
Wanita dengan balutan long dress berbahan brukat itu berjalan mendekati dua pria tampan yang sedang berada di balkon.
Sejenak, dua lelaki itu terdiam. Melihat Hazel yang berubah dari cantik menjadi sangat cantik. Dengan rambut yang terkepang rapi dibalut hiasan sepanjang kepangannya.
Brukat yang dibiarkan tanpa lapisan di bagian pundak dan lengan tangannya, menampilkan kulit putih mulus miliknya.
Ardan memalingkan matanya, ia sedikit terkejut saat melihat adiknya yang memandangi Hazel tanpa berkedip sedikit pun.
Tangan besarnya menutupi mata Arfi, ia tidak rela jika istrinya dipandangi pria lain. Meski itu adiknya sendiri.
"Rizka, sudah kukatakan, jangan buat dia jadi sangat cantik!" ketus Ardan geram.
Arfi terkekeh dengan mata yang masih tertutup tangan Ardan.
"Lepaskan, Kak. Aku tidak akan melihatnya lagi." Arfi menghempaskan tangan Ardan dan memutar badan.
"Bisa gak ganti gayanya, aku gak suka dia terlalu cantik!"
Arfi kembali terkekeh, kali ini sampai membuat sudut matanya berair.
"Kacau! Kakak simpan saja dia di kamar, tidak ada yang melihatnya. Aku jamin."
"Nah ... bener itu apa yang dibilang Arfi. Lagian aku tidak memoles banyak, dia memang sudah sangat cantik dari awal. Terlebih bola matanya, indah sekali."
Arfi membalikan badannya, memandang mata Hazel dengan lekat. Kembali, ingatannya melayang tentang gadis berhijab itu.
Sama dengan istri Kakaknya, Khadijah juga memiliki paras yang sangat indah.
Ardan mencebik kesal, ia kembali menutupi mata Arfi dengan tangannya.
"Bisa gak kalau aku tinggal di rumah saja?" tanya Hazel lembut.
"Boleh, tinggal saja di rumah Hazel. Jangan ke mana-mana. Atau Kak Ardan bisa ngamuk dan menghancurkan kota."
Kembali bibir itu mencebik kesal, salah satu tangannya memukul kepala bagian belakang Arfi.
"Dia istriku, apa urusannya denganmu?" tanya Ardan kesal.
"Lagian, Ardan, seharusnya kamu bangga bisa menikahi wanita secantik dia."
"Aku bangga! Tapi aku mau kecantikannya hanya untukku saja."
Kedua orang itu kembali tertawa, sikap Ardan yang seperti ini adalah kelemahannya. Di balik kesempurnaanya, lelaki berumur 33 tahun itu bisa bersikap layaknya bocah jika mengenai sesuatu yang sangat dia suka.
"Hadeuh, ternyata ada yang nasibnya lebih buruk dari Emily." Arfi melepaskan tangan Ardan, ia mengulurkan tangannya pada wanita berambut merah itu.
Rizka tersenyum dan memeluk lengan kekar Arfi. Wanita dengan dua anak itu masih bisa menjadi gandengan brondong di saat genting seperti ini.
Berniat untuk memutuskan perjodohan, Arfi malah menggandeng istri orang.
Memang, semenjak gadis berhijab itu pergi. Kehampaan di dalam hati Arfi tak pernah terisi. Ia memilih untuk menyendiri dan menepi.
Entah sampai kapan, ia juga tidak tahu. Saat ini, setidaknya ia punya kekuatan untuk mengejarnya kembali. Terlebih, orang itu adalah Ardan. Lelaki yang mampu mengubah apa yang tidak bisa menjadi nyata. Langkahnya untuk mencari gadis itu mantap sudah.
Ardan memalingkan matanya, perlahan ia mendekat dan meraih hiasan rambut istrinya itu.
"Kamu terlalu cantik, Hazel. Aku tidak rela kamu dilihat mereka."
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Hazel kembali.
Ardan menangkupkan tangannya di pipi Hazel. Perlahan ia mendekat, menghapus jarak di antara keduanya. Mencium bibir berwarna nude itu dengan lembut.
