
Sophia masuk ke dalam kamarnya. Melihat Alex yang sedang mengerjakan pekerjaan kantor di laptop miliknya. Mata Sophia berkaca-kaca melihat Alex. Rasanya ingin memberi tahunya. Tapi apa Alex akan baik-baik saja. Baru saja Alex berubah Sophia mengkhawatirkan.
"Apa yang harus ku katakan padamu Mas," batin Sophia.
Air matanya tiba-tiba terjatuh di pipinya. Sophia langsung menyeka air matanya saat Alex melihat ke arahnya.
"Sayang, katanya mau bantuin Bi Inem," ucap Alex.
Sophia memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Hari ini hari ulang tahun ibunya. Sophia tak ingin kebahagiaan yang seharusnya dirayakan justru menjadi kesedihan.
"Iya Mas, aku mau ganti hijab warna hitam biar gak kotor," sahut Sophia.
"Mau diambilin?" tanya Alex.
"Boleh Mas," jawab Sophia.
Alex meletakkan laptopnya di ranjang. Berjalan menuju lemari. Mengambil hijab hitam dari dalam lemari. Dia memberikan hijab itu pada Sophia.
"Ini sayang," ucap Alex.
"Makasih Mas," sahut Sophia menerima hijab itu.
Sophia melepas hijabnya. Rambut panjangnya langsung tergerai indah. Alex membelai rambut indahnya.
"Sayang, rambutmu jangan dipotong, aku suka rambut panjangmu," ucap Alex.
"Iya Mas, Insya Allah," sahut Sophia.
Ketika Sophia hendak mengenakan hijab berwarna hitam, tangan Alex mengambil hijab itu. Mengenakannya pada Sophia. Dia tersenyum melihat keanggunan istrinya mengenakan hijab yang menutup aurat di kepalanya.
"Makasih Mas," ucap Sophia.
"Sebelumnya aku tidak suka wanita berhijab, mereka sok suci, tapi ...?" ujar Alex.
"Tapi apa Mas?" tanya Sophia.
"Saat aku mengenalmu, aku menyukai hijabmu, menutup keindahan yang hanya bisa dilihat olehku," jawab Alex.
Sophia tersenyum. Sang casanova sudah mengubah cara pandangnya terhadap wanita berhijab. Khususnya pada dirinya.
"Karena hijab itu, aku mengingatmu Sophia," ujar Alex.
Sophia mengangguk.
Ketika mereka asyik mengobrol. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Suara ketukan itu semakin keras disertai suara panggilan yang memanggil keduanya.
"Tuan muda ... Tuan muda ...," panggil Bi Siti dari luar.
"Iya Bi, sebentar," sahut Alex dari dalam.
"Mas biar aku yang buka," ucap Sophia.
Alex mengangguk.
Sophia melangkahkan kakinya menuju pintu. Membuka pintu kamarnya. Bi Siti berada di depan tersenyum padanya.
"Maaf Non, disuruh Nyonya, katanya Tuan muda dan Non Shophia disuruh ke belakang, pada ngumpul di sana," ujar Bi Siti.
"Iya Bi, kami akan ke sana," sahut Sophia.
"Ya udah, saya pamit Non," ucap Bi Siti.
Sophia mengangguk.
Bi Siti meninggalkan tempat itu. Kembali ke dapur. Sedangkan Sophia kembali lagi ke dalam kamarnya. Menghampiri suaminya.
"Mas ayo ke belakang, semuanya udah pada nunggu di sana," ucap Sophia.
"Ayo," sahut Alex. Dia meraih tangan Sophia lalu mengenggamnya. Membawa Sophia ke luar dari kamar bersama dengannya. Alex dan Sophia berjalan menuju halaman belakang, tak sengaja bertemu Pak Ferdi duduk di teras belakang, dia sedang mabuk. Meneguk beberapa botol alkohol.
"Astagfirullah," ucap Sophia melihat bapak mertuanya mabuk.
"Kalau kau ingin mabuk jangan di sini," ucap Alex.
"Apa urusanmu? aku yang mabuk," ucap Pak Ferdi.
"Kau tahu ini rumah, bukan klub malam, jangan bawa kelakuan burukmu ke rumah," ucap Alex.
"Mas," ucap Sophia berusaha menenangkan Alex. Dia memegang tangannya. Agar Alex tak terlibat pertengkaran dengan ayahnya.
"Terserah aku mau mabuk atau tidak, kau siapa? Anak ingusan aja sok," ucap Ferdi.
"Lebih baik anak ingusan dari pada sampah tak berguna sepertimu," ujar Alex kesal.
"Kau bilang aku sampah," ucap Pak Ferdi dia mengangkat botolnya hendak memukul Alex, namun Sophia menghalanginya hingga terkena punggung Sophia.
"Aw ...," ucap Sophia kesakitan. Alex langsung menarik Sophia ke pelukannya.
"Kau tidak apa-apa sayang?" tanya Alex.
"Tidak Mas," sahut Sophia.
Alex kesal. Dia melepas tangannya dari tubuh Sophia. Menghampiri ayahnya. Alex menarik kerah baju Pak Ferdi. Dia hendak memukulnya namun Sophia menghentikannya. Memegang tangan Alex.
