
"Kamu baik-baik saja?" Tergesa lelaki berkacamata itu menghampiri sang belia.
Langkah Sasy yang ingin berlari ke kamar mandi terhenti. Satu tangan memegangi sudut dahi yang terasa sangat nyeri.
"Pindahkan tanganmu, aku ingin melihatnya." Lembut lelaki berwajah teduh tersebut menarik tangan Sasy.
Dahi mulus itu terlihat memar, perlahan menjadi kebiruan dengan sedikit membengkak.
Iris hitam di balik lensa itu menatap nanar. Ingin memarahi kecerobohannya, tetapi juga ingin tertawa melihat ulahnya.
Ferdi menarik napas, lantas bibirnya tersenyum.
"Hah, kamu ini. Kenapa masih saja ceroboh sekali?" Satu tangan kekarnya mengacak puncak kepala.
Ia menarik tangan itu untuk kembali ke arah belakang kafe. Mengeluarkan selembar sapu tangan lantas membahasinya dengan air hangat. Mengompres dahi itu lembut.
Sepasang binar bundar itu menatap ke arah wajah. Ferdi masih terfokus oleh lebamnya, dan Sasy terus memandangi seraut wajah dewasa tersebut.
Bibir mungilnya tidak bisa berhenti tersenyum. Dadanya menghangat, terlebih saat perhatian Ferdi mulai kentara terlihat.
Perlahan kepalanya menunduk, sebelah alis Ferdi terangkat. Memandangi wajah gadisnya yang mulai memerah.
"Masih sakit?" tanya Ferdi lembut.
Sasy hanya menggeleng. Membuat lengkungan kembali terbentuk di bibir tipis lelaki itu. Tangan kekarnya menarik kepala Sasy, mengecup lembut bekas lebam itu dan seketika Sasy mendongak.
Badan tegap itu menunduk menyejajarkan wajah seraya berkata.
"Aku memang suka sifat ceriamu. Tapi bisakah tidak seceroboh ini lagi? Aku benci jika melihat kamu terluka, Sayangku."
...***...
Sedikit terkejut saat tangan gemetar itu diraih sang Mama. Nigar menoleh, melihat wajah Almira yang tersenyum lembut padanya.
"Bukan Mama tidak mengerti rasa takutmu, Sayang. Tapi kamu memang harus melawan segala trauma itu. Ingat saat doktermu mengatakannya hari itu? Semua kembali lagi pada dirimu, jika bukan kamu yang membuka diri. Selamanya, kamu akan terkungkung masa lalu dan traumamu."
"Bukan aku tidak mau, Ma. Tapi aku tidak bisa."
"Cobalah, Khadijah."
"Aku sudah mencobanya, Ma?"
"Apa yang dicoba?"
Gadis itu kebingungan untuk menjelaskan. "Mencoba melakukannya."
Almira tersenyum lembut. "Kamu yang mencobanya? Atau kamu hanya menerima perlakuan Arfi?"
Gadis itu berdiam.
"Bukalah dirimu, Khadijah. Arfi adalah suamimu. Sudah tidak ada lagi batasan antara kamu dan dia. Lakukan apa yang memang harus kamu lakukan, jangan terus menutup diri. Arfi berhak atas dirimu. Mau sampai kapan kamu terus menjaganya? Arfi berhak atas tubuhmu."
Gadis itu tak menjawab, hanya menunduk dan Almira mencoba meraih kepalanya. Mengelus kepala berbalut hijab itu lembut.
"Kamu tau apa balasan bagi seorang istri yang mengajak duluan, kan? Kenapa harus malu? Arfi itu bagian dari dirimu saat ini. Cobalah buka dirimu, percayalah pada lelaki itu, Khadijah."
"Aku tidak menutupi apa pun dari dia lagi, Ma. Arfi bebas menyentuhku."
"Benarkah?" tanya Almira tersenyum tipis. "Apa yang sudah kamu buka untuk dia?" Pertanyaan itu membuat kepala Nigar menoleh.
"Rambut."
"Lalu kulitmu?"
Ragu, gadis itu menggeleng pelan.
"Sudah Mama duga. Kamulah yang tidak mau memulainya. Bagaimana kamu bisa mengatakan kamu sudah tidak menutupi apa pun saat kamu hanya membuka kerudungmu saja?"
"Lalu apakah aku harus berjalan tanpa busana di depan Arfi?"
"Jika perlu."
"Mama!" tekan Nigar, seketika wajahnya memerah dan sang Mama terkekeh.
"Kamu sudah dewasa, Sayang. Kamu tau apa yang harus kamu lakukan. Mama pun pernah menjadi pengantin baru, dan memang sulit membuka diri pada lelaki walaupun kita sudah menjadi miliknya. Pelan-pelan, Sayang. Bertahap, tapi lakukan sesering mungkin."
Gadis itu tertunduk, kedua tangannya meremat-remat gamisnya kuat. Menyadari genggaman tangan anak gadisnya, Almira kembali meraih tangan itu.
"Percayalah, Sayang. Tanamkan rasa percaya itu pada suamimu. Yakini bahwa dia tidak akan melukaimu. Dia melakukan itu demimu, demi kebahagiaanmu dan demi masa depanmu. Bukan hanya sekadar nafsu dan keinginannya semata. Arfi pasti melakukannya dengan sangat hati-hati, Mama percaya. Dia tidak akan melukaimu."
Almira mengelus puncak kepala gadisnya, lalu mengecup dahi putih itu sebelum bangkit.
"Tinggalah semalam. Mama akan menjamu menantu Mama hari ini. Dan Mama gak ingin dengar bantahan." Wanita paruh baya itu langsung pergi. Meninggalkan anak gadisnya sendiri.
