
Dua jari lentik itu mengetuk di atas meja, mengikuti irama detik yang berlalu. Walau awalnya dia terlihat seperti gadis agresif dan aktif. Namun, saat dihadapkan oleh diskusi, sisi aslinya terlihat.
Selayaknya seorang owner dan desainer yang dilatar belakangi keluarga kolongmerat, tentu saja cara dia berpikir tak jauh berbeda dari Ardan dan Ferdi.
Entah karena apa, dia memilih untuk terlihat seperti gadis nakal dibandingkan gadis terhormat.
Sementara Ardan masih menjelaskan detil kerja sama mereka. Sedetikpun mata gadis pantai itu tak pernah luput dalam penjelasan yang Ardan berikan. Di sisi lain ada yang perhatiannya terus buyar, antara mengamati diskusi dan gadis cantik di depannya tersebut. Pemikiran Evan terpecah, disela-sela itu, Ardan menyadari semuanya.
"Waow, ini penjelasan yang sangat bagus. Tapi .... " Gadis itu menumpuhkan kedua sikunya di atas meja, mengenggam kedua tangannya dan diletakan di bawah dagu.
"Atas dasar apa Erlangga Grup ingin menarik kerjasama dengan sebuah toko perhiasan biasa? Tentu saja aku hanya punya toko, jangankan menjadi PT, bahkan CV saja belum."
"Aku bukan ingin menarik tokonya, tapi pemegangnya. Bukankah kamu ingin membuat brand perhiasan sendiri? Menembus pasar Asia dan selanjutnya Eropa?"
Senyum indah milik Nola sekilas memudar, memperhatikan wajah Ardan dengan lamat. Lalu, bibir sensualnya kembali berderai.
"Bukankah bodoh jika aku bertanya dari mana kamu tau impianku?"
"Tentu saja!" kata Ardan mulai getir. Jika Nola menolak, maka habis sudah.
"Lalu, apa yang bisa kudapatkan jika aku akan menjadi sekutumu?"
"Erlangga akan menjadi sponsormu untuk menembus pasar Asia, bukan hanya itu, kami juga akan membantumu membuka jalannya?"
"Benarkah jalannya semudah itu?" Nola menarik dasi yang awalnya terselip di balik jas Ardan. Memilin ujung dasi itu dengan centil, bersikap selayaknya dia memang hanyalah seorang gadis nakal.
"Tentu saja kami akan membuatnya semudah itu. Namun, jika kamu mau mengatur pertemuan kami dengan ayahmu," sahut Ferdi.
Gadis itu kembali menatap Ferdi yang tengah terduduk di sebelah Ardan, dia menumpuhkan dagu di atas meja dengan badan yang mencondong ke arah Ferdi.
"Apa kau akan melamarku?" tanya Nola genit.
"Aku ingin berbicara bisnis dengannya."
"Bagaimana jika nanti malam kita dinner?"
"Jika kamu setuju bekerja sama dengan kami. Kami akan makan malam denganmu," desak Ferdi.
Nola menggeleng dengan memanjangkan bibirnya. "Aku hanya mau dinner denganmu, tidak dengan Ardan dan Evan."
Seulas senyum tipis tercipta di bibir Ardan, bagaimana bisa Ferdi tahan saat digoda gadis semenarik Nola? Bahkan dari awal saja Evan sudah tak mampu lepas dari penjara pesona gadis berkulit eksotis itu.
"Ayolah, Nola. Berhenti menggoda!" Kali ini nada itu terdengar tegas.
Gadis itu menarik napas, menegakkan posisi duduknya dan menatap Ardan yang duduk tepat di depannya. Berseberangan meja bundar.
"Ardan, bagaimana bisa kamu memiliki teman sekaku dia?"
Ardan terkekeh, "biarkan saja dia. Bagaimana jika kamu makan dengan Evan saja? Aku sebenarnya ingin menggodamu, tapi apa kamu akan tergoda oleh pria beranak dua sepertiku?"
