
"Kak Dijah!" Seorang bocah lelaki langsung memeluk badan ramping itu saat Nigar membuka pintu rumah sang ayah.
"Assalamualaikum, kamu apa kabar, Cakra?"
"Baik, aku kangen Kak Dijah." Manja, lelaki berumur lima tahun itu mengusap-usap wajahnya di perut Nigar.
Arfi tersenyum, lantas mengacak puncak kepala bocah itu dan berjongkok.
"Assalamualaikum, Cakra. Kamu masih ingat Kakak?" tanya Arfi dan bocah lelaki itu hanya menatap Arfi nyalang.
"Salim sama Kak Arfi dulu. Dia sekarang suami Kakak." Gadis itu mencoba melepaskan dekapan tangan sang bocah, sedikit berontak, Cakra malah memeluk erat.
Membuat tawa Nigar berderai, melihat ulah adik bungsunya itu.
"Kebetulan kalian ke sini, ada yang Ayah mau bilang sama Arfi." Bariton suara itu membuat pandangan dua orang itu teralih.
Mencium tangan Regan secara bergantian. Lantas, bocah itu menarik badan Nigar untuk menjauh dari Arfi.
Arfi hanya terkekeh, lucu saat bocah kecil itu mulai cemburu padanya, sama seperti dulu.
"Arfi," panggil Regan membuat pandangan lelaki bermata sayu teralih.
"Ayah ingin menanyakan, apakah kamu akan meresmikan hubungan kalian?"
"Tentu saja. Aku akan mengurus surat-surat untuk ke catatan sipil."
"Baguslah. Ayah sudah memasukan data-data Nigar yang asli. Berikan datamu pada, Ayah dan jangan pernah berani menyakitinya," ancam Regan dan Arfi tertawa. Mengangguk pelan.
"Mama ... Mama, Kak Dijah pulang!" teriakan itu membuat wanita berumur yang tengah sibuk oleh tanaman hiasanya menoleh, tersenyum menghampiri sang putri. Mendekap badan Nigar erat.
"Mama rindu sekali padamu, Khadijah. Tidak terasa kamu sudah menjadi istri saat ini. Dan sebentar lagi kamu akan menjadi Mama. Kenapa waktu cepat sekali berlalu?" tanya sang Mama dan seketika air wajah Nigar berubah.
Terdiam dengan pandangan tertunduk ke bawah. Merasa bersalah setiap kali ada yang membahas soal masa depan pernikahannya.
"Khadijah," panggil Almira lembut dan gadis itu kembali tersenyum.
"Ada apa, Nak? Apa kamu tidak bahagia?"
Nigar menggeleng, mengelus puncak kepala adik angkatnya geram.
Melihat raut wajah anak gadisnya membuat Almira mengerti. Walau bukan dari darah yang sama, namun Almira paham bagaimana raut wajah itu saat mendapatkan masalah.
"Cakra, pergilah bermain bersama Ayah. Mama dan Kak Dijah mau main lumpur."
Seketika bibir bocah itu memiring, jijik saat sang Mama sudah mengatakan hal itu. Secepat kilat ia berlari, membuat tawa Nigar kembali berderai.
"Ada apa, Khadijah? Apa ada masalah?" tanya Almira lagi.
Gadis itu hanya diam, perlahan dia mengangguk pelan. Selain Almira, mau ke mana dia berbagi cerita? Tak mungkin membebani Hazel yang sudah banyak masalah.
"Ada apa?" tanya Almira menarik tangan Nigar ke arah bangku taman.
Gadis itu hanya menurut, entah bagaimana cara mengatakannya. Namun, ia bingung menjelaskannya.
"Khadijah?" panggil Almira dan gadis itu hanya memandangi wajahnya.
"Ma, aku tidak bisa melakukannya."
...***...
Gelisah, gadis berumur sembilan belas tahun itu tidak bisa duduk dengan tenang. Sesekali ia melihat jam yang melingkari pergelangan tangan.
"Kenapa Kak Ferdi lama sekali? Aku sesak pipis, ya Allah," gumamnya menekan perut.
Dia sudah sampai setengah jam yang lalu, dan karena grogi, dia memesan banyak minuman. Meminum semuanya, dan kini ia terus bolak balik ke toilet.
Gadis itu berdecak geram saat belum ada tanda-tanda sang kekasih akan datang. Ia berjalan cepat menuju toilet. Rasanya bahkan lebih horor dari pada menanti dosen saat quiz.
Selesai dari dalam toilet, gadis itu mematut diri di depan cermin. Merapikan helaian poninya dan menambah sedikit riasan.
Berjalan keluar seraya memainkan ponsel, ingin menelpon Ferdi. Namun, lelaki itu sudah terduduk menunggu di kursinya, sendiri dengan melihat menu makanan.
