Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Pergi Ke Bandung



Alex masuk ke dalam mushola. Wudhu kemudian melaksanakan sholat dhuha. Tak lupa berdzikir dan berdoa. Alex percaya semua yang ada di dunia ini milikNya. Hanya kepadaNya dia memasrahkan segala urusan dunia.


"Alhamdulillah," ucap Alex bersyukur atas segala yang sudah diberikan Allah SWT padanya.


"Mas," sapa Sophia menghampiri Alex.


"Sayang," sahut Alex menoleh ke belakang.


Sophia meraih tangan Alex. Mencium tangannya. Alex membalasnya dengan mencium keningnya. Menatap mata emerald yang berbinar menatap Alex dengan penuh cinta.


"Sayang ada yang ingin ku bicarakan," kata Alex.


"Iya Mas," jawab Sophia. Dia tahu pasti Alex ingin bicara masalah yang tadi pagi dipendamnya.


"Kalau gitu kita duduk di balkon sekalian berjemur ya?" ujar Alex.


Sophia mengangguk.


Mereka berdua merapikan alat sholatnya. Ke luar dari dalam mushola. Menuju balkon lantai atas. Mereka berdua duduk lesehan. Berjemur di bawah sinar matahari pagi yang mulai menyapa hari. Tak lupa Alex mengelus perut Sophia, sesekali menciumnya. Alex begitu menyayangi istri dan calon anaknya.


"Sayang, perumahan yang baru ku rintis di Bandung sedang ada masalah," kata Alex. Tampak murung saat menceritakannya.


"Masalah apa Mas?" tanya Sophia. Dia ingin tahu masalah yang terjadi pada perumahan yang baru dirintis suaminya.


"Aku tidak tahu pasti, tapi ada hubungannya dengan tanah untuk mendirikan perumahan itu," sahut Alex.


Sophia menarik nafas panjang. Menghembuskannya perlahan. Sepertinya permasalahan yang dihadapi suaminya bukan permasalahan yang mudah.


"Kalau begitu Mas harus segera menyelesaikannya, pergilah ke Bandung Mas!" kata Sophia.


Belum juga Alex meminta pengertian Sophia untuk permasalahannya, ternyata istrinya itu sudah memahaminya.


"Sayang, kau tidak masalah ku tinggal?" tanya Alex menatap mata emerald itu. Dia takut Sophia akan membutuhkan kehadirannya di saat hari-hari kelahiran buah hatinya semakin dekat.


"Tidak Mas, tidak apa-apa, ada keluarga Mas, keluargaku dan orang-orang yang padaku," jawab Sophia.


Alex langsung memeluk Sophia. Berat rasanya harus berpisah dari istri tercinta penyejuk hati dan jiwa.


"Aku akan segera kembali Sophia," kata Alex. Matanya berkaca-kaca. Dia tak tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua..


"Iya Mas, sampai kapanpun aku akan menunggumu, aku tidak akan pergi sebelum kau kembali," ujar Sophia. Air matanya menetes di pipi kemerahannya.


"Jaga dirimu baik-baik sayang, aku akan selalu menelponmu, biar terasa dekat," kata Alex.


"Iya Mas, wajib menelpon setiap hari, aku dan Dede bayi pasti kangen," sahut Sophia. Di masa kehamilannya, Sophia memang selalu ingin dekat dengan Alex. Kalau bisa berduaan terus. Tapi kali ini Alex harus pergi untuk sebuah pekerjaan penting menyangkut masa depan perusahaannya.


"Iya sayang, Insya Allah," jawab Alex.


Sophia menikmati pelukan dari suaminya. Pelukan hangat dan penuh cinta yang akan dirindukannya.


***


Alex harus pergi ke Bandung. Terpaksa meninggalkan Sophia. Dia duduk di kursi belakang mobilnya. Kali ini Alex tidak naik pesawat. Memilih membawa mobil pribadinya yang dikemudikan supir pribadinya. Alex mengambil handphone di sakunya. Menyalakan layar handphone, mencari nomor kontak Kenan kemudian menekan tombol hijau.


Tuuut ... tuuut ... tuuut ...


"Kenan lagi bulan madu, pasti sulit menghubunginya," ujar Alex. Dia tahu mungkin Kenan tidak akan mengangkat telpon darinya. Tapi ternyata Kenan mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Kenan.


"Wa'alaikumsallam," sahut Alex.


"Bos, aku lagi bulan madu nih, mau nambah personil," ujar Kenan.


"Aku tak menyuruhmu kerja," sahut Alex.


"Terus Bos nelpon mau tahu caraku menambah personil?" tanya Kenan. Belum konek Bosnya mau ngomong apa. Disangka Alex mau tanya tutorial bikin personil tanpa bersusah payah.


"Kau lupa aku siapa? Untuk apa aku tanya pada cicak, kalau buaya lebih berkuasa," sahut Alex.


"Iya ya Bos, aku masih kelas cicak, sedangkan Bos udah kelas buaya," jawab Kenan. Kalahlah cicak ditindas buaya. Baru juga buaya nguap doang cicak udah terhempaskan angin, entah nyangkut di mana. Syukur-syukur gak nyangkut di atas pasukan kuning di pinggir kali.


