
Sehangat sinar mentari menyapa. Memperdengarkan kicauan burung yang riang karena bau basah hujan kemarin masih sangat menyejukkan dada.
Lelaki berkacamata itu menarik napasnya. Memerhatikan gadis yang tengah termenung di halte busway.
Sepertinya, memang hanya itu satu-satunya tempat untuk dia berdiam.
Lama, gadis itu tidak lagi ceria. Jerit dan juga segala tingkah konyolnya menghilang. Butuh waktu memang untuk mengembalikan dia ke keadaan awal. Lelaki itu hanya berharap, bahwa kedepannya dia menemukan lelaki yang sepadan dan mencintai gadis itu setulus hati.
Perlahan lelaki itu menghidupkan mesin mobil. Menjalankan untuk menjauh dari halte busway.
Walau ada prasangka untuk tetap berdiam di sana. Namun, logika membenarkan segala sikap tak acuhnya.
Benar kata Ardan, bahwa cinta itu tidak rumit sebenarnya. Hanya manusianya saja yang terlalu sulit untuk mengakui segalanya. Bersembunyi di balik hal yang sebenarnya tidak ada dan tidak perlu diungkapkan hanya untuk sebuah tameng kebenaran.
Langkah lelaki itu tegap memasuki gedung. Terhenti saat melihat Nigar tertawa, bercanda bersama Kinara dan Echa.
Lelaki itu menghela napas, baru tersadar bahwa ia melupakan Nigar dan juga niatnya. Pikirannya terpatri pada satu nama, Arsy dan perlahan memudar, berubah menjadi Sasy.
"Woy, bengong aja di depan pintu. Pantes kamu bujang selalu, hobinya termenung di depan pintu, sih." Rangkul Ardan dan berjalan beriringan seraya memasuki gedung.
Lelaki berkacamata itu memijat pangkal hidungnya. Nyeri, entah apa yang memenuhi ruang kepalanya beberapa hari ini.
"Kau kenapa?" tanya Ardan menyadari sikap sahabatnya itu.
"Hanya sakit kepala. Kamu keruanganku, ada beberapa data kontrak kerja sama yang harus kamu periksa." Ferdi menumbuk dada bidang itu pelan. Langkahnya berjalan duluan menuju ruangan.
Bingung dengan sebuah perasaan. Mengapa hasratnya akan sebuah pernikahan dengan Nigar semakin memudar. Bahkan doa-doa itu tidak lagi ia panjatkan untuk mengukir nama di lauhul mahfuz bersama.
Doa itu malah terucap untuk dia. Semoga jalan yang membawa belia itu pergi, tidak mengurungnya dalam lembah siksaan abadi. Tulus ia memanjatkan doa sepenuh hati, bagaimana juga yang terpatri tidak akan pernah terganti.
Masih tersimpan di sudut hati, tidak akan terusik. Meski penghuni baru telah menempati sebagian relung hati yang lainnya.
Lelaki itu membuka laptopnya, hamparan luas pohon bunga bernuansa merah muda pudar itu menjadi desktopnya.
Ferdi mendesah pelan, kenapa kian lama pahitnya kian terasa? Awalnya dia baik-baik saja, atau memang tidak ada kata baik-baik saja. Karena hati yang patah, pasti akan menciptakan luka yang amat parah.
Perlahan mata teduh itu menutup, menyandarkan kepala pada kursi. Dia rindu, dan setiap kali rasa itu mengabu, senandung pilu akan ia putar untuk membuat segalanya lebih menyakitkan kalbu.
Langit begitu gelap,
Hujan tak juga reda,
Kuharus menyaksikan,
Cintaku terenggutkan,
Tak terselamatkan.
Ingin kuulang hari,
Ingin kuperbaiki,
Kau sangat kubutuhkan,
Beraninya kau pergi,
Dan tak kembali.
Bait demi bait lagu Tanpa Kekasihku membawa angannya menjauh. Bahkan derit suara pintu terbuka pun tidak ia sadari.