Nola membuang pandangannya ke arah Evan. Mengamati wajah itu lamat, dia sama sekali tidak tertarik. Gadis itu bangkit dan merenggangkan badannya, lalu kembli menoleh dan berlari ke arah pantai.
"Ayo berenang!" ajaknya.
Ferdi memijat pangkal hidungnya dan menarik napas. Nola, memang sangat sulit jika diajak berdiskusi untuk usahanya. Dia seperti menghindari dunia bisnis sesukanya.
...***...
Sepanjang malam, tiga lelaki itu terus masuk dalam diskusinya. Beberapa kali Ardan mencoba mengatakan idenya seandainya Nola benar-benar tidak ingin membantu.
"Ini gila, Ardan," sahut Evan tak setuju. "Sebagai pihak hukum aku tak bisa mengancam hanya karena sebuah data yang kukumpulkan!"
"Tapi kita terdesak, Evan! Apa kau punya cara kalau seandainya kita tak bisa bertemu dengan ayahnya Nola? Kalau kita bisa bertemu dengannya pun belum tentu kerjasama ini disetujuinya, kan?"
"Ardan, bukankah kau sudah yakin bahwa kita takkan gagal? Kenapa sekarang malah pesimis begini?"
"Masalahnya gadis itu susah dihadapi, Van. Lihatlah bagaimana dia sama sekali tak tertarik saat kita menawarkannya!" sahut Ardan tak mau kalah.
Ferdi yang tengah berada di antara dua orang itu hanya bisa menghela napas, mereka benar-benar panas karena sikap seorang gadis itu. Teduh tatapan matanya teralih saat layar di ponselnya menyala.
Ferdi menepuk sebelah bahu Ardan, saat tatapan sinis itu mengarah padanya.
"Tenanglah, Ardan. Nola pasti sedang memikirkan ucapanmu. Aku pernah liat bagaimana antusiasnya dia dalam mengejar mimpi, dia hanya tak ingin terlihat ingin, jika kita terus mendesaknya, dia akan setuju."
"Bagaimana aku bisa mempercayai kata-katamu?"
Ferdi hanya tersenyum, dia ambil ponsel yang terus menyala dan berjalan ke luar balkon. Mengangkat telepon yang sedari tadi terus berdering tanpa suara dan getaran.
"Apa aku menganggu Kakak?" tanya itu langsung di dapatkan Ferdi sesaat setelah mengangkat panggilan.
"Tentu saja tidak."
"Hem, benarkah?"
Gadis itu menjauhkan ponselnya, meminta panggilan melalui video. Seulas senyum terkembang saat sepasang mata itu mampu menatap wajah kekasihnya.
"Aku rindu," kata Sasy manja.
Ferdi tersenyum, tidak menjawab hanya menyugar rambutnya yang sedikit berantakan.
"Bagaimana hari ini? Apa kuliahmu berjalan lancar?"
Seketika bibir Sasy mengurucut.
"Kenapa? Apa ada yang menganggumu lagi?"
Sasy menggeleng.
"Lalu kenapa cemberut?"
"Rindu," rengeknya manja.
Bukannya membalas, Ferdi hanya terkekeh. Perhatiannya sempat teralih mendengar pertengakaran dua orang di dalam kamar.
"Sasy, ceritakan padaku bagaimana hari ini?"
"Tidak baik-baik saja."
"Hariku tak baik-baik saja saat Kakak tidak berada di sisiku."
Ferdi kembali tertawa, kali ini sampai membuat geli gejolak dalam perutnya.
"Kamu ini, aku bertanya serius."
"Aku juga serius! Aku rindu."
Ferdi mengalah, dia menghela napas panjang. "Aku juga."
Seperti sebuah mantra, kata-kata itu mampu membuat lengkungan yang indah di bibir gadisnya, tentu saja menambah rasa rindu yang dari awal sudah dia rasakan bahkan sesaat sebelum mereka berpisah.
"Kakak sudah makan?"
"Ceritakan padaku, bagaimana harimu?" Bukannya menjawab, Ferdi terus mendesak Sasy.
