
Sora hanya diam. Dia tidak bisa memberi jawaban yang diinginkan Humaira.
"Sora tidak usah dipikirkan ucapanku tadi. Lakukan apapun dari hatimu ya?" kata Humaira
"Iya, makasih Humaira," jawab Sora. Dia tersenyum. Benar yang dikatakan Humaira, lakukan apapun dari hati.
"Nah es batunya udah ada," ucap Nenek Carroline sambil membawa wadah yang berisi es batu bersama Ibu Nita.
Nenek Carroline dan Ibu Nita memasukkan es batu ke kotak es buah. Wadah itu bisa menampung cukup banyak es jeruk yang akan dibuat mereka.
"Wah banyak juga es batunya, berarti harus banyak gulanya biar manis," ujar Humaira melihat es batu yang dibawa Nenek Carroline dan Ibu Nita.
"Jeruk perasnya juga harus banyak biar seger, jeruk baby-kan gak asem," tambah Sora.
Mereka kembali menambah gula dan perasan jeruk baby. Kemudian diaduk sampai jadi es jeruk yang menyegarkan.
Di sisi lain para lelaki juga sudah membakar udang, ayam, ikan, daging, s0t0ng, sosis, jagung dan kerang.
"Vin, Lo bakar ikan sampai gosong gitu, emang enak?" tanya Alex.
"Kak Alex gak tahu aja trend zaman sekarang, warna kentacy aja item, begitupun dengan ikan ini," jawab Gavin.
"Ya udah Vin nanti makan semua ikan gaul milikmu itu, aku gak mau," sahut Alex.
"Kak Alex akan menyesal menolak ikan zaman now, rasanya tiada duanya, sampai setiap gigitnya end0s gand0s," kata Gavin. Dia yakin ikan gosongnya enak sesuai tutorial membakar ikan dengan rasa arang.
Alex menggeleng. Dia merasa ikan yang dibakar Gavin tidak akan bisa dimakan.
"Vin, itu mah gosong, bukan ikan zaman now.," ujar Luki melihat Gavin hendak memakan ikan gosong miliknya.
"Kau tidak tahu saja, rasa ikan ini en- ..." Baru mengigit satu gigitan. Rasa pahit mendominasi. Mana udah koar-koar ikan zaman now. Ternyata gosong.
"Enak Vin?" tanya Luki penasaran melihat Gavin termenung memegang ikan bakar miliknya.
"Rasa arang paling, s0t0y sih," jawab Alex. Udah dibilangin bakal gak enak malah kekeh dengan pendapatnya sendiri, gara-gara melihat ayam goreng di youtube pada item semua.
"Vin masih banyak loh di piring, baru satu gigit aja loh mendadak linglung, gimana ngabisin semuanya?" ujar Luki.
"Rasanya sangat ..." Gavin masing tercengang.
"Sangat enak?" tanya Luki.
"Sangat tidak enak, serupa dengan arang dari pada makanan," jawab Gavin. Dia masih bisa merasakan rasa yang berbeda tapi nyatanya malah gosong.
"Aku tidak mau tau, abisin. Awas sisa satu pun!" tegas Alex.
"Astaga mana banyak lagi, satu aja teler makannya, gimana ini, andai ada Dodo, ku korbankan dia," sahut Gavin.
"Om! I am coming!" Dodo berteriak sambil menuju ke halaman belakang.
"Dodo! Panjang umur, baru mau ku korbankan," sahut Gavin kegirangan Dodo pulang ke rumah. Namun Gavin dan yang lainnya tak menyangka lima bulan ini membuat Dodo kembali gemuk.
"Itu Dodo? Bulat lagi," ujar Alex. Melihat Dodo gemuk lagi.
"Iya bukannya kemarin kurus?" ucap Tuan Matteo.
"Mungkin kebanyakan dikasih pupuk," jawab Pak Ferdi.
Dodo dengan susah payah menghampiri mereka semua.
"Assalamu'alaikum," ucap Dodo.
"Wa'alaikumsallam," sahut semua orang.
"Wah pas banget, Dodo laper lagi banyak makanan," ujar Dodo kegirangan melihat banyak makanan.
"Dodo, Om Gavin sebagai ayah yang baik hati ingin memberimu makanan khusus untukmu," ujar Gavin. Padahal ingin memberi Dodo ikan bakar gosong buatannya.
"Alhamdulillah, rejeki anak sholeh," sahut Dodo.
Alex dan yang lainnya menahan tawa. Sedangkan Gavin memberi Dodo ikan bakar gosongnya.
"Om ini ikannya item? Kenapa?" tanya Dodo.
"Lagi sakit Om bakar, jadi begitu," jawab Gavin. Mencari alasan yang tepat agar Dodo percaya.
"Kasihan ikan sakit kok dibakar Om, padahal obati dulu biar sehat baru dibakar," jawab Dodo.
