For My Family

For My Family
72



"Arsy," panggil wanita tua itu saat melihat Ardan dan Hazel keluar dari kamar.


"Kenapa semenjak pulang kembali, kamu selalu sibuk dengan Kak Ardanmu? Pagi ataupun malam, kalian selalu berdua. Mama juga kangen." Wanita itu memeluk badan Hazel dengan erat.


"Ayo kita sarapan." Tariknya pada pergelangan lengan wanita muda tersebut.


Tak bisa melawan, Ardan dan Hazel hanya mengikuti keinginan wanita itu. Membiarkan dirinya terus bermain pada angan tentang putri yang telah lama menghilang. Meninggalkan sebuah jejak kenangan yang terbalut sebuah rasa kehilangan.


Aulia menarik kursi di antara dia dan Gerald. Mendudukkan gadis itu di antara kedua orangtua suaminya tersebut. Perlahan, wajahnya menjadi pias. Terlebih, saat menyadari mata lelaki tua itu memandanginya dengan sengit.


"Mama membuat kue pao untukmu." Tangan wanita itu mengambil sepasang supit, menusukan kue berwarna putih itu dan memberikannya ke depan Hazel.


Bibir mungil itu mengembang dengan kikuk. Mengambil uluran tangan Aulia, bahkan ia kesulitan untuk bernapas. Matanya terus menatap Ardan yang duduk tepat di samping ibundanya. Hanya tersenyum dengan mata tajam yang memperhatikan setiap gerakan.


"Arsy, kamu semakin cantik, Sayang. Apa Kakakmu menjagamu dengan baik?" tanya Aulia membelai lembut wajah putih istri anaknya itu.


Sebuah gebrakan tangan membuat Hazel tersentak. Ia mengelus dadanya, jantungnya hampir keluar saat mendengar gebrakan meja di sebelahnya. Tidak anak ataupun ayah, kenapa suka sekali menggebrak meja tiba-tiba.


"Hentikan, Aulia! Dia bukan Arsy, dia bukan putrimu," ucap Gerald tidak suka.


"Kenapa kamu bilang begitu, lihatlah, Gerald. Wajahnya semakin cantik setelah lama tidak kembali." Wanita itu masih keukeh pada penglihatannya.


Walau tanpa sadar, kini netra tuanya berlapiskan embunan tipis.


"Kamu yang seharusnya melihat. Di mananya dia mirip putrimu? Wajahnya sangat kental orang Timur Tengah. Anak kita orang Indonesia."


Aulia menangkupkan tangan di kedua pipi Hazel, jarinya membelai lembut setiap inci paras indah wanita muda tersebut.


"Hidungmu memang terlihat lebih mancung Arsy, dan bola matamu, indah sekali dengan lensa berwarna madu." Aulia terkekeh, ia menarik pipi Hazel dan mencium keningnya lembut.


Wanita yang lebih muda itu memejamkan matanya, merasakan desiran yang kembali hangat menyapa hati. Akan sebuah kasih sayang yang telah sangat lama pergi.


Hangat sebuah ciuman kasih seorang ibu yang merindui. Sama sepertinya, ia juga sangat rindu dengan orang-orang yang telah lama pergi dan tak kunjung kembali.


"Cukup!" bentak Gerald membuat jemari Aulia terlepas. "Lihat dengan matamu, Aulia. Jelas sekali dia bukan Arsy, dia wanitanya Ardan!"


Aulia memalingkan wajah ke arah Ardan, mengenggam jemarinya di depan dada. Setetes embun luruh dari mata tuanya, ia seperti orang ketakutan, bibir yang bergetar dengan mengatakan


"Enggak," lirihnya sendu.


"Mama," panggil Ardan mencoba menenangkan wanita tua itu. "Lihat aku, Mama."


Mata itu melihat ke wajah anak sulungnya tersebut, rangkulannya terasa sangat erat ketika embunan melintasi pipi wanita yang telah melahirkannya itu.


