
Semua mata tertuju pada gadis berhijab cokelat yang sedang menjelaskan di depan layar.
Ardan memainkan pena di ujung dagu, mengetuk sesekali sembari mendengarkan presentase wanita itu.
'Mata Ferdi memang jeli, gadis ini bisa menguasai apa yang ditinggalkan Hazel hanya dalam waktu sebulan. Bahkan melihatnya aku menemukan ide baru yang lebih brilian.'
Aplause diberikan setelah wanita itu menyelesaikan penjelasannya.
"Bagus, saya suka idenya." Lelaki berkacamata itu memuji dengan tepukan tangan yang masih ia berikan. "Ardan, bagaimana menurutmu?" Kini lelaki itu berpaling, menanyakan lelaki yang ada di sebelahnya.
"Cukup bagus! Tapi aku punya ide yang lebih bagus." Ardan menatap wajah gadis itu dan tersenyum tipis.
"Khadijah, apa yang kamu lihat ketika pertama kali membeli kosmetik atau makanan?"
"Ehm, label halal."
"Nah, itu. Kali ini kita harus meluncurkan kosmetik baru yang bisa dipakai wanita-wanita berhijab. Semakin banyak variasi kosmetik yang kita luncurkan, maka semakin besar pula kesempatan yang kita miliki untuk mengembangkan perusahaan ini."
Semua peserta rapat mengangguk, menyetujui ide yang Ardan cetuskan kali ini.
"Kali ini ada Khadijah di divisi promosi kita. Untuk perkenalan, dia cukup menarik, saya berpikir, wajahnya bisa mengisi sampul majalah dengan brand halal yang kita keluarkan nanti."
Seketika mata gadis itu mendelik, ia menatap Ardan, lalu menunduk perlahan.
"Ardan, begini. Khadijah adalaha karyawan baru di divisi. Jika dia yang maju sebagai model majalah, aku takut anak-anak yang lain akan iri."
"Katakan! Siapa yang berani menentangku?" tanya Ardan garang.
Ferdi mengalah, ia terdiam, walaupun ia tahu gadis itu tidak akan nyaman. Jangankan untuk dipampang di dalam majalah. Selama ini dia bahkan tidak suka saat ada mata yang menatap wajahnya terlalu lama.
Lelaki berkacamata itu menghela napas, melirik ke arah Khadijah yang menampilkan ekspresi datar. Ia sangat sadar, bahkan hanya mendengar ucapan Ardan saja sudah membuat ia tak tenang.
Tak bisa menentang, karena saat ini ambisi Ardan untuk mengembangkan perusahaan sangatlah besar. Ia kehilangan waktu untuk memanjat perlahan, karena desakan Gerald sudah sangat membuatnya kerepotan.
Ferdi melepaskan kacamatanya, kali ini siapa yang akan ia bela. Gadis yang perlahan sudah mengusik hatinya atau sahabat yang selalu mendampingi dirinya.
***
Ardan membuka pintu kaca ruangan kerjanya, menjelaskan beberapa perintah untuk menjalankan rancangan yang baru saja ia buat, beserta siasat licik yang ia paksakan.
"Em, Ferdi. Ganti semua kepala bagian dengan yang baru."
"Apa?!" tanya Ferdi sedikit berteriak.
"Kurasa salah satu mereka adalah anak buah Arfan, jika kita mempertahankan mereka, maka langkah kita akan selalu berada di belakang Gerald."
"Tapi kita gak tahu siapa biang keroknya? Bisa saja kita memecat orang yang gak bersalah. Ardan aku tahu kamu mau mengembangkan perusahaan ini dengan cepat, tapi gunakan logikamu juga, Kawan. Bukan seperti ini Ardan yang kukenal."
Ardan menjatuhkan kepalanya ke atas sandaran kursi, memejamkan matanya sembari memijat pangkal hidung mancungnya.
"Aku kelabakan, Ferdi. Bingung harus berbuat apa. Sudah sebulan, Green Kosmetik selalu berada di dalam pengawasan. Perusahaan ini gak bisa berkembang jika kita tidak berani mengambil resiko."
"Aku tahu, Ardan. Tapi pikirkan sekali lagi, mereka yang tidak salah? Apa yang akan mereka lakukan setelah dipecat? Sebagian lagi adalah orang yang sudah berumur, mencari pekerjaan baru juga tak mungkin di umur yang terbilang sudah memasuki masa tua. Kamu bisa saja menzaliminya, Ardan."
Ferdi menuangkan segelas air, memberikan ke hadapan Ardan. Mencoba mengembalikan kewarasan sahabat dekatnya itu.
"Tenanglah, Kawan. Aku tahu ini bukan pertama kalinya kamu mengalami kesusahan, jangan gegabah, kita bisa hancur ketika mengambil langkah yang salah."
"Aku mengerti," balas Ardan tanpa membuka mata. Ia menghela napas, mencoba menghirup udara agar sesak di dada sedikit berkurang.
Suara derap langkah terdengar semakin menjauh, hilang setelah suara pintu beradu.
Ardan membuka kedua kelopak matanya, melihat meja yang biasa ia pandangi saat lelah.
Kini mata itu mencari wanita yang jelas sudah tidak ada lagi. Biasa ada dia di sana. Yang mampu membuat Ardan tenang walau hanya memandangi wajahnya dari balik kaca.
Bayangannya memudar perlahan, tegantikan dengan gadis berhijab di depan sana.
"Sialan! Ferdi menggantikan istriku dengan wanita itu," gerutu Ardan geram.
.
Ardan menghela napasnya, memandang rumah yang tak terlalu besar miliknya. Perlahan ia merapikan helaian rambut yang berantakan. Melepaskan dasi dan menggulung lengan kemeja sampai ke siku.