Tangannya menarik pinggang wanita itu agar berada di dalam dekapan. Sesaat mereka tenggelam dalam hasrat, sampai Arfi meneriakinya dari bawah.
Ardan melepaskan pelukannya, dan tersenyum dengan lembut.
"Kamu selalu menggodaku, Hazel."
"Apa? Nggak salah? Kamu yang penggoda, Mas."
"Oh, kalau begitu, kamu selalu mengundangku untuk menggodamu."
"Cih ... gak sudi! Gak perlu ngundang kamu, kamu sendiri datang tanpa undangan. Kayak Jelangkung jelmaan. Dasar gak tahu malu!"
"Hahaha, tapi kamu suka, kan?"
"No!" Wanita itu berjalan meninggalkan Ardan sendirian di lantai atas. Lelaki itu hanya mengikuti langkahnya, memperhatikan lekuk badan di balik long dress itu melenggang.
***
Ferdi melipat kedua kakinya dan menumpuhkan kepala ke dinding tembok kontrakan. Ikut menatap langit yang sama dengan gadis di sebelahnya.
"Kalau boleh aku tahu, kenapa kamu bisa dikejar-kejar saat itu? Siapa mereka?" tanya Ferdi memecahkan keheningan.
Terdengar helaan napas gadis itu. Ia ikut menyandarkan kepala ke dinding tembok.
"Itu anak buah ayah."
"Hem?" Ferdi menaiki sebelah alis matanya.
"Seperti yang anda dengar dari Gea. Aku memang kabur dari rumah."
Ferdi terkekeh, ia menggelengkan kepalanya saat mendengar penuturan gadis berhijab tersebut.
"Aku pikir, gadis-gadis sepertimu itu penurut dan takut pada orangtua. Ternyata kamu nakal juga, ya."
Khadijah menggelengkan kepala, ia ikut tersenyum saat mendengar ucapan lelaki dewasa itu.
"Penurut itu tergantung, jika saja ayah mau mengerti. Aku pasti tidak akan menyakiti hatinya."
"Hem?" Lagi-lagi lelaki itu menaikan sebelah alis mata, tidak mengerti dengan ucapan gadis di sebelahnya.
"Misalnya?"
"Ada hal yang ingin aku tinggalkan dan ada hal yang ingin aku temukan." Gadis itu memalingkan wajah, menatap ke arah Ferdi sekilas.
Ferdi menghela napas, ia meluruskan satu kakinya dan meletakan tangan di atas dengkul yang terlipat.
"Ya, memang. Terkadang kita butuh tempat yang baru untuk memulai. Karena berjalan itu ke depan, kita membutuhkan tempat yang lain untuk bisa berkembang." Kini lelaki berkacamata itu pun ikut masuk ke dalam luka yang pernah ia rasa.
Hening. Mereka membiarkan angin malam yang menjadi penghibur di antara luka yang kembali terbuka.
Bergeming untuk beberapa waktu lamanya, tanpa percakapan dan tanpa ungkapan.
"Pak." Panggilan lembut dari gadis berhijab itu.
"Hmm."
"Kalau boleh saya tahu, kenapa anda mau membantu saya sampai sejauh ini?"
Ferdi mengekerutkan dahi. " Tak ada alasan. Hanya ingin membantu saja."
"Orang asing seperti saya?"
Ferdi tersenyum dan melihat ke arah Khadijah. Wanita itu langsung menundukan pandangan saat Ferdi melihat ke arahnya.
"Di dunia ini tak semuanya butuh alasan, Khadijah. Ada hal-hal yang datang tanpa alasan dan tidak mampu dijelaskan."
"Contohnya?"
"Cinta," jawab Ferdi cepat. "Bukannya itu adalah hal yang paling umum, dan itu ada tanpa sebuah alasan dan penjelasan?"
Gadis itu tersenyum, ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Tidak ada di dunia ini yang terjadi tanpa alasan, Pak. Semua hal, apa pun itu. Ada, karena sebuah alasan dibaliknya."
"Kalau begitu, alasan apa yang ada di balik cinta?" tanya Ferdi kembali.
