
Ardan membuka pintu rumahnya, matanya langsung tertuju pada wanita yang tengah asyik menonton film seraya memakan camilan.
Seru, dengan mata yang menatap lekat, namun, mulut tak berhenti mengunyah. Bahkan berat badannya terus naik dengan pesat. Dan sayangnya, dia tidak peduli dengan itu.
Lelaki itu hanya tersenyum, meletakan sebuah kantungan di depan meja.
Hazel memandang Ardan, tangannya yang sedang memasukan camilan terhenti seketika.
"Apa itu, Mas?"
"Camilan, bukannya kamu doyan makan?"
Seketika bibir mungil itu mengerucut, memasukan makanan dengan kesal ke dalam mulut.
Lagi, tingkahnya membuat Ardan tersenyum. Ia menjatuhkan badan di sebelah Hazel. Kedua tangannya langsung mendekap badan mungil yang kini sudah membengkak itu. Bulat, semakin tembam dan juga putih.
Lama, lelaki itu hanya berdiam. Memeluk sangat erat dengan napas yang beberapa kali terhela panjang.
Sebuah ciuman mendarat di pipi putih istrinya. Lembut awalnya, lalu menjadi geram sendiri.
"Mas!" bentak Hazel kesal. Ia melepaskan dekapan itu secara paksa.
Ardan hanya menyeringai lebar, lucu saat raut wajah putih itu memerah padam karena kesal.
"Dasar gila! Tidak waras!" teriak Hazel kesal.
Ardan hanya terkekeh, Hazel menyunggingkan bibirnya sebelah. Kembali asyik pada acara yang tersaji di dalam televisi.
"Kita sudah lama gak dinner, kan?"
Hazel hanya melirik, tangannya masih sibuk memasukan makanan ke dalam bibir mungilnya.
"Dinner di luar yuk! Kamu pingin makan apa?" tanya Ardan lembut.
Seketika mulut mungil itu berhenti mengunyah, ia memutar bola mata dengan cepat.
"Mas, makan bakso, ya. Yang pedes, yang kuahnya seger, ditambah ayam sama sawi. Duh ... enak, Mas."
Ardan menaikan sebelah alis matanya, mungkin memang benar. Jika wanita hamil selalu berubah-ubah moodynya, sesuai dengan keinginan hatinya.
"Boleh," jawab Ardan lesu. Kadang dia bertanya, mengapa selera Hazel begitu berbeda.
Cepat langlah kecil itu berlari, menaiki anak tangga rumahnya. Lelaki bermata elang itu tertawa, melihat tingkah istrinya yang terkadang membuatnya gemas sendiri.
Ardan mengambil remot televisinya, mencari siaran berita. Tak perlu menunggu lama, acara pemberitaan tentang kecelakaan itu terputar.
Korban jiwa yang lumayan banyak, ada puluhan orang yang kehilangannya nyawanya. Tak habis pikir, bagaiamana jika ia mengikuti egonya tadi pagi.
Firasat buruk Hazel ada benarnya, dan dia menyesali mengapa sampai harus membentak wanita itu tadi pagi. Untunglah saat ini gadis itu kembali ceria. Jika tidak, mungkin memarahinya adalah hal yang sangat ia rutukki.
Ardan menjatuhkan kepalanya di atas sandaran sofa. Menatap langit-langit rumahnya.
Ada beberapa hal yang menjadi misteri di dunia ini. Salah satunya wanita. Makhluk yang sering dikatakan lemah, namun, bisa menjadi sangat kuat di saat tertentu. Sangat sulit dibohongi dan memiliki intuisi yang sangat tajam. Bukankah itu misteri yang menakjubkan?
***
Ardan menghentikan suapannya saat ponselnya berdering, ia berjalan keluar saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Seperti kota pada umumnya, malam Kamis seperti ini akan menjadi sangat ramai. Apalagi jajanan pinggir jalan seperti bakso dan siomay. Sangat padat diisi oleh kaum muda-mudi dan juga kalangan remaja.
