaimana jika lelaki itu mulai mengorek segala permasalahannya?
"Apa?" tanya Arfan ragu.
"Sebenarnya, bagaimana hubunganmu dengan Nana?"
"Nana?" tanya Arfan bingung. Sejenak dia mengingat nama itu.
"Oh, dia sekretarisku di kantormu dulu?"
"Bohong! Jelas-jelas aku melihatmu berada di kamar yang sama hari itu."
Arfan tersenyum lembut dan menggeleng pelan.
"Tidak ada yang terjadi di antara kami, Dan. Nana memang suka mendekatiku, aku hanya memanfaatkan dia untuk memata-mataimu dan Ferdi."
"Hm, emang siapa yang akan percaya? Melihat bagaimana panasnya kau saat dia kugoda."
Arfan menjatuhkan rokoknya dan tertawa geli.
"Kau salah paham. Yang membuatku panas bukan karena Nana digoda, tapi melihat sifat penggodamu yang tak tau malu itu. Di depan Papa dan jajaran peserta rapat, kau memperlihatkan sikap burukmu."
"Benarkah?" tanya Ardan tak percaya, dia menyilangkan kedua tangan di depan dada. Mengintimidasi lewat tatapan mata.
Arfan yang mengetahui arti tatapan itu hanya terkekeh. Menggelengkan kepalanya, tidak takut sama sekali. Karena dari awal memang dia tidak bersalah.
"Dari awal aku menjabat di sana. Memang ada beberapa gadis yang mendekati, salah satunya Nana. Tapi kau tau bagaimana aku mencintai Ferla selama ini? Apa kau pikir aku akan tergoda?"
"Lalu berdua di kamar itu buat apa?" tanya Ardan ketus.
"Sore itu Nana datang seperti hari sebelumnya, kalau biasa aku tidak menerima dia. Kali itu aku tidak bisa karena dia sudah menjadi mata-mataku. Tapi, aku berani bersumpah bahwa aku tidak pernah selingkuh seperti gosip yang disebarkan Nana."
"Kau tau gosip itu?"
"Ya."
"Lalu, kenapa kau tidak mengklarifikasinya?"
Arfan tersenyum, "buat apa? Asalkan Ferla tak terpengaruh, apa pun itu aku tak peduli. Lagian jika dia tidak mendapatkan apa yang diinginkan, mana mau dia memata-mataimu," kata Arfan menoleh ke arah Ardan.
Sang Kakak malah tersenyum getir, "sialan anak ini." Satu tangan Ardan menepuk kepala belakang sang adik.
Keduanya terkekeh, geli sendiri. Setelah bertahun-tahun, ini pertama kalinya dia dan Arfan bisa duduk bersama dan kembali bercanda. Rasanya ... rindu.
Ardan menatapi wajah adiknya lamat, ingin memeluknya tetapi masih terlalu ego. Lelaki itu menarik napas dan memilih bangkit.
"Istirahatlah lebih awal, aku masuk dulu." Ardan menghirup udara dengan sedikit sesak, menahan bulir yang ingin tumpah.
Bahagia, tetap saja canggung untuk meluapkannya. Sementara, Arfan masih menatapi punggung tegap itu. Baru akan melangkah, ia memanggil lelaki itu lagi.
"Dan," panggilnya lembut. Ardan berhenti, tetapi tak menoleh.
"Kau selalu berkata, bahwa saat raga yang pergi, sejauh apa dia menjauh masih bisa memintanya pulang saat rindu. Namun, jika kehangatannya yang pergi, entah bagaimana cara untuk menjemputnya pulang." Arfan tersenyum tipis.
"Dan satu-satunya orang yang tau cara menjemput segala rasa yang telah menghilang itu kembali pulang," kata Arfan seraya menatapi punggung berbalut kaus marun. "Itu kau ... Kak."
Ardan menggulum bibirnya, tersenyum lega dengan mata yang semakin memburam karena kaca-kaca air mata.
Arfan bangkit dan menghampiri Ardan, tersenyum kecut saat mata elang itu menatapnya. Sempat terdiam beberapa saat, lalu kedua tangan kekarnya merengkuh.
Mendekap hangat, seakan selama ini mereka berpisah sangat jauh. Perasaa rindu yang selama ini menyesakkan kalbu, kini menemukan tempat untuk berlabuh.
"Aku pulang, Kak."