For My Family

For My Family
26



Untuk beberapa saat, Hazel terus menangis dalam. Sampai kantuk membawa lukanya memudar perlahan, ia terlelap setelah beberapa waktu menangis tanpa henti.


Hanya menyisakan sesegukan yang beberapa kali terdengar menganggu tidurnya.


Ardan mengangkat kepala wanita itu, memindahkannya ke atas bantal sembari menghapus beberapa bagian pipi wanita itu yang basah karena airmata.


"Sial, kamu bahkan memanggilku dengan nama pria lain. Jika kamu tidak bisa menjelaskannya saat ini, maka aku akan menghukummu saat kamu sembuh nanti." Ardan tersenyum tipis, jarinya merapikan helaian rambut Hazel yang menutupi sebagian pipinya.


"Tunggu sampai kamu sembuh, aku akan memikirkan hukuman apa yang pantas untukmu. Saat ini, istirahatlah dulu. Aku akan menunggumu," lirih Ardan lembut.


Ardan menghela napas dan menghapus sebagian celanannya yang basah karena airmata calon istrinya itu.


Mengeringkannya dengan tisu sebelum ia keluar dari ruangan.


Sekali lagi, ia melihat wajah pucat Hazel sebelum pergi. Memperhatikan kantungan mata Hazel yang lebih sering terlihat membengkak.


Setalah selama ini, bahkan ia tidak pernah melihat wanita ini tersenyum di depan matanya. Wajahnya selalu terlihat sendu tanpa ekspresi sama sekali.


Perlahan Ardan mendekatkan wajahnya, mencium lembut pipi mulus wanita itu.


"Cepat sembuh, Hazelku. Karena pernikahan kita tidak bisa menunggumu terlalu lama," bisik Ardan di telinga wanita itu.


Ardan kembali tersenyum, menatap wajah wanita itu yang sedang tertidur.


Andai dia menurut seperti ini saat sadar, mungkin itu akan sangat menyenangkan.


***


Hazel mengernyitkan dahinya saat tarikan jarum infus di punggung tangannya terasa sangat nyeri.


"Sudah," ucap Suster itu sembari menempelkan kapas antibiotik ke bekas tususkan jarum itu.


"Sus, anak saya apa sudah dipindahakan ke ruang perawatan?" tanya Hazel semangat.


"Hem, saya kurang tahu, Mbak. Nanti Mbak bisa kunjungi ke sana. Tapi setelah makan siang dan minum obat ya. Sekarang Mbak sudah tidak diinfus lagi, jadi haya bisa mengandalkan obat minum saja. Jangan nakal, ya," ucap Suster itu ramah.


"Baik, Sus." Hazel tersenyum dan mengambil kapas yang ditekan oleh Suster itu.


Setelah Suster itu pergi, Hazel juga keluar dari kamarnya. Berjalan menuju ruangan ICU tempat putranya berbaring selama dua hari ini.


"Mbok."


"Eh, Hazel. Kamu sudah datang."


"Kapan Surya akan dipindahkan, Mbok?"


Mbok Darmi menghela napasnya, ia duduk di antara jejeran kursi di depan ruangan ICU itu.


"Hazel, si Mbok sebenarnya bingung bagaimana menjelaskannya padamu. Tetapi Dokter Pedro bilang--"


"Bilang apa?" tanya Hazel penasaran.


"Bisa saja Surya menjalani operasi yang kedua untuk membantu tulang belakangnya. Bedah fusi spinal," ucap mbok Darmi lembut.


Hazel menundukan pandangan dan mengangguk pelan.


"Aku tahu, Mbok."


"Kamu tahu?" tanya mbok Darmi terkejut.


"Aku sudah mempelajari ini sebelum memutuskan untuk mengoperasi Surya, Mbok. Memang beberapa kasus skoliosis konginetal, bedah tulang belakang tidak hanya dilakukan sekali. Itu sebabnya Dokter Pedro pernah mengatakan, ini pengobatan dalam jangka panjang."


"Apa ... karena itu juga kamu ingin menikahi lelaki itu?" tanya mbok Darmi terus terang.


Hazel menghela napasnya dan tersenyum lembut.


"Mbok, pernikahan aku hanya tinggal beberapa hari lagi. Jika sampai saat itu Surya belum sembuh, aku harus bagaimana?" tanya Hazel bingung.


"Pergilah, ada si Mbok yang menjaga anakmu."


"Tapi ... aku ini Bundanya, Mbok. Haruskah aku menikah di saat anakku sedang terluka?"


Mbok Darmi mengambil jemari tangan Hazel dan menggenggamnya erat.


"Walaupun Mbok gak tahu kenapa kamu ingin menikah, Hazel. Tetapi tidak baik menunda ibadah. Kamu kalau mau menikah ya menikah saja, si Mbok akan menjaga Surya."


Hazel tersenyum lembut, perlahan ia menarik bahu wanita paruh baya itu untuk bisa ia peluk.


'Bagaimana aku bisa mengatakannya, Mbok? Aku tidak menikah untuk ibadah. Melainkan hanya perjanjian semata.' Hazel memejamkan matanya, melepaskan beban dari salah satu matanya.


