
Erisa masuk ke ruang ICU. Kakeknya baru saja meninggal. Tubuhnya sudah ditutup kain putih. Erisa berjalan perlahan mendekatinya. Air mata demi air mata jatuh di pipinya sejalan langkah kakinya yang semakin mendekat.
"Kakek," ucap Erisa. Perlahan-lahan membuka kain putih itu. Wajah kakeknya sudah layu. Tak ada aura kehidupan lagi.
"Kek, kenapa kakek harus pergi. Erisa belum sempat bicara dengan kakek," ucap Erisa. Dia rindu suara kakeknya. Hanya kakeknya yang selalu menyayanginya.
"Erisa rindu dipeluk kakek, ngobrol sama kakek, dimarahi kakek," ujar Erisa. Dia rindu semua hal saat bersama kakeknya. Kenangan-kenangan menari-nari di atas kepalanya. Semua kenangan manisnya bersama kakeknya.
Erisa memeluk kakeknya. Dia memeluknya erat.
Melihat itu Sari menangis. Menghampiri Erisa. Dia memegang bahu Erisa. Mengelusnya lembut.
"Sari, apa kakek gak akan bangun lagi?" tanya Erisa. Dia masih belum bisa menerima kepergian kakeknya.
"Kakekmu sudah pergi jauh Erisa, dia ingin kau bahagia meski tanpanya," sahut Sari. Suaranya lirih menyampaikan perkataannya.
"Tidak, tidaaak ..., kakek tidak mungkin meninggalkanku," ujar Erisa mengelak. Dia belum bisa menerima keadaan ini.
Tak lama di saat Erisa masih berduka di samping jasad kakeknya, seorang nenek tua masuk ke ruangan itu. Sari mundur menyadari kehadirannya. Dia menunggu di luar.
"Sudahlah tidak usah terus menerus menangisinya, dia sudah tenang. Tidak akan menyusahkanmu lagi."
Erisa berbalik. Melihat neneknya ada di belakangnya. Nenek tua itu tampak arogan di depan jasad suaminya.
"Kenapa? Kenapa nenek gak bisa menghormati kakek sekali saja, bahkan di depan jenazahnya," seru Erisa. Menatap tajam nenek tua di depannya.
"Untuk apa? Dia tidak bisa memenuhi keinginanku."
"Kasihan kakek, harus memiliki istri seperti nenek yang tidak bisa berduka bahkan di hari terakhirnya," sahut Erisa. Air matanya kembali menetes.
"Berduka? Tidak akan membuat hidupmu lebih baik."
Erisa menggeleng. Tak disangka neneknya begitu tega. Di hari kematian kakeknya tak ada sedikitpun rasa kehilangan ataupun rasa sedih atas kematian suaminya.
Nenek tua itu mendekat. Menepuk bahu Erisa.
"Lebih baik kau pulang. Nenek punya sesuatu untukmu, kau pasti ingin mendengarnya."
"Aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di rumahmu," jawab Erisa. Lebih baik tidur di manapun dari pada pulang ke rumah neneknya.
"Terserah. Kalau kau tidak mau tahu siapa ayahmu."
Mata Erisa berubah tajam. Membulat. Tampak tegang saat mendengar neneknya menyebut ayahnya. Sosok yang tak pernah dikenal olehnya.
"Aku tunggu kedatanganmu. Kalau kau ingin tahu."
Erisa hanya terdiam. Tak membalas ucapan neneknya. Mematung di tempat. Sedangkan
nenek tua itu meninggalkan tempat itu.
Melihat nenek Erisa ke luar dari ruangan itu, Sari kembali masuk ke dalam. Merangkul Erisa yang masih mematung di tempat.
"Apa nenekmu mengancammu lagi? Atau menyuruhmu menikahi si gendut jelek itu?" tanya Sari. Dia tahu betul seperti apa neneknya Erisa.
Erisa hanya diam. Dia tidak berkata apapun hanya wajahnya tampak tertekan.
***
Alex dan Kenan memantu kembali lahan kosong yang dulu belum juga mau dilepas pemiliknya. Mereka melihat tanah kosong itu lagi bersama Pak Harry. Kedua babang tampan itu berdiri di depan sinar matahari yang menyilaukan. Apalagi Pak Harry yang mengenakan jas serba kuning terang. Tujuannya biar terlihat muda di depan Sora namun menyilaukan yang memandang.
"Astaga Bos Harry, lemon aja kalah. Lebih mirip si kuning yang meramaikan sungai kesepian," ujar Kenan.
"Iya, aku yang jadi bodyguard-nya saja malu sampai menutup muka kami kaya satria baja hitam." Jon memakai kaos penutup seluruh wajahnya. Hanya mata dan hidung yang terbuka.
"Jon aku kok pakai ini berat banget," keluh Son.
Kenan dan Jon berbalik melihat Son yang mengenakan topeng monster terbuat dari semen.
