For My Family

For My Family
55



Hazel membuka lemari besar di depannya, memilah baju yang ingin ia pakai hari ini.


Dua buah tangan mendekap erat tubuhnya dari belakang, ciuman lembut terasa menghujani tengkuk lehernya.


Desiran itu kembali terasa, hangat dekapan tangan lelaki ini kembali ada. Setelah berminggu-minggu lamanya menghilang, kini ia kembali hadir.


Sentuhan lembut tanpa emosi dan angkunya sebuah ego lelaki. Ciuman yang terasa hangat dengan segala rasa kasih dan cinta yang ingin ia tunjukan selama ini.


Semua perasaan nyaman itu, kembali ada setelah menjadi asing untuk beberapa waktu lamanya.


Kelembutan yang menjadi kekejaman yang mengerihkan. Kini memudar tanpa sebuah alasan.


"Kenapa?" tanya Hazel yang mulai gerah dengan tingkah lelaki yang mendekapnya saat ini.


"Mas, lagi mau ya?" tanyanya dingin.


Ardan membalikan badan wanita itu, menangkupkan kedua belah pipi Hazel. Tersenyum lembut sembari menggelengkan kepala.


Senyuman yang pernah ia lihat dulu, saat lelaki ini mengatakan jatuh cinta padanya. Bukan lelaki yang memaksanya untuk tidur bersama.


"Kamu bosan di rumah? Kembalilah ke perusahaan jika kamu rindu teman-teman."


"Hem?" Hazel mengerutkan dahinya.


"Aku mengizinkanmu kembali ke sana. Bersiaplah, kita akan berangkat berdua." Ardan berlalu, menarik handuk yang tergantung di depan pintu, masuk ke kamar mandi seakan tidak pernah terjadi apa-apa selama ini.


"Apa dia mulai waras? Kenapa tiba-tiba lembut sekali?" Hazel menggaruk kulit kepalanya, bingung dengan perubahan lelaki dewasa itu yang begitu tiba-tiba.


***


Hazel melatakan tasnya di meja kerja, beberapa pandangan wanita menatap tajam kearahnya, ditambah bisikan-bisikan yang membuat ia menggelengkan kepala.


Sudah sebulan lebih berlalu, kenapa berita tentang dirinya dan Arfan masih menghangat? Tanpa ia sadari, bahwa status ia yang sesungguhnya telah di sadari semua karyawan di perusahaan ini.


"Mbak Hazel," panggil Nara lembut.


"Iya, Nara."


Gadis itu langsung memeluk badan mungil wanita berdarah Turki tersebut. Membenamkan hidungnya di atas bahu sempit Hazel.


"Ada apa?" tanya Hazel bingung.


"Maaf, aku ada salah sama, Mbak."


"Hem, salah apa?" tanya Hazel bingung.


"Maaf, aku sempat ingin benci sama, Mbak. Aku sempat iri dan ingin menjauhi, Mbak."


"Eh ... kenapa?" tanya Hazel pura-pura tidak tahu.


"Karena--" Nara melepaskan dekapan tangannya dan menundukan pandangan.


"Karena aku pikir, Mbak ada hubungan dengan Pak Ferdi," lirihnya yang nyaris tak terdengar.


Hazel tersenyum dan mengenggam jemari tangan gadis berwajah teduh itu.


"Sudahlah, kamu hanya berniat, tetapi belum membenciku. Kamu hanya ingin, tetapi belum melakukan apapun, aku tidak menyalahkanmu."


Nara tersenyum dan membalas genggaman tangan Hazel.


"Ini adalah sisi Mbak yang tidak akan ada pada wanita lain. Tidak salah, jika Pak Ardan menikahi, Mbak."


"Eh ... maksudnya?" Hazel terkejut.


"Kenapa Mbak pura-pura? Bukannya Mbak dan Pak Ardan sudah menikah?"


"Kamu tahu dari mana?" tanya Hazel terkejut.


"Pak Ardan yang mengakuinya saat ia menggendong Mbak keluar dari perusahaan bulan lalu."


"Bulan lalu?" Hazel memijat pelipisnya pelan, mencoba mengingat kejadian sebelum ia dilarang keperusahaan.


"Iya, saat Mbak pingsan. Pak Ardan menggendong Mbak. Di saat semua karyawan wanita menggosipkan, Mbak. Beliau mengatakan kalau Mbak adalah istrinya."


"Hah? Dia mengatakan itu?" tanya Hazel tidak percaya.


Nara menganggukan kepala.