Gadis itu tersenyum lebar, mendekati Ferdi dengan sedikit berlari.
"Kak Ferdi ...." Tubuh mungil itu langsung memeluk dari belakang. Meletakan kepalanya di sebelah kepala Ferdi. Kedua tangannya melilit di bahu, merapat, bermain-main dengan mengangkat kakinya.
"Dari mana?" tanya Ferdi menutup menu makanan.
"Dari toilet. Aku udah bolak-balik mulu."
Lelaki itu hanya tersenyum. "Bagus, dong. Ngeluarin toxin."
"Ish, itu karena Kak Ferdi lama banget datangnya. Aku udah abisin tiga gelas."
Ferdi tertawa, ia menoleh sekilas.
"Itu mulut apa saringan bocor?"
Gadis itu memanyun, mencubit pipi Ferdi geram. Suara deheman seorang perempuan membuat Sasy terlonjak, kaget.
Gadis itu langsung berdiri di belakang kursi Ferdi. Melihat seraut wajah teduh milik wanita paruh baya yang berdehem tadi.
Menyadari suara deheman itu milik siapa, Ferdi bangkit. Merengkuh bahu Sasy lembut.
"Sasy, kenalin. Itu ibu aku."
Seketika mulut Sasy menganga dengan mata yang semakin melebar sempurna. Apa-apaan posisi dia dan Ferdi tadi? Dan apa yang akan dipikirkan sang mertua nanti? Gadis kecil yang agresif?
Sasy tersenyum kaku, melirik ke arah Ferdi dengan ujung jari yang menggaruk kulit kepala.
"A-a-assalamualaikum, Tante." Satu tangan Sasy terulur. Menunduk seraya mencium tangan calon mertua.
"Waalaikum salam. Duduklah!" perintahnya dan Sasy hanya mengangguk.
Terus memerhatikan wajah sang mertua yang terlihat kaku. Hanya ditekuk dan memang, perlakuan Ferdi terlihat begitu sempurna menyanyangi wanita tua tersebut.
Menarikkan sebuah kursi, lantas menjelaskan apa-apa saja makanan yang tersedia di kafe ini.
Sementara Sasy terpaku, hanya bisa menatapi dua orang yang ada di depannya.
"A-a-aku, a-a-apa saja," jawab Sasy tergagap, sepasang bola matanya masih menatapi wajah calon mertua.
"Ferdi, apa calon istrimu gagap?" tanya wanita tua itu dan Sasy menggeleng.
"Ti-ti-tidak, Nyonya! Eh, Tante."
Ferdi memecahkan tawanya, satu tangannya meraih jemari tangan Sasy.
"Ada apa denganmu? Tenanglah, Ibuku tidak akan memakanmu."
Sepasang mata bulat itu terus memandangi wajah ibunya Ferdi. Tegukan salivanya terasa semakin berat, saat mata yang di sana ikut memandanginya.
"Kamu takut sama saya?" tanya wanita paruh baya itu.
"Bu-bu-bukan takut ...."
Ferdi kembali tertawa, tangannya menarik gelas minum Sasy, lantas menyodorkannya.
"Minumlah dulu, tenangkan dirimu."
Gadis itu hanya mengangguk, seraya meminum. Matanya terus menatapi wajah calon mertuanya yang juga terus menatapi dirinya.
"Saya dengar dari Ferdi kamu masih berumur sembilan belas tahun dan kuliah, benar?"
"Benar, Tante." Gadis itu meneguk salivanya, getir. Ternyata bertemu dengan calon mertua bisa seseram ini.
"Lalu, apa kamu udah paham apa itu pernikahan? Tugas-tugas seorang istri, apa yang harus kamu lakukan dan ...."
"Bu," panggil Ferdi lembut dan wanita paruh baya itu menoleh.
"Kami mau menikah, Bu. Bukan mau perang, pelan-pelan, kami akan saling belajar bersama."
Ibu tiga anak itu terdiam, ia kembali menatapi Sasy. Kali ini peluh keringat di pelipisnya mengalir. Padahal ruangan di sini ber-AC, namun semakin lama wajahnya semakin memucat.
Gadis itu menyeringai, sudah lebih dulu malu. Mengingat dia yang bersikap manja di depan sang mertua.
Beberapa saat suasana hanya hening, sampai pesanan itu datang. Tidak ada pembicaraan, hanya peraduan alat makan yang berdenting.
"Jangan makan kacang dulu, Bu. Ibu perjalanan jauh, nanti kakinya kumat gimana?" Perhatian, lelaki dewasa itu menghentikan gerakan tangan sang Ibu yang ingin menambahkan kuah kacang pada makannya.
