
"Tapi kalau aku gak telpon bagaimana caranya aku tahu jawabannya," ujar Pak Harry.
Tangannya mulai menyalakan layar handphone miliknya. Mencari nomor telpon Ibu Marisa. Kedua netranya masih memandangi nomor telpon itu. Ada sedikit keraguan untuk menekan tombol hijau yang sudah mejeng di layar handphonenya. Tombol hijau itu sudah memanggil dan menggoda tak ingin dianggurin kaya buah ceri yang berjatuhan di jalanan.
"Kalau ku telpon Marisa, besar kepala dia, tar disangka aku mengejarnya," kata Pak Harry.
"Diem aja galau kaya ABG pacaran," sanggah Pak Harry.
"Gimana ya?" ujar Pak Harry.
Ngeong ....
Suara kucing terdengar kencang membuat Pak Harry terkejut. Tangannya tak sengaja menekan tombol hijau.
Tuuut ... tuuut ... tuuut ...
"Sial tanganku mencet lagi," keluh Pak Harry.
Tak lama Ibu Marisa mengangkat telpon dari Pak Harry.
"Assalamu'alaikum," sapa Ibu Marisa.
"Marisa mengangkat telponku, apa aku setampan itu di matanya?" batin Pak Harry mengira Ibu Marisa masih cinta berat padanya. Maklum Ibu Marisa follower dan fans berat babang tampan di masa itu.
"Wa'alaikumsallam," jawab Pak Harry. Dia senang ternyata babang tampan masih berjaya dari zaman umbelan sampai ingusan dan sekarang bintitan.
"Abang tukang bakso ya? Besok lewat lagi ya Bang, mau beli baso level mantan," ujar Ibu Marisa.
"Apa tukang baso? Kirain Marisa masih inget ketampananku ternyata lebih inget babang tukang baso," batin Pak Harry.
"Marisa ini aku," sahut Pak Harry.
"Tukang sunat ya? Kebetulan saya lagi butuh, kalau bisa pisaunya gedean soalnya cucu saya big size," ujar Ibu Marisa.
"Tukang sunat? Pisaunya gedean? Ngilu dengernya," batin Pak Harry membayangkan disunat pakai pisau gede. Udah kaya motong tetelan sapi aja.
"Bukan tukang sunat, aku Harry Marisa," ujar Pak Harry.
"Harry tukang tambal ban di belokan bukan?" tanya Ibu Marisa.
"Bukan, tukang odong-odong kemarin kau naik belum bayar," sahut Pak Harry.
"Suaranya kok mirip mantan ya?" tanya Ibu Marisa.
"Enak aja, kapan kita jadian, kau yang mengejar-ngejarku," jawab Pak Harry.
"Oh kau Harry toh, kirain tukang kredit perabot, kok malam-malam gini nelpon," jawab Ibu Marisa jeles. Sebel ngomong sama mantan gebetan. Sekarang udah pindah haluan. Nyari yang ngasih belaian dari pada yang dingin kaya es balok nunggu cairnya lama.
"Marisa aku ingin bicara sesuatu denganmu," ujar Pak Harry.
"Bicara apa? Sekarang aku wanita bersuami," jawab Ibu Marisa.
"Ini soal aku dan kau," kata Pak Harry.
"Besok aja, kita ketemu di taman, aku ijin Ferdi dulu," sahut Ibu Marisa.
"Gak bisa sekarang?" tanya Pak Harry. Dia sudah tak sabaran. Rasa penasarannya memuncak. Dia ingin segera mendapatkan jawabannya.
"Aku punya suami yang mesti ditemenin tidur, beda sih kalau jomblo," kata Ibu Marisa menyindir Pak Harry.
"Tapi ...," ujar Pak Harry. Namun sayangnya pembicaraan itu diputus oleh Ibu Marisa sepihak
"Kenapa sekarang fans beratku jadi haters, padahal cuma satu, babang tampan gak punya fans lagi," keluh Pak Harry.
Pak Harry terpaksa menunggu hari esok. Untuk bertemu Ibu Marisa di taman. Dia harus memastikan ada hubungan apa Alex dan dirinya.
***
Pagi itu Alex masih tertidur di kamarnya. Dia berencana berangkat siangan. Tak ada meeting ataupun pekerjaan yang menumpuk. Alex sudah mencicil pekerjaannya jauh beberapa hari sebelumnya. Dia tahu beberapa hari lagi lebaran. Akan ada cuti bersama. Jadinya semua pekerjaan dikerjakan beberapa hari sebelumnya meskipun harus pulang malam.
Kriiing ... kriiing ... kriiing ...
Suara handphone-nya berdering beberapa kali. Membuat matanya terbuka. Alex yang masih mengantuk, malas untuk mengambil handphone yang berada di dekat bantalnya. Namun teringat Sophia yang sudah berangkat duluan tadi pagi membuat Alex harus bangun. Mungkin saja itu telpon dari pemilik mata emerald itu.
Alex mengambil handphone miliknya. Berusaha membuka matanya lebih lebar lagi. Dia menatap layar yang terus menyala
"Bidadariku sudah menelpon," ujar Alex. Dia bergegas menekan tombol hijau dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
"Assalamu'alaikum Mas." Suara lembut itu begitu menyejukkan.
"Wa'alaikumsallam sayang," sahut Alex.
"Mas dah bangun?" tanya Sophia.
"Baru bangun sayang pas kau telpon," jawab Alex.
