For My Family

For My Family
24



Hazel membuka matanya perlahan, ia meraih sudut dahi. Mencoba menyadarkan pandangan yang memburam.


Perlahan pandangan Hazel kembali jernih ke semula, melihat dua wajah lelaki yang berada di sisi kiri dan kanan kasurnya.


Hazel menghela napas, ia ingin bangkit. Dengan cepat Pedro meraih bahu Hazel dan membantunya duduk di atas ranjang.


"Lepaskan tanganmu!" ucap Ardan lantang.


"Apa?"


"Aku bilang lepas!" Ardan menjauhkan kedua tangan Pedro yang menyentuh ujung bahu Hazel.


"Jangan sentuh calon istriku," ucap Ardan ketus.


"Apa?"


"Dia." Tunjuk Ardan ke depan wajah Hazel. "Calon istriku. Jadi, mohon jaga jarak," sambungnya kesal.


Hazel menangkupkan tangannya di depan dahi. Bahkan saat pertama kali ia membuka mata, Ardan sudah bersikap posesif dan membuatnya gerah.


"Kenapa anda bisa ada di sini?" tanya Hazel malas.


"Menurut kamu?" tanya Ardan kembali.


"Saya sudah tidak apa-apa. Anda bisa kembali bekerja," ucap Hazel lemas.


"Kamu mengusir saya?"


"Bukan, tapi bisakah anda biarkan saya istirahat? Saya sangat lelah," pinta Hazel lemah.


"Baik, saya akan meninggalkan kamu. Tetapi lelaki ini juga harus pergi, saya tidak mengizinkan kamu berbicara padanya lagi."


"Bagaimana mungkin? Dia Dokter di sini."


"Dokter bukan hanya dia saja, kan? Panggil Dokter perempuan ke sini!"


Hazel menajamkan tatapan matanya. Ardan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Membuang pandangan ke sisi kosong ruangan.


Menghindari tatapan mata Hazel yang mampu mengintimidasi dirinya itu.


"Hazel, apa kamu sudah merasa lebih baik? Berikan tanganmu, saya akan cek nadimu terlebih dahulu," ucap Pedro lembut.


Hazel mengulurkan tangannya, dengan cepat Ardan mengambil tangan Hazel dan mengganti dengan tangan miliknya.


"Periksa nadiku saja. Jangan sentuh kulit istriku," ucap Ardan tak suka.


"Tapi yang sakit Hazel, bukan anda. Bisakah anda bekerjasama?"


Hazel menghempaskan cengkeraman tangan Ardan, kembali mengulurkan tangannya ke depan Dokter Pedro.


Ardan hanya terdiam, walaupun sebenarnya ia tidak rela Hazel disentuh oleh Dokter pria.


Pedro meletakan jarinya di atas pergelangan tangan Hazel. Merasakan denyut nadi wanita itu. Perlahan Pedro menaikan pandangannya, tersenyum lembut sembari memandangi wajah cantik Hazel.


Sebuah telapak tangan besar terbentang tepat di depan mata Pedro. Ardan menghalangi pandangan Pedro yang sedang memperhatikan wajah calon istrinya itu.


Pedro beralih menatap Ardan, seuntai senyum sinis tergambar di wajah angkuh lelaki itu. Pedro menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. Melepaskan tangan Hazel.


"Gula darah kamu sangat rendah, jangan terlalu banyak pikiran dan cukup makan ya."


Hazel tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.


"Baik, Dok," jawab Hazel lemah.


Pedro kembali menatap Ardan yang berdiri berseberangan dengannya.


"Dia siapa?" tanya Pedro pada Hazel.


"Calon suami, dia," jawab Ardan ketus.


"Benarkah?" tanya Pedro kembali menatap wajah Hazel.


Hazel menganggukan kepalanya.


"Benar," jawab Hazel lirih.


Ardan melepaskan senyum puasnya, sementara Pedro hanya bisa menatap Hazel dan Ardan bergantian.


Pantas saja selama ini Hazel selalu menolak lamarannya. Ternyata yang ia pilih lelaki tinggi dan selalu berpakaian rapi seperti ini.