Ardan menghela napas, langkahnya menghampiri. Satu tangannya menepuk bahu Ferdi. Lantas ia menutup laptop sang teman, agar senandung yang Agnes nyanyikan tidak lagi menyakitkan.
"Berhentilah begini, Ferdi!" bentak Ardan kesal.
Lelaki itu membuka matanya, ia mendesis. Lalu tangan mengeluarkan beberapa berkas.
"Periksa itu! Dan jangan ganggu aku!" perintahnya datar.
Ardan menghela napas, mengambil berkas kontrak, lantas membukanya.
Kadang ia bertanya, bagaimana bisa pengendalian Ferdi sangat bagus. Lelaki itu masih fokus pada pekerjaannya, saat suasana hatinya kacau tidak karuan.
"Ferdi."
Iris di balik lensa itu menoleh.
"Kumohon jangan begini. Berhentilah mencintai Arsy, ini untuk kebaikanmu," ucap Ardan lembut.
"Jika aku memintamu untuk berhenti mencintai Hazel, bagaimana?"
Ardan mengusap wajahnya. "Tapi keadaannya berbeda, Kawan!" tekan Ardan sedikit geram.
"Hazel masih di sini! Hazel istriku, dia dapat kupeluk, kurengkuh, kucium dan masih bisa kuapakan saja!" tekan Ardan sedikit berteriak.
"Tetapi adikku, tidak! Sadarlah Arsy tidak di sini. Dan sampai kapan kamu terus begini? Berjalanlah dan lupakanlah dia!"
"Aku tidak mau!"
"Ferdi!" bentak Ardan geram.
Lelaki itu berdiri dan berhadapan wajah dengan Ardan.
"Ardan, kau tidak berhak atas hatiku. Kau tidak berhak atas cintaku. Terserah aku mau mencintai siapa. Itu hakku dan itu keinginanku." Ferdi menatap tajam wajah Ardan.
Lelaki berkulit sawo matang itu hanya diam.
"Arsy adikmu. Kau mau melarang dia, itu hakmu. Tapi cintaku padanya, adalah milikku. Terserah aku mau sampai kapan memilikinya." Ferdi mengendurkan dasinya, ia berjalan meninggalkan Ardan di sana. Tegap langkah itu menuju ke arah pintu.
"Dan cintamu itu pula yang terus menghukum jiwaku untuk tetap bersalah," lirih Ardan getir.
"Pendar harapan yang tidak pernah tergapai itu, yang membuat penyesalanku kian bertambah, merambat, terombang-ambing tanpa pelabuhan temu. Ada derita dibalik bahagia, dan ada luka yang tersemat di balik tawa. Kau tidak pernah tau, sebesar apa penyesalanku terhadapmu."
Tangan yang meraih kenop pintu itu terlepas. Ia membalikkan badan, melihat Ardan yang terdiam dengan seraut wajah kegetiran yang kembali ia perlihatkan. Kacau.
"Ardan--"
"Aku terluka, Ferdi. Sorot matamu yang selalu dilapisi oleh luka dan kecewa. Aku selalu melihatnya. Tawamu yang berlapiskan air mata, aku selalu menyadarinya. Dan hatimu yang selalu patah akan sebuah cinta yang tidak lagi ada. Aku menyesalinya. Beban ini, tidak bisakah kita lepaskan bersama?"
Bening bulir itu kembali menyapa, Ardan bukan lelaki lemah. Tangguh dengan segala kearoganan yang dia miliki. Hanya Arsy yang mampu membuat lara itu menyapa wajah garangnya.
"Ardan--"
"Bertahun-tahun, Ferdi. Apa kau pikir aku sanggup menatap matamu?" Ardan menggeleng.
"Apa kau pikir aku sanggup menyentuh perasaanmu? Apa kau pikir aku sanggup menatap wajahmu? Bertahun-tahun rasa bersalahku padamu semakin besar, melihat kau yang tidak pernah mau membuka hati, bertahan bersama kepingan hati yang telah pergi. Bertahun-tahun, aku bahkan tidak tau bagaimana cara menebus segalanya padamu."