Beberapa kali mata elang itu menangkap mata wanita yang berbisik seraya memandang ke arahnya. Bukan pede, bagi Ardan memperhatikan gelagat wanita adalah keahliannya.
Jika dulu dia senang, kini dia risih. Mungkin benar kata sebagian orang. Saat lelaki pernah nakal saat muda, maka akan sangat setia ketika sudah berumah tangga. Tak semuanya, tetapi ada.
Setelah memutuskan panggilan, lelaki itu segera kembali ke dalam. Melihat istri yang masih asyik dengan makanannya. Entah kenapa? Selera makan dia terus meningkat saat kehamilan terus membesar.
"Siapa, Mas?" tanya Hazel saat lelaki itu kembali duduk di sisinya.
"Arfi."
"Tumben dia nelpon?"
"Iya, aku suruh dia ke sini weekend nanti. Dan ... dia gak bisa."
"Em, masih masalah perusahaan?"
Ardan menghela napas, ia mulai muak saat dipandangi seperti ini. Tak leluasa, bahkan selera makan juga ikut berubah.
Bergaya santai dengan menggunakan kaus ketat yang membentuk badan. Rambut yang tak terisisr rapi dan kacamata hitam menyelip di sela kaus. Malah menambah pesona kekerenan lelaki berumur 33 tahun itu.
"Tidak. Aku menyuruhnya untuk membawa mobil ke sini. Ferdi gak izini aku kembali ke ibukota."
Hazel tersenyum, ia memainkam sedotan yang ada di jari tangan.
"Kenapa ketawa?" tanya Ardan bingung.
"Kalau Ferdi yang melarang, kamu turuti. Kalau aku? Hemm? Jangan-jangan kalian ada main, ya?"
"Maaf, untuk hal yang tadi pagi. Tak seharusnya aku membentakmu."
Hazel meletakan gelas yang sedari tadi ia genggam. Menatap ke arah Ardan dan mengangguk pelan.
"Aku bukan ingin mengekangmu, Mas. Hanya takut kehilanganmu. Takut menjadi sendiri lagi, aku takut menjadi janda lagi. Aku takut berada di posisi itu lagi, karena di sana banyak luka, banyak duka. Aku takut, tak sanggup jika harus mengulangi lagi."
"Aku tahu," jawab Ardan lembut. "Cepat habiskan makananmu, aku tak nyaman di sini. Dilihati terus."
Hazel memalingkan matanya, melihat ke arah sekeliling. Padat dan juga ramai, bahkan ia tak sadar jika di depan mereka ada beberapa kelompok cewek yang selalu mencuri pandang ke arah mereka.
"Hem, dasar narsis!" jawab Hazel jutek.
Hazel mengendikan bahunya, kembali memakan bakso yang ada di depan. Acuh dan tak terlalu peduli.
Melihat sikap Hazel, Ardan menaikan sebelah alis matanya, bingung sendiri. Ia bahkan seperti tak peduli sama sekali.
"Hazel."
"Hem."
"Kamu gak cemburu?" tanya Ardan bingung
"Enggak!"
"Kenapa?" tanya Ardan tak suka.
"Kamu itu penggoda, Mas. Kalau kamu mau, kamu bisa mendapatkan yang mana juga. Kenapa aku harus cemburu?"
"Tapi aku ini suamimu, Hazel."
"Memang Mas suami aku."
"Memang kamu gak takut aku diambil orang lain?"
"Mas itu bukan barang yang bisa diambil sembarangan. Mas itu manusia yang sudah dewasa dan memiliki pikiran. Gak akan ada yang akan mengambil Mas, jika bukan Mas sendiri yang menyerahkan."
"Seperti itu?" tanya Ardan sedikit tersenyum.
"Hem."
"Memang kamu gak takut sama sekali gitu?" tanyanya lagi.
"Takut sih. Tapi aku juga percaya bahwa cinta Mas sama aku juga bukan main-main. Tak perlu memaksakan cinta, memperjuangkan boleh. Tapi memaksa luka jangan, bodoh namanya."