Lalu tatapan itu beralih pada jemarinya yang mulai mereda dari getaran ketakutannya sendiri.
Hanya Almira satu-satunya tempat dia bisa bercerita dengan sangat bebas. Karena wanita itu yang selalu mendampinginya, tanpa perlu Nigar katakan rasanya. Ibu angkat itu akan paham dengan keadaan sang anak.
Semesta bekerja dengan keadilan. Ada yang terluka, lalu dipertemukan dengan yang menyembuhkan. Tujuannya? Agar kita sadar akan kebesaran-Nya.
...***...
Gadis itu tersenyum seraya membawa segelas air untuk sang suami. Arfi hanya tersenyum sekilas, lalu kembali sibuk pada ponselnya.
Gadis yang sudah duduk di depan cermin itu hanya melihat pantulan sang suami seraya menggulum bibirnya.
"Kalau emang harus pulang, kita pulang saja."
"Tidak usah. Udah malam, lagian gak enak sama Mama dan Ayah."
Nigar hanya mengangguk, lelaki itu meletakan gawainya. Baru tersadar jika ranjang di kamar ini lebih kecil dari ukuran miliknya.
"Nigar, apa ranjang ini bisa dipakai tidur berdua?"
Gadis yang tengah menyisir rambut itu menoleh, melihat Arfi yang masih mengukur kasur.
"Kalau gak muat Arfi tidur di bawah."
"Heh?" Lelaki itu melirik, lantas seringai nakal menghiasi wajahnya.
"Dari pada tidur di bawah. Kenapa kita tidak menyatu saja?" goda Arfi seraya memainkan alis matanya.
Gadis itu hanya tersenyum, lantas kembali menatap cermin. Menyisir rambutnya seraya memikirkan perkataan sang mama.
Lalu, sesekali matanya melihat Arfi, lelaki itu tampak santai berbaring di kasur. Nigar menghela napas panjang.
Belum apa-apa, jantungnya sudah berdebar dengan sangat kencang. Ia bangkit dan membuka lemari di kamarnya. Mencari piama tidur yang sedikit terbuka.
Saat ingin menarik salah satunya, tangan itu terhenti. Melirik kembali ke arah Arfi. Kali ini mata itu juga tengah menatap ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Arfi dan gadis itu hanya menyeringai.
"Tidak ada."
"Kalau begitu ayo sini. Aku ngantuk, kita tes kasur," kata Arfi kembali menggoda.
Gadis itu meneguk saliva, perlahan berjalan mendekati sang suami. Merebahkan badan di sebelah Arfi, tangan kekar itu langsung menelusup ke bawah tengkuk. Mendekap gadisnya dengan membenamkan wajah di kepala Nigar.
Gadis berambut kemerahan itu terdiam. Berulang kali perkataan sang mama terngiang. Lalu, ia memiring. Melihat wajah Arfi yang sudah terpejam.
Lamat dan lekat, seakan ingin merekam seraut wajah tampan itu. Satu jarinya terangkat, menelusuri batang hidung mancung suaminya, lantas berhenti di atas bibir tipis sedikit kemerahan milik Arfi.
Arfi menarik napas, mengambil jemari Nigar, lalu mengecupnya lembut. Sepasang mata sayup itu terbuka, mencium dahi istrinya.
"Kenapa?" tanyanya lembut.
Gadis itu menggulum bibir, entah bagaimana caranya memulai. Masih malu, perlahan peluh mengaliri pelipis putihnya.
Punggung tangannya mengusap, dengan tegukan saliva yang semakin terasa berat.
"Panas, Arfi."
"Jadi mau gimana? Kalau gak dipeluk nanti kamu jatuh."
Bibir ranumnya terkulum. "Kalau aku buka baju boleh gak?"
Berulang kali mata Arfi mengerjap, lelaki itu langsung terduduk. Benar-benar terkejut mendengar ucapan sang istri.
"Apa?" tanya Arfi sekali lagi.
Nigar ikut terduduk, lalu dia memunggungi Arfi.
"Tarikan kancingnya, aku tidur pakai tantop, ya."
Sepasang mata itu kembali mengerjap dengan cepat. Demi apa gadisnya mau membuka diri?
"Arfi," panggil Nigar dan lelaki itu tercekat.
"Tolong," pintanya manja.
Lelaki itu mengangguk, kerongkongnya mengering dengan saliva yang semakin memahit untuk diteguk. Sedikit gemetar dia menarik kancing baju gamis sang gadis, baru beberapa senti menurun, pungungnya terlihat sangat putih dan mulus. Sedikit memerah saat hawa dingin dari air conditioner menerpa kulitnya.
Lelaki meneguk saliva, perlahan, dan ia malah bangkit tiba-tiba. Menarik selimut meletakannya di bawah kasur.
"Aku rasa memang akan sangat gerah kalau kita memaksa tidur di ranjang yang sama. Aku tidur di bawah saja. Kamu tidurlah."
Lelaki itu langsung merebahkan badan, memunggungi Nigar yang masih terdiam di atas kasur.
"Arfi," panggil Nigar bingung.
"Gak apa-apa, Sayang. Aku di bawah saja."
"Nanti kamu masuk angin."
"Tidak. Tidak akan." Lelaki itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Mencoba memejamkan mata. Berulang kali ia menarik napas. Meredam hasrat yang sudah tertantang.
Sementara gadis itu sedikit kecewa melihat sikap suaminya. Mungkin memang salah dia yang terlanjur mendiamkan terlalu lama.
"Arfi kalau kamu kedinginan nanti naik, ya."
Tak lagi menjawab lelaki itu hanya mengangguk.
'Huh, lebih baik aku menahannya dari pada harus meredam saat sudah setengah jalan,' batin Arfi memaki kesal. Kepalanya berdenyut tiba-tiba.