"Oya, Bos nelpon untuk apa?" tanya Kenan.


"Pagi ini aku pergi ke Bandung Kenan," jawab Alex.


"Apa? Bos ke Bandung? Kenapa tak mengajakku?" tanya Kenan. Dia tidak enak Alex harus ke luar kota tanpa dirinya. Padahal istrinya sedang hamil tua.


"Tidak apa-apa, kau urus aja kantor di Jakarta selama aku pergi," kata Alex.


"Siap Bos!" jawab Kenan.


Setelah bicara dengan Kenan, Alex menutup telponnya. Matanya beralih ke kaca mobil di samping kirinya. Jalan sudah semakin meninggalkan kota Jakarta. Menuju Bandung melalui To Cipularang.


***


Sophia duduk di kursi bersama Keluarga Sebastian. Bersantai sambil menonton berita di televisi. Sebagian duduk di sofa panjang, sebagian duduk lesehan di karpet. Sambil mengobrol dan makan camilan. Begitupun Sophia yang sedang meminum jus yang dibuatkan Bi Inem.


"Kak Sophia, sudah seminggu Kak Alex belum pulang, gimana kabarnya di Bandung?" tanya Claudya. Kalau dekat berdebat terus giliran jauh kangen, seperti itu hubungan keduanya.


"Mungkin dua atau tiga hari lagi, katanya hari ini mau ke Pantai Pengandaran," jawab Sophia.


"Untuk apa Alex ke Pantai Pangandaran Sophia?" tanya Kakek David. Penasaran kenapa cucunya pergi ke Pantai Pangandaran. Padahal diakan sedang menyelesaikan masalah perusahaannya.


"Iya Sophia, untuk urusan apa Alex ke sana?" tambah Pak Ferdi.


"Aduh, cuaca lagi gak bagus ke pantai, Ibu jadi khawatir sama Alex," ujar Ibu Marisa. Dia mengkhawatirkan anak pertamanya itu. Apalagi sedang musim hujan. Langit akhir-akhir ini mendung.


"Begini Kek, Yah, Mas Alex ke sana untuk menyusul pemilik tanah yang dibeli untuk perumahan di Bandung," jawab Sophia. Dia menjelaskan maksud dan tujuan Alex pergi ke Pantai Pangandaran.


"Ngapain mesti ke sana? Bukannya pemilik tanah orang Bandung ya?" tanya Kakek David.


"Iya, orang Bandung, tapi beliau sedang pulang kampung ke daerah di pesisir Pantai Pangandaran," jawab Sophia.


"Untuk apa menyusul pemilik tanah? Bukannya sudah jelas tanah itu sudah resmi dibeli Alex ya?" tanya Pak Ferdi. Dia tak habis pikir kenapa Alex sampai menyusul pemilik tanah.


"Ceritanya begini Yah. Tanah itu milik beberapa orang tapi sertifikatnya milik satu orang. Dan satu orang itu menjual tanah itu pada Mas Alex," jawab Sophia.


"Jadi beberapa orang yang merasa memiliki tanah itu protes, karena tanahnya dijual tanpa sepengetahuannya, iyakan?" ujar Kakek David. Dia sudah tahu duduk perkaranya kenapa tanah itu bermasalah.


"Iya Kek, betul," jawab Sophia.


"Berarti Alex menyusul pemilik tanah agar dia menjelaskan pada semua orang yang memiliki tanah itu, benarkan?" ungkap Pak Ferdi.


"Iya Yah kurang lebih seperti itu," jawab Sophia. Apa yang dikatakan Pak Ferdi benar dengan apa yang terjadi.


"Astagfirullah, ada ya kaya gitu. Jual tanah orang buat diri sendiri," sahut Claudya.


"Ya ada lah Nak, biasanya orang kaya gitu cuma mikirin uang," kata Ibu Marisa.


"Betul Bu, demi uang dia menghalalkan segala cara," tambah Gavin yang berbaring di pangkuan Maria. Kebetulan sore itu Gavin main ke rumah Keluarga Sebastian.


"Iya, tapi kasihan yang lainnya Bang, tanahnya dijual tanpa sepengetahyannya," sahut Maria.


"Iya sayang, untungnya Abang sholeh ya, dijamin halal hasil kerja Abang," ujar Gavin membanggakan dirinya.


"Yaelah Kak, udah bukan pengantin baru, overdosis nih dengerin kau ngomong," sahut Claudya.


"Tenang cinta, Mas akan gombal total kaya Gavin," kata Tuan Matteo.


"Gak usah Mas, diem aja aku udah terpana," sahut Claudya. Takut Tuan Matteo baca puisi lagi. Apalagi di depan Gavin, bisa kena mental dia.


Sophia dan yang lainnya tersenyum. Tuan Matteo memang tak pandai menggombal. Meskipun dia pandai membuat Claudya bahagia.


Tak lama handphone Sophia berdering.


Kriiing ... kriiing ... kriiing ...


Sophia langsung mengambil handphone yang diletakkan di dekat kakinya. Dia melihat layar handphone miliknya. Sebuah panggilan dari orang kepercayaan Alex.