
Hazel membacakan setiap barang yang ada dalam list belanjaan. Lalu, wanita itu menatap wajah Mbok Darmi.
"Mbok yakin gak mau belanja bareng aku atau Nigar saja?" tanya wanita berparas cantik itu.
"Gak usah, Mbok paham kok, Hazel."
Wanita itu mendesah, lantas menyerahkan selembar kertas dan juga kartu ke tangan Mbok Darmi.
"Hati-hati, ya, Mbok. Perlu di antar Mas Ardan?"
"Gak usah. Mbok bisa sendiri, kok," tolaknya langsung.
"Ya sudah," sahut Hazel mengalah.
Matanya masih memandangi badan gempal itu keluar dari pintu rumahnya. Mata teralih saat merasakan usapan di pucuk kepala.
"Apa yang kamu khawatirkan? Mbok Darmi bukan anak kecil yang akan hilang di pasar, Hazel."
Hazel tersenyum, ia kembali berjalan ke arah pantry menyusun piring-piring kotor sisa makan siang mereka.
Ardan melirik ke arah Arfi yang sedang berada di pintu belakang. Ia menyilangkan kedua tangannya dengan tatapan nyalang.
Lelaki berambut pirang itu terbahak, perlahan ia menghampiri Nigar yang bermain dengan Yena dan Surya di pinggir kolam.
"Nigar," panggilnya lembut.
Gadis berhijab yang tengah berjongkok itu bangkit. Menjauhkan Surya dari tepi kolam.
"Ayahmu, ke mana?" tanya Arfi.
Gadis itu menoleh, menelusuri seisi rumah.
"Sepertinya sudah pergi. Katanya beliau ingin mengunjungi beberapa mantan bawahannya di sini."
Arfi tersenyum kecut, ia menggaruk kepala yang tidak gatal.
'Ardan sialan! Ternyata kau menyuruhku mendekati Nigar karena ada maksudnya, mati kau Ardan!' rutuk Arfi dalam hati.
"Kenapa?" tanya Nigar bingung.
"Tidak ada. Bagaimana jika kita ajak Surya dan Yena jalan-jalan ke komplek depan?"
Mendengar ucapan Arfi, Surya langsung berlari dan memeluk betis lelaki tegap itu.
Pandangan Arfi teralih, ia mengangkat tubuh mungil itu dengan sedikit melambungkannya ke atas.
"Surya mau?" tanya Arfi lembut.
Bocah lelaki itu mengangguk, mendekap leher Arfi erat.
"Baiklah. Berikan aku kecupan, setelah itu aku akan membawamu ke taman." Arfi mendekatkan pipinya ke arah Surya.
Satu kecupan mendarat di pipi lelaki yang mirip Papa sambungnya itu.
"Satu lagi." Ketuk Arfi di satu pipi yang lainnya.
Melihat itu, bibir ranum gadis berhijab itu mengembang. Tidak pernah tahu, ada sisi seperti ini dalam diri Arfi selama ini.
Menyadari tatapan Nigar, Arfi tertawa dengan lebar.
"Tantenya kalo mau ngecup juga boleh. Di sini." Ketuk Arfi di atas bibirnya.
Tawa Nigar pecah, pelan kepala berhijab itu menggeleng lemah.
"Astagfirullah," lirihnya pelan.
"Kalo cuma kecup gak dosa." Arfi mengerling nakal. Membuat tawa gadis itu memecah.
Lebar, sampai telapak tangan lentik itu menutupi jajaran giginya yang menawan.
Lelaki berambut pirang itu ikut tersenyum. Sudah lama sekali dia tidak melihat Nigar tersenyum semanis ini.
"Ayo." Ajaknya berjalan mendahului Nigar.
Berhenti memandangi pesona indah itu. Sebelum hatinya terpaut lebih jauh lagi.
Langkah gadis berhijab itu mengikuti. Berjalan memutari rumah Ardan.
Mata Arfi menatap nyalang ke arah Ardan dari balik kaca jendela. Bibirnya menyungging sinis. Kini dia tahu maksud Ardan menyuruhnya mendekati Nigar untuk apa?
'Dasar Kakak kejam! Bahkan tadi dia masih menyiksaku. Sekarang dia memanfaatkanku untuk misi negaranya. Awas saja kau, Ardan!' rutuk Arfi dalam hati.
Kesal setengah mati melihat ulah Ardan yang sangat pintar bermain siasat. Bahkan untuk urusan pribadinya.
Tidak heran jika Gerald sangat kewalahan menghadapi otak Ardan yang luar biasa picik memainkan trik.