Dipaksanya bibir itu untuk tersenyum. "Semua akan baik-baik saja, Ma." Ardan menarik kepala wanita itu dan membenamkannya di dada. Sinis memandangi Gerald yang berdiri di ujung meja.


"Bahkan membiarkan Mama berangan saja, Anda tidak suka. Anda yang membuat keluarga kita seperti ini, kenapa tidak membiar Mamaku bisa bahagia sedikit saja?" tanya Ardan geram.


"Bahagia? Kamu bilang bahagia, Ardan? Yang benar saja? Penglihatan dia semu, semua senyuman wanita muda ini palsu."


"Hentikan!" teriak Ardan semakin geram.


Melihat wajah suaminya yang semakin memadam, Hazel mengambil jemari tangan Aulia yang ia remas sendiri, dengan ketakutan yang masih melanda alam bawah sadarnya.


"Mama, lihatlah. Bukankah aku sama seperti yang Mama bayangkan?" tanya Hazel lembut.


Di tengah hiruk-pikuk pertentangan keluarga ini. Ia masih berusaha untuk tersenyum dengan lebar, menampilkan senyum yang terlihat sangat menawan.


Aulia menjatuhkan buliran beningnya, menciumi wajah cantik itu dengan membabi buta.


"Arsy, jangan salahkan Papamu, Nak. Dia salah mengenalimu, iya dia salah."


"Aulia, aku tidak salah."


"Cukup!" teriak Ardan, seketika ruang makan menjadi lebih mencekam. "Bahkan dengan penderita Prolonged Grief Disorder saja anda tidak mau mengalah, Pak Gerald Erlangga. Kenapa Anda begitu egois?"


"Arsy telah pergi, selamanya Arsy tetap Arsy, dan wanita itu ataupun wanita lainnya tidak bisa menggantikannya."


"Memang, tidak ada yang bisa menggantikan adikku. Walau dengan istriku sekali pun. Apa yang sakit masih bisa diobati. Namun, keegoisan anda, itu yang tidak bisa dikalahkan."


"Ardan, inikah yang kamu inginkan? Melihat Mamamu bahagia dengan alam bawah sadarnya? Iya?"


"Iya! Selama dia bahagia. Mau itu semu ataupun nyata. Mau dia anggap istriku ini sebagai adikku, terserah! Terserah, asalkan Mama tidak lagi menderita."


"Tetapi kamu sama saja mengingkan Mamamu menjadi gila."


"Cukup!" teriak Ardan semakin lantang. Lelaki itu melepaskan rangkulannya dan berjalan mendekati Gerald.


Berperang dengan mata yang saling beradu tajam. Gemelutuk peraduan dua gigi mulai terdengar. Bahkan kepalan tangan kedua lelaki itu semakin mengeras.


"Tidak semuanya harus diselesaikan dengan cara anda. Keras dan men-otoriter segala keinginan. Banyak hal yang bisa diselesaikan dengan cara pelan dan halus. Dan, yang pasti hasilnya lebih baik dari cara Anda, Pak Gerald Erlangga."


Kepalan tangan Gerald semakin terlihat menguat, kini wajah tua lelaki itu semakin memadam.


"Mas," panggil Hazel menghentikan perang ayah dan anak itu.


Ardan memalingkan wajahnya, melihat Aulia yang sudah pingsan di pelukan sang istri. Lelaki itu mengalah, lebih memilih meninggalkan sang ayah dan membawa ibundanya.


***


Beberapa kali Hazel menghela napas, menyapu helaian putih wanita tua tersebut.


Perlahan bibir mungilnya mengembang, memperhatikan paras keriput wanita yang telah melahirkan suaminya tersebut.


Mata tua itu mengerjap, perlahan bulu lentik itu mengembang. Netra yang begitu bening menatap lekat ke arah langit-langit kamar.