"Lagian siapa suruh pakai itu, aku tadikan sudah bilang itu buat ditempel di pagar," sahut Jon.
"Pantes Bosnya aneh, anak buahnya aja dari alam ghaib kaya kalian," kata Kenan. Dia sakit perut tertawa dengan dua bodyguard Pak Harry yang kelakuannya aneh-aneh.
"Kau pikir kenapa lahan ini begitu sulit dilepas?" tanya Pak Harry.
"Mungkin pemilik tanah ini ingin harga yang tinggi atau tanah ini punya sejarah tertentu?" ujar Alex.
Pak Harry terdiam. Memikirkan ucapan Alex. Ada benarnya apa yang dikatakan putranya itu. Mungkin pemilik tanah ingin harga tinggi atau tanah itu punya sejarah tertentu.
"Coba kau temui pemilik tanah ini!" titah Pak Harry.
"Besok aku akan bertemu dengannya," jawab Alex.
"Berhati-hatilah, aku dengar dia aneh. Setiap bertemu dengannya harus terlahang tirai," ujar Pak Harry.
Alex mengangguk.
"Hari ini cuacanya cerah ya," ujar Pak Harry.
Alex tertawa kecil melihat ayahnya mengenakan baju kuning.
"Kenapa? Apa ada yang aneh?" tanya Pak Harry. Menatap Alex yang tertawa melihatnya.
"Pa kau lebih mirip tukang iklan sabun colek atau sabun cuci piring, ide dari mana pakai jas kuning?" sahut Alex.
"Ini fashion. Papakan punya bini muda, ya harus tampil muda," kata Pak Harry.
Alex kembali tertawa. Perutnya sampai sakit. Dia tak kuasa menahan tawanya melihat ayahnya pakai baju kuning lemon. Terang benderang menyilaukan.
"Emang siapa yang nyuruh Papa pakai jas kaya gitu? Untung gak ke kantor," sahut Alex.
"Kedua anak buahku," jawab Pak Harry.
"Pantas, mereka saja gak jelas. Kok bisa Papa mendengarkan wejangan aneh dari mereka," sahut Alex.
Pak Harry menoleh ke arah kedua anak buahnya. Benar juga kata Alex. Kedua anak buahnya itu aneh dan unfaedah tapi tetap saja dipelihara. Mau dibuang ke laut mereka balik. Di buang ke bulan jatuh lagi ke bumi, mau dikasih alien, kaum alien tak sanggup mengurus keanehan mereka.
"Seharusnya aku hempaskan mereka," ujar Pak Harry.
"Sudahlah Pa, mereka berguna saat galau dan gabut," sahut Alex.
Pak Harry terdiam memikirikan tanah itu. Dia dan Alex sudah sepakat akan membangun bersama lahan itu.
"Lex memang kau ingin membangun apa di atas lahan ini?" tanya Pak Harry.
"Pesantren Pa," jawab Alex.
"Hei, bagaimana kita untung?" tanya Pak Harry.
"Keuntungannya kita ambil diakhirat nanti Pa, dunia hanya sementara. Paling banter 100 tahun, rata-rata 60 tahun," jawab Alex. Dia tahu hidup didunia itu singkat. Yang kekal itu diakhirat. Alex ingin mempersiapkan rumahnya dan Sophia di jannah nantinya.
"Kenapa harus pesantren?" tanya Pak Harry.
"Dari pesantren akan banyak para santri yang menghafal Alquran dan belajar ilmu agama. Akan banyak terlahir para pemuka agama yang akan menyampaikan kebenaran Allah," jawab Alex.
"Kau berpikir sejauh itu? Papa hanya memikirkan seputar kamar dan dapur," sahut Pak Harry.
"Sophia, dialah yang selalu membuatku ingin lebih baik dan menabung banyak amalan agar kita bisa bersama di surga nantinya," sahut Alex.
Pak Harry terdiam. Dia membayangkan jika terpisah dengan keluarga. Dia ke neraka karena banyak dosa sedangkan keluarganya masuk surga. Sungguh sia-sia.
"Kalau begitu Papa ikut, Papa ingin membangun pesantren juga," kata Pak Harry.
"Masya Allah, sepertinya Papa baru mendapat pencerahan, aku bangga," sahut Alex.
Pak Harry tersenyum.
"Lagi pula pesantren ini akan dibagi kelompok, satu kelompok untuk yang mampu dan satu kelompok untuk yang tidak mampu tapi ingin menghafal Alquran dan memperdalam ilmu agama. Jadi kita tetap dapat untung dan Insya Allah dapat pahala," ujar Alex.
"Kau hebat, aku suka cara berpikirmu," sahut Pak Harry.
Alex hanya tersenyum tipis menatap lahan kosong di depannya. Besar harapannya tempat itu akan jadi pesantren.