"Haaatciiiih ... " Ardan mengusap ujung hidungnya yang gatal.
"Sial! Apa anak itu mengutukku dalam hati?" lirih Ardan.
Mendengar suara Ardan, Hazel menoleh, ia menghampiri lelaki berkaus ketat yang masih berdiri di depan pantry.
"Mas sakit?" tanya Hazel saat mendengar suaminya itu bersin-bersin.
Ardan menarik ingusnya, lalu tangan itu mengusap-usap ujung hidung.
"Sepertinya aku kurang enak badan," ucap Ardan manja.
Satu tangan Hazel menyentuh dahi sang suami. Matanya memutar, merasakan suhu badan Ardan yang masih normal.
"Gak panas, kok," katanya lugu.
"Masa, sih?" Ardan ikut menyentuh dahinya.
"Ah, coba kamu angkat kedua tangan ke atas, Hazel."
Dahi mulus itu berkerut. "Untuk apa?"
"Coba angkat saja!" perintahnya lagi.
Malas berdebat, gadis itu mengangkat kedua tangannya ke atas. Secepat kilat lelaki itu memeluk dan menaikan badan Hazel ke atas pantry.
Mengurung sang wanita di dalam dekapan kedua tangan yang tertumpuh pada tepi pantry.
Wanita itu tersenyum, satu tangannya membelai lembut rahang Ardan.
"Nakal ih." Colek Hazel di ujung hidung Ardan.
"Kangen, Sayang," adu Ardan manja.
Hazel tersenyum, satu jarinya sibuk memainkan helaian rambut Ardan yang jatuh ke depan dahi.
"Hazel," panggilnya lembut.
"Hem."
"Kangen," adunya lagi.
Hazel menangkupkan kedua tangannya di pipi Ardan. Memainkan ujung hidungnya pada hidung Ardan.
"Aku juga, Mas," balasnya lembut.
Ardan menangkupkan kedua tangannya di pipi gadis itu. Menempelkan dahi mereka dengan helaan napas panjang yang diperdengarkan.
***
Nara memerhatikan gedung yang ada di sebelahnya dari balik kaca mobil. Matanya melebar, besar.
"Kenapa berhenti, Dokter?" tanya Nara saat sang suami melepaskan seatbeltnya.
"Makan malam dulu, sebelum pulang ke rumah."
Gadis itu bergeming, saat Pedro sudah keluar dari mobilnya. Ia mencium aroma tubuh sendiri.
"Makan malam dengan aku yang udah bau begini?" tanya sendiri.
Satu tangan memutar spion mobil, melihat tampilan wajah yang sudah kacau dan lelah sehabis pulang kerja.
"Ayo!" Ajak lelaki berparas manis itu seraya membuka pintu mobil Nara.
Gadis itu menggaruk sudut dahinya.
"Itu, Dokter. Aku jorok begini," jawab Nara segan.
Lelaki itu menarik badan Nara untuk segera keluar. Merangkulnya untuk masuk ke kafe mewah yang telah Pedro siapkan.
"Memang kenapa kalo jorok? Yang penting masih cantik," goda Pedro.
Gadis itu ingin tersenyum, sekuat tenaga ia menahannya. Lalu mata itu melirik, melihat wajah Pedro yang sedang memerhatikan wajahnya.
Bibir sensual itu mengembang, kepalanya menggeleng lemah. Grogi, saat dipandangi oleh mata tajam itu.
Pedro menarik salah satu kursi di sana. Lantas lelaki itu berjalan ke arah kasir. Memesan sekaligus membayar pesanannya langsung.
Dari sini, mata itu terus memerhatikan sang suami. Gayanya, senyumnya, bahkan usapan tangannya yang sesekali menaikkan rambut yang jatuh ke depan dahi.
Pelan gadis itu mengigit bibir bawah, entah sejak kapan ia jadi peduli pada segalanya tentang pria berdarah setengah Spanyol itu.
Saat akan berbalik, langkah lelaki itu terhenti oleh dua orang gadis yang menghampirinya.
Menggoda, di mana pun dia berada lelaki itu memang tampak sedikit berbeda.
Senyum yang terkembang perlahan memudar. Kinara menundukkan wajahnya, sedikit kecewa. Ada yang tidak rela ketika prianya di goda.
"Maaf, saya sudah menikah!" ucapan itu terdengar sedikit menekan.
Kinara membuang pandangan ke arah luar. Jenuh, ternyata memiliki pria tampan itu sangat merepotkan.
"Kenapa tidak katakan saja dia masih single dan mencari pasangan?" gumam Nara kesal.
