
Ardan mentatih putra Hazel dengan kedua tangannya. Menikmati udara segar di area perkomplekan mewah depan rumah.
Beberapa kali ia tertawa, saat Surya memilih duduk di aspal dibandingkan melangkah.
Ardan mengangkat tubuh bocah kecil itu, melambungkan ke atas dan menagkapnya kembali. Mengulangi beberapa kali sembari berjalan santai.
"Setiap pagi, apa kamu memang selalu begini, Mas?"
"Hem, bisa dibilang begitu."
"Gak capek? Kamu masih harus kerja setelah olahraga?"
Ardan menghela napas, menjatuhkan bokong di atas kursi taman.
"Entah kenapa, selain musik aku juga sangat suka dengan olahraga. Dari SMA, aku lebih suka bercinta dengan besi berat dibandingkan wanita."
"Hem?" Hazel melirik ke arah Ardan, tersenyum dan menggeleng pelan.
"Bual!" sambung Hazel malas.
"Kalau gak percaya. Kamu bisa ikut aku fitnes setiap pulang kerja."
"Ah ... enggak! Badanku sudah cukup kurus, kenapa harus dibuat lebih kurus lagi?"
"Hei, Nona. Olahraga itu bukan untuk kurusi badan aja. Tapi juga buat jaga kessehatan badan, memang badan aku kelihatan kurus?"
"Hem, enggak sih. Sedikit, terlihat bagus," jawab Hazel lembut.
"Mana bagus sama badan abdi negara?" tanya Ardan menyenggol bahu Hazel manja.
Wanita itu memicingkan matanya, menatap tajam ke arah pria yang ada di sebelahnya.
"Harus gitu ngebandingi dengan abdi negara?" tanya Hazel kesal sendiri.
"Harus!"
"Kenapa?"
"Karena aku gak suka abdi negara."
"Kenapa gak suka? Salah mereka apa?"
"Salah! Karena dia sudah menikahimu sebelum aku."
Hazel terkekeh, ia mencubit dada bidang lelaki itu.
"Itu salahmu, kenapa tidak datang menemuiku lebih dulu?" tanya Hazel ketus.
"Memang kalau aku yang menemui lebih dulu, kamu mau menikahi aku?"
"Enggak!"
"Kenapa?"
"Kamu gila."
"Apa?" tanya Ardan menarik kedua pipi chubby wanita itu.
"Katakan sekali lagi, apa?"
"Kamu gila! Kamu gila! Kamu gila!" teriak Hazel lagi.
"Yang buat gila siapa?"
"Entah! Memang kamu gila! Posesif dan juga angkuh. Lidah tajam dan juga kasar," jawab Hazel ketus.
"Tapi ganteng, kan?"
"Hem, narsis."
"Suami siapa?"
"Entah, gak ada yang mau ngakui tuh."
Ardan tertawa, kedua jarinya menarik pipi Hazel lembut. Mencium dahi wanita itu sekilas.
"Ayo pulang, bukannya Dokter Pedro akan datang?"
Hazel menganggukan kepalanya, mengangkat Surya yang berada di dalam pangkuan papa sambungnya tersebut. Kembali ke rumah mewah itu saat mentari pagi mulai tinggi menyapa bumi.
***
Ardan menumpuhkan kedua siku tangan di pagar tingkat dua rumahnya. Memandangi Pedro yang sedang duduk bersama Surya di piano miliknya.
Bibirnya mengembang saat melihat Pedro yang sedikit kewalahan mengajari Surya bermain musik.
"Bukannya dia Dokter? Kenapa dia gak bisa mengajari satu anak saja?"
Ardan meneguk gelas airnya, berjalan menuruni anak tangga rumah. Berdiri di sebelah piano berwarna putih itu.
Bibirnya tersenyum sinis saat Pedro mengalihkan mata ke arahnya.
"Bisa saya yang mengajarinya? Anda bisa mengawasinya saja."
Pedro menghela napas, perlahan ia mengangguk dan berpindah dari kursi piano. Digantikan Ardan, tersenyum sembari mentoel pipi Surya.
"Biar Papa yang ajarkan, kamu ikuti tangan Papa ya, Nak."
Pedro menatapi Ardan dari balik kacamatanya, entah kenapa? Dadanya terasa sesak saat Ardan menamai dirinya dengan sebutan 'Papa'.
Perlahan jari-jari kekar itu mulai menekan tangga nada mayor, tidak seperti sebelumnya, Surya malah lebih memilih diam dan menempel pada lengan tangan Ardan.