"Jangan Mas, biar bagaimapun beliau ayahmu," ucap Sophia.
"Ayo pukul!" ucap Pak Ferdi.
Alex terdiam. Sophia menatapnya dan menggelengkan kepalanya. Agar Alex melepaskan tangannya.
"Kenapa? Kau takut?" tanya Pak Ferdi.
"Kalau bukan karena Sophia aku sudah memukulmu ayah," ucap Alex. Dia melepas tangannya dari kerah baju Pak Ferdi. Emosinya mulai mereda. Segera Sophia menarik tangannya. Meninggalkan Pak Ferdi.
Beberapa langkah ke depan, Alex berhenti, dia meraih tubuh Sophia dan memeluknya.
"Sophia maafkan ayahku, keluargaku, tak seperti keluargamu," ucap Alex.
"Tidak apa-apa Mas, semua butuh proses, semoga Allah memberi hidayah untuk ayahmu," ucap Sophia.
"Aku mencintaimu Sophia," ucap Alex kemudian mencium bahu Sophia.
Sophia mengangguk. Dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Alex.
"Yang lainnya sudah menunggu, ayo Mas," ucap Sophia.
Alex melepas pelukannya. Kembali berjalan bersama Sophia ke halaman belakang rumah. Dekat kolam renang. Di sana sudah berkumpul Kakek David, Claudya, Ibu Marisa, dan Gavin. Alex membawa Sophia ke tengah keluarganya.
"Alhamdulillah, kita bisa berkumpul di acara ulang Marisa, menantu, istri, sekaligus ibu kalian semua," ujar Kakek David.
"Alhamdulillah," sahut semuanya.
"Selamat ulang tahun Ma," ucap Claudya memeluk Ibu Marisa. Dia begitu menyayangi ibunya. Dari ketiga anak Marisa, yang paling dekat dengannya hanya Claudya.
"Iya sayang," sahut Ibu Claudya. Mereka berpelukan erat. Kemudian melepasnya setelah puas berpelukan satu sama lain.
"Aku punya kado buat Mama," ucap Claudya.
"Kado apa? Mama penasaran," ucap Ibu Marisa.
Claudya memberikan sebuah kotak perhiasan kecil untuk ibunya.
"Ini buat Mama?" tanya Ibu Marisa yang girang mendapatkan kado dari Claudya. Di hari ulang tahunnya kali ini dia mendapatkan kado dari anak-anaknya. Biasanya juga sibuk masing-masing.
"Buka dong Ma," ucap Claudya. Dia ingin Mamanya melihat kado yang diberikannya untuk Mamanya.
"Iya," sahut Ibu Marisa. Membuka kotak perhiasan itu. Di dalamnya terdapat sebuah gelang silver. Ibu Marisa terlihat sangat bahagia melihat gelang itu. Dia langsung mengenakan gelang itu.
"Bagus sayang, Mama suka," ucap Ibu Marisa.
"Syukurlah kalau Mama suka," sahut Claudya.
Tak lama Pak Ferdi datang. Dia masuk ke tengah-tengah mereka. Berdiri di samping. Menyendiri. Mukanya jauh lebih segar dari yang tadi. Meskipun aroma alkohol masih tercium. Dia melihat Claudya, Kakek David, dan Gavin memberi Ibu Marisa kado. Hanya Pak Ferdi yang sama sekali tak membawa kado untuk Ibu Marisa.
"Papa gak bawa kado?" tanya Claudya.
"Papa lupa," ucap Pak Ferdi.
"Masa ulang tahun istri sendiri lupa," ketus Alex.
Pak Ferdi langsung emosi. Dia menunjuk ke arah Alex. Meluapkan amarahnya.
"Kau sendiri memang ingat ulang tahun ibumu?" tanya Pak Ferdi. Dia tahu Alex juga tak ingat ulang tahun ibunya. Selama ini Alex hanya peduli pada dirinya sendiri. Rumah hanya sarana formalitas saja. Sebuah status dimuka umum tapi hanya orang asing saat berada di dalamnya.
"Setidaknya aku sudah memberi kado? Kau mana? Oh ..., kadonya untuk simpananmu?" ketus Alex. Dia muak dengan kelakuan ayahnya yang bejat.
"Kau masih saja buat masalah denganku," ucap Pak Ferdi kesal.
"Cukup Alex, Ferdi, kita mau merayakan ulang tahun Marisa," ucap Kakek David.
"Mas sabar," ucap Sophia. Dia mengelus lengan Alex agar emosinya reda. Namun ketika emosi Alex sudah mereda, Pak Ferdi justru memulai kembali.
"Bisanya cuma berlindung diketiak istri," ledek Pak Ferdi.
"Dari pada kau bisanya mengemis setiap hari ke kantorku," ucap Alex.
"Dasar anak sialan, kau memang bukan anakku," ucap Pak Ferdi.
Semua orang terkejut. Mendengar ucapan Pak Ferdi. Termasuk Kakek David. Mereka semua terdiam. Mematung.