
Ferdi meneguk salivanya dengan sangat berat. Seketika kerongkonganya mengering dan terasa sangat pahit.
Terlebih, saat mendapati kejujuran dari pengakuan gadis impiannya itu.
Iris cokelat itu meluruhkan bebannya. Mencoba mencari secarik asa yang terbelah dari masa lalu kelamnya.
"Kapan itu?" Ragu, lelaki berkacamata itu bertanya.
Khadijah menghapus air yang tak kuasa untuk ia tahan.
"Sekitar lima atau enam tahun lalu. Entahlah, saya tidak ingat."
"Kenapa bisa? Maksudnya, berawal dari apa kejadian itu bisa menimpahmu?"
Gadis itu tertunduk, pelan punggungnya mulai bergetar. Lirih isakan terdengar, semakin dalam saat kenangan pahit itu terputar.
"Ada luka yang tak pernah sembuh di jiwa saya. Ada trauma yang tak pernah hilang dari ingatan saya. Bisakah Anda jangan bertanya tentang hari itu? Saya hanya bisa mengatakan bahwa saya ternoda, tapi tidak dengan rinci kejadiannya."
Ferdi kembali menelan salivanya, ia menarik tisu, lalu berjalan mendekati Khadijah, berlutut di hadapan gadis itu. Pelan, tangannya mulai menghapus buliran yang terus tumpah.
Tanpa perlu ditanyakan, sebenarnya luka itu sangat dalam tersampaikan. Bukan hal mudah untuk mengakui luka atas diri yang ternoda. Ada sesal yang berkecamuk, rasa jijik dan juga rasa benci karena diri terjamah nafsu duniawi.
Sering kali, korban pemerkosaan terjun ke lubang hitam kehidupan. Mental yang melemah, jiwa yang terluka dan diri yang ternoda. Ditambah tatapan sinis dari mereka yang menatap tak suka.
Ada sebagian orang yang menyalahkan korban sebagai orang yang memancing. Bahkan tak sedikit yang menggunjingkan luka itu.
Sadarkah jika mereka yang ternoda butuh dukungan yang menguatkan. Bukan hinaan yang semakin menjatuhkan. Di dunia ini banyak hal-hal yang tak semuanya kamu pahami.
Cobalah untuk menutup mata dan telinga akan aib orang lain. Sebab bisa saja, ucapan yang tak kamu sadari itu telah mendorong orang lain menuju pekatnya dunia ini.
Ada mata yang melihat kejadian itu dari balik kaca kafe. Tak mendengar apa pun, tapi Ardan tahu ada hal yang sedang mereka ungkapkan masing-masing.
Lelaki itu memilih keluar dari pintu samping. Meninggalkan Khadijah dan Ferdi agar bisa lebih leluasa membuka luka.
Hening, bermenit lamanya gadis itu hanya terisak. Ferdi masih setia menyambut setiap air mata yang luruh dari mata indahnya itu.
"Saya tidak sempurna, Pak. Saya ... sudah terjamah," lirih gadis itu mengumpati dirinya sendiri.
Sesal atas kekuatan yang tak ia miliki. Bahkan hanya untuk sekadar melindungi mahkotanya kala itu.
"Anda, tak pantas bagi saya. Anda sangat menarik, carilah gadis yang sebenarnya. Jangan meminta saya yang sudah pernah dinodai dan digauli oleh orang lain. Saya ini--" Ucapan gadis itu terhenti saat sebuah tisu mendarat di atas bibirnya.
Ferdi bangkit dan melepaskan jasnya, menutupi bahu gadis itu lalu merangkulnya untuk berdiri.
"Naiklah ke mobil, kita butuh ruang untuk membahas hal ini." Pelan tangan itu menuntun Khadijah kembali ke dalam mobil.
Tangannya meraih ponsel yang bergetar, bibirnya tersenyum tipis saat sahabatnya itu lebih dulu pergi. Memberikan ruang untuk sebuah hati yang ingin membuka luka hidupnya selama ini.
***
Pelan gadis itu melahap hidangan yang ada di depannya. Mengunyah makanan tanpa ada nafsu sama sekali.
Ferdi memilih membawanya ke kafe yang lebih ekslusif. Sadar jika gadis itu tak nyaman hanya berdua di tempat sepi. Lelaki berkacamata itu memilih kafe dengan ruangan kaca yang menutupi privasi pembicaraan mereka.
Sesekali punggung tangan putihnya menyeka pipi chubby itu. Menikmati makanan seraya menelan kepingan luka kehidupan.
Ferdi hanya memandanginya, bulu mata lentiknya telah basah. Wajahnya pias, dengan hidung yang memerah karena tangisan.
Peraduan sendok dan piring membuat pandangan lelaki itu tertunduk. Gadis itu izin untuk ke toilet terlebih dahulu. Membasuh wajah yang basah oleh air mata dan juga hujan kehidupan kelam.
Setelah beberapa waktu berlalu gadis itu mulai tenang. Terlebih ketika ia bisa menatap wajah teduh lelaki di depannya saat ini.
