For My Family

For My Family
123



Kinara menarik tangan Pedro memasuki rumah makan yang lumayan ramai.


Matanya menelisik, melihat jajaran lauk pauk dari balik kaca display hidangan.


Bibirnya terus terkembang, setelah sekian lama, akhirnya hobi menjelajahi kuliner nusantara kembali bisa ia nikmati.


Setelah tertunduk beberapa waktu, Kinara menoleh. Melihat Pedro yang terus memerhatikannya di sebelah.


"Anda mau makan apa, Dokter?" tanya Nara riang.


"Sama, kan saja."


Gadis itu mengancungkan jempol. Tangannya membenarkan letak tas di bahu, lantas berjalan mendekati salah satu pramuniaga yang ada di sana.


Pedro memilih kursi yang ada di pojokan, matanya terus memerhatikan gadis itu yang tengah riang memilih segala pesanannya.


Berbicara dengan sesekali melirik hidangannya, memilih setiap masakan yang membut matanya lapar.


Setelah selesai, matanya menyisir, mencari keberadaan sang Dokter. Tak susah, karena di antara pengunjung yang lainnya dia terlihat mencolok dengan tampilan gaya dan juga wajah yang sedikit berbeda.


Kinara mendekat, menarik bangku yang berhadapan dengan Pedro. Matanya terus memerhatikan wajah yang tengah tertunduk dengan dua jari di ujung pangkal hidung. Memijat lembut, menetralkan sakit kepala karena terus menahan mata menggunakan kafein dari kopi.


"Setelah ini kita pulang, ya," ajak Nara lembut.


Pedro melepaskan pijatannya, bibirnya tersenyum ketika melihat gadis berkuncir kuda sudah duduk di depannya.


"Makanannya belum semua dicicipi, bukan? Besok gak ada lagi, loh," sahut Pedro.


"Kalo mau nyicipi semua, bisa sampek malam, dong. Bukannya Anda masih harus ke rumah Mbak Hazel besok?"


"Kan, ke rumah Hazel besok. Bukan malam ini."


"Tapi Anda terlihat lelah, Dokter."


Pedro tersenyum tipis, iris cokelat itu menatapi wajah Kinara lamat-lamat.


Gadis itu mulai gelisah, menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu, tangan membelai rambut kuncir kudanya. Grogi, ketika mata itu terus menatapi wajahnya.


"Anda kenapa, Dokter?" tanya Kinara risih.


"Kamu bahagia bisa berada di sini?"


"Tentu saja. Aku suka sekali dengan kuliner nusantara. Rasanya, menikmati makanan itu adalah hal yang paling menyenangkan."


Gadis itu melipat kedua tangan di atas meja. Bola mata memutar, dengan bibir yang terus terkembang.


"Rasanya itu seperti--" Ucapannya terhenti ketika ia menyadari mata Pedro terus memerhatikan wajahnya.


"Seperti apa?" tanya Pedro lembut.


"Seperti benar-benar bisa menikmati hidup yang Tuhan berikan. Apalagi jika bisa keliling dunia dan memburu makanan dari setiap negara. Huwaaa ... membayangkannya saja sudah sangat bahagia." Kinara menumpuhkan dagunya dengan telapak tangan. Matanya mengawan, dengan pikiran yang terus melayang, entah ke mana.


Pedro ikut tersenyum, lelahnya berangsur pergi melihat gadisnya bahagia. Terlebih dia yang mulai membuka cerita tentang siapa dirinya.


Selama ini, hanya sikap dingin yang selalu ditunjukkan. Tak pernah bertanya dan bercerita apa pun. Hanya sebatas tersenyum saat berhadapan, atau hanya menyiapkan keperluan jika Pedro memintanya mengerjakan.


Melihat Kinara yang saat ini, rasanya lain sekali. Gadis yang biasa ketus dan kasar. Ternyata hanya seorang gadis dengan sejuta impian yang terangkum oleh harapan.


Kinara terus meracau, menceritakan segalanya, tentang hobi, mimpi, dan bagaimana dia bisa menyukai makanan-makanan ini.


Gadis itu terlihat kembali hidup, setelah sekian tahun terpaku pada satu asa tentang cinta. Dan itu membuatnya melupakan tentang hobi dan bahagianya.


Pedro ikut menumpuhkan dagunya, memerhatikan setiap ekspresi yang Nara keluarkan ketika ia terus bercerita.


Bahkan gadis itu masih terus menjabarkan siapa dirinya setelah makanan di depannya tertata secara sempurna.


"Huwaa ... ini nikmat sekali." Gadis itu mengibaskan tangannya di depan hidung, mencium aroma dari setiap masakan hangat yang terhidang.


Pedro hanya tersenyum, perlahan ia meraih sendoknya dan ingin mengambil salah satu lauk yang terhidang di sana.