"Setelah itu beritanya hangat kemana-mana. Bahkan beberapa Dewan Direksi berkumpul untuk menanyakan kebenarannya. Aku pikir, Mbak gak kerja lagi, ternyata pak Ardan hanya menyembunyikan Mbak dari masalah yang sedang ia hadapi."


Hazel memegangi kepalanya yang mulai berdenyut nyeri, perlahan napasnya seperti terhenti. Ia memeluk badan langsing Nara, bersuha sadar dari keadaan ini.


"Mbak, Mbak kenapa?" tanya Nara panik.


"Aku pusing sekali, Nara."


"Echa, bantu aku ambil air hangat."


Gadis bernama Echa itu berlari ke arah pantry, membawa segelas air hangat untuk wanita yang sedang setengah sadar itu.


Setelah berdiam beberapa menit, pandangan Hazel kembali jernih, ia melihat dua gadis yang ada di sampingnya saat ini.


"Jadi kalian kenapa gak pernah chat aku? Katakan ini padaku?"


"Aku masih merasa bersalah, tidak berani mengirim chat sama, Mbak," jawab Nara lembut.


Hazel menghela napas, ia kembali memegangi sudut dahi yang terasa berdenyut nyeri.


Pandangannya teralih pada lelaki di balik kaca ruangan itu. Bekerja serius seakan tidak pernah terjadi masalah sebelumnya.


Hazel menghela napas, jarinya masih memijat pelipis, pelan.


'Sama sepertiku, kamu pun tidak pernah jujur padaku, Mas.'


"Mbak, masih gak enak badan ya? Kita ke klinik saja ya, Mbak? Atau mau aku panggil pak Ardan?" tanya Nara cemas.


Hazel menggeleng, ia meraih kedua tangan gadis itu.


"Em, baiklah."


***


Hazel memotong wortel dengan sedikit keras, pikirannya terus melayang entah kemana. Di telinganya masih terngiang perkataan Dokter wanita di klinik tadi.


Hampir tidak percaya, tetapi fakta itu nyata di depan mata.


"Hazel, perhatikan tanganmu." Mbok Darmi memegangi tangan Hazel yang ingin memotong wortel.


Nasib baik wanita gempal itu menyadari gerakan pisau Hazel. Belum sempat ia memotong, atau tidak, jari wanita itu akan hilang saat sayatan itu kembali ia lakukan.


Hazel menghela napas, ia melihat ke arah mbok Darmi. Melepaskan apron berwarna cokelat yang melekat di badan dan membanting pisau yang ada di tangannya.


"Di mana mas Ardan? Apa dia sudah pulang?" tanya Hazel ketus.


"Sudah, selain di kamarnya. Dia bisa di mana lagi?"


Hazel mencuci tangannya, dengan cepat ia berlari menaiki anak tangga. Ia mengambil napas yang memburu kencang, melihat lelaki berbadan tegap itu duduk santai di depan layar datar miliknya.


Hazel melemparkan selembar amplop kehadapan lelaki itu. Menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dengan raut wajah yang memadam.


Dadanya kembali naik-turun, berusaha meredam amarah yang akan meledak sedikit lagi.


Ardan melihat sekilas ke arah Hazel, jarinya mengambil amplop putih itu dan membukanya perlahan.


Ada segurat kekecewaan saat ia membaca tulisan yang ada di dalam amplop tersebut. Tangannya kembali sibuk memasukan kertas putih itu.


Tanpa berbicara, ia turun dari kamar. Kembali dengan segelas air di tangannya.


Lelaki itu membanting sebuah kotak kecil obat. Duduk kembali di atas sofa.


"Minumlah," perintahnya lembut.


"Apa ini?" tanya Hazel ketus.


"Itu obat penggungur kandungan, jika tidak bisa gugur dalam sekali minum, maka minumlah sehari tiga kali."


Hazel melepaskan senyumnya, ia menggelengkan kepala. Melihat lelaki yang sedang duduk santai di atas sofa.


Bisa berbicara seenteng itu saat ingin membunuh sebuah nyawa.


"Kenapa? Takut kalau itu akan membuat perutmu sakit?" tanya Ardan saat melihat Hazel yang masih berdiri dengan menyilanglan tangan di depan dada.


"Kalau kandunganmu masih kecil, sakitnya juga tidak akan parah. Aku yakin kamu masih sanggup menahannya."


"Kenapa kamu ingin membunuhnya? Dia anakmu, tidakkah kamu menyanyanginya? Bukankah kamu menikahiku karena menginginkannya?" tanya Hazel tanpa jeda.