"Hem? Maksudnya?" tanya Ardan tak mengerti.
"Aku hanya berpikir, Mas. Sebagian orang ada yang suka melabrak, mendatangai wanita dan memaki di depan umum? Sama-sama wanita, dia memang salah, tapi bukankah suaminya juga salah."
"Itu namanya dia cinta, Hazel."
Hazel tersenyum, ia menarik tisu dan mengelap sudut bibir Ardan yang ada tertinggal irisan seledri.
"Cinta dalam rumah tangga itu harus dimulai dari dua hati, Mas. Tak bisa hanya satu, rasa percaya, tanggung jawab dan juga saling menjaga. Jika salah satunya sudah hilang, maka pernikahan itu sudah rusak."
"Lalu, apakah tidak boleh memperbaikinya?"
"Hem, tentu saja. Memperbaiki boleh. Tapi memaksa untuk dia hidup lagi, buat apa?"
"Misalnya?" tanya Ardan lagi. Entah kenapa, saat ini ia sangat suka jika wanita itu mulai berkata bijak.
"Jika kamu selingkuh, ada yang salah dariku, atau memang itu darimu. Tugasku adalah memperbaiki diriku yang salah, dan kamu meperbaiki dirimu yang salah. Jika hanya aku yang memperbaiki, maka itu akan sia-sia. Karena hal yang rusak tak akan cocok dengan hal yang bagus."
"Lalu, jika aku selingkuh, apa yang akan kamu lakukan? Meminta cerai?"
Hazel memutar bola matanya, lalu ia tersenyum dan memeluk badan Ardan. Risih sebenarnya, Ardan bukan lelaki yang suka dipeluk saat di depan umum begini.
Wanita itu mengeratkan pelukannya, bohong jika dia tidak cemburu saat lelakinya ditatapi banyak wanita. Namun, ia berusaha membalas dengan cara elegan. Menunjukan dengan sikap, bahwa Ardan adalah miliknya seorang.
"Aku hanya akan bertanya padamu, Mas. Maukah kamu belajar memperbaikinya bersamaku? Atau tetap melanjutkan kesalahanmu. Jika kamu tak ingin, aku akan pergi, jika kamu ingin, ayo kita perbaiki. Hubungan itu butuh komunikasi, atau mungkin juga butuh pelajaran. Kamu akan merasa aku ini berharga saat kamu kehilangan, maka berpisah dulu tak apa, yang menjadi jodoh, akan tetap bersama melalui jalannya sendiri."
Ardan tersenyum, ia meleraikan pelukan Hazel dan mengacak puncak kepala wanita itu. Membuat helaian yang tersisir rapi dengan kuncir kuda itu sedikit kusut.
"Tak perlu kehilanganmu dulu, aku tahu kamu itu sangat berharga untukku, Hazel. Tak perlu menunggu rusak untuk menyadarinya. Karena di dalam rumah tangga, ada yang lebih penting dari ego sendiri."
"Hem, apa?" tanya Hazel manja.
"Mengalah." Ardan tersenyum dan membelai rambut kuncir kuda istrinya tersebut.
"Berulang kali egoku mengalah padamu. Bukan berarti aku lemah, tetapi itulah caraku menjaganya. Menjaga hubungan kita, menjaga pernikahan kita, dan menjaga cinta kita. Benar?"
Hazel menganggukkan kepalanya, ia kembali berhambur ke dalam pelukan Ardan. Mengeratkan dekapan, sesekali matanya membalas tajam wanita yang menatapi suaminya tersebut.
Cemburu, akan tetapi, egonya lebih dulu menguasi dan menutupi perasaan yang sesungguhnya.
Sedang, Ardan berulang kali menghela napasnya. Ia semakin risih saat wanita itu menempel di dadanya. Ingin mengatakan, takut menyakiti. Lagi, egonya mengalah demi cinta di hati.