Deringan ponsel Hazel harus melepaskan pelukan antara dua wanita itu. Hazel menghela napas saat melihat nama yang tertera di sana.


"Di mana kamu? Kenapa kamu selalu tidak ada saat saya ke sini?" tanya Ardan meradang di seberang sana.


"Saya akan ke sana sebentar lagi," jawab Hazel lembut.


"Kamu, cepat kembali!" teriak Ardan lantang.


Hazel langsung mematikan ponselnya, malas mendengarkan amarah lelaki yang akan segera ia nikahi itu.


Ardan memaki kesal, berani sekali wanita itu mematikan panggilannya begitu saja.


Ia menarik kursi, duduk dengan kasar di sebelah ranjang. Tangannya membuka penutup makanan. Lagi, Hazel tidak memakan nasinya.


Walaupun kesal dan sering menguji emosinya. Tetapi ia tidak bisa untuk tidak peduli pada wanita itu.


Ia sendiri kesal, mengapa ia harus begitu perhatian pada semua kebutuhan wanita itu.


Hazel membuka pintu kamarnya, menutup dengan pelan sembari berjalan mendekati pria kasar itu.


"Dari mana kamu?" tanya Ardan langsung.


"Hanya jalan-jalan," jawab Hazel sekenanya.


"Oh, sudah bisa jalan-jalan. Kalau begitu ayo kita pulang, tidak ada lagi alasan kamu untuk menunda pernikahan."


Hazel langsung melihat ke arah Ardan, ia menggaruk sudut dahinya.


"Itu, Pak. Saya rasa, saya harus tinggal di sini beberapa hari lagi."


"Kenapa?"


"Saya belum benar-benar sembuh."


"Gimana mau sembuh? Lihat ini." Ardan membuka penutup makanan Hazel. Memperlihatkan makan siang Hazel yang sama sekali belum tersentuh.


"Itu, saya belum lapar." Hazel terenyum kaku, tangannya sibuk menggaruk kulit di wajahnya.


Ardan melihat punggung tangan Hazel, masih ada kapas yang tertempel di sana.


"Ke mana cincin kamu?" tanya Ardan sinis.


"Ada."


"Kenapa gak dipakai?"


"Untuk apa? Lagian saya juga masih di rumah sakit."


"Kamu bilang untuk apa? Ya itu untuk menunjukan bahwa kamu sudah milik saya."


"Iya, nanti saya pakai saat saya keluar. Di rumah sakit memang harus ya pakai cincin segala?" tanya Hazel malas.


"Harus!"


"Kenapa?"


'Karena di rumah sakit ini ada lelaki yang jatuh cinta padamu. Aku tidak rela berbagi dirimu, bahkan walau dia hanya melirik ke arahmu,' batin Ardan kesal.


"Itu, ya karena kamu akan menjadi milik saya. Memang butuh alasan untuk saya memintamu memakai cincin yang saya berikan?" tanya Ardan garang.


Hazel memutar bola matanya, menghela napas dengan sedikit kasar.


Ia mengambil tas yang diletakan di bawah buffet. Mengeluarkan sebuah dompet dan cincin yang Ardan berikan.


Hazel menunjukan cincin itu ke hadapan Ardan, perlahan ia memasukan ke jari manis. Mengangkatnya ke depan mata Ardan.


"Puas?" tanya Hazel ketus.


Ardan tersenyum lebar, memperlihatkan jejeran giginya yang tersusun rapi.


Sebuah ketukan terdengar di telinga Ardan, secepat yang ia bisa. Membuka daun pintu kamar dan mengambil pesanan miliknya.


"Makan ini, saya harus kembali ke perusahaan."


Hazel mengambil kantungan plastik itu. Melihat isi yang ada di dalamnya.


"Anda sudah makan?" tanya Hazel lembut.


"Belum," jawab Ardan ketus.


"Kalau begitu, makanlah dulu sebelum pergi."


"Gak perlu, saya ada pertemuan setelah ini." Ardan mengelus pucuk kepala Hazel, ingin mencium pucuk kepala wanita itu.


Hazel menahan dada Ardan yang ingin mendekat.


"Jangan terlalu sering mencium saya. Bagaimanapun kita belum menikah, saya tidak ingin menjadi fitnah."


Ardan berdehem pelan dan membetulkan letak jasnya.


"Baiklah, saya akan menahan diri. Tetapi hanya untuk beberapa hari, karena saat keluar rumah sakit nanti. Kamu harus segera menikahi saya."


Ardan mengedipkan sebelah matanya, tangannya mengacak rambut wanita itu, gemas.


"See you, Hazelku," ucap Ardan lembut.


Hazel memutar bola matanya malas, dia hampir muntah saat mendengar ucapan alay lelaki dewasa itu.


Sejak kapan Ardan menjadi semenjijikan itu. Terus terang Hazel lebih suka saat Ardan bersikap ketus dari pada begitu.


Ardan mengeluarkan kacamata hitamnya, mengenakan benda itu dengan gaya sedikit angkuh.


"Hazel, entah kamu yang terlalu dingin atau aku yang terlalu ingin. Apapun itu, akan aku pastikan kamu hanya akan menatapku nanti."