
Gerald tersenyum, menarik napas panjang, dan mengangguk pelan.
"Ya. Kadang menjadi orang tua memang harus semerepotkan ini. Benar apa yang kamu katakan, semua hanya berdasarkan sudut pandang." Kosong tatapan itu menatap ke arah depan.
"Sebagai seorang ayah, saya hanya ingin melindungi apa yang saya punya. Anak-anak saya dengan membangun banyak perusahaan agar mereka semua bisa bahagia, tidak kekurangan dan bisa bebas menjalani kehidupan sesuai keinginan." Bibir keriput itu tersenyum simpul.
"Tapi semua itu tak semudah yang dibayangkan, banyak hal yang harus dikorbankan agar apa yang dibangun tidak hancur. Bukan masalah uang atau perusahaan. Tetapi tentang bagaimana masa depan anak-anak jika sampai mereka kelaparan, hidup susah dan tak senyaman awal kehidupan mereka. Pada akhirnya hanya bisa memaksakan keinginan, bukan atas ambisi atau egois yang tak mau mengerti. Sebagai seorang ayah, saya hanya mau mereka tak hidup susah dan terus bahagia, walau saya harus berjuang sekuat tenaga, mengorbankan nyawa dan tak peduli dianggap tak punya hati oleh mereka. Asalkan mereka bahagia, itu cukup membuat saya tenang dan nyaman."
Gerald mengalihkan pandangannya ke arah Hazel. Menyentuh pucuk kepala gadis itu sekali lagi.
"Kamu adalah seorang ibu, saya yakin kamu pasti tau. Bahwa orang tua rela terluka dan menahan sakit asalkan anaknya baik-baik saja. Seorang ayah, rela ditikam seribu kali demi anaknya agar tidak terluka. Walau terkesan egois dan memaksa, orang tua hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, bukan?"
"Bukan karena seorang ayah tak mampu hidup susah. Tapi karena seorang ayah tak ingin melihat anak-anaknya susah. Saya tau bahwa uang tak menjamin kebahagiaan putra-putra saya. Tapi saya lebih tau, bahwa mereka terbiasa dengan kemewahan daripada kekurangan. Bukan demi saya, tapi demi kalian semua. Saya bertaruh dengan segala yang saya punya."
Gerald terdiam, setelah sekian lama dia sendirian menahan luka. Meredam segalanya dengan sikap dingin dan kerasnya. Kini dia membuka cerita itu untuk pertama kalinya.
Untuk beberapa tahun ini tempat dia bercerita tidak lagi ada. Semua tertanggung sendiri dan menjadi tak karuan karena beban yang semakin berat mengimpit keadaan.
Dia juga merasakan sedih, terluka dan patah saat kehilangan seseorang yang disayanginya. Sayangnya, dalam posisi itu dia harus tetap kuat dan keras karena paksaan kenyataan.
"Kamu pernah dengar hal ini, Hazel? Separuh dunia seorang anak akan runtuh saat dia kehilangan orang tuanya, tapi seluruh dunia orang tua akan hancur saat dia kehilangan anaknya."
Sayup mata Hazel menatap wajah sang mertua. Hanya bergeming, tak ubah sang putra, cara Gerald membuka luka sama persis dengan suaminya.
Tak ingin terlihat lemah, tetapi dari tatapan matanya memancarkan luka yang paling menyiksa.
"Dunia anak akan runtuh separuh jika dia kehilangan orang tua. Karena dia kehilangan pelindung dan penopang hidupnya. Namun, seluruh dunia orang tua akan hancur saat dia kehilangan anaknya, bukan hanya kehilanyan sosok yang dilindunginya, tapi juga kehilangan masa depan, harapan dan segala mimpi-mimpi yang tertanam. Kau paham? Karena anak adalah dunianya para orang tua."
Sebuah bulir luruh dari mata indah itu, dia tau rasanya kehilangan orang tua bagaimana, tapi jika harus kehilangan Surya atau Yena?
Bahkan melihat Surya terluka saja mampu membuat dadanya sesak. Seperti tak mampu bernapas setiap kali melihat Surya terbaring di bangsal anak. Jika sampai kehilangan, entah bagaimana caranya untuk bertahan?
"Seorang putri adalah hal yang paling berharga bagi seorang ayah. Nyawa yang membuat seorang ayah akan hidup meski dibunuh ribuan kali. Namun, hati yang remuk saat melihat tangisan putrinya terjadi. Tak peduli sedewasa apa, putri tetaplah gadis kecil bagi ayahnya. Yang selalu ingin dilindungi, yang ingin didekap sekuat mungkin agar tak ada segores luka pun yang mampu menyakitinya."