"Maaf sebelumnya. Mungkin ada beberapa kesalahpahaman di antara kita, dan juga salah duga." Pelan suara itu terdengar sayup, sangat lembut. Siapa yang mengira bahwa banyak luka yang ia sembunyikan dalam kelemah lembutan segala sikapnya.
Ferdi hanya tersenyum, sebenarnya ia bingung harus berucap apa. Takut jika ucapannya hanya akan menjadi sembilu yang semakin menusuk kalbu gadis itu.
Hening. Gadis itu kembali tertunduk. Beberapa kali ia menghela napas panjang. Netranya menatap ke arah kaca, memandangi langit hitam tanpa cahaya.
"Jadi, inikah alasanmu menolakku?" tanya Ferdi lembut.
"Kenapa?"
"Karena Anda pantas mendapatkan yang lebih baik. Gadis suci dan terjaga. Bukan gadis hina yang pernah ternoda sebelumnya." Gadis itu terus tertunduk, sadar jika dirinya tak akan pantas bersanding dengan siapa pun.
"Bolehkah aku bertanya padamu?"
"Silakan."
"Apa yang membuatmu merasa diri tak pantas untukku? Apakah aku begitu sempurna di matamu?"
"Ya."
"Kamu tau, tak ada yang sempurna di dunia ini. Terlebih itu masa lalu orang lain."
Gadis itu terdiam, iris cokelatnya sempat menatap. Lalu, tertunduk untuk menjaga pandangan.
"Saya tau."
"Jadi, apa yang membuatmu menghakimi diri sendiri? Bukankah kamu lebih paham, bahwa Allah tak menyukai hamba yang menzalimi diri sendiri?"
Gadis itu masih terdiam. Ia merasa sedang diceramahi lelaki ini. Satu sisi lain lagi, yang membuatnya semakin menarik di hati.
"Kamu yang menggoda atau mereka yang memaksa?" tanyanya lagi.
Seketika gadis itu mendonggakkan kepala. "Apa maksud Anda?" tanya Khadijah tak suka.
Ferdi tersenyum tipis, akhirnya reaksi tercetak di wajah indah itu.
"Kamu yang menggoda atau mereka yang memaksa?" tanyanya sekali lagi.
Khadijah tersenyum kecut. "Apa di mata Anda saya semunafik itu?" tanyanya ketus.
"Jika mereka yang memaksa, bukankah sebagai wanita kamu membela diri saja tidak bisa?"
Gadis itu mengernyitkan dahi, semakin tak mengerti.
"Mereka yang memaksamu. Menyakiti tubuhmu, merampas mahkotamu, melukai mentalmu, merajam jiwamu dan meninggalkan trauma di ingatanmu. Masih pantaskah mereka mendapatkan pembenaran darimu lagi?"
Ferdi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Jangan terlalu baik, Khadijah. Mereka yang menghancurkan batinmu tak pantas untuk rasa sesalmu. Kamu menghakimi dirimu, sama saja seperti kamu membenarkan perbuatan mereka terhadapmu."
Gadis itu kembali terdiam. Ada sesuatu yang berkecamuk di dalam diri. Sebuah asa yang telah lama mati, kini mulai bangkit dan mencari kehidupannya lagi.
"Kamu korban, tak ada yang salah dari itu. Kamu terluka, dunia tau itu. Jangan menyalahkan dirimu. Kamu tak salah karena kamu dipaksa. Jangan menzalimi jiwamu, dia berhak bahagia, tak peduli gadis atau tidaknya dirimu."
Khadijah menatap nanar ke arah Ferdi, tangannya menyambut air bening yang kembali luruh dari mata indah itu.
"Anda tak mengerti. Ada sesuatu yang membuat saya begini. Dan ... Anda atau yang lainnya tak akan paham itu."
"Apa? Rasa sesal? Rasa gagal? Kamu merasa tak berdaya?" Ferdi tersenyum dan membenarkan letak kacamatanya.
"Kamu, bisa bertahan dan melewati ini semua, itu adalah pencapaian yang sangat luar biasa. Keluar dari belenggu kelamnya malam itu, adalah hal yang sangat menakjubkan. Kamu gak tahu, ada beberapa remaja yang memilih menyerah. Mereka memilih melepaskan hidupnya hanya karena kesalahan yang tak semestinya dia terima."
Ferdi tertunduk, ada luka yang menyapa jiwanya. Entah itu Arsy atau Khadijah. Pada takdirnya dia jatuh cinta pada gadis dengan luka yang sama.
"Tetap saja, Anda berhak mendapatkan yang lebih baik, Pak."
Ferdi menghela napasnya, ia menyandarkan punggung di sandaran bangku dengan tangan yang menyilang di depan dada.
Datar, menatapi wajah gadis itu yang terlihat sangat pias. Kenapa? Harus ada jiwa yang menyesali kejadian buruk tentang apa pun itu. Padahal, tak semua yang buruk membutuhkan penyesalan, karena ada sebagian takdir buruk terjadi bukan atas kesalahan. Melainkan sebuah ujian.
"Begini saja," ucap Ferdi datar. "Ayo kembali ke ibu kota dan temukan aku dengan walimu."
"Maksudnya?" tanya gadis itu bingung.
"Karena saat ini aku semakin mantap untuk menjadikanmu istriku?"
"Apa?"