"Hei ... jangan malas belajar. Ayo letakan jari imutmu di sini." Ardan mengambil kedua jemari tangan Surya. Meletakannya di atas tuts piano bersebelahan dengan jari-jari kekarnya.
Perlahan alunan nada sederhana terdengar memenuhi ruangan, sedikit tersenyum, Ardan memainkan sembari sesekali melihat ke arah Surya.
Memastikan kalau jari mungil itu mengikuti gerakannya.
Sementara, di sudut ruangan ada sebuah senyuman yang terus mengembang dengan lebar. Memperhatikan dua lelaki yang sedang bermain piano dengan sedikit bercanda.
Mata berwarna madu itu lekat memandangi wajah ganteng dan senyuman manis lelaki berkulit sawo matang tersebut.
Entah kenapa? Saat ini di matanya, senyuman lelaki itu sangat menawan. Menggoda hati, bahkan hanya dengan memandang senyumannya saja mampu membuat ia bahagia.
"Ehem." Wanita gempal itu berdehem sembari menyenggol lembut bahu Hazel.
"Apa, Mbok?" tanya Hazel masih fokus memandang ke depan.
"Kamu senyum-senyum begitu, kenapa?"
"Kenapa? Ya tentu saja karena melihat Surya."
"Melihat Surya atau melihat Papanya, Surya?"
"Apa sih, Mbok?" jawab Hazel malu.
"Kamu bahagia, kan?"
Hazel menggigit bibir bawahnya pelan, melirik sekilas ke arah wanita berbadan gempal itu.
"Kamu jatuh cinta sama pria itu?" tanya mbok Darmi lagi.
"Mbok itu ngomong apa? Aku cuma bahagia lihat Surya sudah mulai baik-baik saja."
"Kamu jatuh cinta juga gak apa-apa. Toh dia suamimu. Usahanya untuk membuat kamu tersenyum berhasil."
"Mbok," panggil Hazel malas.
"Jangan bohongi diri sendiri lagi, Hazel. Mengakulah kalau kamu memang sudah jatuh cinta dengan dia. Gak ada yang salah, jadi jangan takut mengakuinya."
"Mbok itu ngomong apa sih? Aku masih biasa-biasa saja. Yang terpenting saat ini, Surya sudah sangat baik. Itu cukup buat aku bahagia."
"Jangan pikiri orang lain terus, pikiri juga tentang kebahagiaanmu, Hazel. Kamu harus bahagiain hati kamu, kamu harus bahagiain diri kamu. Bukan untuk orang lain, tapi untuk hidupmu sendiri."
Hazel menghela napas dan memalingkan wajah ke arah wanita gempal itu.
"Aku tahu, Mbok," jawab Hazel lembut. "Tapi saat ini, aku masih belum jatuh cinta, hem." Hazel kembali tersenyum dan berjalan ke arah dapur.
Mbok Darmi ikut tersenyum, menggelengkan kepala sembari mengikuti langkah wanita itu.
"Katanya tidak jatuh cinta, tetapi sepanjang hari bisa tersenyum tanpa alasan. Apalagi kalau bukan karena cinta?" tanya mbok Darmi lirih.
***
Wanita itu memalingkan kepala saat mendengar daun pintu tertutup dengan sedikit kuat. Keluar dari kamar Surya dengan sedikit tergesa.
"Mas, mau ngegym?"
"Iya, mau ikut?" tanya Ardan lembut.
Hazel menggeleng pelan, mengikuti langkah Ardan yang berjalan menuruni anak tangga rumah.
"Mas nanti makan malam di rumah?"
"Iya."
"Mau aku masakin apa?"
Ardan berbalik, sebuah badan menabrak dada tegapnya. Cepat Hazel memundurkan langkah saat wajahnya terbenam di dada bidang lelaki itu.
Aroma maskulin Ardan Erlangga telah menyeruak, masuk ke dalam rongga hidung. Perlahan wajah itu memerah, merasakan detak jantung yang memompa kian mengencang.
"Kamu mau makan apa?" tanya Ardan kembali.
"Hah?" Hazel terkejut, mendongakan kepala melihat wajah ganteng pria tersebut.
"Aku gak ingin makan apa-apa," jawab Hazel lembut.
"Yasudah, masak saja apa yang ada."
"Em." Hazel mengangguk pelan, bibirnya mengembang, menampilkan deretan gigi kecilnya.
"Mau aku belikan sesuatu saat pulang?"
"Tidak usah."
Ardan menghela napas, ia meraih ujung bahu sempit wanita itu, menekan sedikit kuat. Mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu perlahan.
Hazel memalingkan kepala, menghindari ciuman lelaki berbadan tegap itu.
