
Ardan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Memandangi Hazel dan putranya yang sedang bermain di taman belakang melalui kaca jendela rumah.
Senyum Hazel, berbeda dari biasanya. Ia bisa tertawa dengan suara yang kadang terlepas dari bibirnya. Lesung di kedua pipinya terlihat dalam sekali, bahkan lesung itu bisa tercetak saat ia hanya berbicara pada putranya.
Dunianya, hanya terfokus pada anaknya saja. Ia menjadi seorang wanita biasa saat berada di dekat putranya.
Seperti tidak ada beban, ia bahkan bisa menjerit dengan besar, sekedar untuk menyemangati putranya yang sedang belajar berjalan.
'Mungkin apa yang dikatakan oleh Ferdi benar, bahwa aku harus bisa merebut hati putranya sebelum merebut hati mamanya. Tetapi bagaimana caranya?'
Ardan memutar bola matanya, Hazel akan sangat rentan dan sensitif jika itu bersangkutan dengan putranya. Dan juga, Surya bukan balita biasa pada umumnya, bagaimana cara ia agar bisa mendekati Surya tanpa harus mencolok di mata Hazel.
Jika ia yang tiba-tiba peduli pada Surya, mungkin Hazel akan menaruh curiga bahwa ia akan menyakiti Surya.
Ardan menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal. Kenapa sulit sekali mendekati ibu dari seorang anak itu? Padahal dia bisa menggandeng gadis dengan mudah.
Ardan menghela napas, ia meletakan kedua tangan di kantung jeans yang ia kenakan. Kembali melihat Hazel yang terus tertawa di taman belakang rumahnya.
Perlahan bibir lelaki itu ikut melengkung, melihat wajah istrinya itu tertawa, membuat suasana hatinya ikut gembira. Ia berjalan ke ruang tamu dan membuka penutup tuts piano.
Memainkan nada-nada sendu, sekadar melepaskan suasana hatinya yang terasa sangat baik setelah melihat sebuah senyuman terukir di wajah sendu wanita itu.
Mendengar suara alunan musik, Hazel berjalan memasuki rumahnya. Melihat hal baik apa yang mampu membuat Ardan begitu santai saat akhir pekan?
Ardan tersenyum saat melihat Hazel berjalan mendekatinya, jari-jari kekarnya masih cekatan menekan tuts hitam-putih itu untuk menciptakan alunan indah dari permainan pianonya.
Ardan menghentikan jarinya saat Hazel berdiri tepat di sampingnya. Ia menepuk space kosong yang ada di sebelahnya.
"Tumben anda bisa sesantai ini, Pak?" tanya Hazel sembari duduk di sebelah Ardan.
"Hanya dalam suasana hati yang baik. Saya hanya ingin melepaskannya saja," jawab Ardan lembut.
"Em, soal yang tadi malam. Saya mau minta maaf, Pak."
"Lupakanlah, saya tidak masalah," jawab Ardan kembali fokus pada tuts hitam-putih yang ada di depannya.
Mendengar alunan sendu yang di mainkan Ardan. Perlahan jari mungil Surya ikut menekan tuts yang ada di depannya.
Ardan memalingkan matanya saat permainan nadanya menjadi sumbang.
"Surya, jangan!" tahan Hazel cepat.
Ardan kembali menghentikan permainannya, melihat ke arah Surya yang ada di pangkuan Hazel.
"Pak, maaf--"
"Kenapa? Kamu penasaran sama musik, ya?" tanya Ardan pada bocah lelaki itu.
Ardan menekan satu tuts pada tangga nada mayor piano itu. Diikuti jari kecil Surya, menekan warna yang sama dengan yang Ardan tekan.
Ia kembali menekan tuts kres piano itu. Begitupun Surya yang ikut menekan tuts berwarna hitam itu.
"Apa dia pernah ikut fisioterapi keterampilan?" tanya Ardan lembut.
Hazel menggelengkan kepalanya, jangankan untuk melatih keterampilannya, bahkan berjalan saja belum bisa.
Lagian keterampilan apa yang bisa ia ikuti, Surya bukan anak sempurna yang bisa dilihat potensinya semenjak dini. Pikir Hazel.