"Ardan, aku tidak pernah menyalahkanmu. Ini semua takdir Tuhan."
Ardan menggeleng. "Jangan bodohi aku dengan perkataan itu. Karena Arsylah yang memutuskan takdirnya sendiri."
Tidak ada yang mau bencana ini terjadi. Ferdi tahu persis apa yang membuat Ardan menyesali segalanya. Si Sulung yang sok tegar itu, selalu menempatkan dirinya sebagai pundak atas segala permasalahan adik-adiknya.
Ardan tersenyum sinis, satu tangannya menyeka wajah. Ia berjalan mendekati Ferdi.
"Kau bahkan tidak sanggup, bukan? Katakan harus bagaimana aku memohon maaf padamu? Jika aku bisa, aku akan menghidupkan Arsy lagi. Tapi aku tidak berdaya. Ferdi, bisakah kamu tidak menghukumku lagi? Akan kupisahkan Arfi dan Nigar. Jika kamu memang mencintainya, tetapi yakinkah hatimu benar-benar mencintainya? Atau hanya kagum semata?"
Iris itu menatap Ardan lamat.
"Ardan tidak perlu begini. Aku baik-baik saja."
Ardan tersenyum sinis, ia menggeleng pelan.
"Katakan bagaimana aku harus menebusnya? Setelah itu, bebaskan aku dari segala penyesalan ini, Ferdi. Kumohon, aku pun tidak ingin akhir yang begini."
"Ardan, percayalah aku juga tidak pernah menyalahkanmu. Aku hanya mencintai Arsy."
"Tapi dia telah pergi! Katakan padaku, bagaimana kamu akan melepaskan Arsy? Agar bebanku juga lepas bersamanya? Kau ingin Nigar?" tanya Ardan datar.
"Akan kubuat Arfi menyerah, apa pun caranya." Lelaki berkulit sawo matang itu keluar dengan membawa map yang ada di tangannya.
Ia geram, tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Semakin hari dia semakin merasa berdosa. Akan segala keluhan Arsy dan juga, pikiran bahwa masa depan Arsy masih panjang. Tidak pernah mendukung rasa Ferdi atau pun Arsy. Karena menurutnya, itu hanya cinta sesaat. Nyatanya itu adalah keabadian yang sejati. Rasa itu tidak pernah pergi, meski raga tidak mampu termiliki.
Ferdi terdiam, bingung harus bersikap bagaimana. Dia tidak pernah menyalahkan Ardan. Karena dia pun sadar, bagaimana Ardan sangat menyanyangi adik-adiknya.
Lalu Nigar? Benarkah dia mencintainya? Entahlah. Mengapa urusan cintanya semakin pelik saja.
***
Nigar membuka pintu rumah milik Ardan. Lelaki berkaus ketat itu tengah asyik duduk di sofa dengan tangan yang sibuk pada keyboard laptopnya.
Nigar berjalan perlahan, menghampiri dan menjatuhkan diri di sebelah Arfi.
Lelaki itu melirik, bibirnya tersenyum tipis. Tahu jika niat gadis itu mendekati pasti karena batu biru tersebut.
Sedetik, lima detik, sepuluh detik gadis itu hanya diam. Ia menggulum bibirnya, lantas mata mengintip ke layar laptop yang membuat pandangan Arfi terfokus ke sana.
"Arfi."
"Hem," jawab Arfi masih fokus pada laptopnya.
"Dua puluh juta, deh, ya. Ini udah mahal banget, loh," bujuknya lagi.
Arfi hanya tersenyum, tangannya terus mengetik dengan cepat.
"Lagian harga batu safir, kan, gak terlalu mahal. Arfi juga udah banyak uang. Kenapa gak mau kasih, sih?"
"Kamu mau tahu harganya berapa?" Arfi hanya merentangkan lima jarinya, tetapi pandangan masih fokus pada laptopnya.
Gadis itu menyeringai, satu tangan memilin ujung hijab.