"Kamu cemburu?" pertanyaan itu membuat kepala Nara menoleh.
Gadis itu menggeleng, tersenyum kaku saat lelaki itu duduk di depannya.
"Kenapa tidak kamu akui saja kalo cemburu?" tanya Pedro menggoda, kedua alis mata itu memain. Membuat amarah Nara hampir meluap.
"Kenapa aku harus cemburu?" tanya Nara ketus.
Pedro melipat kedua tangannya di atas meja. Lalu, badan tegap itu condong ke depan.
"Tentu saja karena kamu istriku." Lelaki itu menggigit bibirnya, satu matanya berkedip untuk menggoda.
Nara memaling, terkekeh miris.
"Hanya pernikahan di bawah tangan, apanya yang bisa dibanggakan?"
Mendengar ucapan itu, Pedro memundur. Terdiam sembari menunggu makanannya datang.
Hening, sepanjang mereka makan hanya diam tanpa suara. Sesekali mata Nara melirik. Melihat wajah Pedro yang masih asyik memakan hidangannya.
Bergeming, hanya peraduan sendok dan piring yang berdenting.
Perasaan bersalah hinggap di dalam hati sang wanita. Nara meletakan sendok, lantas berdehem pelan.
"Dokter."
Lelaki itu melirik, lalu kembali sibuk memasukan makanan ke dalam mulut.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Nara hati-hati.
Pedro mendengkus, ia ikut meletakan sendok dan menatap sang istri.
"Aku hanya lelah, cepat habiskan setelah ini kita pulang."
Kinara terdiam, rasanya lelaki itu agak berbeda. Jelas-jelas tadi dia masih menggoda.
Apakah ada yang salah dari ucapannya?
Selesai makan, lelaki itu langsung melengos ke arah parkiran. Tanpa di sadari, dompetnya terjatuh dan tertinggal.
Gadis itu menyadari, secepatnya ia meraih dan ingin mengejar. Namun, langkah Pedro lebih dulu menghilang.
Kinara menghela napas, mengingat ucapan terakhir sebelum lelaki itu bersikap dingin seperti ini.
Tatapan teralih pada dompet sang lelaki, ada terselip sebuah foto di sana. Dan itu membuat bibir Nara mengembang dengan lebar.
Satu tangannya mengeluarkan foto itu. Lantas melihatnya dari dekat. Entah sejak kapan foto pernikahan dia tercetak, Pedro tidak pernah mengatakan apa pun.
Mata gadis itu menelisik, melihat kartu tanda pengenal sang lelaki. Ia mendengus, lalu tatapan mencari sang suami.
Kenapa? Dia tidak menyadari niat Pedro malam ini adalah untuk merayakan ulang tahunnya?
Langkah dengan heels itu sedikit berlari. Mencari keberadaan sang suami.
Sedikit memburu, ia mengatur napas ketika mata menemukan Pedro berdiri di depan toko kaca. Memandangi gaun putih yang terpajang di manequeen.
Gadis itu menghampiri, berdiri di sebelah Pedro dengan tatapan yang terarah pada gaun putih di sana.
Hening. Dia bingung, mengapa lelaki itu bergeming di depan sini.
"Dokter."
"Dulu saat aku tinggal di Spanyol. Mama sering membawaku untuk melihat acara pernikahan. Seorang gadis dengan gaun putih, diantarkan sang ayah ke dekapan sang lelaki. Berjalan ke depan Altar." Bibir tipis itu mengembang, lebar.
"Lalu aku bertanya, akankah ada gadis yang akan diantarkan sang ayah ke dekapanku kelak?" Pandangan itu tertunduk, bibirnya masih tersenyum dengan lebar.
"Kala itu aku tidak tau. Kalo dalam Islam, bukan diantarkan ayah ke dalam dekapan. Melainkan berjabat tangan untuk memindahkan tangung jawab sang anak pada orang asing yang berjanji akan membimbing dan menyayangi sepenuh hati."
Pedro melirik ke arah Nara, memutar badannya berhadapan dengan sang istri.
"Ayo kita pulang," ajaknya lembut.
Gadis itu mencekal lengan Pedro, menahan langkah sang suami yang akan pergi.
"Tunggu, Dokter." Tahannya tertunduk.
Dia meremat kedua jemari tangannya, kuat ia gigit bibir bawah itu. Lantas mata melirik, melihat Pedro yang masih menunggunya.
"Apa kamu mau?" tanya Nara lirih.
Satu alis Pedro terangkat. Bingung.
"Mencoba baju pengantin itu bersamaku?"