Tak perlu ditanya lagi, bahkan dari perawakannya saja ia terlihat begitu kaya.


"Baiklah, saya akan memberikan resep obat. Kamu, bisa tebus di farmasi rumah sakit," ucap Pedro berjalan menjauh dari Hazel dan Ardan.


Ardan menghela napas dan melirik ke arah Hazel.


"Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Ardan melunak.


"Mungkin hanya terlalu lelah," jawab Hazel lemas.


"Baiklah, istirahat. Saya akan menebus obat dulu."


Hazel menganggukan kepalanya, kembali merebahkan badan dibatas ranjang.


Ardan membuka pintu kamar, tanpa sengaja ia saling berhadapan dengan mbok Darmi yang ingin masuk ke dalam.


Mbok Darmi langsung mendekati Hazel yang masih terbaring lemas di atas ranjang.


"Hazel, kamu sudah sadar?"


"Sudah, Mbok."


"Kamu ada perlu sesuatu? Mau minum atau makan?" tawar mbok Darmi.


Hazel tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. Meminta mbok Darmi untuk mendekat kepadanya.


Hazel langsung memeluk pinggang bulat wanita paruh baya itu dan memindahakn kepalanya ke atas pangkuan mbok Darmi.


"Ada apa? Kenapa kamu jadi manja?" tanya mbok Darmi sembari mengelus lembut kepala Hazel.


"Aku kangen Nigar dan Omer, Mbok. Biasa saat aku sakit, mereka yang selalu menjagaku. Terlebih lagi, Omer. Saat aku sakit dia pasti akan membawa banyak kacang kenari ke kamarku." Hazel tersenyum, sekilas kenangan tentang kedua adiknya itu melintasi pikirannya.


"Jangan bilang kangen, Hazel. Si Mbok takut kamu nanti malah ingin nyusul mereka," jawab mbok Darmi lembut.


"Walaupun aku sangat ingin, tetapi aku masih punya Surya. Aku gak ingin meninggalkan Surya sendiri, Mbok. Surya, gak boleh hidup sendiri tanpa keluarga. Seperti aku saat ini."


"Ssst ... memang kamu ini. Si Mbok ini siapa kalau bukan keluarga kamu?" tanya mbok Darmi menjewer lembut telinga Hazel.


Hazel tersenyum dan mendongakan kepalanya, melihat wajah wanita gempal itu. Segurat keriput mulai menghiasi wajah teduhnya.


"Aku kangen mereka, Mbok. Kadang aku bertanya, seandainya aku tidak tinggal di asrama. Mungkin saat ini aku sudah tenang dengan mereka semua di surga."


"Hazel, jika kamu tidak terpisah sama keluargamu, mungkinkah kamu baik-baik saja. Mbok dengar mereka tidak melepaskan wanita muda, Hazel. Mereka itu--"


"Aku kangen sama kampung halaman, Mbok. Di sini hanya tempat asing. Tidak ada yang aku kenal di sini," putus Hazel sendu.


"Jika mengingat tragedi itu. Rasanya aku ingin sekali kembali ke sana dan membalaskan dendam keluarga ini. Mbok, mereka bukan hanya merampas kekayaan keluargaku, mereka bukan hanya merampas seluruh keluargaku dan masa depanku. Bahkan kuburan keluargaku di mana, aku tidak tahu, Mbok. Ayah, bunda, Nigar dan Omer. Entah mereka hidup atau mati. Entah mereka terkubur atau hanya dihanyutkan ke sungai. Aku sama sekali gak tahu, Mbok." Hazel membenamkan wajahnya ke dalam pangkuan wanita itu.


"Aku ingat Omer suka sekali kacang kenari. Aku melihat banyak kulit kacang itu tertinggal di rumah kami dulu, Mbok. Tapi selain itu, apapun tidak ada lagi di sana. Bahkan jasad-jasad mereka entah ke mana?" Hazel melepaskan tangisannya, membiarkan dirinya sesegukan.


Mbok Darmi hanya bisa menghela napas, membelai lembut kepala wanita muda itu.