"Udahlah yang penting itu ikan khusus Om persembahkan buat Dodo, anak kesayangan Om," sahut Gavin.
Dodo langsung nangis memeluk Gavin.
"Makasih Om, Dodo terharu. Kirain Om melupakan Dodo," ujar Dodo.
"Astaga gue merasa bersalah jadinya, itu ikankan gosong," batin Gavin gara-gara dipeluk Dodo jadi merasa bersalah.
"Aku kok merasa anak kelaparan di masa penjajahan," ujar Pak Ferdi.
Alex dan Pak Ferdi malah keasyikan melihat keduanya sedang berpelukan.
"Dodo, Om Gavin minta maaf jikalau mungkin ada kesalahan," ujar Gavin.
"Aku juga Om, makasih udah membuatkan ikan khusus buat Dodo, meskipun Dodo gak tega makannya kalau dikit," sahut Dodo.
"Kirain kenapa nangis? Ternyata karena sedikit," ujar Luki menggeleng. Tak disangka Dodo menangis karena sedikit.
Akhirnya Dodo mulai makan. Sedangkan Alex dan yang lainnya masih memanggang bahan-bahan lainnya.
"Kok ikannya kranci gini? Agak mirip arang," ujar Dodo begitu lahap makan dengan nasi sebakul.
"Padahal gosong, tapi enak aja dia makan," batin Gavin. Ngenes liat Dodo makan ikan gosong tapi tetep enak.
"Dodo kaya korban tanam paksa, makan ikan gosong dikira pizza," ujar Luki.
"Diamlah, yang penting ikan gosongnya habis," sahut Gavin.
Dodo dengan lahap memakan semua ikan gosong itu sampai habis. Karena kekenyangan dia tertidur di bawah pohon.
"Alhamdulillah ikan gosong dah abis, paling tidak aku tak harus menghabiskannya," ujar Gavin.
"Ikan gosong emang abis, tapi udang gosong banyak tuh, kau bakar sambil gosipin Dodo," sahut Luki menunjukkan udang gosong yang dipanggang Gavin.
"Eh, iya gosong ya, mana Dodo dah tidur, astaga gue bakal makan semua itu," ujar Gavin.
"Azab ayah durhaka itu," kata Alex.
Gavin menunduk. Mau tak mau bakal makan udang gosong itu.
Setelah semuanya selesai dipanggang, mereka semua berkumpul di tikar besar yang sudah digelar di tepi kolam. Mereka semua duduk dan mulai makan hasil panggangannya. Dengan nasi, sambel dan lalapan. Ditambah es jeruk yang menyegarkan.
"Alhamdulillah, nikmat," ujar Kakek David.
"Alhamdulillah," ucap yang lainnya.
Mereka begitu menikmati makan bersama. Semua lauk pauk, nasi, sambel dan lalapan ludes dimakan semua orang. Apalagi setelahnya minum es jeruk yang menyegarkan.
"Ini baru barbeque paling best," ujar Pak Ferdi.
"Paling menderita juga untukku yang harus menghabiskan udang gosong," sahut Gavin.
"Ya elah Kak, itukan salah Lo sendiri, karma nyata namanya," ujar Claudya. Dia tahu Gavin memberi Dodo ikan gosong.
Alex dan yang lainnya kembali tertawa. Meski banyak drama tapi membuat barbeque itu menyenangkan.
***
Masjid Al Malik
Suasana di masjid itu sedikit ramai. Sora duduk mengenakan pakaian pengantin. Menunggu calon pengantin pria yang akan datang. Sora terlihat cemas menunggu kedatangannya. Begitupun yang hadir di masjid. Sora hanya diam dan menunggu handphone miliknya nyala. Berharap calon suaminya segera menelpon.
Sementara itu Sophia dan yang lainnya merasa kasihan pada Sora. Sudah siang calon pengantin pria belum datang.
"Calon suaminya Sora jam segini kok belum datang juga," ujar Claudya.
"Iya, ini sudah telat tiga jam dari jadwal," sahut Humaira.
"Kasihan Sora. Udah nungguin juga," kata Ibu Marisa.
Sophia bangun. Menghampiri Sora dan duduk di sampingnya.
"Sora apa tak ada kabar dari calon pengantin pria?" tanya Sophia.
"Dari tadi ku telpon direject terus," jawab Sora.
"Kok bisa, kita semuakan menunggu," sahut Sophia. Dia merasa heran kenapa calon pengantin pria tidak mengangkat telpon dari Sora.
"Nak apa bener Niko akan datang? Ini sudah siang," kata Ibu Nita.
"Kemarin Niko bilang akan datang menikahiku," jawab Sora. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Sabar ya Sora, mungkin dia sedang dalam perjalanan," ujar Sophia berusaha menenangkan Sora.
"Makasih Sophia," sahut Sora.
Sophia mengangguk.
Mereka semua menunggu kedatangan calon pengantin pria. Sora terlihat cemas, dia takut Niko tak datang.