Dahi Ardan berkerut.
"Kenapa?" tanya Ardan bingung.
"Kalau mau olahraga, gak boleh naikin hasrat, bisa bahaya."
"Bahayanya?" tanya Ardan bingung.
"Nanti kamu gak bakalan kuat angkat beban. Malah kepikiran angkat yang lain." Hazel terkekeh dan melepaskan pengangan tangan Ardan. Berlari ke arah dapur.
Lelaki itu melepaskan senyumnya, menggeleng pelan, melihat wanita itu berlari ke arah dapur dengan kaki pendeknya.
"Dasar." Ardan membetulkan letak tasnya dan berjalan ke depan rumah.
Ia menutup kembali pintu mobilnya saat melihat wanita di balik kaca rumah, dengan balutan drees rumah berwarna kuning itu sedang memasak di dapur.
Ia melemparkan tas ke dalam jok dan kembali memasuki rumah besar itu. Menarik kursi di depan pantry, memandangi punggung kecil wanita itu sedang memasak di dapurnya.
Perlahan tangan wanita itu meraih helaian rambut cokelatnya, menyanggul tinggi agar tidak menganggu saat ia memasak.
Sebuah bibir dingin mengecup lembut tengkuk lehernya, Hazel memalingkan wajah. Melihat Ardan yang tengah mendekapnya dari belakang.
"Kenapa gak jadi pergi?"
"Kan kamu yang bilang. Kalau sudah berhasrat gak akan sanggup angkat beban lagi. Maunya angkat yang lain."
Hazel tertawa, ia melapaskan dekapan tangan Ardan.
"Duduklah di meja makan, aku akan menyiapkan makan malam."
"Setelah makan malam, kita makan apa lagi?" tanya Ardan memainkan kedua alis matanya.
"Maaas," panggil Hazel malas.
Ardan terkekeh, tangannya meraih pucuk kepala Hazel dan mengacaknya lembut.
"Baiklah, aku tunggu di sana."
Hazel mengangguk, membiarkan lelaki itu keluar dari arah dapur.
Ardan membuka laptopnya, mengecek beberapa email yang masuk. Bekerja sembari menunggu Hazel menyiapkan makan malam.
Matanya serius menatap layar datar itu, sesekali ia berdecak kesal saat membaca laporan perusahaan.
Sampai ia tidak sadar, makanan yang di masak Hazel sudah tertata rapi di meja makan.
"Mas."
"Hm."
"Belum selesai? Makan dulu."
Ardan menutup laptonya, menggeser ke sudut meja. Senyumnya mengembang saat melihat beberapa hidangan tersedia di atas meja.
"Kamu masak daging rendang? Kok, cepat?"
"Hem, aku jangan ditanya. Jangankan daging rendang. Masak kamu digulai juga bisa lunak dengan cepat," balas Hazel ketus.
"Memang kamu rela kalau aku digulai?"
"Kenapa gak rela?"
"Selain aku, kamu gak akan dapat suami semempesona Ardan Erlangga."
"Hem, narsis!"
"Ini ada racunnya gak?"
"Ada."
"Racun apa?"
"Racun ibu mertua."
"Ada tambahan racun yang lainnya, gak?"
"Ada."
"Apalagi?"
"Racun gila!"
"Oh, pantas."
"Pantas kenapa?"
"Aku terkena racun yang sangat berbahaya."
"Racun apa?"
"Racun cinta."
Hazel terkekeh, ia mengambil piring dan meletakan di depan Ardan.
"Sudah, bicara sepatah kata lagi. Kuracuni kamu dengan racun serangga."
Ardan mengambil sendok dan mengancungkan jempolnya. Menutup mulutnya sembari menelan masakan wanita tersebut.
Hazel tersenyum lembut, melihat paras tampan lelaki yang berada di depannya itu. Memperhatikan setiap inci paras gantengnya, bibirnya, hidungnya, alis dan juga rahang wajahnya yang terlihat sangat mempesona.
Pipinya yang mengembung saat makan, sesekali mata sayunya menatap ke arah Hazel, mengembangkan senyumnya sampai terlihat jejeran gigi dan ginsul miliknya.
"Manis," lirihnya tanpa sadar.
Ia menundukan pandangan, merasakan hangat yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Apanya yang manis?"
"Eh ... ini, rendangnya terlalu manis. Sepertinya aku terlalu banyak memasukan cabai." Hazel terdiam. "Bukan ... bukan, maksudnya lada, eh, anu, itu gula. Iya, gula. Terlalu banyak gula," sambungnya gelagapan.