"Jangan ingat lagi masa itu, Hazel. Bahkan Mbok juga sangat sakit jika mengingat luka itu."


Satu air mata mbok Darmi ikut melintasi pipi saat memorinya membuka kisah kelam masa itu.


"Mbok membesarkan Reza sendirian semenjak ayahnya Reza meninggal. Mbok rela bekerja apa saja demi menyekolahkan Reza. Tetapi hanya karena Reza seorang mahasiswa, ia gugur bersama pejuang lainnya."


Mbok Darmi mengambil napasnya dengan sedikit berat. Menghirup oksigen yang terasa begitu menyesakan dada.


Hazel terisak semakin dalam. Benar, luka itu banyak meninggalkan penderitaan bagi orang-orang seperti dirinya dan mbok Darmi.


Kisah kelam itu, sering menjadi mimpi buruk yang terus terulang setiap malamnya. Menjadikan tidurnya dan mbok Darmi tidak tenang, bahkan saat mereka dalam istirahatnya.


Setelah kelelahan menangis, Hazel tertidur di atas pangkuan mbok Darmi. Hangat sentuhan belaian tangan Mbok Darmi mampu mengurangi sedikit kerinduan itu.


Setidaknya, mbok Darmi juga berasal dari kampung halaman yang sama. Walaupun dulu mereka tidak saling mengenali.


Mbok Darmi menghapus sisa air matanya, memindahkan kepala Hazel ke atas bantal rumah sakit. Menghapus sisa-sisa air mata yang masih membuat wajah wanita muda itu basah.


Ardan berdecak kesal, hal yang paling tidak ia sukai adalah menunggu. Sudah hampir satu jam, tetapi farmasi di rumah sakit ini masih memadat seperti sebelumnya.


Ardan melirik jam di tangan kirinya, jika lebih lama lagi ia bertahan di sini. Maka ia akan melewatkan janji meetingnya.


Ardan keluar dari rumah sakit itu, memacu mobilnya menembus padatnya kota. Mendatangi apotek terbesar di kota itu.


'Siapa yang sudi menunggu lebih lama lagi?' batin Ardan memaki.


Walaupun ia ingin mencuri hati wanita itu. Tetapi ia tidak sudi menunggu, apalagi hanya untuk hal kecil seperti ini.


Ardan kembali ke rumah sakit itu, membuka ruangan inap Hazel. Terlihat wanita itu telah lelap ke dalam mimpinya.


Ardan tersenyum tipis dan membelai dahi Hazel lembut. Mencium pucuk kepala gadis itu.


Ia kembali memandangi wajah cantik Hazel yang sedang tertidur. Entah kenapa, ia bisa sangat terpesona oleh wanita ini.


Memang ia cantik, tetapi seharusnya bukan hanya dia saja wanita cantik yang ada di kota ini. Tetapi kenapa? Pandangannya selalu tertuju pada wanita ini di awal mereka berjumpa.


Ardan meletakan kantungan plastik obat itu di atas buffet. Meninggalkan sebuah memo dan keluar dari ruangan itu. Kembali pada kesibukannya.


Hazel mengerjapakan matanya saat merasakan perih pada tusukan jarum infusnya. Melihat seorang suster yang sedang menyuntikan obat ke dalam cairan infus miliknya.


"Mbak sudah bangun? Makanlah, dan minum obatnya," ucap suster itu lembut.


"Iya," jawab Hazel sekenanya.


Hazel meraih piring yang diletakan di buffet sebelah kasurnya. Matanya teralih pada setangkai mawar di sana.


Perlahan tangan Hazel mengambil bunga itu dan juga sebuah memo yang tertinggal di bawahnya.


'Saya harus kembali, kamu istirahatlah. Jangan kembali ke perusahaan sebelum benar-benar sehat.'


Hazel melihat bunga yang ada di tangannya, sebuah kilauan membuat matanya teralih.


Perlahan bibir Hazel tersenyum, saat jarinya mengambil cincin yang tersematkan di antara kelopak mawar merah itu.


"Kadang, dia itu bukan seperti Ardan saja," lirih Hazel.