"Itu sebabnya aku telpon kalau gak Mas kebablasan tidur seharian," sahut Sophia.
"Iya sayangku, makasih ya," ujar Alex.
"Iya Mas, I Love You," ucap Sophia.
"I Love You Too," jawab Alex.
Mereka mengakhiri pembicaraan singkat itu. Alex yang sudah mandi sebelum sahur tadi langsung mengenakan baju yang sudah disiapkan Sophia untuknya.
"Sophia memang istri sholeha, beruntung aku dilamar olehnya," batin Alex. Dia merasa jadi makhluk Allah yang paling seksi sampai dipinang Sophia dari sekian banyak buaya yang berjejer di sungai nungguin kancil nyeberang.
Alex ke luar dari kamarnya. Berjalan menuju tangga. Ke luar dari dalam rumah menuju parkiran mobil. Tak disangka dia melihat ibunya sudah rapi dan cantik. Sedang menelpon seseorang seraya berdiri di samping mobilnya.
"Iya aku mau berangkat nih," ujar Ibu Marisa.
"Aku sudah menunggu."
"Gak enakkan menunggu, apalagi tanpa kepastian," sahut Ibu Marisa.
"Cepatlah datang, kalau tidak aku pulang."
"Dasar manusia es," ujar Ibu Marisa.
"Kau bilang apa?"
"Aku mau ke sana, bentar lagi sampai," jawab Ibu Marisa kemudian menutup telponnya. Dia masuk ke dalam mobil pribadinya.
"Ibu mau ke mana? Rapi banget," batin Alex.
"Tadi itu siapa yang tadi menelponnya?" ujar Alex.
Entah kenapa Alex penasaran melihat kepergian ibunya. Alex yang tadinya berpikir untuk berangkat kerja justru mengikuti Ibu Marisa. Dia mengendarai mobilnya mengikuti mobil Ibu Marisa yang berada di depannya.
"Ibu mau ke mana?" ujar Alex. Dia penasaran ingin tahu ibunya mau pergi ke mana.
Satu jam berlalu, sampai di taman bunga yang ada di pinggiran kota. Alex memarkirkan mobilnya agak jauh dari mobil Ibu Marisa. Dia turun dari mobil. Mengikuti Ibu Marisa masuk ke taman bunga itu.
"Kalau aku berpakaian seperti ini ibu pasti curiga. Mana tahu ibu mau bertemu seseorang," ujar Alex.
"Mungkin saja ayah biologisku," tebak Alex. Dia berjalan ke arah yang berbeda dengan ibunya. Sedangkan Ibu Marisa berjalan ke tempat yang dijanjikannya pada Pak Harry.
"Kau sudah menunggu dari tadi?" tanya Ibu Marisa.
Pak Harry hanya terdiam. Kesal karena Ibu Marisa terlambat datang. Padahal dia sudah menunggu dari taman masih ditutup sampai dibuka.
Ibu Marisa sudah tahu Pak Harry pasti marah padanya karena datang terlambat. Dia duduk di kursi yang berbeda dengan kursi yang diduduki Pak Harry.
"Kau ingin bicara apa mengajakku bertemu?" tanya Ibu Marisa. Dia malas berbasa basi. Berbeda dengan dulu yang rela menunggu sampai menjamur untung gak panuan atau kutilan apalagi borokan. Meskipun sempat kutuan satu dua biji dari temannya yang lagi obral kutu yang pengen transmigrasi.
"Marisa, kau masih ingat dulu kau menjebakku tidur denganmu?" tanya Pak Harry.
Deg
Jantung Ibu Marisa berdebar tak karuan. Kenapa Pak Harry tiba-tiba menanyakan peristiwa itu? Padahal dia sendiri yang dulu tidak ingin tahu apapun yang akan terjadi pada Ibu Marisa setelah peristiwa itu.
"Marisa!" panggil Pak Harry.
"Iya, memangnya kau mau apa?" sahut Ibu Marisa.
"Apa kau hamil setelah itu?" tanya Pak Harry.
"Untuk apa kau tanya seperti itu? Kau sendiri yang meninggalkanku, padahal saat itu aku ingin kau menikahiku," jawab Ibu Marisa.
"Aku ingin tahu apa aku punya anak denganmu?" tanya Pak Harry.
Ibu Marisa langsung terdiam. Dia bingung harus menjawab apa.
"Marisa!" panggil Pak Harry.
"Kau tidak perlu tahu mau aku punya anak atau tidak, bukan urusanmu," jawab Ibu Marisa.
"Berarti benar, aku punya anak denganmu," sahut Pak Harry. Dia yakin Ibu Marisa hamil setelah malam itu. Bisa dilihat dari ekspresinya saat Pak Harry mempertanyakan hal itu.
"Untuk apa kau peduli? Aku tidak akan memberitahumu semua itu," sahut Ibu Marisa. Dia masih kecewa dan marah pada sikap Pak Harry padanya dulu.
Pak Harry tersenyum tipis dengan perkataan Ibu Marisa.
"Apa Alex itu anakku?" tanya Pak Harry.
Deg
Jantung Ibu Marisa berdebar kencang. Pertanyaan Pak Harry membuatnya terkejut. Tak hanya Ibu Marisa, Alex yang berdandan sebagai tukang kebun dengan topi di kepalanya dan berjongkok membelakangi keduanya, juga terkejut. Matanya terbelalak mendengar ucapan Pak Harry.
"Apa? Benarkah Pak tua itu ayahku?" batin Alex.