Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Aku Siap Menerima Hukuman



Claudya mengangguk.


"Tapi kita makan dulu ya, kau pasti lapar?" tanya Luki.


"Iya, aku lapar," jawab Claudya sambil memegang perutnya.


"Aku mau nyari buah-buahan yang ada di hutan, mau ikut gak?" tanya Luki.


Claudya mengangguk.


Mereka berdua berjalan. Mencari buah-buahan yang bisa dimakan untuk mengganjal perut.


"Claudya sini," ucap Luki yang berdiri di dekat pohon arbei.


Claudya menghampiri Luki. Berdiri di dekatnya. Dia melihat Luki memetik buah arbei.


"Buka mulutmu!" titah Luki.


Claudya membuka mulutnya. Tangan Luki menyuapkan buah arbei itu ke mulut Claudya.


"Kunyah!" titah Luki.


Claudya mengunyah buah arbei itu. Mengunyahnya perlahan sampai habis.


"Manis gak?" tanya Luki.


"Manis, aku baru tahu kalau buah kaya gini bisa dimakan," ujar Claudya.


"Dulu saat aku kecil sering memakan buah ini," sahut Luki.


"Mau lagi," pinta Claudya.


Luki memberikan arbei yang dipetiknya pada Claudya. Mereka duduk di bawah pohon arbei. Memakan buah arbei untuk mengganjal perutnya.


Setelah makan, Luki berjongkok di depan Claudya.


"Naiklah! Kau masih lemaskan?" ujar Luki.


"Aku bisa jalan sendiri," sahut Claudya.


"Kau ingin jadi santapan harimau? Ya sudah, aku akan meninggalkanmu," ketus Luki.


Claudya cemberut. Luki mulai lagi mengancamnya dengan ancaman menakutkan.


"Hei kau mau hidup atau mati?" tanya Luki sambil menoleh ke belakang. Melihat Claudya yang cemberut.


"Kalau gak ikhlas gak usah, aku bisa jalan sendiri," sahut Claudya.


"Oke, aku sudah baik ya, paling juga nanti merengek," ucap Luki. Dia berdiri. Berjalan meninggalkan Claudya.


"Luki! tungguin!" teriak Claudya. Dia berdiri. Berlari menyusul Luki.


Claudya mengekor di belakang Luki sambil mengoceh ini itu. Memetik bunga, buah-buah ceplukan yang ada di jalan yang dilewatinya. Bermain dengan kupu-kupu.


"Jangan sembarangan pegang, kupu-kupu ada yang beracun, tapi ... baguslah kau mati tanpa harus ku bunuh," ujar Luki.


"Hih, dari tadi selalu bilang mati, bunuh, santapan ini itu, bisa tidak berkatalah yang manis," keluh Claudya.


"Kau mau aku bilang Claudya cantik, manis, iyakan?" tanya Luki.


Claudya berjalan mendekati Luki. Berjalan di sampingnya.


"Iya, seperti itu," sahut Claudya.


"Gak akan, lagi kau itu cewek gendut, penakut, cerewet," ketus Luki.


"Kau ya Luki, menyebalkan," sahut Claudya memalingkan wajahnya dari Luki.


"Marah? Nanti keriput, ke luar dari hutan jadi nenek-nenek," ledek Luki.


"Luki kau menyebalkan sekali sih," ucap Claudya menepuk lengan Luki.


"Aw ..., kau kerasukan singa betina, ganas," ujar Luki.


"Iiiih, nyebelin deh, Luki!" teriak Claudya kesal disebut kerasukan singa betina.


Luki langsung berlari. Segera Claudya mengejarnya. Mereka lari kejar-kejaran di antara pepohonan.


"Lambat ..., kegedean dada," ledek Luki.


"Aku benar-benar marah Luki, takkan ku maafkan," ujar Claudya sambil mengepal kedua tangannya. Melotot ke arah Luki yang berdiri di belakang pohon. Mereka terpisah oleh pohon besar yang membatasi keduanya.


"Sekarang kerasukan banteng, pantes tuh tanduk naik," ledek Luki.


"Luki nyebelin deh," sahut Claudya.


Mereka berdua kejar-kejaran memutari pohon besar itu sampai Claudya yang hampir menyusul Luki tergelincir. Tubuhnya menjatuhi tubuh Luki.


Bluuug ...


Claudya terjatuh di atas tubuh Luki. Mereka tak sengaja saling memandang kemudian membuang muka. Claudya bangun dari tubuh Luki. Dia merasa canggung jadinya.


"Berat juga, pantes gendut," ledek Luki.


"Kau ya, dari tadi bilang aku gendut, body shaming tahu," keluh Claudya.


"Dada gede, bokong gede, apa dong kalau gak gendut," ledek Luki.


"Luki!" teriak Claudya sudah kesal maksimal.


"Kesel deh!" pekik Claudya. Tangannya sudah siap memukul apapun yang menyebalkan.