"Sepertinya dia tertarik pada musik, bolehkah saya memangkunya?"
"Hah?" tanya Hazel terkejut.
"Saya tidak akan menyakitinya, hanya ingin melihat seberapa tertarik dia dengan musik," ucap Ardan lembut.
"Oh, tapi, bagaimana jika dia merepotkan anda?"
Ardan tersenyum dan mengangkat tubuh mungil Surya. Mendudukan di atas satu pahanya.
Perlahan jari-jari Ardan mulai menekan tuts hitam-putih itu. Surya hanya terdiam, ia melihat jemari Ardan yang menekan tuts itu secara bergantian, detik kemudian ia ikut meletakan tangannya di atas tuts piano. Mengikuti gerakan tangan Ardan yang mulai memainkan nada-nada lagu.
Ardan tersenyum, semakin lama gerakan tangannya semakin cepat memainkan nada itu. Tetapi anehnya Surya bisa mengikuti nada apa yang ditekan oleh Ardan.
"Menakjubkan," ucap Ardan menghentikan permainan pianonya.
Ia melihat ke arah Hazel dan tersenyum lembut.
"Kamu melihatnya? Dia tertarik dengan musik, di balik penyakitnya, dia juga punya bakat yang bisa diasah untuk masa depannya, Hazel."
Hazel masih terdiam, ia tidak percaya jika Surya bisa memainkan sebuah piano. Padahal sebelumnya ia hanya terbaring di atas kasur dengan alat-alat peyangga di tubuhnya. Benarkah ini putranya?
Perlahan Hazel menyentuh tangan mungil itu. Antara nyata dan tidak nyata, anaknya yang selama ini lemah. Benarkah bisa mengikuti permainan piano Ardan?
Satu air mata melintasi pipi Hazel, tangannya bergetar saat ia meraih jemari putranya.
"Surya, kamu benar anak Bunda, kan, Sayang?" tanya Hazel tak percaya.
Hazel menghapus airmatanya yang sempat melintas dengan punggung tangan. Ia melihat ke arah Ardan dan tersenyum lembut.
"Bagaimana bisa? Surya tidak pernah melihat piano sebelumnya?"
"Beberapa anak memang dilahirkan tidak sempurna, Hazel. Tuhan bukan hanya menciptakan ketidaksempurnaan saja, dia juga menyiptakan bakat dan kelebihan pada setiap anak. Surya bisa saja tidak sempurna pada mentalnya, tetapi Surya belum tentu tidak sempurna pada bakat dan kelebihannya, hm?"
"Tapi ini seperti tidak nyata, Pak. Saya dan mas Iqbal tidak ada yang bisa memainkan piano. Bagaimana mungkin dia bisa?" tanya Hazel kembali.
"Tapi Papanya kan bisa," jawab Ardan tak mau kalah.
"Papa?"
"Iya, saya Papanya."
Hazel melepaskan senyumnya dan menggeleng pelan.
"Kenapa anda bisa mengatakan kalau anda adalah Papanya?"
"Saya suami kamu, anak kamu berarti anak saya juga. Ada yang salah dengan itu?" tanya Ardan ketus.
"Tapi, Surya tidak sempurna. Itu bisa membawa reputasi buruk buat anda, Pak. Apa yang dikatakan rekan kerja anda, jika mereka mengetahui keadaan Surya?"
"Itu urusan mereka, kenapa saya harus peduli dengan apa yang mereka katakan? Ini kehidupan saya, suka atau tidak sukanya mereka, apa urusannya sama saya?" tanya Ardan ketus.
Hazel menghela napas dan menggelengkan kepala.
"Terserah anda," balas Hazel mengalah.
Hazel menarik badan Surya dari atas pangkuan Ardan. Mencium pipi anaknya yang mulai terlihat chubby itu.
"Kamu mengejutkan Bunda, Sayang. Sumpah, Bunda senang sekali melihatmu begini," ucap Hazel senang.
"Kita akan katakan ini pada Doktermu saat check-up nanti. Dia juga pasti akan sama terkejutnya dengan Bunda."
"Kapan jadwalnya?" tanya Ardan datar.
"Apa?"
"Kapan jadwal check-up kesehatan Surya?"