"Cinta, bukankah dia diciptakan untuk mengikat dua hati yang asing? Alasannya sederhana."
Khadijah merubah posisi duduknya, ia melipat kedua kaki, meletakan kedua tangan di atasnya dan memandang kembali ke arah langit di atas sana.
"Kenapa cinta ada dihati manusia, alasannya agar kita mampu menjadi sepasang manusia yang selalu mengingat kebesaran-Nya. Cinta yang sesungguhnya, seharusnya berada di dalam ikatan yang suci. Bukan cinta yang jatuh pada orang yang belum halal untuk kita miliki. Alasannya, untuk mengikat dua hati. Tujuannya, untuk mendekatkan diri pada Ilahi. Karena itu, Dia menyuruh, carilah pasangan yang mampu membuatmu lebih dekat pada-Ku."
Mata di balik lensa itu menatap lekat ke wajah gadis berhijab hitam di sebelahnya.
Bibir ranumnya tersenyum lembut, dengan tatapan yang mengarah pada langit hitam luas di atas sana.
"Di dalam dunia ini, semua memiliki alasan dan tujuan. Tidak mungkin Dia menciptakan hal yang sia-sia. Sama seperti kita yang bertemu tanpa sengaja, atau lebih tepatnya, saya yang jatuh di sebelah anda. Pasti itu ada alasanya dan juga tujuannya."
"Apa alasannya?" tanya Ferdi yang masih terfokus oleh wajah gadis itu.
"Entahlah, saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Apa yang terjadi semua telah direncanakan. Tidak ada yang nama kebetulan, yang ada hanya rancangan Tuhan."
Khadijah melebarkan senyumannya, ia menolehkan wajah. Seketika wajahnya memerah dengan tatapan menunduk ke bawah.
"Mata anda, Pak."
Seketika Ferdi tersadar, ia memalingkan wajah dan menggaruk tengkuk lehernya.
"Ah, maaf," ucap Ferdi bersalah.
Mendadak suasana menjadi canggung, terlebih lagi untuk lelaki berkacamata itu. Ia tak enak hati, saat wanita itu menyadari tatapan yang ia beri.
Seperti tertangkap sedang berbuat mesum, padahal ia hanya menatap wajah itu. Namun, kenapa rasanya sangat malu?
"Kalau begitu aku pulang dulu. Ada beberapa orang yang masih harus aku urus."
Wanita itu tersenyum. "Sepertinya banyak sekali orang yang anda selamatkan, ya, Pak."
"Apa?"
"Selain saya, ternyata masih ada wanita yang kamu bantu? Apa anda panti sosial?"
Ferdi terkekeh, ia bangkit dan merenggangkan ototnya.
"GM perusahaan itu sahabat dekatku. Ada urusan yang membuat ia harus meninggalkan anaknya, jadi aku membantu dia melihatnya. Hanya itu."
"Saya hanya bercanda. Anda tidak harus menjelaskan apa pun pada saya. Lagian, kita ini baru saja kenal, tidak ada hal yang mengharuskan anda untuk memberi penjelasan tentang apa yang ingin anda lakukan."
"Benar juga, ya."
Gadis itu terkekeh, ia menangkupkan tangan di depan bibir. Lucu melihat ekspresi lelaki berkacamata itu kebingungan.
Kembali mata di balik lensa itu menatap. Bergeming dengan keindahan yang tersuguh di depan mata.
"Indah," lirihnya tanpa sadar.
Sesaat Khadijah tersadar. "Apanya yang indah?"
"Eh itu, bunganya indah, iya, bunga di depan kontrakanmu sangat indah." Ferdi menunjuk tanaman bunga yang ada di depan pagar kontrakan.
Gadis itu memalingkan wajah, dahi mulusnya berkerut saat melihat apa yang ditunjuk oleh lelaki itu.
"Indah? Bunga t*i ayam itu?" tanya Khadijah bingung.
Mata Ferdi mendelik, ia baru sadar bahwa bunga yang tumbuh di sepanjang pagar adalah bunga seribu manfaat tersebut.
Ia mengacak rambut, salah tingkah sendiri. Malu, ya pasti.
'Sial! Kenapa aku jadi begini?'