Gadis itu lebih dulu mencomot menggunakan jari, sedikit kepanasan, mengembus sebelum memasukan ke dalam mulut. Mengisap jari tangannya.


Tawa Pedro pecah, ia menggelengkan kepala. Unik, Kinara seperti seseorang yang sangat berbeda.


"Ini enak, Dokter. Coba ini," ucap gadis itu seraya memindahkan sepotong kepala ikan gurame ke piring Pedro.


Menyesapnya dengan mata yang terpejam. Menikmati setiap rempah yang terkandung di dalam gulai tersebut.


Pedro memisahkan daging dari tulangnya, lalu memindahkan setiap daging ke piring nasi Kinara.


"Makan ikannya, bukannya kamu memesan karena selera melihat gulai kepala ikan?" tanya Pedro seraya memindahkan tiap potongan ke piring Nara.


Gadis itu menggeleng, cekatan tangannya ikut memindahkan potongan daging ikan kembali ke piring Pedro.


"Aku gak suka ikan, hanya ingin menikmati kuahnya. Anda saja yang makan ikannya, Dokter. Aku mau ayam rica-rica aja."


Pedro tertawa renyah, satu tangannya menepuki dahi. Lantas kepala itu menggeleng pasrah. Entah apa maksudnya, lucu sekali melihat Kinara yang seperti ini.


Lelaki itu mengalah, membiarkan sang gadis menjelajahi setiap piring pesanannya. Mencomot, dikira tidak suka. Maka akan berpindah pada piring suaminya.


Tanpa disadri, jika saat ini. Piring Pedro telah tertutupi oleh lauk yang menumpuk. Bahkan nasinya tak lagi terlihat.


Kinara kembali mencoba piring lauk yang tersisa, lalu tangan ingin meletakan di piring Pedro. Terhenti, saat melihat piring lelaki itu telah tertumpuk lauk.


Mata gadis itu melirik, melihat Pedro yang tengah menatapi wajahnya seraya berpangku dagu.


Kinara menyeringai, menarik tangannya, lantas memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Mengunyah dengan terpaksa, karena saat ini lelaki itu sedang memerhatikan tingkahnya.


"Sudah? Ini bagianku?" tanya Pedro seraya tersenyum lembut.


Kinara mengangguk, ia mulai sibuk memakan nasinya. Sesekali melirik, lelaki itu makan seraya menatapi wajahnya.


"Maaf, Dokter. Jika itu kebanyakan, berikan padaku setengahnya."


Tangan kurus Nara terulur, lembut Pedro memukul tangannya.


"Sudah diberikan padaku, jangan dirampas lagi."


Bibir itu memanyun, ia ikut memakan nasi di dalam piringnya. Dengan lauk yang lebih sedikit pastinya. Karena gadis itu lebih tertarik menikmati kuah, dibandingkan isinya.


Karena itu, sebagian teman-temannya ogah jika diajak berburu kuliner. Gadis itu selalu lupa diri jika sudah melihat berbagai macam makanan. Terlebih jika itu pedas dan banyak menggunakan cabai.


"Dokter."


"Hem."


"Boleh aku bertanya?"


"Katakan."


"Anda baru selesai piket. Tidak lelahkah menemaniku yang banyak maunya?" tanya Kinara seraya menyendoki nasinya.


"Lelah."


"Lalu, kenapa tidak menolaknya."


"Kalo aku menolaknya, maka akan semakin lelah."


"Maksudnya?" tanya Nara tanpa menatap Pedro, tangannya masih sibuk mengumpulkan nasi menggunakan sendok.


"Karena melihatmu bahagia, membuat lelahku menguap entah ke mana."


Gadis itu melongo, tangannya yang siap untuk memasukan makanan, terhenti sebelum menyuapi ke dalam mulut.


Pedro tersenyum, ia menyuapi Kinara yang tengah melongo memandangi wajahnya.


"Makanlah, jangan sampai lalat yang lebih dulu masuk ke dalam mulutmu itu. Nanti rasanya akan berbeda, Sayang." Pedro memainkan kedua alis mata, menggoda kekasih halal yang ada di depannya.


Kinara tersadar, ia menepuk dadanya yang terganjal makanan. Tangannya meraih gelas air di sebelah.


Menenggaknya dengan sesekali melirik wajah Pedro. Tersenyum seraya memerhatikan wajahnya dengan tangan yang terus meyuapi makanan.


Perlahan pandangan Kinara tertunduk. Bersemu ketika debaran itu mulai menganggu.


Ada desiran yang mulai menghangatkan jiwa. Entah apa itu. Mungkin sebuah kisah akan memulai perjalanan barunya.


Tentang cinta, yang akan tumbuh di antara dua hati yang pernah patah karena dan kecewa oleh keadaan yang tidak berpihak pada mereka.