Walaupun ia kacau dikantor, namun, ia tidak boleh terlihat kacau di rumah. Ada Hazel dan juga anak-anak mereka yang tidak boleh terlibat dalam masalah.
Setidaknya, ia tak ingin melihat istrinya khawatir tentang keadaannya. Terlebih, saat ini wanita itu sedang mengandung buah hati mereka.
Ardan menghela napas sekali lagi, ia berjalan dan membuka pintu depan.
"Assalamualaikum," ucapnya riang. Tak mendapatkan jawaban, malah disambut dengan aroma masakan yang menyeruak ke rongga hidung.
Bibir tipis itu tertarik, berjalan mendekati wanita berperut buncit yang sedang asyik pada masakannya.
"Masak apa? Aromanya harum banget?"
Wanita itu memalingkan wajah, senyum terkembang dari bibir mungilnya. Hal yang membuat Ardan tak mungkin menceritakan keadaannya, ia takut senyum manis itu berganti dengan senyum kekhawatiran.
"Mas sudah pulang?"
Lelaki itu hanya mengangguk, melatakkan jas di atas kursi bar dan mengecup kening wanita itu dengan lembut.
"Kamu masak apa?"
"Ini, aku rindu masakan bunda. Jadi aku buat kumpir, Mas coba deh, aku pingin tahu pendapat mas bagaimana?" Hazel mengangkat nampan panas yang baru ia keluarkan dari dalam mikrowave.
Segera tangan itu meraih sendok dan mengambil kentang panggang buatan istrinya, meniup pelan sebelum ia masukan ke dalam mulut.
Pelan bibir tipis itu mengunyah, memutar bola mata seraya menikmati rasa.
"Bagaimana?" tanya Hazel semangat.
"Rasanya seperti ada yang kurang, tapi aku bingung apa yang kurang?"
Hazel mengernyitkan dahinya. "Apa?"
Sendok itu kembali mengambil kentang yang baru selesai dipanggang, memasukan ke dalam mulut dan kembali memutar bola matanya.
"Em, apa ya?" tanya Ardan sendiri. "Oh aku tahu."
"Apa itu?"
Ardan memainkan jarinya, meminta Hazel untuk mendekatkan wajahnya. wanita itu hanya mengikuti keinginan suaminya, saat wajah mendekat, sebuah kecupan mendarat di bibir mungilnya.
"Nah ... sekarang rasanya udah pas. Ada makanan enak, dan ada kecupan hangat, ditambah istri cantik dan juga buah hati kita di sini. Pas, gak ada yang kurang."
Hazel terkekeh, ia mengelengkan kepala pelan.
"Dasar." Ia melepaskan sarung tangan yang sempat dipakai untuk mengangkat nampan panas itu keluar. Mencolek masakannya dan merasakan sendiri hasil kerja kerasnya.
Sedang, Ardan hanya bisa memandangi Hazel dengan tatapan nanar. Bagaimana ia tega membiarkan istrinya tahu bahwa perusahaan yang dikelola olehnya tidak sebaik dulu.
Ada baiknya dia berhenti dari perusahaan. Jadi, mau seburuk apa keadaan, wanita itu tidak akan kepikiran.
Ardan melilitkan kedua tangannya di bahu Hazel, mendekap wanita itu dari belakang. Perlahan napasnya terhela dengan sangat panjang.
'Kuatlah, Ardan. Ada anak dan istri yang saat ini harus kamu lindungi. Jangan kalah, apalagi menyerah. Bertekuk lutut di hadapan Gerald. Lupakan saja, karena saat ini ada keluarga yang membutuhkan punggungmu untuk melindungi mereka semua.' Ardan memejamkan matanya, mencoba menguatkan hatinya dari beban desakan ini.
"Mas ada apa?" tanya Hazel yang menyadari helaan napas Ardan sangat berbeda.
"Tidak ada."
"Masa?"
"Iya."
"Kalau gak ada apa-apa, kenapa napasmu terdengar lelah sekali?"
"Gadis yang menggantikanmu di divisi cantik sekali, Hazel. Aku takut, aku khilaf jika terlalu sering memandanginya."
Seketika Hazel melepaskan dekapan tangan Ardan, ia memukul dada bidang itu dengan sangat keras.
"Apa kamu bilang?" tanyanya garang. "Mas aku lagi hamil loh, jangan sampai anak ini kubawa pergi setelah lahir nanti."
Ardan terkekeh, perlahan ia mendekatkan bibirnya ketelinga wanita tersebut.
"Apa kamu cemburu?" bisiknya lembut.
Wanita itu menggigit bibir bawah, tanpa ia sadari, ia bisa lepas kendali begitu saja saat mendengar suaminya memuja wanita lain.
"Kenapa? Gak boleh?" tanya Hazel malu.
"Boleh. Tentu saja sangat boleh." Ardan menarik lengan wanita itu dan kembali mendekapnya erat.
"Itu artinya kamu mencintaiku dan takut kehilanganku, Sayang." Ardan menghela napasnya kembali, meletakan dagu di atas puncak kepala istrinya itu.
'Setidaknya saat ini, ada kekuatann baru yang membuat aku harus melawan. Cintamu yang baru tumbuh, tak akan kubiarkan layu. Apalagi sampai terinjak oleh keluargaku.'
"Terima kasih, Hazel," lirih Ardan pelan.
Wanita itu melilitkan tangannya di pinggang Ardan, walaupun ia tak paham makna terima kasih yang Ardan ucapkan. Kali ini dia bisa merasakan, bahwa ada sesuatu yang sedang suaminya sembunyikan.