"Dua puluh lima, deh. Ntar aku pinjam uang sama ayah, ya, oke? Oke dong!"
Arfi tersenyum, kedua sikunya tertumpuh pada paha. Lantas kepala itu menoleh, ia menatap lamat wajah Nigar.
Gadis itu merentangakan kedua telapak tangannya, menyatukan dan meletakan di bawah dagu. Lalu kepalanya mengangguk-angguk.
"Sudah kukatakan! Aku tidak butuh uang." Arfi menggulum bibirnya, membasahi bingkai tipis itu.
Bibirnya terkembang lebar, satu jari mengetuk bibirnya.
Gadis itu mendesis, "Arfi jangan gitu, dong. Gak boleh ih, masa barang begitu mintanya dengan cara cium-cium."
Pria itu menggulum bibirnya. "Aku tidak meminta kamu menyesapnya, lum*t atau gulatan hangat. Hanya kecupan, sekadar kecupan beberapa detik." Sebelah mata lelaki itu mengedip, nakal.
Semburat kemerahan di wajah Nigar tercetak. Kedua tangannya disilangkan di dada, dan gadis itu membuang wajah.
"Tidak akan!"
Pria itu terkekeh, lucu dan dia sangat rindu akan segala tingkah Nigar yang seperti ini. Sampai Ardan lewat di depan mereka.
"Arfi, ikut aku!" Datar perintah itu ia berikan.
Si bungsu itu hanya mengikuti sang Kakak, menutup laptopnya dan menemui Ardan di kamarnya.
Lelaki itu menyampak jas di atas kasur, merenggangkan dasi lantas menggulung lengan kemejanya.
Tanpa basa-basi dia mengatakan. "Aku mau kau lepaskan Nigar."
Lelaki berambut pirang itu kaget.
"Maksudnya?"
"Apa kurang jelas? Aku mau kau melepaskan Nigar!" Nada itu menekan, dan tidak ingin bantahan.
Arfi tersenyum sinis. "Apa kau waras?"
"Tidak! Aku mulai tidak waras! Aku geram melihat kalian bertiga, tidak bisakah kau lepaskan Nigar! Kau bisa mencari wanita yang lainnya, banyak yang memujamu dan seperti biasa, bukannya kau juga menyukai mereka."
"Kau tidak waras, Ardan! Urusan kami biar menjadi urusan kami. Tidak ada urusannya denganmu!"
"Sekarang jadi urusanku karena aku ingin ikut campur. Aku bosan melihat kalian bertiga yang tidak kunjung usai. Lepaskan dia!"
"Tidak akan! Jika ada yang menyerah, itu Kak Ferdi! Bukan aku!"
"Kenapa kau sangat keras kepala?!"
"Kenapa kau harus ikut campur?" bentak Arfi dan itu membuat Ardan terdiam.
Lelaki itu menggeleng dan tersenyum sinis.
"Sekali lagi kukatakan! Jika ada yang menyerah itu Kak Ferdi dan bukan aku! Bukan aku!" tekan Arfi.
"Dan kau Ardan! Urus keluargamu sebelum kau mengurus hatiku!"
Lelaki itu menutup pintu kamar Ardan dengan membanting kasar. Langkahnya sedikit berlari, dan menyambar laptop di atas meja.
"Arfi ada apa?" tanya Nigar saat menyadari wajah Arfi yang memadam, merah.
Lelaki itu tidak menjawab, langsung melengos meninggalkan ruang tamu rumah Ardan.
Gadis itu kebingungan, lalu kepalanya menoleh ke arah lantai dua. Di sana lelaki berkemeja putih itu menatap tajam dengan tumpuhan tangan pada pagar.
Dadanya naik turun dengan cepat. Kembang kempis menahan amarah dan gundah.
Bingung dan kacau, ingin melepaskan penyesalan yang tak kunjung usai. Namun, dia harus melukai hati adik yang lainnya.
Tidak ada yang lerai, semuanya semakin terbelit tak menemukan jalan keluar. Emosinya kembali menyakiti, dan cara melindungi, harus dengan menanam benci.