"Astaga bakal ada badai atau tsunami," ledek Luki.


Claudya geleng-geleng. Benar-benar naik darah menghadapi Luki.


"Kejar aku katanya marah, lambat!" ledek Luki. Lalu berlari ke depan. Menghindar dari Claudya yang sudah kesal di level tertinggi.


"Lukiiii ....!" teriak Claudya dengan suara delapan oktap. Dia berlari mengejar Luki. Berlari sekencang mungkin.


Bluuug ...


Claudya terjatuh saat jalannya turun ke bawah. Luki yang berlari di depannya. Menengok ke belakang. Dia melihat Claudya terduduk sambil memegang kakinya.


"Kau jatuh? Atau sudah mati?" tanya Luki. Karena Claudya tak membalas ucapannya, dia menghampiri Claudya. Duduk di sampingnya.


"Kakiku ...," keluh Claudya. Kakinya Claudya terkilir. Dia kesakitan memegang kakinya.


"Sini biar ku pijat," ucap Luki.


"Kau mau mijat atau mematahkan kakiku?" tanya Claudya.


Luki tertawa kecil. Tak disangka mulai terbiasa dengan cara berbicaranya yang terkesan kejam dan sadis.


"Sini," pinta Luki. Dia mengambil kaki Claudya.


"Luki kau pelan-pelan," ucap Claudya.


"Iya Nona cerewet," sahut Luki. Dia mulai memijat


kaki Claudya dengan lembut. Sampai beberapa menit.


"Nah gimana?" tanya Luki usai memijat kaki Claudya.


"Udah enakkan, pintar juga Mas sadis memijatnya," sahut Claudya.


"Kau bilang apa?" tanya Luki.


"Mas sadis, sesuaikan?" ujar Claudya.


Luki tersenyum. Kemudian berdiri. Berjalan ke depan.


"Luki tunggu, aw ...." Claudya berusaha berdiri tapi kakinya masih sakit.


Langkah kaki Luki terhenti. Dia berbalik. Berjalan kembali menghampiri Claudya. Berjongkok di depannya.


"Naik! Aku tidak bisa meninggalkan hewan buruanku," ujar Luki.


"Hih," ucap Claudya cemberut. Tapi tak ada pilihan lagi. Mau tak mau naik ke punggung Luki.


"Nah gitu, jangan ngomong ya, telingaku bisa pecah, secara kaya aungan singa," ledek Luki mulai bangun. Berdiri sambil menggendong Claudya.


"Iya," sahut Claudya.


"Manis, kalau kau diam dunia berasa di surga," ucap Luki.


Claudya cemberut. Mengalungkan tanggannya ke leher Luki. Lama kelamaan dia kelelahan. Tertidur di punggung Luki.


"Si cerewet tidur juga," ucap Luki. Dia berjalan ke luar dari hutan sambil menggendong Claudya. Sesekali berhenti untuk mengambil nafas dan beristirahat. Kemudian kembali berjalan.


Empat jam penuh Luki berjalan sambil menggendong Claudya. Akhirnya mereka ke luar dari hutan. Di jalan terlihat Tuan Matteo dan Alex bersama anak buah Tuan Matteo berdiri di depan mobil Luki.


"Luki!" teriak Tuan Matteo.


Luki melihat ke depan. Dia tahu dengan konsekuensi atas perbuatannya. Tuan Matteo pasti sangat marah padanya. Dia sudah siap menghadapi kemarahan Tuan Matteo ataupun Alex.


Luki memanggil Claudya yang masih asyik tidur di punggungnya.


"Claudya bangun," panggil Luki.


Perlahan Claudya membuka matanya. Dia melihat ke sekeliling. Di depan ada Tuan Matteo, Alex dan beberapa orang yang tak dikenalnya.


"Luki kita sudah ke luar hutan," ucap Claudya senang.


"Iya, kau mau turun?" tanya Luki.


"Iya," sahut Claudya.


Luki menurunkan Claudya. Dia berjalan perlahan. Menuju kakaknya. Claudya langsung memeluk Alex. Sedangkan Luki berjalan menghampiri Tuan Matteo. Baru beberapa langkah ke depan. Tuan Matteo maju ke depan. Mendekati Luki.


"Tuan," sapa Luki.


Dug ...


Tuan Matteo mendaratkan satu pukulan pada Luki.


"Pukul lagi Tuan, aku memang bersalah," ucap Luki.


"Kau memang harus ku beri pelajaran," sahut Tuan Matteo.


Luki mengangguk. Siap menerima hukuman dari Tuan Matteo.


Pukulan demi pukulan mendarat di tubuh Luki. Dia pasrah tak melawan. Tuan Matteo menghajarnya habis-habisa. Claudya yang berdiri di dekat Alex, melihat ke arah Tuan Matteo dan Luki.


"Tidak, jangan!" teriak Claudya.