"Kalau begitu akan saya temani."
"Hah? Kenapa tiba-tiba? Saya tidak akan selingkuh degannya, Pak."
"Saya tahu, saya hanya mau menemani kamu saja. Apa tidak boleh?"
"Bukan begitu, tetapi itu hari Senin. Memang anda bisa keluar?"
"Kenapa tidak bisa? Direkturnya Ferdi bukan saya. Kalau saya mau meninggalkan kantor ya tinggali saja. Kenapa tidak bisa?"
"Tetapi check-up Surya itu lama, Pak. Bisa sampai satu harian hanya untuk menunggu antreannya."
"Kamu yang antre, telepon saya saat Surya akan memulai pemeriksaannya."
"Kenapa anda tiba-tiba ingin menemani kami?"
"Tinggal telepon saja, kenapa banyak sekali bertanya?" tanya Ardan mulai kesal.
"Iya, iya, baiklah. Saya akan menelepon anda nanti."
***
Hazel meremat jemari tangan Ardan saat melihat satu persatu benang di punggung belakang Surya di buka. Beberapa kali ia merintih, seakan ia yang merasakan perih dari tarikan benang bekas operasi itu.
Perlahan peluh keringat mulai melintasi pelipis matanya. Ia benar-benar tidak tega melihat putranya yang rewel karena sakit dari jahitan itu.
Sebuah tangan menutupi kedua mata Hazel, perlahan Ardan membalikan badan Hazel dan mendekapnya erat. Menutupi kedua telinga wanita muda itu.
"Jangan dilihat jika kamu tidak tahan melihatnya. Jangan didengar, jika kamu tidak sanggup mendengarnya. Ada saya, biarkan saya yang melihatnya untukmu," ucap Ardan lembut.
Hazel mendongakan kepalanya, melihat wajah Ardan yang berada di atasnya. Memperhatikan putranya dengan wajah yang serius.
Rintihan Surya terdengar membesar saat jahitan terakhir di tarik oleh Dokter Pedro dan rekan-rekannya. Hazel membalikan badannya, cemas saat mendengar tangisan bocah kecil itu.
Cepat tangan Ardan membalik kembali badan Hazel, menahannya agar tetap memunggungi anaknya yang sedang tengkurap di atas kasur.
"Tidak apa-apa, sudah selesai," ucap Ardan menenangkan.
Hazel kembali memandangi wajah Ardan, entah kenapa, saat melihat wajah tenang lelaki itu membuat hatinya sedikit lebih tenang.
Ardan melepaskan dekapannya dan berjalan ke arah Surya. Mengangkat tubuh bocah kecil itu saat perawatannya sudah selesai dilakukan.
"Bagaimana perkembangannya, Dok?" tanya Hazel saat melihat Dokter Pedro berjalan ke arah mejanya.
"Cukup baik, pemulihan Surya juga bisa dibilang cukup cepat."
"Lalu, kapan operasi keduanya akan dilakukan lagi?"
"Jangan terburu-buru, karena Surya juga masih terlalu kecil. Jika itu tidak mendesak, kita bisa tunda sedikit lebih lama. Untuk saat ini, kita awasi saja perkembangan dari operasi pertamanya ini."
Hazel memalingkan wajahnya ke arah Ardan. Tersenyum lembut saat mendengarkan ucapan Dokter Pedro. Syukurlah jika semuanya mulai membaik saat ini.
Lelaki itu ikut tersenyum, hanya saat segala sesuatu yang menyangkut Surya saja, ia bisa berekspresi sangat manis seperti ini.
"Eh, Dokter. Ada yang ingin saya sampaikan?"
"Katakan!" jawab Pedro sembari menulis beberapa resep obat untuk menyembuhkan bekas luka Surya.
"Surya, dia bisa mengikuti Pak Ardan bermain piano."
"Benarkah?" tanya Pedro sedikit terkejut.
Hazel menganggukan kepalanya dengan cepat, ia menjatuhkan kepalanya di atas bahu Ardan agar bisa memandangi wajah anaknya yang sedang berada dalam dekapan lelaki bertubuh tegap itu.