Melihat itu Sasy tertunduk, mengingat dia dan sang Mama yang jarang sekali berkata selembut Ferdi. Bagaimana bisa dia menyesuaikan diri?
"Sasy," panggil Ferdi dan kepala gadis itu menoleh.
"Apa makanannya terlalu pedas, dari tadi keringatmu banyak sekali?"
"Eh, enggak, Kak. Aku ke toilet bentar, ya."
"Kamu baik-baik saja?"
"Ya. Hanya terlalu banyak minum."
Ferdi mengangguk, perlahan gadis itu bangkit. Berjalan ke arah toilet dengan sesekali menoleh ke arah belakang.
Wanita paruh baya itu memandang ke wajah sang putra. Ia menarik napas, lantas satu tangannya menyentuh punggung tangan Ferdi yang terdiam di atas meja.
"Ferdi, kamu yakin, Nak?"
"Yakin, Bu."
"Tapi dia masih sangat belia, Nak. Dia masih sangat muda dan masih kuliah. Bagaimana kamu bisa menafkahi dia? Membiayai dia, sementara kamu pun masih membiayai kuliah dua adikmu dan ibu."
Ferdi tersenyum dan meraih kedua tangan sang Bunda. Lelaki itu turun, berlutut di depan ibunya. Memandang wajah tua yang telah membesarkannya itu lamat.
"InsyaAllah Allah Maha Adil, Bu. Saat tanggung jawab Ferdi bertambah, yakinlah bahwa limpahan rezeki-Nya juga bertambah. Rezeki ibu, rezeki adik-adik dan rezeki istri Ferdi. InsyaAllah ada jalannya masing-masing. Ibu gak perlu cemas, karena semua sudah ada takarannya."
Satu tangan keriput itu membelai kepala sang putra.
"Ibu percaya kamu itu lelaki yang bertanggung jawab, Nak. Tapi kenapa kamu tidak cari yang lebih dewasa? Yang tidak lagi manja dan tidak kekanak-kanakan? Pernikahan itu bukan hanya sekadar rasa suka, Nak. Seorang istri harus bisa menjaga hubungannya, mengerti kewajibannya."
Ferdi hanya tersenyum, menatapi wajah sang Bunda yang tampak cemas.
"Pada dasarnya setiap wanita itu manja, kan, Bu? Ferdi sanggup, dan InsyaAllah mampu membimbingnya. Untuk dewasa, bukannya itu tidak terpaku pada usia? Dia gadis baik, Bu. Dia masih polos, Ferdi yakin membimbingnya juga tidak akan susah."
Wanita tua dengan garis wajah yang mirip dengan Ferdi itu mendesah pelan. Matanya menangkap Sasy yang tengah berjalan ke arah meja mereka.
"Duduklah di kursimu, Nak."
Ferdi menurut, kembali duduk dan mengenggam tangan sang Bunda.
Lelaki berwajah teduh itu tersenyum.
"Ferdi yakin, Bu. Sasy adalah gadis yang baik, walau kadang dia sangat usil dan petakilan. Tetapi dia tidak nakal. Ferdi mau dia, karena dia ... dunia kaku Ferdi lebih berwarna."
Gadis yang tengah berjalan menuju meja itu tersenyum. Langkahnya sempat terhenti. Mendengar perbincangan mereka berdua, membuat jantungnya berdegup tak karuan.
"Sasy mampu, Bu. Dan Ferdi mau dia, bukan hanya karena cinta. Tapi juga karena Ferdi membutuhkannya."
Gadis itu mengembangkan senyumannya. Ingin menjerit girang, namun masih tertahan kekhawatiran.
"Kalau Ferdi yakin, InsyaAllah ibu meresetui."
Mendengarkan itu Sasy mengibaskan kedua tangannya. Kegirangan dan ia malu jika terlihat urakan.
Sorot mata teduh milik wanita tua itu terus terfokus pada Sasy. Menautkan kedua alis mata saat melihat gadis di sana mulai lasak sendiri. Menayadari tatapan Ibunya, Ferdi menoleh.
Wajah Sasy sudah memerah. Menahan semu pada wajah.
"Sejak kapan kamu di sana?" tanya Ferdi dan gadis itu kelabakan untuk menjawab.
"Itu, itu, Kak. Bedakku ketinggalan di dalam toilet. Aku ambil dulu, ya." Seketika tubuh mungil itu berbalik, dan ....
Jedug!!
Gadis itu menabrak pilar pembatas kafe.
"Sasy," panggil Ferdi panik dan sang calon mertua menangkupkan tangan di depan bibir. Menahan mati-matian tawa yang akan meledak melihat gelagat calon mantunya.