Ia memalingkan wajah, melihat seorang wanita cantik dengan senyuman yang terkembang lebar. Memperlihatkan jajaran gigi kecilnya dan cetakan lubang dalam di pipi tembamnya.


"Arsy." Wanita itu menangis, memeluk kepala Hazel dengan sangat erat.


"Maafkan Mama, Sayang. Jangan tinggalin Mama lagi, ya. Mama janji akan menuruti keinginanmu, Sayang. Janji, Arsy. Janji anak Mama."


Ada gumpalan yang teremas di dalam dada. Melihat penyesalan yang luar biasa sampai membawa ke tahap hampir gila.


Dia pernah berada di titik ini, titik di mana kesalahan ia letakan di atas pundak mungilnya. Bersikap seandainya ia meyalahkan diri sendiri, yang hilang dapat pulang.


Meski hati terasa perih, meski raga seperti mati. Masih ada tempat untuk kembali. Sebelum semua ini terjadi, Dia, telah lebih dulu mengetahui kekuatan hati seorang hamba.


Jika itu lemah, maka Dia menciptakan duka untuk menguatkan. Jika itu kuat, Dia menciptakan cela untuk membuka jalan pikiran. Ini ujian, seberapa lama dan pahitnya berjalan. Pasti akan menemukan ujung dan titik terang. Tentu, dengan bantuan doa dan juga usaha.


Karena menahan ujian itu membutuhkan banyak tenaga, banyak pikiran dan banyak usaha. Satu-satunya usaha yang paling nyaman adalah. Mengembalikan segala sesuatu hanya kepada-Nya.


.


.


Hazel menggunting beberapa ranting bunga persik. Memilah ranting cantik untuk ia letakan di dalam vas kecil yang akan menemani sore mereka di taman hijau ini.


Sesekali ia memalingkan wajah, melihat Aulia yang menikmati tehnya di bawah pohon sakura. Bibir mungil itu terkembang ketika mata Aulia membalas tatapannya.


Sesaat setelah Aulia sadar, ia terus mendekap Hazel. Awalnya wanita itu merasa canggung, namun, karena luka yang sama. Ia menjadi akrab dan perlahan perasaan mereka saling dekat. Mencoba membasuh dan membersihkan luka masa lalu yang terus memupuk rindu.


Hazel kembali dengan sebuah vas berisi bunga persik, meletakan di tengah meja. Secangkir teh tersodor ke hadapan wanita muda itu.


Hazel menyeruput teh itu dan menjatuhkan badannya di kursi yang berseberangan meja dengan Aulia.


"Dari dulu, kesukaan kamu terhadap bunga persik tidak pernah berkurang, Arsy."


Hazel hanya tersenyum, ia baru kali ini melihat bunga persik dari jarak yang sangat dekat. Bahkan bisa menyentuh dan menikmati kelopak yang gugur terbang bersama angin.


"Padahal banyak bunga yang lebih indah. Apa indahnya bunga ini? Selain kecil, bahkan dia tumbuhnya juga di ranting."


Hazel menghela napas, menikmati udara sejuk sore hari.


"Entahlah, bunga ini terlihat sangat unik, Ma. Di antara bunga yang lain, dia terlihat sangat berbeda. Dia cantik dan sangat menarik. Bahkan saat dia gugur saja, dia masih sangat menarik dan masih tetap indah menghiasi padang hijau ini."


Aulia menatap lekat wajah wanita itu, senyumnya, tatapan matanya, memang sangat berbeda dengan anaknya. Namun, angan itu masih terlalu besar melekat di dalam ingatannya, sepintas wanita itu terlihat asing, lalu detik selanjutnya sangat dekat. Bahkan ia bisa merasa nyaman dengan wanita muda itu.


"Arsy," panggil Aulia lembut.


"Hem."


"Kamu marah sama Papamu, Nak?"


Hazel menggelengkan kepalanya.


"Ma."


"Iya, iya, Sayang."


"Boleh aku bertanya?"