"Rasanya saya tidak percaya, Dokter. Surya bahkan berjalan saja masih tertatih, bagaimana bisa dia memainkan piano mengikuti gerakan pak Ardan?"
"Sebagian anak yang mengalami kebutuhan khusus memiliki kecerdasan yang luar biasa, Hazel. Dibalik keterbatasannya, mereka bisa menjadi orang-orang berbakat saat potensinya mulai terlihat. Saya berpikir, setelah umur lima tahun kita mulai bisa menggali potensi dalam diri Surya untuk membantu perkembangannya, tetapi sepertinya potensi Surya sudah mulai terlihat saat ini."
"Jadi, kapan Surya bisa memulai terapinya lagi?"
"Saat ini kita sembuhkan dulu skoliosisnya. Saat keadaan Surya sudah kembali membaik, kita akan mulai lagi terapinya, oke?"
"Emh," jawab Hazel mengangguk senang.
Dokter Pedro memberikan selembar kertas berisi resep obat. Ardan menarik resep obat itu dan memberikan Surya ke dalam gendongan Hazel.
"Bawalah Surya ke mobil, saya akan kembali setelah menebus obat."
"Tapi--"
"Pergilah!" perintah Ardan lembut
Hazel mengangguk, ia mengangkat badan Surya perlahan. Keluar dari ruangan itu, meninggalkan Ardan berdua dengan Dokter Pedro.
Ardan memandang sinis ke arah Dokter muda itu, ia mengeluarkan selembar kertas dan mengulurkannya ke hadapan Dokter itu.
"Bisakah anda datang ke alamat ini saat Surya sudah bisa melakukan terapinya?" tanya Ardan tanpa basa-basi.
Pedro mengambil kertas itu dan membaca alamatnya perlahan.
"Kenapa saya harus ke sana?" tanya Pedro dingin.
"Saya ingin anda memberikan terapi pribadi untuk Surya. Jadi, Hazel tidak perlu mengantre lama hanya untuk menemui anda."
Pedro tersenyum dan melepaskan kacamatanya. Memandang Ardan dengan tatapan tajam.
"Apa anda ingin saya menjadi Dokter pribadi anda?"
"Dokter pribadi Surya lebih tepatnya," balas Ardan sengit.
"Apa ... anda sedang ingin meluluhkan hati Hazel melalui Surya?"
"Itu bukan urusan anda. Hazel adalah istri saya, Surya adalah anak saya. Jelas, saya bisa menyewa Dokter yang lebih handal dari pada anda. Jika anda tidak mau, lupakan saja." Ardan mengambil lembar kartu yang sempat ia sodorkan ke hadapan Pedro tadi.
"Tunggu!" Tahannya cepat.
Ardan melihat ke arah lelaki itu dengan sengit. Jika bukan Pedro yang memahami seluk beluk penyakit Surya. Mana mungkin ia mau menyewa jasa Dokter ini untuk Surya.
Jelas ia sangat benci jika harus bertatap muka dengan lelaki ini. Bagaimana juga, ia terlihat sangat tertarik pada Hazel.
Pedro memainkan lembaran kartu itu dan tersenyum sinis.
"Apa anda tidak takut jika saya akan merebut Hazel darimu?"
"Tentu saya tidak percaya padamu. Tetapi saya percaya pada istri saya, dia bukan wanita yang akan mengingkari janjinya, lagi pula Hazel adalah milik saya. Seberapa keras pun anda menginginkannya, dia tidak akan pernah bisa lepas jika saya tidak melepaskannya," ucap Ardan sengit.
Ardan menyunggingkan sebelah bibirnya, ia menarik resep obat Surya dan berjaan ke arah pintu keluar.
"Ingat untuk datang saat akhir pekan. Bagaimana juga, saya tidak akan memberi anda celah untuk mendekat pada Hazel walau satu milimeter sekalipun." Ardan menarik daun pintu dan menutupnya dengan sedikit keras.
Pedro tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ternyata, saingan cintanya bukanlah orang sembarangan. Sikap angkuhnya didukung oleh latar belakang kehidupannya yang sangat kuat.
"Ardan Erlangga, ternyata itu dia," ucap Pedro sembari menatapi pintu tempat lelaki itu keluar.