Gerald tertawa getir dan menggeleng, menatap Hazel dengan tarikan napas yang amat panjang.
"Begitu pun dengan saya. Arsy adalah cinta terbesar yang saya miliki," katanya menahan sesak di dalam dada. Detik kemudian, dia tertunduk dengan bening-bening tipis mulai melapisi netra.
Hazel hanya diam, memandangi wajah Gerald dalam-dalam. Ada rasa iba yang menyentuh hatinya. Melihat Gerald yang seperti ini, dia benar-benar mengerti bahwa selama ini lelaki tua itu hanya menjadi keras untuk menyembunyikan lukanya.
Sama seperti Ardan, Gerald pun selalu menanggung segala penderitaannya sendirian. Memang buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Mereka hanya dua orang arogan yang hidup di dalam tubuh berbeda.
"Tapi saya tidak berdaya. Kepergian Arsy bukan ingin saya. Kehancuran keluarga ini bukan mau saya. Saya pun terluka, tapi saya sadar kalo itu semua memang pantas saya dapatkan."
Hazel menggeleng, perlahan dia mencoba meraih punggung tangan Gerald yang tengah terkepal. Menyentuh lembut seakan ingin memberikan dukungan.
"Itu adalah ketetapan yang pernah putri Anda janjikam dengan Sang Pencipta, Pak. Tidak ada yang bisa disalahkan atas kematian."
Gerald menarik napas, badan yang awalnya condong ke depan dia tegakkan. Menyandar pada kursi.
"Entahlah, tapi saya memang bersalah. Ardan benar jika saya tidak pernah mengenalkan dia pada lelaki itu. Maka Arsy tidak akan mengalami hal-hal buruk itu."
"Pertemuan itu sudah ditakdirkan, kita sebagai manusia tidak pernah tau hal apa yang ada di masa depan, Pak. Mungkin jika bukan dari Anda, Arsy masih saja bertemu lelaki itu entah di mana."
"Bukan hanya Ardan dan saudara-saudaranya. Saya pun hancur karena kepergiannya. Karena setelah kehilangan putri saya, saya juga kehilangan putra-putra saya, dan yang paling pedih saya juga kehilangan satu-satunya tempat saya menceritakan segalanya."
Ada teguk saliva yang memahit di belakang sini. Langkah yang awalnya ingin mendekat terhenti saat Gerald menyebutkan nama Arsy. Ardan menundukkan kepalanya, benar-benar tidak menduga jika ada penyesalan sebesar itu yang selama ini Gerald sembunyikan.
Karena di matanya selama ini, setelah kematian Arsy sifat dan tingkah Gerald semakin menjadi. Brutal dan seperti tanpa ampun. Siapa yang menduga jika itu hanya bagian pelampiasan dari duka yang dia rasakan.
Lelaki berwajah garang itu mengusap wajah kasar. Mengurungkan niat untuk memanggil sang istri.
"Pak," panggil Hazel lembut dan lelaki tua itu hanya memandangi wajah cantiknya.
Seulas senyum terbit dari bibir mungil Hazel, menepuk lembut punggung tangan Gerald beberapa kali untuk menenangkan sang mertua.
"Apa yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa diubah lagi. Masa lalu akan tetap begitu tak peduli sekeras apa Anda menyesalinya. Tidak ada yang bisa terulang walau sedetik saja. Tidak ada kata seandainya karena tak peduli sebanyak apa kita kehilangan dan sepahit apa perjalanan, pilihan kita hanyalah melanjutkan kehidupan."
Tangan yang terkepal itu Hazel buka, kini kedua jari itu mengenggam tangan keriput milik Gerald. Entah keberanian dari mana? Dan anehnya lelaki yang terkenal kejam itu tak menolaknya.
"Saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah mengenggam apa yang kita miliki. Jangan biarkan pergi apalagi mengusirnya hanya karena luapan emosi. Kita takkan pernah tau selama apa orang-orang yang kita sayangi bisa menetap di sisi. Kehilangan pasti akan terjadi lagi, kepergian dan perpisahan adalah hal yang tak mungkin bisa untuk dihindari. Untuk itu sebelum kehabisan waktu dengan apa yang kita punya, jangan menciptakan sekat yang hanya akan kita sesali nantinya."