"Katakan? Apa pun itu, katakan saja. Mama akan mendengarkan." Aulia tersenyum, duduk tegak dengan senyum yang terus merekah sangat lebar.


"Aku melihat, Mas ...." Hazel menggaruk kepalanya dengan ujung jari.


Aulia melepaskan senyumnya, mengambil jari mungil itu dan menciumnya lembut.


"Ada beberapa hal yang tak pernah berubah dari dirimu, Arsy. Kebiasaanmu ini, Mama sangat merindukan ini."


Hazel mengerutkan dahinya, kini ia mulai paham. Kenapa Aulia mengiranya Arsy. Akan tetapi, bukankah dari awal Aulia memang memanggilnya Arsy?


Hazel kembali memalingkan pertanyaan itu. Ia kembali fokus pada wanita tua tersebut.


"Kamu mau nanya apa? Hem? Katakan saja, jangan takut."


"Itu, aku melihat, Mas, em ... bukan. Kak Ardan, dan Kak Arfan, seperti ada dendam di antara mereka. Apa Mama tahu sesuatu?"


Seketika Aulia menghela napas, ia menyandarkan pundak di kursi. Memandang luas hamparan hijau dengan hiasan pink yang bertabur di atasnya. Indah, bahkan saat bunga itu layu sekali pun, ia masih menjadi sangat indah dengan diri yang menunggu mati.


"Akhirnya Arsy dewasa mulai mengerti."


"Maksudnya?"


"Bukannya Arsy pernah bilang sama Mama, kalau kak Ferla menyukai kak Ardan, sementara yang menyukai kak Ferla adalah kak Arfan."


"Hah?"


"Cinta segitiga di antara sahabat dan sedarah. Dulu kamu bilang ini cinta yang rumit. Mama juga berpikir begitu, Sayang. Sampai malam itu Kakakmu mengatakan pada Mama, bahwa Ardan bersalah."


"Salah?"


"Iya, berkali-kali Ferla mengatakan perasaannya, namun Kakakmu gak peduli sama sekali. Malah asyik bermain-main dengan wanita di kelab malam. Pacaran sana-sini, terus mengoyak harapan indah Ferla yang menantikan hatinya."


"Tapi, kalau Kak Ardan gak suka, kenapa harus dipaksa? Cinta itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan, dia sesuatu yang hanya bisa dirasakan."


Aulia tersenyum dan membelai wajah Hazel.


"Kamu seperti tidak kenal Kak Ardanmu saja. Kelihatannya dia memang kasar dan bengis. Tetapi, hatinya lembut dan sangat menyanyangi."


"Aku gak ngerti."


"Percayakah kamu kalau Kak Ardanmu tidak ada perasaan pada Ferla sama sekali? Dari kecil mereka tumbuh bersama, Kakakmu menyadari perasaan Arfan, Sayang. Dia mengalah, tapi cara dia itu selalu salah. Dia itu baik, tapi caranya unik. Sukanya menyakiti dan membuat orang lain benci." Aulia menggelengkan kepalanya.


Sebagai seorang ibu, dia sangat paham dengan keempat karakter anaknya, terlebih dua kembar itu. Dua karakter yang bertolak belakang sangat menonjol di antara keduanya.


Sedang, Hazel bergeming. Ia memandangi kelopak yang terbang terbawa angin. Gugur bersama rasanya yang baru saja mulai bersemi.


"Arsy," panggil Aulia lembut.


Wanita itu memalingkan wajah, tanpa sengaja teko teh itu tersenggol dan menumpahi dress berbahan jersey yang ia kenakan. Melekat, membentuk lekuk tubuh yang mulai kelihatan melebar.


Aulia menarik tisu, mencoba mengelap baju wanita itu. Saat ia menyentuh perut wanita muda itu, terasa gejolak menendang tangannya.


Hazel mendelik, ia menutupi mulutnya dengan kedua tangan.


"Arsy, kamu sedang hamil?" tanyanya ketus.