Mau tak mau gadis itu bercerita tentang hari yang dijalaninya. Ekspresi wajah belia itu selalu berubah setiap kali dia menceritakan kejadian yang berbeda, dan itu membuat bibir lelaki berkacamata di sini tak lepas dari senyumnya.
"Sudah, hanya itu saja," kata Sasy setelah menceritakan semua kejadian hari ini.
"Hem, kalau begitu istirahatlah!"
"Eh?" Seketika raut wajah belia itu berubah.
"Kenapa?" tanya Ferdi menyadari perubahan ekspresi Sasy. Sebenarnya Ferdi cukup peka membaca ekspresi wanita, hanya saja dia terlalu malas jika sampai terlalu peduli.
"Kak Ferdi nggak adil, hanya aku yang menjawab pertanyaan Kakak, tapi Kakak tidak."
Ferdi tersenyum sendu, dia berjalan ke arah ujung balkon dan mengempaskan bokong pada kursi luar. Menumpuhkan kedua sikunya pada ujung paha seraya memegang ponsel di antara jeda kakinya.
"Apakah itu pertanyaan yang penting buatmu?" tanya Ferdi lembut.
"Maksudnya?" Sasy tak mengerti.
"Aku sengaja bertanya bagaimana tentang harimu karena menurutku itu lebih penting daripada pertanyaan sedang apa, sudah makan, atau pertanyaan semacamnya."
"Hem." Gadis belia itu mengerucutkan bibirnya.
"Aku hanya ingin mendengar apa yang terjadi hari ini, aku ingin kamu mengadukan semua kejadian hari ini padaku. Walaupun jauh, aku masih ingin menjadi orang yang kamu datangi untuķ berbagi cerita, Sasy."
Gadis itu mengambil bantal yang ada di sebelahnya, menutupi wajah serta semu yang menghiasi dua belah pipinya. Pelan terdengar suaranya terkekeh.
Seulas senyum kembali terbit di wajah teduh pemuda itu, ada saja memang tingkah gadis belia ini. Dan dia, sangat suka dengan semua perlakuan polos dan lugunya.
"Kenapa tertawa? Dan kenapa kamu menutupi wajah?"
"Habisnya Kak Ferdi curang," jawabnya dari balik bantal.
"Curang?"
"Iya."
"Memang aku melakukan apa?"
"Bahkan tanpa melakukan apa-apa saja Kak Ferdi mampu membuat hatiku luluh lantah."
Kali ini berganti Ferdi yang terkekeh, bukan hanya geli, tetapi semakin menambah rindu di dalam hati.
"Ya sudah, kalau terus kamu menutupi wajah seperti itu, kita akhiri saja panggilan videonya."
Cepat-cepat Sasy menurunkan bantalnya, wajah itu terlihat berantakan dengan rambut yang acak-acakan. Terlebih semu masih menghiasi dua pipinya.
"Jangan dulu," tahan Sasy manja.
"Aku menerima video call agar bisa menatapmu, bukan bantalmu."
Gadis itu menahan senyumnya, lantas badannya berganti posisi, terlungkup di atas kasur.
Terdiam, mereka berdua hanya saling menatap, lekat dan dalam. Perlahan bibir Sasy melengkungkan sebuah senyuman.
"Kak, bagaimana di sana?"
"Apanya?"
"Suasananya."
"Cukup indah, tapi hampa."
Sebelah alis Sasy menaik.
"Kenapa?"
"Karena tidak ada kamu di sebelahku."
Gadis itu menggigit bibirnya, dia menyembunyikan wajah dengan kedua kaki yang menyentak di atas kasur.
"Makanya cepet pulang, ayo kita menikah!"
Ferdi tertawa, terteguk salivanya dengan berat.
"Sabar, ya."
"Hem."
"Kalau begitu kamu istirahatlah, ini sudah cukup larut. Aku masih harus membantu Ardan."
"Ya sudah." Sasy bersiap akan mematikan panggilan.
"Sasy," panggil lelaki itu lembut.
"Ya."
"Aku mencintaimu."