Ardan meneguk salivanya, ia memilih diam dan kembali mengetik di atas keyboard layar datarnya.


Hazel mencebik kesal, ia membuang pandangan dengan tersenyum sinis.


"Minumlah, atau aku bisa memaksamu untuk meminumnya lagi." Tanpa melihat ke arah lawan bicara, lelaki itu kembali memberi perintah.


Mencoba mengatur napas yang memburu kencang, Hazel mengambil butiran obat itu. Berjalan mendekati Ardan, mencengkeram pipi lelaki itu sampai membuat bibirnya mengerucut ke depan. Mendongakkan wajah Ardan agar lelaki itu bisa menatap wajahnya.


Memasukan secara paksa butiran itu ke dalam mulut Ardan. Melepaskan cengkeraman itu dengan sedikit menyentak.


Hazel kembali menyilangkan kedua tangan di dada, menatap sinis ke wajah tampan lelaki yang duduk di depannya.


"Kenapa? Tidak sakit perut? Tidak ada reaksi, kan?" tanya Hazel ketus.


Ardan mengambil gelas air itu dan meneguknya, mendorong tablet obat yang masih nyangkut di kerongkongan.


"Sekali, Mas. Kamu bisa bohongi aku, tapi enggak untuk dua kali," ucap Hazel sedikit kecewa.


"Aku tahu ini hanya vitamin, aku tahu ini hanya obat tanpa efek samping. Sama seperti obat yang Mas kasih padaku. Mas bilang itu kontrasepsi, padahal itu adalah obat penambah gula darah!" teriak Hazel kencang.


"Mas tahu aku ingin cepat hamil, dan itu akan beresiko saat gula darahku terlalu rendah. Mas tahu itu, tapi kenapa mas bilang itu kontrasepsi dan terus menyiksaku begini?" tanya Hazel meradang.


"Mas tidak ingin menyakitiku, tetapi Mas hanya ingin menpermainkanku. Iya, kan?" tanyanya melunak.


Ardan hanya terdiam, ia menundukan pandangan. Tidak ingin menjawab, lebih tepatnya tidak ingin berdebat.


Hazel kembali mencengkeram pipi Ardan, mendongakkan kepala Ardan agar bisa menatap mata berwarna madu milik dirinya.


Sesaat mata mereka berdua beradu, saling menatap dengan lekat dan dalam. Jelas, kemarahan tergambar di binar mata berwarna madu wanita tersebut.


"Kenap diam, Mas? Hem? Kemana perginya sikap arogan dan garangnya Mas beberapa minggu terakhir ini? Kemana?" tanya Hazel kesal.


"Mas mengurungku di kamar, melarangku bekerja. Tetapi Mas tidak pernah mengatakan apapun untuk membela diri, hanya membiarkanku terus tersiksa dan menganggap kamu gila. Kenapa? Kenapa, Mas?!" teriak Hazel semakin keras.


Hazel kembali melepaskan cengkeraman tangannya dengan menyentak. Memandang Ardan dengan sangat tajam.


Perlahan ia menggingit bibir bawah, mengambil napas yang memburu semakin kencang karena luapan amarah yang semakin tidak tertahan.


"Kenapa kamu terus membuat salah paham terjadi di antara kita? Kenapa Mas membuat aku semakin memupuk kebencian terhadapmu selama ini? Kenapa? Bahkan aku membentak Surya, hanya karena dia merindukanmu? Kenapa? Kenapa kamu sekejam ini mempermainkanku?"


Ardan hanya diam, menelan salivanya yang kian berat, tidak menjawab dan tidak menjelaskan apapun. Memilih bungkam atas semua pertanyaan, mengapa? Yang Hazel lontarkan padanya.


Hazel tersenyum sinis, ia menggelengkan kepala.


"Tidak ada penjelasan?" tanyanya sinis. "Bagus sekali, Mas. Kamu memang luar bisa dalam permainan."


Hazel meninggalkan lelaki itu sendiri, membanting daun pintu dengan sangat kuat.


Sedang, Ardan hanya bisa menghela napas. Mengusap wajahnya dengan kasar.


Lebih baik diam dan tidak mengucapkan apapun saat ini. Ia hanya ingin menuruti keinginan wanita itu untuk hamil dan segera pergi.


Tetapi ia tidak bisa melakukannya dengan lembut lagi, karena semakin lembut ia memperlakukannya, akan semakin kejam penderitaan yang harus ia tanggung nantinya.


Karena kehilangan itu tidak pernah mudah, maka biarkan luka yang membuatnya semakin parah. Hingga rasa rela itu hadir dengan sendirinya.